
Tepat pukul 02.00 Haris dan Hana kembali ke villa untuk beristirahat. Suasana begitu sepi cendrung mencekam. Hanya ada suara jangkrik di luar sana yang bersahutan. Hana sedikit merinding. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana paman Ardi dapat melalui hari-hari beliau dengan kesendirian di villa ini dan hanya bertemankan sepi. Ajaibnya beliau sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan seperti ini.
“Hana, rumah ini mempunyai 8 ruang kamar tidur. Kamu pilihlah salah satunya. Setiap kamar sudah dalam keadaan bersih dan rapi sebab setiap hari rutin dibersihkan”
Hana tampak berpikir.
“Aku berada di kamar sebelah sana” Haris menunjukkan kamar yang berada di pojok ruang.
“Sebaiknya kamar kita bersebelahan saja agar mudah berkomunikasi jika kamu membutuhkan sesuatu” lanjut Haris lagi. Hana mengangguk.
“Kamu masuklah”
Hana tidak bergeming. Ia mematung di tempat. Haris sudah akan bergerak menuju kamarnya. Hana masih menatap lekat punggung Haris yang hampir menghilang di balik pintu kamar. Haris menoleh untuk memastikan Hana sudah masuk kekamarnya. Ia terkejut melihat Hana yang masih berdiri dititiknya semula.
“Kenapa kamu masih berada di sini?” Haris berbalik menghampiri Hana. Hana memplintir-plintir ujung kerudungnya. Ia tampak resah.
“Apa kamu membutuhkan sesuatu?” Tanya Haris kemudian.
Hana menggeleng.
“Lalu?”
“Hmh, aku ingin tidur bersama mas malam ini” Ucap Hana sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Haris sedikit terkejut. tubuhnya bagai tersengat aliran listrik mendengar perkataan Hana.
“Mengapa begitu?”Haris bertanya dengan mengkerutkan keningnya.
“Hmh, aku tidak berani tidur sendiri di sini mas. Aku tidak terbiasa dengan suasana di villa ini. Aku takut” Hana menunduk.
Hahahaha. Haris tertawa terlepas.
“Apa kamu takut hantu??” Haris masih meneruskan tertawanya.
“Mengapa mas tertawa? Apa ada yang lucu?” Hana mulai jengah.
“Aku pikir seseorang sepertimu tidak takut terhadap apapun. Eh, tapi.. aku mulai berubah pikiran ketika kamu sehisteris itu melihat seekor ulat bulu padahal ia tak berdaya. Apalagi kalau melihat hantu ya, entah apa yang terjadi!” Haris tidak bisa untuk tidak tertawa.
“Puas sekali ya mengejeknya! Huh, baiklah. Aku tidak butuh bantuan mas! Aku akan tidur sendiri malam ini!” Hana berputar arah membelakangi Haris dan memilih kamar dengan asal.
__ADS_1
“Hana! Hana! Jangan ngambek dong. Aku Cuma bercanda kok, sorry!” Haris mengejar Hana namun gadis itu tidak menghiraukannya.
“Hana!! Awas!! itu hantunya!!” Haris mencoba menghentikan Hana. Berhasil. Gadis itu berbalik cepat namun naasnya malah melompat ke atas tubuh Haris. Mereka terjerebab bersama di lantai. Hana menimpanya.
“Aww… Allahu Akbar, pinggangku” Hana bersungut. Ia memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Ia langsung berpindah dari atas tubuh Haris.
“Mas, maaf. Mas tidak kenapa-napa kan. Aku berat ya? Ada yang sakit?” Hana mengguncang tubuh Haris dengan polos. Haris membeku. Ia tidak tau bahwa jantung Haris berpacu lebih cepat sekarang. Padahal hanya sepersekian
detik di timpa oleh Hana. Walau dalam waktu singkat, pipi Hana mendarat dengan mulus mengenai permukaan bibirnya. Hanya sekilas saja. Namun sensasinya membuat Haris lemas dan sulit untuk bangkit dari lantai yang dingin itu.
“Mas, ayo bangun! Huft salah sendiri kenapa malah menakuti-nakutiku!” Tangan Hana bersedekap. Ia mulai sadar kalau ini semua kesalahan suaminya hingga menyebabkan mereka jatuh. Haris pun bangkit berdiri.
“Iya. Maaf deh. Udah yuk tidur yuk. Ngantuk nih! Ntar kita tidak bisa bangun subuh lagi!”
Hana mengalah dan mengikuti gerak Langkah Haris untuk masuk ke kamar.
Haris masuk ke kamar mandi dan berganti baju dengan piyama yang memang ia tinggalkan beberapa helai di villa untuk persiapan kalau-kalau ia pulang ke sini seperti hari ini.
“Kamu tidak ganti pakaian?”
“Aku ga bawa baju ganti mas” sahut Hana.
“ini kebesaran mas, bajunya tidaklah mengapa, namun Aku tidak yakin apakah celana nya akan duduk di pinggangku. Aku takut celana ini akan melorot.” Haris berfikir sejenak.
“Kamu pakai sarung ini sebagai pengganti rok”
“Hmh. Okay. Baiklah. Aku ganti baju dulu” Hana berlalu ke kamar mandi.
***
Pagi hadir dengan harum embun yang menyegarkan. Arini telah rapi berpakaian. Hari ini ia berencana menemui Lisa sebagai tahap awal perjuangannya untuk memperebutkan kembali hak nya agar bisa bersama dengan sang kekasih.
“Pagi Ummi!” Sapa Arini hangat ketika melihat ibunya tengah mengurus tanaman hias di perkarangan rumah.
“Masya Allah. Anak Ummi yang cantik pagi-pagi sudah rapi”
“Iya mi, Arini mau menemui Lisa”
__ADS_1
“Lisa temannya Hana?”
“Iya mi, siapa lagi?” Arini berkata mantap.
“Kamu harus hati-hati dengan Lisa, nak!” Ibu memperingatkan Arini.
“Hati-hati kenapa mi?” Arini mengernyitkan dahinya. Ia gagal memahami maksud peringatan dari sang Ibu.
“Jika ia bisa mengkhianati sahabat akrabnya sendiri karena cinta, apalagi kamu yang bukan siapa-siapanya” Ibunya Arini meragukan kredibilitas Lisa.
“Arini menemuinya murni karena ingin mendapatkan informasi saja mi, tidak lebih. Arini tidak berniat menjadikan Lisa sebagai teman. Lagian, ia juga memerlukan Arini untuk membalaskan dendamnya pada Hana”
“Yang penting kami berhati-hati saja nak!”
“Iya mi, Arini juga tidak menyangka Hana sedemikian ambisiusnya dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Semula Arini sudah merelakan mas Haris, namun mengetahui fakta-fakta yang Lisa beberkan, ambisi Hana tidak bisa dibiarkan”
“Maka dari itu Ummi katakan, tidak masalah untukmu untuk merebut kembali hakmu di posisi istrinya Haris. itu posisi kamu yang sebenarnya. Bukan tempat Hana”
“Baik mi. Arini berangkat dulu. Mohon doanya!” Arini menyalami ibunya dengan takzim.
***
“Mereka tengah liburan di villa milik mas Haris, Rin” Lisa menyampaikan informasi kepada Arini setelah berkomunikasi dengan Hana dimana keberadaan sahabatnya tersebut.
“Bagaimana bisa?” Arini sangat sensitive mendengar berita ini mengingat Haris tidak pernah mau mengajaknya kesana bahkan hanya untuk sekedar berkunjung sebentar saja.
“Hana bercerita ia sedang bersedih kemudian Haris berinisiatif mengajaknya, semalam mereka menginap di sana. namun aku belum mengetahui apa penyebab dari kesedihannya Hana”
Huh, pasti hanya alasan Hana saja. Ia sangat berusaha keras mencari perhatian mas Haris. Gumam Arini pelan. Hanya ia sendiri yang dapat mendengar. Ia mengepalkan telapak tangannya.
“Aku harus segera menemui Hana dan menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan mas Haris. Tindakan Hana tidak bisa dibiarkan lebih jauh. Aku takut Hana dan mas Haris akan keblablasan” Arini menatap lurus ke depan, tidak bisa dipungkiri ia merasa cemburu. Lisa mengangguk-angguk setuju.
“Lis, aku butuh bantuanmu untuk mengatur pertemuanku dan Hana”
“Baiklah. Sepulang mereka dari villa, aku akan mengatur pertemuan kalian”
“Terima kasih Lisa, kamu sangat membantuku” Arini menggenggam tangan Lisa tulus.
__ADS_1
Lisa tersenyum, dibalik senyumannya tersimpan sejuta makna.
***