Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 119: Tamu Tak di Undang


__ADS_3

Tanaman bonsai berjejer di sepanjang pinggiran taman utara. Bonsai dari jenis cemara, hokiantea, beringin juga melati hias menjadi favorit Hajjah Aisyah untuk beliau rawat.


Beliau memangkas daun daunan yang telah memanjang membentuk pola indah. Kegemaran ini sudah beliau lakukan sejak bertahun-tahun lalu.


Hana berdiri memperhatikan Hajjah Aisyah yang dengan telaten dan penuh seni mengerjakan pekerjaan tersebut seorang diri.


"Bagus sekali pola yang Ummi bentuk pada tanaman ini" Ucap Hana terpana.


"Alhamdulillah nak... Kalau kamu tertarik, Ummi bisa mengajarkan kamu" Ucap Hajjah Aisyah tersenyum menatap Hana.


"Masya Allah... Hana mau Ummi! " sahut Hana antusias dengan mata berbinar.


"Tanaman ini usia nya sudah hampir 100 tahun. Turun temurun dari kakek buyut nak Haris. Setiap generasi pasti ada yang merawatnya..."


"Setiap generasi itu memang telah dipersiapkan untuk menghasilkan bibit unggul hingga membuahkan hasil seperti ini" Terang Hajjah Aisyah. Hana diam mendengarkan.


"Maka itu, penting nya punya keturunan dan generasi penerus ya begitu... "


Deg.


"Agar segala sesuatu yang telah ada bisa selalu dilestarikan" Ucap Hajjah Aisyah menohok. Kali ini Hana benar-benar tersindir. Raut wajah yang cerah tadi berubah seketika.


Tiba-tiba Seorang Khadimah bernama Sri mendekati Hajjah Aisyah dan Hana,


"Maaf Ummi Hajjah, di depan ada tamu"


"Siapa nak? " Hajjah Aisyah mengerutkan keningnya.


"Beliau mengatakan namanya bu Indah" Ucap Sri. Hajjah Aisyah berpikir sejenak.


"Nak Sri, antarkan Nak Hana kembali ke kamarnya atau kemana saja yang Nak Hana mau. Ummi menemui tamu dulu" Ucap Hajjah Aisyah menatap Hana di iringi anggukan.


"Mari Ning! " Ajak Sri. Hana menatap punggung Hajjah Aisyah yang berlalu ke depan menemui ibu dari Arini.


"Assalamu'alaikum kak Aisyah yang terhormat" Sapa bu Indah tersenyum lebar. Wanita paruh baya yang selalu tampil modis ini hadir tanpa ada yang menyangka.


"Ada apa tiba-tiba kamu menemui ku? " Tanya Hajjah Aisyah dingin.


"Tamu datang kok ga di sambut dengan baik kak? Aku benar-benar meluangkan waktu ke sini lho..."


"Tidak usah berbasa basi. Katakan Apa mau mu? "


"Kakak tidak lupa hubungan masa lalu kita kan? Jangan lupakan itu... " Bisik bu Indah mengelus hangat lengan Hajjah Aisyah.


"Dan Aku.... ingin menagih nya sekarang" Bisik bu Indah lagi.


Deg.


"Apa maksud mu? " Tanya Hajjah Aisyah yang berubah pucat.


"Aku ingin separuh harta Haris masuk ke rekening atas namaku. Atau..... "


"Atau apa? " Wajah Hajjah Aisyah memerah.


"Atau nikahkan Haris dengan anakku Arini!"


"Apa??? "


"Pilihan yang tidak sulit bukan? " bu Indah memberi senyum manisnya.


"Permintaan mu ngawur Indah!! Kalau aku tidak mau bagaimana? " Hajjah Aisyah menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya beliau cemas dengan ancaman bu Indah.


"Kalau begitu jangan salah kan aku jika membeberkan semua kebusukan masa lalu kakak dan perjanjian yang telah kita buat. Aku yakin Haji Zakaria yang sangat berwibawa dan berkuasa itu akan menendang posisi kakak saat ini dan menggantinya dengan yang lebih muda, segar dan tentu dengan perangai yang jauh lebih baik dari perangai kakak" Bu Indah mulai mengancam menggunakan kartu As nya.


"Plaaakkkk" Sebuah tamparan keras hinggap di pipi bu Indah.


"Dengar! Aku bukan jenis manusia yang bisa kamu ancam! Aku tidak bisa kamu stir dengan mudah! " Hajjah Aisyah menunjuk dengan jari telunjuk nya. Bu indah meraba bekas tamparan dengan mata kebencian.

__ADS_1


"Baik. Baik kalau begitu. Tunggu saja tanggal mainku! "


"Jangan lupakan juga.... Aku yang telah menyelamatkan nyawa Haris tempo lalu. Darahku mengalir di dalam tubuh nya. Pertimbangkan matang-matang sebelum kak Hajjah yang begitu terhormat menyesal!!" Ucap bu indah dengan menekankan nada di setiap kalimat nya.


"Ini kartu namaku. Hubungi aku jika kakak berubah pikiran" Tutup bu Indah dengan menyodorkan sebuah kartu dan diletakkan di atas meja yang tersedia.


"Licik kamu! Allah tidak akan memaafkan mu! Kamu akan mendapatkan adzab dari perbuatan jahat mu! " Ucap Hajjah Aisyah bergetar sambil memperhatikan punggung bu Indah yang berlalu.


***


New York


Kota New York adalah pusat bisnis dan perdagangan global. Banyak perusahaaan yang berkantor pusat di New York.  Kota ini menduduki peringkat pertama di antara kota-kota di seluruh dunia dalam menarik modal, bisnis, juga turis.


Tak ketinggalan, Haji Abdurrahman sebagai pemilik LogoVo Group banyak menanamkan saham pada perusahaan-perusahaan kelas dunia yang ada di kota New York.


Pagi ini, LogoVo Team dijadwalkan akan membawa Haris pada kantor pusat yang mengurus bahan baku untuk Manufaktur Tekstil yang di pasok ke Pabrik yang ada di Indonesia.


Manufaktur tekstil merupakan salah satu jenis industri besar. Industri yang membuat perubahan bahan baku dari serat menjadi benang, kemudian menjadi kain, sampai akhirnya menjadi tekstil. Tekstil itu yang kemudian di buat menjadi pakaian atau benda-benda lainnya. 


"Mas, biar saya bawakan air mineralnya! " Pinta Eva Lalisa yang melihat Haris berjalan menenteng sebotol air mineral berukuran sedang. Ia mencoba mengimbangi langkah besar Haris.


"Hm? " Haris yang belum ngeh sedikit menoleh ke wajah Lisa.


"Biar saya saja yang membawa air mineral nya mas! " Ulang Lisa yang menunjuk ke arah tangan Haris yang menggenggam botol. Pemuda ini menghentikan langkah nya.


"Kamu..." Tunjuk Haris.


"Panggil saya dengan sebutan Pak ketika sedang bekerja atau lagi di kantor. Saya bukan kakak kamu. Tolong bersikapprofessional!" Titah Haris sarkas lalu kembali melanjutkan langkahnya. Lisa terhenyak.


Cih. Sombong sekali. Gumam Lisa. Wajah gadis ini berubah datar. Ia membenarkan letak jam tangannya lalu kembali berjalan mengikuti Haris yang jarak nya sudah jauh di depannya.


***


Selasa. Pukul 22.00 waktu New York. Haris terbangun karena deringan jam Alarm. Sesampai di hotel tadi, pemuda ini memang langsung tidur merebahkan tubuhnya karena hari ini memang benar-benar melelahkan.


Setelah melakukan semua ritualnya, ia langsung menge-cek wattsapp. Pesan dari Hana sudah menghias layarnya. Haris tersenyum. Istrinya itu mengirimkan foto terbaru nya untuk hari ini.


Haris memang menyuruh Hana melakukan hal tersebut setiap hari. Biasanya ia akan melihat foto istrinya itu sebelum berangkat melakukan kegiatan,, namun hari ini ia benar-benar tidak sempat memegang handphone nya.


Tak ayal, Haris langsung memanggil Hana menggunakan videocall. Tidak ada yang mengangkat. Haris kembali memanggil istrinya. Tetap tidak ada jawaban.


Ch. Kemana Hana. Haris melihat jam, harusnya di Indonesia sekarang sudah pukul 10.00 pagi di hari Rabu. Apa istri nya itu tengah mengisi kelas? Sebab akhir-akhir ini Hana mengatakan ia mulai membantu Hajjah Aisyah untuk mengisi kelas-kelas tahfidz.


Ddddrrtttt Dddrttttt


Telepon masuk dari Hana.


"Assalamu'alaikum mas"


"Waalaikumsalam. Bentar aku video call ya! " Pinta Haris.


"Aku masih halaqah di taman bersama para santri mas! " Bisik Hana.


"Bukan kelas reguler kan? tutup saja kelasnya. aku ingin melihatmu" Titah Haris.


"Tapi kata Ummi, halaqah tidak boleh dibubarkan sebelum selesai mas" Ucap Hana.


"Ini kan jam-jam aku menelpon. Kenapa harus Terima kelas halaqah sih? Bilang sama Ummi untuk menukar di lain waktu. Aku ingin melihat mu. Sekarang. Di Kamar! " Titah Haris lebih lanjut.


Hana menghela nafasnya. Ia langsung menutup halaqah sesuai perintah sang suami dan menuju ke kamar.


"Mas, aku sudah di kamar" Ucap Hana. Haris langsung menutup telepon nya dan memanggil Hana dengan panggilan video.


"Kenapa sih asal aku telepon, kamu selalu diluar? " keluh Haris.


"Maaf mas. Aku di sini ikut membantu mengajar santri. Tidak enak juga hanya duduk di kamar" Sahut Hana.

__ADS_1


"Ya. Tapi kamu kan tau kalau di jam pagi itu aku sering menelpon karena aku hanya punya waktu menjelang dini hari seperti sekarang ini" protes Haris lagi.


"Maaf Mas. Besok Aku akan lebih mengatur waktuku" Sahut Hana. Ia jadi serba salah. Waktu mengajar nya sudah di tetap kan sepenuhnya oleh Hajjah Aisyah. Sepertinya ia memang harus meminta re-schedule ulang ke jadwal siang.


"Sudah marah nya? senyum dong! " Pinta Hana memberikan senyum manisnya.


"Kamu sih, kan aku kangeeen"


"Di sana mas pasti sibuk. Aku pikir malah lupa sama aku di sini" Ucap Hana.


"Huft. Mana mungkin. Kamu mengada-ngada! "


"Hmh... Di sana banyak wanita cantik kan? " Tanya Hana seduktif.


"Apa hubungan nya dengan wanita cantik? Mana sempat Aku memikirkan itu. Aku berada di sini untuk bekerja sayaang" Jawab Haris.


"Jadi, kalau lagi ga kerja dan ada kesempatan, maka akan memikirkan wanita cantik. Begitu? " Hana memicing kan matanya.


"Huft... jangan mulai deh...."


"Aku hanya memikirkan dan merindukan mu. Ingin rasanya aku mengambilmu melalui layar handphone ini lalu ku dekap se-erat mungkin hhhhh" Ucap Haris sendu.


"Aku selalu menghitung hari...." Ucap Hana mulai berkaca-kaca.


"Sabar ya sayang... Kita pasti bisa melalui ini semua" Ucap Haris menenangkan. Hana mengangguk.


"Hhhhh Aku menyuruh mu untuk bersabar. Padahal sebenarnya aku yang sudah tidak sabar" Aku Haris. Entah sudah kali ke berapa laki-laki ini menghela nafasnya. Hana tersenyum.


"Hana, jangan menggodaku! "


"Ha? Apa? " Hana terhenyak.


"Kenapa menggigit bibir seperti itu? Kamu Mau menggodaku kan? " Tuduh Haris memicing kan matanya.


"Ha?? Mas Geer! Aku bahkan tidak menyadari kalau aku sedang menggigit bibir! " Protes Hana.


"A...ku tergoda" Lirih Haris mengacak asal rambutnya dengan wajah yang sulit dimengerti.


"Mas kenapa? "


"Geraikan rambutmu! " Titah Haris memejamkan matanya. Hana langsung membuka kerudung dan mengikuti instruksi.


"Can You help me? " Tanya Haris sendu.


"What can I do for you, Honey? " Tanya Hana lembut.


"Dekatkan handphone di telinga-mu. Aku akan membisikkannya" Ucap Haris. Hana meletakkan handphone tersebut di telinganya.


"bsbsbsbsbsb bsbsbsbsbsb"


"A... Apa mas? Aku ga dengar"


"Aku mau..... bsbsbsbsbsb bsbsbsbsbsb"


"Ha? Astaghfirullah... Ini masih pagi lhoo mas! " wajah Hana memerah.


"Hana, pleaseee... di sini sudah dini hari. Kamu yang duluan memulai"


"Huft... Itu alasan mas saja! "


"Honeeey... Ayooo laaaaaa. Ku mohooon"


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2