
Haris keluar dari ruangan tempat dimana Arini dirawat. Ia menyisir setiap sudut ruangan namun ia tidak menemukan keberadaan Hana. Ia pun mengambil telepon genggamnya dan mencari no kontak Hana lantas meneleponnya.
No yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Aargh, dimana Hana. Matanya kembali menyisir ruangan. Terlihat bu Indah yang baru kembali entah dari mana.
“Bu, apa ibu melihat Hana istri saya?” Tanya Haris gusar.
“Memangnya Hana kemana nak? Ibu tidak melihatnya sebab baru saja ibu keluar dari toilet. Tadi Hana masih berada di sini”
“Kalau begitu Saya permisi mencari Hana dulu, bu”
“Kenapa kamu tidak mencoba meneleponnya?”
“Sudah, tapi hp nya tidak aktif”
“Hmh mungkin saja Hana sedang membeli minuman di bawah”
“Iya, saya akan coba cari ke sana”
Haris berlalu meninggalkan ruangan. Ia menuju kantin untuk mencari keberadaan Hana. Namun nihil, ia tidak menemukan istrinya di sana. jangan-jangan Hana sudah pulang duluan. Tanpa berpikir panjang Haris pun menuju tempat parkiran mengambil mobil dan melajukan kendaraannya tersebut menuju rumah.
***
Di sepanjang perjalanan Hana hanya diam. Sedikitpun Ia tidak melirik laki-laki yang berada disampingnya. Mobil mereka terus melaju dan berhenti di sebuah mesjid.
“Aku shalat dhuha dulu. Aku rasa kamu juga belum shalat. Shalatlah untuk menenangkan hati dan pikiranmu” Hana hanya bisa mengangguk.
“Dan… jangan kemana-kemana! Aku akan menunggumu di taman itu. Sekarang kamu telah berada di dalam tanggung jawabku karena aku telah membawamu. Aku harap kamu mengerti”
Setelah mengatakan itu, sang pemuda meninggalkan Hana dan menuju ke tempat pengambilan air wudhu’. Hana juga menuju ke kamar wudhu’ wanita.
Allahu Akbar.
Hana mengangkat tangannya sembari mengucap takbiratul ihram. Ia larut dalam bacaan shalatnya. Tak terasa ia kembali menitikkan airmata. Pagi ini Ia melaksanakan 6 rakaat shalat dhuha. Ia tidak bisa lebih lama lagi. Kurang
dari sejam setengah adzan zhuhur akan berkumandang. Ia pun bergegas menuju taman yang pemuda tadi tunjukkan.
“Hana, duduklah.” Hana pun duduk. Perasaan canggung menyelimutinya.
__ADS_1
“Aku tidak tau apa yang menimpamu sehingga kau menangis di sepanjang jalan tadi”
“Aku tidak menangis” Hana membantah perkataan laki-laki itu.
“Sudahlah. Kamu sangat buruk dalam berbohong. Jelas-jelas matamu bengkak dan merah. Itu artinya kamu sudah lumayan lama menangis” Laki-laki itu tersenyum mengeluarkan smirknya. Ah, laki-laki ini sangat mirip mas Haris. Batin Hana.
Hana tidak dapat membantah lagi.
“Kenapa mas memberikan saya tumpangan? Padahal aku hendak menyetop taksi. Aku jadi tidak enak” Ucap Hana.
“Karena kamu istri dari sahabatku, Hana. Mana mungkin aku membiarkanmu berkelana di jalanan sedang suasana hatimu sedang tidak baik.”
“Mas, tolong jangan katakan pada mas Haris kalau aku bertemu denganmu dalam keadaan menangis” Hana memohon pada Ridwan, pemuda yang memberikan tumpangan padanya.
“Kalau begitu katakan pada ku kenapa kamu menangis”
“Mas tidak perlu tau hal ini”
“Kalau begitu maaf, aku terpaksa memberitahukannya kepada Haris. Haris harus tau hal-hal yang menimpa istrinya agar ia bisa lebih bertanggung jawab” Hana menggeleng.
“Jangan mas, hal ini tidak ada hubungannya dengan mas Haris! aku sendiri bingung kenapa aku menangis.”
“Tadi kamu dari rumah sakit?” Selidik Ridwan.
“Siapa yang sakit?”
“Teman nya mas Haris” Ridwan berpikir keras. Teman nya Haris kemungkinan besar juga temannya. Tapi ia tidak mendapatkan kabar apapun tentang temannya yang sakit. Ah, nanti ia akan menanyakan langsung pada Haris.
“Kalau begitu ayo kita pulang!” Ajak Ridwan kemudian.
“Mas, apa mas Haris memiliki kekasih sebelum menikahiku?” Tanya Hana
“Kenapa kamu tidak menanyakan langsung pada Haris perihal ini. Bukankah ini hal yang penting. Come on. Kalian sudah menjadi suami istri, Hana!” Ridwan sengaja menginterupsi Hana.
Hana mendesah. Ia Kembali bersedih. Tapi ia tidak boleh terlihat cengeng. Ia wanita kuat dan berprinsip.
“Haris memang punya seseorang yang akan ia nikahi sebelum akan menikahi kamu, namun Haris tidak berjodoh dengan wanita itu, kamulah jodoh yang sudah Allah takdirkan. Inilah yang dinamakan suratan takdir yang tidak bisa
kita elak. Jangan bersedih atas apa yang kamu lihat. Terkadang kenyataan tidak selalu sesuai dengan prasangka.” Ridwan memberi saran pada Hana.
__ADS_1
“Sejujurnya aku benar-benar tidak tau kenapa aku bersedih, mas. Ini semua bukan perkara mas Haris. mungkin hatiku memang lagi sensitif”
“Namun aku sangat berterima kasih pada mas karena telah menenangkan dan memberikan banyak nasehat berharga” Lanjut Hana.
***
Haris sudah sampai di rumah namun ia tidak mendapati Hana dimanapun. Haris panik. Kenapa istrinya tidak berpamitan padanya kalau memang akan pergi atau memerlukan sesuatu. Apa sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada gadis itu? Ya Rabb… kemana dia? Atau mungkin istrinya berkunjung ke rumah orang tua nya? Tidak, tidak mungkin. Pasti Hana akan meminta izin terlebih dahulu.
Haris kembali meraih kunci mobilnya. Ia harus segera mencari Hana sebelum malam tiba. Sebelum keluar rumah, Haris menyempatkan untuk meneguk setengah botol air mineral. Ia sama sekali belum minum sejak keluar dari villa
pagi tadi. Tenggorokannya terasa gatal. Sepatu telah di pakainya. Ia bersiap membuka pintu mobil. Namun, tiba-tiba mobil fortuner putih tiba di depan pintu pagar rumahnya. Ridwan dan Hana keluar bersamaan dari dalam mobil. Kening Haris berkerut sempurna.
“Ris, ini gua antar istri lu, tadi ketemu di jalan ketika Hana membeli air mineral, jadi gua ajak pulang sekalian”Haris menatap Hana untuk memastikan perkataan Ridwan.
“Terima Kasih telah mengantarku mas, aku masuk ke dalam dulu” Ridwan terpaksa sedikit berbohong, Hana benar-benar tidak ingin Haris mengetahui bahwa tadi ia sedang menangis.
“Baik Hana, aku juga mau permisi pulang”
Hana sudah masuk ke dalam rumah. Haris menatap punggung Hana yang telah berlalu dibalik pintu.
“Wan, wan… tunggu!” Haris mencegah Ridwan yang sudah akan melajukan mobilnya.
“Kenapa lagi Ris? Gua ada keperluan ni, ntar kita ngobrol ya!” Ridwan menghindari Haris.
“Kenapa istri gua bisa ada di mobil lu?”
“Kan udah gua bilang tadi ketemu di jalan” Ucap Ridwan tenang.
“Jangan bohong, lu!” Haris sama sekali tidak percaya dengan perkataan Ridwan sebab ia melihat gelagat yang aneh dalam gerak gerik Hana.
“Gua udah bilang yang sebenarnya. Terserah lu mau percaya atau ga. Udah ya, gua buru-buru nih, suer deh ntar kita ngobrol lama” Ridwan langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu persetujuan Haris.
Laki-laki itu menggaruk kepala gusar. Ia masuk ke rumah untuk menemui Hana.
Tok tok tok…
“Hana! Hana!” Panggil Haris.
“Sebentar mas, aku lagi ganti pakaian”
__ADS_1
“Kalau sudah selesai, keluarlah. Aku menunggumu di ruang tamu”
***