
Haris menutup pintu kamar. Ia mengusap keringat yang keluar sebesar biji jagung memenuhi keningnya. Haris berkeringat. Padahal suhu AC sudah di stel dengan suhu paling rendah. Gadis bernama Evelina itu benar-benar menguji keimanannya. Haris membutuhkan Hana saat ini. Ia membutuhkan istrinya. Haris teringat akan sebuah Hadits,
Rasulullah bersabda, "Bila kamu melihat seorang wanita, datangilah istrimu, karena yang demikian itu dapat menenteramkan gejolak dihatimu." (Shahih Muslim).
Haris hendak menelpon Hana, namun sebuah panggilan telah lebih dulu memenuhi layar handphone nya.
"Assalamu'alaikum pak Haris... Saya dokter Cut Meutia! Dokter kandungan nona Hana Fathimah Ameer. Dari tadi asisten saya menghubungi beliau tapi tidak ada jawaban! Baru saja Nona Hana mengontrol kandungan nya. Namun beliau lupa mengambil obat khusus yang sudah saya resepkan. Ini obat penting karena nona Hana mengeluh kan tentang kontraksi palsu yang terus menerus di rasakan padahal usia kandungan beliau masih sangat muda. Saya takut nona Hana mengalami pendarahan. Maka saya langsung menghubungi pak Haris! " Terang dokter Cut Meutia panjang lebar.
"A.. apaa dok? Hana Hamil??! " Pupil mata Haris melebar.
“Pak Haris terkejut?” Gumam dokter Cut Meutia tersentak. Suara beliau nyaris tak terdengar. Apa nona Hana tidak mengabarkan pada sang suami kabar tentang kehamilannya ya. Pikir beliau lagi. Bingung.
“Hana benar-benar hamil dok?” Haris kembali memastikan.
“Ma..af, saya tidak….”
“Saat ini Saya sedang berada di Amerika! Tolong dokter jabarkan semua hal tentang kehamilan Istri saya!” Potong Haris bertitah.
Pemuda ini benar-benar sudah tak sabar. Ia terus mendesak dokter paruh baya itu hingga akhirnya sangat dokter mau menjabarkan semua apa yang beliau ketahui tentang kehamilan Hana padanya. Mata Haris basah. Ia melakukan sujud syukur setelah sebelumnya sempat terduduk di atas kasur.
Allah Maha Baik. Allah Maha Penyayang. Haris mengusap air matanya. Ia menyimak penuturan dokter Cut Meutia bagaimana perjuangan Hana. Apalagi pada awalnya Hana memberanikan diri memeriksakan sendiri kesehatan organ reproduksinya. Mengetahui hal ini, bertambahlah rasa kasih sayang yang Haris rasakan pada sang istri.
Dengan cepat Haris mengambil gawainya.
“Roni, tolong pesankan tiket. Aku akan kembali ke Indonesia. Lihatlah jadwal penerbangan terdekat!” Perintah Haris. Dengan sigap Roni memeriksa rentetan jadwal Haris yang masih tersisa.
“Tapi…”
“Pesankan saja! Untuk urusan di Amerika, Aku akan tetap bertanggung jawab!” Perintah Haris lagi. Roni tidak bisa membantah sang atasan.
“Hmh... Sebentar, Ron!”
“Tolong kamu ambilkan obat milik Hana di klinik Cut Meutia tapi bagaimana caranya jangan sampai Hana tau bahwa aku yang memberi perintah” Titah Haris lagi.
“Siap Bos!!”
Haris ke kamar mandi memperbaharui wudhu’. Ia merasa bersalah. Bertemu dengan Evelina seakan membuatnya merasa menghianati Hana. Ia berkali-kali membasuh wajah memakai air dingin. Kemudian gerakannya dipercepat. Dingin nya air membuat kulitnya terasa terbakar.
Benarlah jika ada yang mengatakan jika sesuatu itu terlalu panas atau sesuatu hal yang terlalu dingin, maka rasanya akan sama-sama membakar. Haris sengaja tidak menghidupkan kran air hangat. Ia tidak ingin terlena.
Pakaian tidur yang Haris kenakan basah. Baju tersebut terkena percikan air akibat gerakan bar-bar nya. Laki-laki ini melepas piyama tanpa berniat mengambil pakaian ganti. Ia lebih memilih mengambil gawai menelpon Hana. Berkali-kali ia mendialkan panggilan, namun Hana tak urung menjawab. Haris tidak menyerah. Ia bahkan menunggu sepuluh menit dengan puluhan kali panggilan sampai sang istri benar-benar mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Mas... " Sahut Hana dari seberang. Hampir saja Haris melayarkan emosinya sebab Hana terlalu lama mengangkat panggilan. Ia sudah mengambil ancang-ancang akan meluapkan amarahnya. Namun, mengingat kini Hana tengah mengandung buah hatinya, emosi tersebut pun sudut meredam seketika.
"Waalaikumsalam... Kamu darimana saja? " Tanya Haris lembut.
"Aku baru dari tempat ustadzah Iqlima mas" Sahut Hana.
"Mas kok ga pake baju? " Tanya Hana heran.
"Bajuku basah waktu tadi berwudhu. Jadi di jemur dulu. Malas ngambil yang lain" Sahut Haris santai.
"Ih mas... Nanti kalo ada yang liat gimana? "
"Ya... Yang liat kamu doang! Kan aku sendirian di kamar" Sahut Haris lagi. Suasana hening sejenak. Haris memandangi wajah Hana tanpa bertanya apapun. Ia menatap istri cantik nya dari depan layar lekat-lekat. Haris mendamba.
"Mi Amor... "
"Hm? " Hana tersentak. Ia tidak mendengar apa yang Haris ucapkan.
__ADS_1
"Mi Amor... I can't resist your charm... " Ucap Haris dengan Mata yang basah. Hana tersipu. Wajahnya memerah. Tapi kemudian Ia menyadari bahwa mata sang suami sedang berkaca-kaca.
"Mas... me... nangis? " Hana terhenyak melihat Haris mengusap matanya.
"Maaf sayang, aku hanya terbawa suasana.....
" Suasana? " Hana mengerutkan keningnya.
"Suasana yang membuatku semakin merindukanmu... Terlalu lama kita berjauhan, membuatku ringkih...” Aku Haris.
"Taukah kamu... Tidak akan ada obat untuk rasa rindu ini kecuali pertemuan. Mi Amor... Aku merindukanmu... Kamu benar-benar membuatku candu... " Ucap Haris lagi. Hana bergetar. Untuk kesekian kalinya, sang suami berhasil membuat Hana merasa berharga dan diinginkan. Haris bak pujangga piawai yang selalu berhasil menaklukan hati Hana melalui kata-kata manisnya.
"Kamu sehat-sehat ya... makan yang teratur. Istirahat yang cukup. Kalau kamu lelah dan merasa pegal, kamu bisa meminta bantuan mbak Sri atau mbak Minah untuk memijat mu. Terus... Minum air putih yang banyak. Jangan sampai dehidrasi..." Haris mulai menjabarkan rentetan pesan yang wajib istrinya patuhi.
"Hmh... Apalagi yaaa... Hm... Oiya... konsumsi buah-buahan yang banyak... madu... Hm...."
"Mas... Mas kenapa? Aku baik baik aja kok! Tumben banget" Hana tersenyum melihat perhatian sang suami melebihi biasanya.
"Hana.... " Panggil Haris.
"Ya....? "
"Kamu..... mau dengar dan laksanakan yang aku pesankan tadi kan? " Tanya Haris menatap Hana lekat-lekat membuat wanita cantik itu tidak memiliki pilihan lain kecuali mengangguk dan menuruti keinginan sang suami.
“Mas... "
“Ya?”
"Sebenarnya aku... " Haris masih menunggu.
“Hmh… Sebenarnya sekarang aku sedang ha….” Hana kesulitan menelan. Saliva nya terasa menyangkut di tenggorokan.
“Hah? Ngaco. Aku belum bilang apa pun loh!” Protes Hana menggelengkan kepalanya.
“Sudah… akui saja…. Aku tidak keberatan kalau kamu mau mengakuinya. Kamu merindukan nya kan?” Haris semakin menggoda Hana.
“Ih mass………………………” Hana meletakkan telapak tangannya ke wajah. Konsentrasi nya buyar. Sebenarnya memang bukan itu yang ingin Hana sampaikan.
***
Ustazah Iqlima tersenyum tersipu melihat tampilan diri nya di depan cermin. Ia berhasil mengubah ujung rambut lurus hitamnya menjadi bergelombang. Al hasil, rambut tersebut menjadi lebih bervolume hingga membuat Ustazah Iqlima tampak segar.
Sekarang beliau tengah berbunga-bunga. Pasalnya malam ini sang suami berjanji akan datang berkunjung. Beruntung Hana begitu perhatian, meminjami nya catokan hingga memberikan banyak tips merias wajah. Hampir seharian ini mereka bersama dan berbincang banyak hal. Dari sini ustazah Iqlima baru mengetahui siapa sosok Hana sebenarnya. Wanita lembut dengan segala keistimewaannya itu adalah pribadi yang begitu rendah hati lagi menyenangkan.
Ada Hana didekatnya, memberikan atmosfer baru yang menyebabkan ustadzah Iqlima tidak terlalu merasa kesepian. Apalagi sekarang Layla sudah membatasi Ali, anak dari adik madunya itu dengan sang suami untuk bermain dengan nya. Hingga menjadikan hari-hari ustadzah iqlima terasa begitu kosong. Belum lagi ustadz Yahya juga jarang sekali berkunjung.
Tapi malam ini berbeda. Bisikan singkat ustadz Yahya di telinga membawa harapan baru baginya. Bisikan tersebut terdengar seperti alunan merdu dari bait-bait syair pilihan. Membuat ustadzah Iqlima merasa seperti remaja yang baru jatuh cinta. Berlebihan memang. Tapi itulah kenyataannya.
Keinginan wanita pemaaf ini tidak terlalu muluk. Ia hanya berharap dapat mengabdi dan membersamai sang suami hingga akhir hayat. Itu saja. Iqlima memang tipe wanita yang nyaris tanpa ambisi.
Kini Ustadzah Iqlima mulai memoles sedikit lipstick berwarna Sakura merekah ke bibir tipisnya. Blush on dengan warna senada juga tak lupa ia bubuhkan. Lalu ia tersenyum girang menutup mulutnya. Menyadari lipstick tersebut menempel di telapak tangan, beliau mengetuk kepala merutuki kecerobohannya dan mulai memoles ulang.
Gaun tidur terbaik juga telah dipersiapkan. Ustadzah Iqlima berharap, sang suami betah mengobrol dengannya hingga jam shalat malam nanti. Karena waktu untuk bisa bersama memang sangatlah singkat.
Ustadz Yahya sendiri kini tengah duduk di kursi kerjanya setelah pulang dari inspeksi dadakan ke pabrik kertas miliknya. Ia menatap kado yang bertengger di atas meja. Kado yang telah ia siapkan untuk Iqlima. Dipikir-pikir, Iqlima hampir tidak pernah menuntut apapun dari nya.
Uang belanja yang beliau berikan juga selalu diterimanya tanpa banyak bertanya. Berbeda dengan Layla yang kehidupannya lebih glamour. Ya wajar saja, Layla berasal dari keluarga kaya raya anak pemilik perusahaan batu bara yang entah mengapa bersedia menjadi istri keduanya. Padahal ketika dinikahkan dulu, umur Layla belum genap delapan belas tahun. Hal inilah yang selalu menjadi kebanggaan dan selalu didengung-dengungkan oleh Umminya, hajjah Aisyah.
Ustadz Yahya memejamkan mata mengingat ini semua. Entah sudah berapa banyak airmata yang telah Iqlima keluarkan sejak ia menikahi Layla. Beberapa kali sempat kepergok olehnya. Namun Iqlima pura-pura bersikap bahwa ia sedang baik-baik saja. Betapa istri pertamanya itu begitu penyabar.
__ADS_1
Tak mau terlalu larut tenggelam dalam pikiran. Ustadz Yahya membuka kitab berbahasa Arab sedikit mengulang kaji pengetahuannya. Sejam lagi beliau akan mengunjungi Layla. Beliau mengantongkan kado berisikan kalung dengan liontin kupu-kupu berinisial Y.N sebagai penanda menghias di sana. Y berarti Yahya dan N berarti Noor, di ambil dari nama tengah sang istri yaitu Iqlima Noor Azkiya (Iqlima, sang cahaya penglihatan).
***
Pukul 21.00 WIB. Deg-degan. Ustadzah Iqlima menantikan kehadiran ustaz Yahya. Kamar terasa seperti baru. Seprai telah berganti berikut dengan bedcover dan pernak perniknya. Beliau masih berdiri di depan meja rias menyisir rambut berhati-hati agar tidak kusut.
Air panas telah ustadzah Iqlima persiapkan. Kalau-kalau saja ustadz Yahya belum mandi setelah seharian bekerja di luar sana. Cemilan seperti kurma dan kacang almond favorit sang suami juga telah tersedia. Teh tinggal diseduh nantinya.
Pukul 22.00 WIB. Batang hidung ustadz Yahya tak kunjung terlihat. ustadzah Iqlima menatap langit-langit kamar dengan sesekal mengintip layar handphone. Rasanya ingin sekali melayangkan pesan dengan bertanya dimana keberadaan sang suami sekarang. Namun ustadzah Iqlima mengurungkan nya dengan memilih beranjak dan mengintip keluar dari balik jendela.
Sejak ustadz Yahya menikahi Layla dan gadis itu memilih kamar utama, menyebabkan kamar ustadzah Iqlima berpindah ke dekat ruang makan. Posisi ini membuat beliau tidak bisa melihat jika sang suami masuk ke dalam rumah. Tak jarang ustazah Iqlima mengendap-endap duduk di ruang tengah hanya untuk sekedar melihat sang suami. Posisi yang sama sekali tidak menguntungkan.
Pukul 23.00 WIB. Ustadzah Layla cemas. Beliau memilin-milin baju tidur sutranya. Bayangan ustadz Yahya belum juga terlihat. Namun tiba-tiba, sebuah pesan mendarat ke handphonenya. From Hubby (Panggilan sayang ustazah Iqlima ke Ustadz Yahya). Wanita ini sumringah.
Iqlima, tidurlah terlebih dahulu. Ali dan Umar begitu rewel. Mereka sama sekali tidak membiarkanku pergi. Suhu tubuh Ali juga sedikit hangat. Maaf, aku tidak bisa memastikan apakah bisa mengunjungimu malam ini atau tidak.
Layla tersenyum ketika ustadz Yahya melayangkan pesan pada pesaingnya. Ya. Iqlima tak ubah hanyalah seorang pesaing baginya. Beruntung tadi Nilam cepat melaporkan bahwa sang suami akan mengunjungi kakak madunya itu. Entah dari mana informasi yang Nilam dapatkan. Tapi informasi dari anak didiknya tersebut sangat berguna. Apalagi di saat-saat genting seperti ini.
Ustadzah iqlima terduduk lemas. Tanpa dipinta, airmatanya berhamburan memenuhi pipi. Ia tersenyum pahit sambil terus mengusap airmata yang tidak bisa berhenti mengalir. Wanita yang telah berdandan cantik ini sesugukan di sudut kamar seorang diri. Make up nya luntur. Temaram lampu kamar yang di hidupkan tidak terlalu terang itu menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat ini.
Tak tahan dengan rasa sesak, ia mengambil gawai.
“Assalamu’alaikum dik Ha..na”
“Waalaikumsalam.. mba iqlima, ada apa?” Hana heran yang mendengar suara sengau sang kakak ipar.
“Tidak… a…a ku hanya ingin mendengar suara mu yang menenangkan. A…pa kamu sudah mengantuk? Apa aku menganggumu?” Tanya ustadzah Iqlima masih terus mengusap air matanya.
“Aku belum mengantuk. Panggilan telepon ini sama sekali tidak menganggu. Apalagi mas Haris sedang jauh di sana. Kita bisa mengobrol sejauh yang mbak inginkan. Tapi… Apa saat ini mbak baik-baik saja?” Tanya Hana cemas. Ia mengendus aroma yang tidak beres.
“A…ku baik-baik saja”
Ustazah iqlima mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi Hana tau bahwa keadaan beliau malah sebaliknya. Akhirnya, Calon ibu dari bayi kembar ini menemani kaka iparnya mencurahkan awan mendung yang selama ini menyelimuti hati. Bagai saudari kandung dengan ikatan hati yang kuat. Hana dengan setia mendengarkan hingga tak terasa mereka mengobrol sampai 2 jam lamanya. Setelah hati lega dan saling menutup telepon, ustadzah Iqlima terkulai di lantai.
***
Sssrrggg sssrrggg.
Pukul 02.00 dini hari. Seseorang yang tak lain adalah ustadz Yahya, membuka pintu kamar ustazah Iqlima dengan menggunakan kunci serep cadangan miliknya.
.
.
***
Mi Amor....
Ada hati yang tengah bahagia akan cintanya....
Dan~
*A**da hati yang tengah menangis terluka* juga karena cintanya...
*Mi Amor (Bahasa Spanyol), artinya Cintaku.
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***