Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 27: Villa Usang


__ADS_3

Assalamu’alaikum teman-teman semua~ Minal Aidin wal Faizin, Selamat


Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Semoga bab 27 karya Alana ini bisa menemani suasna lebaran kalian semua. Apalagi yang tidak


kemana-mana dan di rumah saja akibat pandemic.


Happy Reading^^


***


Haris dan Hana telah rapi mengenakan pakaian mereka. Haris berjanji malam ni mengajak Hana ke suatu tempat. Gadis itu terlihat antusias walau tidak dapat dipungkiri, gurat kesedihan masih tersemat di garis wajahnya. Hana mengenakan gamis berwarna milo dengan kerudung senada, tas selempang berwarna putih serta sepatu yang juga  berwarna putih. Tampilan sederhana ini berhasil membuat Hana tampak lebih segar. Sedang Haris, ia tetap


setia dengan baju kaos putih dan celana semi jeans berwarna hitam. Haris memang tampan. Hidung mancung dengan kulit putih bersih serta alis tebal tersebut didapatnya dari sang Ayah yang memang berdarah Suriah Pakistan. Wajar banyak gadis yang terpikat oleh pesona ketampanannya. Selain itu, Ia juga suka menjaga jarak dari para wanita dan begitu menghormati mereka. Tindak tanduk Haris yang memukau menjadikannya masuk dalam daftar favorit teman wanita dikantornya. Walau mereka semua harus menelan pil pahit ketika mengetahui Haris yang tiba-tiba saja melangsungkan pernikahan dengan gadis yang sangat muda belia.


“Mas, kita mau kemana?” Hana bertanya pada Haris ketika mobil yang mereka naiki telah berhasil membelah jalan.


“Ke tempat yang sering aku kunjungi jika hatiku merasa tidak nyaman”


“Tempatnya bagus ya mas?”


“Bagus menurutku, semoga juga bagus menurutmu”


Mobil telah melewati perbatasan kota, namun tempat yang dituju belum juga terlihat. Hana sedikit merasa bosan. Ia memutar murattal surah-surah favoritnya sekaligus muraaja’ah.


“Bacaan al-Qur’anmu sangat bagus” Puji Haris.


“Biasa aja mas, banyak yang lebih bagus dari ini” Hana tersipu.


“Aku ingin kamu mengajariku membaguskan bacaan tahsin dan tajwid ku” Pinta Haris.


“Bacaan mas sudah bagus kok”


“Pelafalannya tidak sesempurna kamu. Kamu maukan?” Hana luluh dan mengangguk.


“Okay. Nanti kita buat jadwal belajarnya” Haris bersemangat. Hana tersenyum melihatnya.


45 menit sudah perjalanan yang mereka lalui, namun tempat yang dituju masih belum terlihat. Mereka tiba di jalanan yang kanan kiri nya dipenuhi dengan perpohonan. Jalanan terlihat sepi. Hanya Satu dua pengendara yang tampak lewat silih berganti.


“Mas, ini bukannya hutan ya?” Tanya Hana ketika mereka melewati banyak perpohonan yang sepertinya pohon pinus dengan jalan yang menanjak.

__ADS_1


“Tenanglah. Sebentar lagi kita sampai” Hana tampak sedikit menggigil. Suhu tiba-tiba saja menurun. Haris yang melihat Hana kedinginan, mengambil jaket yang disematkan di bangkunya.


“Ini, pakailah. Balutkan ke tubuhmu” Hana mengikuti instruksi Haris


“Mas tidak kedinginan?”


“Aku sudah terbiasa dengan udara dingin. Maaf, tadi aku lupa mengabarimu kalau kita akan ke area perbukitan”


Kini Haris dan Hana sama-sama diam. Mereka meneliti setiap tahap jalanan yang dilalui. Haris terlihat santai namun ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Berbeda dengan Hana yang merasa tegang. Ia sangat jarang berpergian ke tempat yang seperti ini. Ayat Kursi, Istighfar dan Shalawat nabi tidak terlepas dari bibir tipisnya.


Setelah satu jam setengah mereka melakukan perjalanan. Sampailah mereka ke sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman yang luas. Hmh, tidak. Tempat ini lebih mirip sebuah vila usang di atas bukit namun sangat terawat. Lampu taman menampakkan cahayanya sehingga suasana di vila tersebut menjadi terang-benderang.


“Ini penginapan ya mas?”


“Inilah tempat yang kita tuju” jawab Haris


“Kita akan menginap di sini?” Hana mengeryitkan dahinya


“Kita lihat situasinya. Kalau memungkinkan kita akan kembali” Hana tidak bertanya lagi.


Ketika memasuki rumah tersebut, mereka disambut oleh paman Ardi. Paman nya Haris yang memang tinggal di sini untuk menjaga dan membersihkan vila. Pria yang sudah berusia 47 tahun itu adalah adik kandung dari Ayah nya


“Paman, maaf kami mendadak berkunjung tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Mungkin akan sedikit merepotkan paman”


“Tidak apa-apa Ris, paman senang kalian berkunjung. Mari masuk. Duduklah dulu. Paman akan menyeduhkan air jahe merah hangat untuk kalian”


“Terima kasih paman” Paman Ardi pun berlalu ke dapur.


“Hana, aku ke kamar mandi dulu, kamu tunggulah di sini sebentar” Hana mengangguk.


2 menit kemudian, tampak paman Ardi dari arah dapur membawa baki minuman dan cemilan.


“Di minum nak, jangan sungkan” Paman Ardi terlihat ramah.


“Terima kasih paman, maaf sangat merepotkan” Jawab Hana.


“Tidak sama sekali. Paman senang kalian datang. Jarang-jarang Haris pulang. Anggap saja paman sebagai pengganti ayah nya Haris. Maka jangan sungkan”.


”Paman sendirian saja di sini?” tanya Hana.


“Iya nak. Sejak Ayahnya Haris meninggal dunia ketika Haris masih kecil, paman menjaga vila ini sampai sekarang.” Hana mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Rumah tua ini adalah satu-satunya harta peninggalan Ayah Haris. Dahulu, Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Rumah dan tanah dimana-mana. Namun, karena keserakahan manusia. Hanya inilah satu-satunya yang tersisa. Sepeninggal suaminya, ibu Haris merantau ke kota untuk mencari penghidupan yang layak untuk Haris sekaligus bertekad menyekolahan dan membekali Haris dengan ilmu agama dan dunia agar Haris bisa sukses dunia akhirat” Paman Ardi sedikit menguak kisah masa lalu Haris. kini Hana mengetahui sedikit fakta tentang suaminya tersebut. Hana penasaran. Ia ingin mengetahui lebih jauh dan lebih banyak lagi. Namun mulutnya


bungkam ketika melihat Haris yang datang dan telah menyelesaikan hajatnya di kamar mandi.


“Hana, apa kamu mau gunakan kamar mandi?”


“Iya mas, aku ke kamar mandi dulu, di sebelah mana ya?


“Itu belok kanan di dekat tangga yang ada tulisan toilet” Hana menuju tempat yang ditunjukkan oleh Haris.


Haris dan Paman melanjutkan percakapan mereka selagi Hana ke toilet.


***


“MasyaAllah, indah sekali mas!” Mata Hana berbinar-binar melihat pemandangan di hadapannya. Pemandangan dari belakang villa. Bukit barisan yang berisikan lampu-lampu yang berasal dari rumah penduduk. Tampak seperti


kunang-kunang malam yang berkelap kelip, bahkan jauh lebih indah. Hana tidak bisa berpaling dari menatap nya. Nikmat penglihatan yang dirasakan begitu besar. Mereka yang berada di puncak perbukitan dapat melihat dengan jelas suanana sejauh mata memandang.


“Dulu ketika kecil Aku dan Ayah sering duduk di sini bertiga bersama ibu. Kami melihat pemandangan malam yang indah dengan bersenda gurau. Sesekali Ayah menyalakan kembang api, aku sangat bahagia dan menikmatinya kala itu. Ibu sering kali memasak makanan enak, kami juga menyantapnya di sini. Kadang jika ibu lagi sibuk dan tidak sempat masak, aku dan Ayah akan membuat Ayam Bakar” Haris bercerita mengenang masa kecilnya bersama Ayah. Kini Hana menatap Haris. Ia melihat betapa Haris merindukan Ayah dan menyimpan luka dari balik sikap misterius nya selama ini.


“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?”


“Hana mengangguk” Hana berdiri mengikuti Gerakan Haris yang mengajaknya berkeliling.


“Kalau kita menginap, besok aku akan membawa mu ke danau yang airnya biru tidak jauh dari sini. Aku jamin kamu juga akan terpana”


“Benarkah??? Aku mau mas!” Hana sumringah. Belum ke tempat yang dimaksud saja, Hana sudah terpana. Apalagi jika bener-benar ke tempat yang Haris maksud. Ia yang jarang-jarang menikmati alam tampak sangat antusias.


“Tentu saja”


“Terima kasih mas” Ucap Hana tulus. Haris berpaling dari tatapan lurusnya dan kini juga menatap Hana.


“Terima kasih untuk apa?”


“Terima kasih sudah bersikap dengan sangat baik kepadaku. Kenapa mas begitu? Kenapa mas memperlakukanku dengan baik?”


“Karena kamu istriku Hana. Sudah sewajarnya aku memperlakukanmu dengan baik”


Hana terdiam. Entah mengapa jawaban Haris barusan seperti bukan jawaban yang Hana Harapkan.


***

__ADS_1


__ADS_2