
Aku berada di antara kerasnya pilihan
Yang terus mengejar walau aku terseok
Aku sudah tersudut dan menyudut
Ku kuras habis semua yang tersisa
Bahkan untuk sekedar merangkak saja, rasanya aku sudah tak sanggup
***
Hari berlalu tidak mengenal kata tunggu, sudah beberapa lama Hana dan Yura masih mendekam di balik jeruji besi. Mereka tengah menunggu sidang yang katanya akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat namun sampai detik ini belum juga ada panggilan.
Sejak kejadian pembullyan yang dilakukan kepada Hana, gadis itu kini dipindah-tempatkan ke dalam sel tahanan berbeda, para penghuni tahanan yang berada dalam sel yang sama dengannya itu memiliki latar belakang kasus yang beraneka ragam. Walau demikian, mereka tidak melakukan kekerasaan fisik maupun verbal satu sama lain.
Memang pada awalnya mereka tampak sinis dengan kehadiran Hana tapi perlahan lahan Hana mampu mengubah mainset mereka berbalik menjadi menyukainya bahkan akhir-akhir ini Hana di daulat menjadi guru spiritual mengajarkan mereka ilmu agama juga mengaji. Mereka ingin menjadi manusia yang lebih baik, yang lebih humanis. Manusia yang memanusiakan manusia.
Meskipun Hana sudah mulai terbiasa dengan suasana penjara, namun belakangan ini kulitnya muncul ruam kemerah-merahan, sepertinya ia terserang alergi. Kondisi tersebut membuatnya merasa tidak nyaman, rasa gatal menyerang. Tetapi keadaan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menebar kebaikan.
Sedang Yura sang sahabat masih tidak bisa menerima keadaannya yang berakhir di balik jeruji besi. Sebenarnya mereka belum mendapatkan ketuk palu dari hasil sidang, namun tetap saja hari-hari penantian ini mereka habiskan di dalam tahanan, ia merindukan kehidupannya yang dulu. Ia kehilangan gairah dan keceriaannya. Tiada hari yang bisa ia lakukan kecuali menangisi betapa buruk nasib yang menimpanya.
Keadaan ini menjadikan Yura semakin terlihat kurus, ia juga kehilangan nafsu makan, berkali-kali ia merasakan maagnya kambuh, kondisi tubuh nya tidak baik-baik saja.
Tidak ada yang lebih bisa dilakukan saat ini kecuali berserah diri kepada Allah SWT, ke lautan mana takdir hidup akan bermuara, kesitulah jalan yang akan ditempuh.
Hana dengan giat nya sebisa mungkin melakukan kebaikan, walau statusnya hanya seorang narapidana namun ia ingin hidupnya bermanfaat seperti yang dilakukannya saat ini, seusai menunaikan ibadah shalat maghrib, Hana rutin mengajarkan para penghuni tahanan mengaji,
"Yang memiliki tiga gigi dengan bertatahkan tiga titik diatasnya ini adalah huruf Syin, namun ketika dibubuhkan baris maka berubah menjadi Sya, Sssyyy... Sya" Terang Hana kepada semua penghuni sel yang berjumlah 5 wanita. Pembelajaran mereka telah sampai pada huruf Syin.
"lalu yang ini, huruf yang tanpa titik ini adalah huruf Sha, Sshh Sha. Perhatikan bentuknya, mereka berdua berbeda, beda huruf juga cara bacanya" Hana mentahsinkan teman-temannya. Mereka memperhatikan dengan saksama.
***
"Ris, Lu harus cepat ambil keputusan. Waktu yang tersisa ga lama, sidang benar-benar akan dimulai, namun keadaan kita masih tetap sama" Haris, Ridwan dan Gibran melakukan rapat kesekian kalinya. Mereka kembali membahas pilihan yang Arini tawarkan tempo hari.
"Gue harus menemui Hana dulu, besok kita sudah bisa menjenguk mereka" sahut Haris.
"Apa lu benar-benar akan menduakan Hana? " tanya Ridwan prihatin.
"Apa sekarang gua punya pilihan? " Haris balik bertanya.
"Jadi maksud mu, kamu akan menduakan Hana?!! " Suara Gibran meninggi.
"Lalu Katakan apa rencanamu, apa yang harus aku lakukan???" tantang Haris. Gibran terdiam.
"Jika ada pilihan yang bisa kulakukan, maka aku akan melakukannya sekarang juga. Aku sama sekali tidak berniat menduakan Hana" Haris berkata lagi, kali ini nada bicaranya terdengar sedih.
"Apa kamu mencintainya? " tanya Ridwan dengan melihat ke dalam manik mata Haris yang kelopak bawahnya sudah menghitam seperti panda akibat kurang tidur.
"Aku selalu merindukannya" Jawab Haris cepat.
" Merindukannya? huft... Omong kosong!! kamu memang tidak pernah mencintainya!!! Serahkan Hana padaku!!!" Gibran mulai emosi.
__ADS_1
"Tidak akan, tidak akan pernah!" Sahut Haris mantap, matanya memerah.
"Kamu Egois!! " Gibran menarik kerah kemeja Haris, emosinya meledak. Ia hendak melayangkan tinju ke wajah Haris.
"Sudah!!! Stop!! Stop!!! Kenapa asal diskusi kalian selalu bertindak tidak waras??? Why??? Aku lelah!! " Ridwan mengebrak meja kasar. Ia sudah muak melihat tingkah Haris dan Gibran.
"Apa kita biarkan saja Hana dan Yura mendekam di penjara selamanya??? Jawabbb!!!!!! " Ridwan berang.
"Lu jawab Ris, apa lu mau Hana berada di penjara bertahun-tahun sampai rambut memutih? terus sekarang Kamu jawab Ran, apa kamu rela adik satu-satunya yang kamu punya tidak memiliki masa depan?! " Ridwan menunjuk tepat ke atas muka sahabat-sahabat bebal nya itu.
Mendengar perkataan Ridwan, Gibran melonggarkan cengkraman pada kerah kemeja Haris lalu agak menghempaskannya. Kesal.
Bagaimana aku bisa mengakui perasaanku yang sebenarnya pada kalian? Sedang pada Hana saja aku sama sekali belum pernah mengatakannya. Batin Haris pilu.
Drrrrrttt Drrrrrttt
Gawai Haris bergetar, ternyata kuasa hukum menelepon, pemuda itu pun me loud speaker kan handphone agar dapat didengar oleh rekan lainnya.
"Halo, Malam Pak, Saya ingin memberitahukan bahwa Sidang akan digelar pada hari kamis mendatang jam 10 pagi" Pengacara mengabarkan dari seberang sana.
"Baik, Terima kasih kabarnya, Pak! Kami percayakan semuanya pada bapak" sahut Haris. Ia tidak tau harus bahagia atau sedih akan gelaran sidang yang semakin dekat.
"Lusa kita bertemu membahas mekanisme terakhir sebelum sidang dimulai, saya akan melakukan semua yang terbaik yang saya bisa" Ucap Pengacara kemudian.
"Insya Allah"
***
Sabtu. Pagi yang tidak terlalu cerah. Sedikit awan mendung menghiasi langit. Haris, Ridwan dan Gibran telah bersiap menemui Hana dan Yura. Mereka agak bersemangat, kerinduan panjang sudah menghujam di dalam dada ketiga pemuda itu.
Haris akan mengunjungi Hana, Gibran sendiri sudah pasti menemui Yura, sedang Ridwan akan menunggu giliran berikutnya untuk bisa bertemu Yura. Mereka menemui kedua gadis itu dalam ruangan berbeda, sebab sejak awal memang sudah terpisah.
Hana melihat kedatangan Haris, dari arah pintu keluar ia langsung berhambur memeluk suami yang sudah sangat dirindukan nya itu, tidak peduli akan rasa malu yang sebenarnya bercokol kuat dalam dirinya, namun kali ini jujur saja ia tidak bisa menahan rasa sesak akibat kerinduan yang melanda.Berada dalam pelukan erat, Hana menangis tersedu-sedu.
"Apa begitu berat, hm? apa sakit nya begitu berat? " Haris terenyuh. Ia merenggangkan pelukannya, melihat lekat-lekat wajah Hana yang telah menirus. air mata yang mengalir dari mata indah sang istri begitu melukainya.
Hana masih sesegukan, tak ingin dilepaskan, gadis itu kembali memeluk Haris. Pemuda itu menyambutnya. Dengan kelembutan ia mengusap kepala Hana, menghujamkan ciuman bertubi-tubi dipucuk kepalanya.
"Kamu sudah begitu menderita, maafkan aku. Ah, Rasanya kata maaf ini begitu hambar terdengar, ia sama sekali tidak berguna untuk menebus semua kesalahanku" Haris berkaca-kaca. Hana merenggangkan pelukannya, membawa Haris untuk duduk di kursi. Kini Mereka saling berhadap-hadapan yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil.
"Mas, aku... aku merindukanmu, sungguh! " Hana berkata dengan sesugukan, Ia menggenggam erat tangan suaminya.
Haris menoleh melihat wajah sembab Hana. Tak tahan, air mata Haris pun mengalir. Ia sudah tidak peduli jika ada manusia mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menangis, sungguh ia tidak peduli.
Kini hatinya melebur berkeping-keping, ternyata Hana sama sekali tidak membencinya, ia masih saja menorehkan kelembutan dan penuh cinta kasih padahal cobaan yang gadis itu rasakan sudah begitu besar. Mungkin sekarang memang Hana belum membencinya namun.... hhhh ia tidak tau bagaimana nanti kedepan.
Haris membalas genggaman Hana lalu membawa tangan itu untuk dikecup oleh bibirnya. Ia melakukannya berkali-kali untuk menunjukkan bahwa ia memiliki perasaan rindu yang sama, bahkan lebih.
"Bagaimana lukamu? " Tanya Haris, ia mengeluarkan tisu dan menyerahkan pada Hana.
"Sudah tidak sakit lagi, tp mungkin bekasnya belum hilang" Hana mengelap air matanya.
"Bekas itu nanti akan hilang seiring berjalannya waktu, yang terpenting bekas luka di hatimu telah pulih" Ucap Haris.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak menaruh benci, sikap kasar mereka yang demikian juga mungkin karena pengaruh lingkungan yang buruk"
"Begitu mulia hatimu" puji Haris tulus. Hana menggeleng.
"Memaafkan memang sudah seharusnya" Ucap Hana lagi.
"Oh iya, Tahukah kamu bahwa kamis besok sidang akan digelar? "
Hana mengangguk. Ia terlihat pasrah. Ia memilin milinkan kerudung nya.
"Hmh, Bolehkah aku bertanya sesuatu? " Haris menatap Hana sendu.
"Silahkan mas"
"Aku tau kamu sangat ingin lepas dari jerat hukum yang dosanya sama sekali tidak kamu perbuat, apakah kamu percaya pada kata-kata terkadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu? " Tanya Haris serius.
Hana mengangguk. kalimat itu memang sudah sering ia dengar.
"Apa yang kamu rasakan saat ini? Adakah rasa cemas di hatimu akan hasil sidangnya? " Tanya Haris lagi.
"Aku sudah memasrahkan segala nya pada Allah, mas. Jujur aku memang berharap keluar segera dari tempat ini. Aku tau, mas juga sudah berjuang mati-matian diluar sana mengabaikan semua waktu dan memberikan tenaga hanya untuk memperjuangkan kebebasanku, maka di sini akan kukatakan bahwa aku ingin segera keluar lalu kita kembali berkumpul bersama.
Semoga Allah mengabulkan" Ucap Hana optimis, lembut namun penuh penekanan.
Tesss tesss...
Airmata Haris mengalir kembali. Setetes. Dua Tetes, airnya jatuh ke lantai yang kering.
ya Allah, apa yang harus aku lakukan?Batin Haris.
"Mengapa mas menangis? Apa aku salah berkata? " Hana Heran.
"Tidak, Aku hanya bahagia dengan rasa optimismu, insya Allah kamu akan semakin dekat dengan keinginanmu" sahut Haris.
Tesss teesss
Haris menghapus air mata yang sudah berlinang-linang. Hana merasa heran.
Di sisi lain, di ruangan yang berbeda, Gibran dan Yura juga saling melepas rindu, namun Pemuda ini begitu terpukul akan kondisi psikis Yura yang sudah seperti kehilangan gairah hidup. Tubuh nya kurus ceking dengan pipi yang cekung. Cahaya di matanya telah redup, ia sudah bukan seperti Yura-nya yang dulu. Yura begitu terpukul dan merasa kesepian. Oh Adikku sayang.
Pada pertemuan mereka ini, Gibran membacakan ayat-ayat penyejuk hati, ia berharap agar Yura lebih bisa menenangkan jiwanya
Ya Allah~
Ya Rahman~
Ya Rahim~
***
Sepucuk surat dari kepolisian tiba dikediaman Arini, wanita ini diperintahkan menghadiri sidang pada hari kamis mendatang, ia akan memberikan kesaksian atas selamatnya Hana pada peristiwa naas yang terjadi pada malam lalu.
~*A**kankah Arini akan memberikan kesaksian yang sebenarnya? atau malah sebaliknya*?
__ADS_1
***