
Hana tengah menyemai bibit sayuran ketika Yura menghubunginya melalui sambungan telepon. Yura mengatakan bahwa Ia dan Lisa akan berkunjung ke rumah Hana yang baru. Tentu saja Hana merasa senang, sebab ia tidak akan merasa sepi sendirian di rumah.
Sejam waktu berlalu dari percakapan mereka di telepon, akhirnya mereka
tiba di rumah Hana. Tak lupa Hana mengabarkan kepada Haris bahwa teman-teman nya akan berkunjung.
“Masya Allah, enak bener suasana rumahnya, Han. Mungil dengan halaman luas dan banyak pepohonan jadinya adem dan asri, ”. Yura memberi pendapat.
“Hehe, Alhamdulillah, semoga aku betah ya” Hana menyengir.
Mereka menuju halaman belakang. Tampak pot-pot dengan bibit semaian telah rapi tersusun. Hana memang rajin. Ia selalu mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat. Teman-teman selalu mengaguminya. Ia memang anak dengan tipe hidup yang serba teratur.
“Di minum dulu mumpung es nya belum cair” Ucap Hana dengan menyajikan 2 gelas jus jeruk plus 2 piring mie hun yang baru saja selesai dimasak nya.
“Woaaa masakanmu enak Han, selama nikah banyak peningkatan nih” Puji Lisa yang setelah mencicipinua. Sedang Yura masih sibuk menyeruput jus jeruknya.
“Ah dari tadi muji mulu, kalau udah terbang susah ni turunnya” Balas Hana dengan berseloroh.
Mereka bertiga tertawa bersama.
Selesai makan dan minum, Hana mengajak teman-teman kekamarnya. Semula Yura dan Lisa merasa ragu. Mereka tidak enak sebab kamar yang Hana tempati pasti juga kamarnya Haris, namun gadis ini menjelaskan bahwa ini adalah kamarnya seorang.
Hana merasa tidak perlu menutupi kenyataan yang terjadi dirumah-tangganya kepada Yura dan Lisa selama hal itu masih wajar. Yura dan Lisa adalah bagian dari orang-orang yang mengetahui kisah hidupnya.
“Ha? Serius Han? Ini gila! Masa suami istri kamarnya pisah” Komentar Lisa heboh.
“Pendapat mas Haris gimana? Apa beliau menyetujuinya?” Yura bertanya penuh dengan rasa penasaran namun masih dengan nada tenang.
“Ga masalah, memangnya kenapa harus bermasalah?” tanya Hana atas reaksi berlebihan teman-temannya.
“Luar biasa rumah tangga mu Han, baru kali ini aku melihat ada orang yang menikah beda kamar kecuali mereka lagi berantem.” Yura menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
“Lagian mas Haris kenapa bisa sia-sia in gadis sebaik dan secantik kamu sih, beliau normal ga sih?” Yura menjadi kesal.
“Bukan begitu, dari awal aku yang minta pisah kamar. Udah ya, hal ini ga perlu kita bahas lagi, ini udah menjadi keputusan kita bersama” Hana kemudian melanjutkan.
“Huh, bagaimana tidak, mas Haris kan punya pacar di luaran sana.” Lisa keceplosan berkata.
__ADS_1
“Ha? Ada Pacar??” Spontan Hana dan Yura terkejut mendengar perkataan Lisa.
“Hmh, tidak tidak., maksudku mungkin mas Haris punya pacar diluar sana. Tapi ini mungkin lho yaa” Lisa menjawab dengan keraguan.
“Kamu serius mas Haris punya pacar? Tau darimana?” Hana yang sudah mengetahui tabiat sering keceplosannya Lisa jika mengetahui sesuatu, terang saja tidak percaya.
“Hmh, itu… itu…” Lisa gelagapan.
“Ayo katakan, Sa!” Hana memaksa.
“Sebenarnya… Aku pernah melihat mas Haris makan bersama seorang wanita di sebuah café. Aku tidak ingin su’uzhan atau menduga-duga bahwa mereka punya hubungan special. Tapi…”
“Tapi apa??” Suara Hana meninggi.
“Han.. Han, sabar dong, dengarnya pelan-pelan” Yura mengingatkan Hana.
“Apa kamu cemburu mendengar ini?” Yura bertanya seduktif.
“Haha… Jelas tidak! Aku cuma penasaran apa benar seseorang seperti mas Haris memiliki pacar, ayo lanjutkan ceritamu, Sa” Hana tiba-tiba merasa nelangsa, sebab Haris tidak pernah menceritakan apapun padanya.
“Aku melihat wajah wanita yang duduk bersama mas Haris tampak sendu, mereka seperti membicarakan suatu hal penting, juga saling menatap satu sama lain seolah tidak ingin berpisah”
“Aku punya buktinya kok, aku sungguh tidak mengada-ada” Lisa menolak mentah-mentah tuduhan yang Yura layangkan kepadanya.
Lisa terpaksa mengeluarkan foto-foto yang telah ia jepret tempo lalu untuk membuktikan perkataannya.
“Kalian bisa melihat ini”
Hana membulatkan matanya melihat foto-foto Haris bersama seorang wanita namun ia menyakinkan dirinya bahwa ia sama sekali tidak cemburu melihat foto yang Lisa tunjukkan.
Namun entah mengapa perasaan sakit yang hampir tidak terasa menyelinap halus di hatinya. Ketika ia melihat suaminya menatap intens ke arah wanita cantik dengan wajah begitu mendamba. Sedang ia saja yang istri sahnya tidak pernah ditatap demikian. Ya. Ia tau tidak ada cinta diantara mereka. Tapi kan… tapi…
“Hana, kamu baik-baik saja kan?” Yura kembali bertanya.
“Wanita di foto itu cantik ya, aura nya seperti gadis shaliha yang pintar” Hana berkata lirih. Ia merasa insecure melihatnya.
“Kamu berkata apa sih, kamu jauh lebih cantik, jauh lebih pintar” Yura seperti mengerti atas apa yang dirasakan Hana.
__ADS_1
“Maaf ya, tidak seharusnya aku keceplosan bicara” Lisa menunduk. Ia merasa menyesal melihat Hana bersedih. Entah bersedih karena cemburu atau bersedih karena sebagai istri Hana merasa tidak dihargai.
***
Tepat Jam 17.00 wib Haris pulang dari kantor, ia pulang dengan menenteng martabak manis untuk diberikan pada Hana. Ia teringat, bahwa Hana dan Ummi mertua nya menyukai martabak manis. Maka ketika lewat di tempat martabak langgagannya, ia langsung singgah dan membeli. .
Peluh yang bersarang ditubuh membuat ia tidak sabar ingin segera mandi. Setelah menyerahkan sekotak martabak pada Hana, ia bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti.
***
Hana sibuk menyiapkan makan malam. Ia membuat ikan pindang, menggoreng kerupuk emping juga telur dadar ala rumah makan Padang. Tak lupa jus mangga telah ia blender untuk mengusir rasa penat Haris yang lelah seharian bekerja.
Rasa segar menyeruak dari tubuh Haris setelah ia menyelesaikan ritual mandinya. Apalagi ditambah harum nikmat dari arah dapur. Ah, Tak sabar rasanya ingin menyantap. Ia mendekati Hana. Melihat apa yang istrinya kerjakan. Rasa bahagia pun menguar dihatinya.
“Kamu masak bersusah payah, apa lukamu sudah sembuh?” Haris kembali memegang tangan Hana untuk melihat lukanya.
“Sudah tidak sakit kok mas” Hana mengambil tangannya dari tangan Haris dan fokus menata meja makan.
“Mas mau makan kapan, sekarang atau ba’da maghrib?” Hana pun mengalihkan pandangannya menatap Haris. Melihat wajah Haris, tiba-tiba ia teringat bahasan foto bersama Lisa dan Yura tadi.
“Sekarang aja ya, melihat masakan mu aku menjadi lapar”
Hana mengangguk datar. Haris melihat wajah muram Hana. Gadis itu juga tidak sesenang biasa ketika ia membawa pulang martabak manis.
“Teman-teman mu tadi jadi kesini?”
Hana kembali mengangguk dengan ekspresi datar.
“Kamu sehat kan?”
“Alhamdulillah mas”
“Aku lihat kamu tidak semangat seperti biasa, apa ada masalah?” Haris memperhatikan wajah Hana.
Hana hanya menggeleng. Haris tidak tau harus berkata apa menghadapi tingkah aneh Hana yang tiba-tiba. Sekarang ia baru mengetahui bahwa Hana juga punya mood yang cepat berubah.
***
__ADS_1
Hai Readers.... Terima Kasih sudah setia membaca, jika kalian suka sama ceritanya jangan lupa berikan Like, Komen juga Vote ya. Jangan lupa hadiahnya. Dukungan kalian membuat Author tambah semangat menulis. Jazakumullah Khairal Jaza'
Ig @alana.alisha