Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 55: Haris bukan Gibran


__ADS_3

Fajar telah menyingsing, pagi datang menjelang. Kokok ayam sudah tidak terdengar, hanya bulir-bulir embun yang bertebaran menyebar rata di dedaunan. Kesejukan pun terasa bagi setiap makhluk yang mau menikmati nikmat pagi anugrah pemberian dari Tuhan ini, Namun tidak dengan Gibran, ia sama sekali belum keluar dari kamar setelah kepulangan nya dari rumah sakit sebelum shubuh tadi.


Ia masih termenung di dalam kamarnya. Padahal pagi ini jam 9 adalah jadwalnya ke bandara, sebab nanti jam 10.15 ia harus sudah harus take off menuju tempat tujuannya, yaitu Maroko. Namun, ia seperti merasa enggan untuk pergi.


Pakaian dan perlengkapan memang sudah di persiapkannya jauh-jauh hari, hanya saja pemuda itu masih memikirkan bagaimana keadaan Hana, orang yang masih memiliki tempat spesial di hatinya. Apalagi Hana masih terbaring lemah. Gadis itu juga berada di tangan laki-laki yang tidak tepat. Aaargh.


Kemarahan melingkupi ruang dihatinya. Kalau saja beberapa saat yang lalu tidak ada Ridwan yang melerai dan menenangkan, niscaya ia tidak akan mampu bertahan menghadapi gemuruh dan rasa benci dihatinya terhadap suami Hana itu.


Lamunan Gibran buyar ketika seseorang membuka pintu kamarnya,


"Mas, bagaimana persiapan nya? kalau bisa tidur lah dahulu, istirahat saja sebentar. Mas terlihat sangat lelah" Ujar Yura menyarankan kakaknya.


"Terima Kasih, Ra. Tapi mas masih kuat kok. Mas masih harus menge-cek beberapa dokumen penting sebelum mas berangkat"


Yura menatap kakaknya dengan rasa cemas, padahal kantung mata jelas sudah mulai terlihat.


"Yura doa kan semoga Allah senantiasa memberikan mas kesehatan dan keselamatan"


"Aamiin yaa Rabbal 'alamiin"


"Kalau begitu aku lanjut siapkan sarapan pagi dulu" Gibran mengangguk.


Ia kembali menatap dokumen keberangkatan, semua persiapan telah dirasa selesai, namun Gibran merasa sebelum berangkat ia harus menghubungi seseorang,


"Assalamu'alaikum" Arini mengangkat telepon dari kamar rumahnya


"Waalaikumsalam.. Arini, bisakah kita bertemu sekarang?" tanya Gibran


"Sekarang?? Sepagi ini??"


"Ya. Kamu tidak keberatan kan? jujur aku tidak punya banyak waktu "


"Hmh, apa kamu ingin menanyakan tentang masalah Hana?"


"Iya, tentu saja, namun Aku juga punya permintaan padamu"


"Baik lah, kita bertemu di taman "sejagat raya", aku bersiap-siap dahulu" ucap Arini

__ADS_1


"Okay, Terima kasih"


Tiiiit tiiiit...


***


Di Rumah Sakit


"Hana istriku, bangunlah" Haris menatap wajah Hana yang masih terbaring lekat-lekat.


"Ayo bangunlah, kamu belum melakukan hukuman untuk memijatku, ayo bangunlah, kamu sudah berjanji kan" pinta Haris sembari menggenggam tangan Hana. Matanya berkaca-kaca, yang dibangunkan dari setengah jam yang lalu belum juga terjaga, hingga pada akhirnya,


"aa.. iir" Hana kembali meminta air setelah beberapa jam berselang meminta permintaan yang sama pada Gibran.


Haris yang berada di samping Hana terhenyak, dengan sigap ia mengambil air dan melakukan hal yang sama persis seperti apa yang Gibran lakukan. Ia tercenung seketika, namun pikirannya buyar ketika Hana kembali meminta sebab gadis itu belum mendapatkan apa yang di inginkannya.


"aaaiir" kali ini suara nya lebih terdengar jelas.


"Sayang, ini minumlah" Suara Haris membelai telinga Hana sambil mencoba menyodorkan minuman ditangannya.


Hana tersadar dari tidur panjangnya, namun masih belum tersadar penuh. Tatapannya pun tertuju pada Haris, namun ia belum mampu melihat dengan jelas. Pandangan nya kabur buram, sekali-kali ada dua bayangan yang terlihat. Ia menatap sayu. Bulu mata lentik nya terlihat terayun-ayun.


Hana mengalami Deja Vu, peristiwa yang seperti nya pernah terjadi kini terasa terulang kembali. Ia mengambil sisa-sisa tenaga yang masih melekat di tubuhnya, ia menjawab Haris semampu yang ia bisa, walau sebenarnya ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang memanggil.


"Mas Gib.. ran..." Hana berucap lemah dengan sebelah tangannya memegang kepala.


Ia tidak mendengar penuh apa yang Haris ucapkan, namun isi kepalanya menyugestikan bahwa saat ini yang berada dihadapannya adalah Gibran bukan Haris.


Bak petir di siang bolong, Haris melotot kan matanya. Lagi! ada rasa sakit yang tertoreh tak kasat mata menyelinap pelan tanpa ia pinta.


"Hana, ini aku Haris suami mu!" kali ini nada bicara Haris tidak selembut tadi.


Hana mencerna perlahan-lahan apa yang Haris ucapkan, akhirnya ia bisa melihat jelas bahwa yang berada di hadapannya adalah HARIS bukan GIBRAN.


"ma.. mas... " Walau sakit Haris tetap mencoba untuk tersenyum, lagi! lagi! dan lagi! Ia didahului oleh Gibran, memang benar, ia tidak punya tempat sama sekali di hati Hana.


Namun bagaimana dengan nya? apa kah Hana ada di bagian khusus dihatinya? atau malah nama Arini yang masih bersemayam kuat dan tetap menduduki peringkat pertama dihati nya? Ya, bisa jadi masih seperti itu, hmh tidak... ia rasa Hana sudah mencuri sedikit tempat direlung hati nya, bahkan lebih!

__ADS_1


"Bagaimana? mau air lagi?" kali ini Haris bertanya dengan cool namun tetap dengan nada lembut penuh perhatian.


"aku pusing mas" Hana berkata lemah, ini adalah satu kalimat lengkap pertamanya setelah pingsan berjam-jam.


"Baiklah, aku panggilkan dokter, tunggu lah sebentar" Haris mengecup kening Hana sebelum pergi memanggil dokter.


Hana tidak menjawab, namun isyarat matanya mengatakan bahwa ia setuju.


Dengan tergopoh-gopoh dokter dan team yang menangani Hana memasuki ruang rawat inap.


"Bagaimana kondisi istri saya dok? " Tanya Haris penuh kekhawatiran


"Alhamdulillah, istri bapak telah melewati masa kritisnya, saya akan menulis kan resep obat yang harus dikonsumsi selanjutnya"


"Alhamdulillah ya Rabb, Apa istri saya sudah boleh pulang dok?" Haris tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya walau setelah sebelumnya sempat merasa sakit seperti ada yang menusuk.


"Kita observasi 3 hari lagi untuk menentukan boleh tidaknya nona Hana pulang ya" Ucap dokter.


"Nona Hana, setelah ini tolong makan yang banyak ya! Biar tenaganya berangsur pulih, untuk jenis makanan, bisa makan apa saja dan tidak ada pantangan" Jelas dokter kembali melanjutkan. Dokter mengatakan pada Hana seraya melirik ke arah Haris seperti mengingat kan.


"Baik dok, saya akan memastikan Hana makan dengan baik" ucap Haris seraya bertekad.


Setelah melihat perkembangan Hana, dokter dan team pun berlalu meninggalkan ruangan yang hanya di huni oleh Haris dan Hana. Ridwan sendiri telah pulang, Haris menyuruh nya untuk beristirahat, walau sangat enggan pada awalnya, namun Ridwan akhirnya mengikuti apa yang Haris perintahkan.


"mas, makasih ya.. " kata hanya dengan tersenyum


"makasih untuk apa? " Haris menaikkan sebelah alis nya


"makasih karena sudah menolongku" Hana meraih tangan Haris dan menggenggam nya, walau genggaman tangan nya belum kuat namun mampu meluluh lantakan hati Haris yang memang sudah berantakan.


Haris terdiam, fakta bahwa ia suami tak berguna yang tidak bisa melindungi istri sendiri adalah suatu kenyataan yang sangat menyakitkan, bahkan melebihi sakitnya ketika Hana lebih mengingat Gibran daripada dirinya.


***


Di dalam Mobil Sedan Civic


"Bu bos, kami sudah melenyapkan bukti-bukti yang menyudutkan bu bos, Boris dan teman-teman nya lebih memilih untuk bungkam, selanjutnya kita pikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan mereka." Ucap salah seorang tangan kanan Hanum melalui sambungan telepon.

__ADS_1


Arini dan Hanum tersenyum sambil saling melirik.


***


__ADS_2