
Pondok Pesantren Bustanul Jannah ramai seperti biasa. Kegiatan indoor maupun outdoor berjalan sebagaimana mestinya. Ruang kelas dipenuhi oleh para santri yang sedang mengenyam ilmu pengetahuan.
Suasana di lapangan juga tidak kalah ramai. Kakak-kakak kelas yang tengah menunggu pengumuman kelulusan bermain bola kaki atau voli guna mengisi kegiatan yang kosong.
Mobil CRV putih milik Arini memasuki gerbang. Mobil yang dikendarai oleh Romi tersebut berhenti tepat di parkiran. Sesuai janji, mereka akan bertakziah mengunjungi Haris dan Hana. Sebuah bingkisan buah tangan dan bucket bunga telah dipersiapkan. Mereka sepakat untuk masing-masing menenteng salah satunya.
Romi mematikan mesin lalu bergegas turun dan membuka sisi pintu yang ada di sebelah Arini. Pemuda ini mengulurkan tangannya.
“Aku bisa turun sendiri” Ketus Arini.
“Baiklah. Aku hanya ingin memudahkanmu saja”
Arini berhenti setelah menutup pintu. Ia Tampak ragu. Romi yang terus berjalan akhirnya menoleh.
“Ada apa?”
“Kamu saja yang melayat. Aku tunggu di sini”
“Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri di sini. Ayolah!” Ajak Romi.
Arini bergeming. Ia masih saja berada di tempatnya tanpa mau bergerak.
“Apa kau gugup? Tenanglah. Ada aku! Kita ke sini berniat untuk bela sungkawa bukan untuk hal lain!” Romi mengambil tangan Arini untuk kemudian digenggamnya. Lalu laki-laki ini menuntun sang istri berjalan memasuki perkarangan kediaman haji Zakaria.
***
Di kamar, Haris baru saja selesai mandi dan berpakaian. Diikuti oleh Hana yang tengah mengeringkan rambutnya menggunakan hair-dryer. Baju Handuk masih wanita ini kenakan. Haris mengamati tiap detil apa yang istrinya itu lakukan. Semua selalu tampak indah dimatanya. Calon ayah ini bangkit. Ia melingkarkan tangannya memeluk Hana dari belakang. Lalu tak segan menempelkan hidungnya di ceruk leher yang terbuka. Ia Menghirup feromon di sana. Harum yang selalu membuatnya rindu.
“Mas… Mas Romi pasti sedang menunggu kita” Hana mengingatkan seraya mencegah Haris yang tengah melonggarkan simpul ikatan handuknya.
“Romi belum tiba. Aku juga tidak yakin apa ia benar-benar akan ke sini bersama istrinya” Sahut Haris asal. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
“Hhhh sayang… Gerakan yang kamu lakukan tadi benar-benar melecut semangatku. Ferromagnetik nya beriak kecil berkontinue. Seumpama kopel gaya dengan kecepatan angular tak terbatas, Ia terus beresonansi mengharap balasan” Bisik Haris berpura-pura mengeluh dengan wajah memelas dan sok berpuitis.
“Yeee… Memang dasar mas nya saja. Padahal aku tidak melakukan gerakan apa-pun” Protes Hana mendelik.
“Yahh.… Aku kan sedang berusaha menjadi pujangga. Sepertinya susah sekali membuatmu terkesan... Hmh, Sayang,,, Apa aku harus berubah menjadi Peter Parker dalam serial Spiderman dan menyelamatkan dunia terlebih dahulu baru bisa menyentuh hatimu, huh?” Haris bersungut. Namun ia tetap enggan melonggarkan pelukannya.
"Haha... Pujangga sih pujangga tapi liat situasi dan kondisi juga dong, Mas! Masa kita harus mandi lagi... Kalau mas Romi dan istrinya datang kan jadi ga lucu!" Hana tertawa lepas. Deretan gigi rapi itu terlihat semakin menggemaskan.
***
Romi dan Arini berjalan beriringan. Tangan dengan cincin yang melingkar di jari manis nya masih saja Romi genggam. Semilir angin membuat kerudung dan baju mereka melambai-lambai. Romi dan Arini berhasil membuat orang yang berlalu Lalang jadi bertanya-tanya siapa pasangan serasi yang mampir ke tempat mereka.
“Assalamu’alaikum, kami ingin bertemu dengan Haris” Ucap romi meminta izin pada petugas gerbang.
“Waalaikumsalam, “Maaf. Dengan siapa?”
“Saya Romi, saya datang bersama istri saya”
“Hmh, mau bertemu Gus Haris? Apa sudah membuat janji sebelumnya?”
“Alhamdulillah sudah”
“Baik” Petugas gerbang menghubungkan telepon pada Haris. Mereka terlibat percakapan singkat.
“Pesan Gus Haris, masuk dan tunggu sebentar di taman. Nanti Beliau dan Ning Hana akan menyusul. Mari saya antar!” Ucar petugas mengarahkan Romi dan Arini ke tempat tujuan. Sejak kejadian salah paham melibatkan Haris yang diam-diam memasuki kamar Hana sepulang dari Amerika, maka keamanan di kediaman Haji Zakaria pun di perketat guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Taman bebungaan tampak sepi. Taman ini merupakan taman pribadi yang khusus di bangun oleh haji Zakaria untuk hajjah Aisyah. Taman yang bunga-bunganya di tanam langsung oleh tangan kekar seorang laki-laki yang tidak pernah bermain tanah sebelumnya. Tidak pernah melakukan pekerjaan berat. Namun demi menarik hati orang yang dicintai, beliau rela berjuang mewujudkan sebuah taman menjadi nyata. Sebab terdengar ditelinga beliau bahwa sang Humaira begitu menyukai kembang.
Walaupun ini merupakan taman khusus, namun keluarga, kerabat juga tamu tetap boleh mengaksesnya. Hingga sekarang, taman ini dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang telah mekar sempurna.
__ADS_1
“Silahkan mas, mbak… Tunggu sebentar di sini” Petugas mempersilahkan Romi dan Arini mengambil tempat. Sebuah gazebo kayu jati dengan atap anyaman lumayan luas berada di tengah-tengah taman.
Arini berjalan ke pinggiran Gazebo menatap kosong ke arah bunga-bunga indah yang memiliki bau harum. Pikirannya malah menggembara was-was menunggu kehadiran Haris.
“Bunganya indah sekali ya?” Celoteh Romi ikut berdiri di sampingnya.
“I…Iya…”
“Aku ingin kita melakukan selfie boleh?” Tanya Romi. Arini tampak berfikir, lalu mengangguk pelan. Romi mengambil handphone dari saku celananya bersemangat.
“Mendekatlah”
“Terlalu jauh. Wajahmu tidak kelihatan”
“Sebentar…” Romi merangkul pundak Arini.
“Smileee… satu… dua… Cekrek!” Romi berulang kali mengambil foto mereka. Awalnya wajah Arini hanya menunjukkan ekspresi datar. Namun ekspresi tersebut perlahan berubah dengan senyum dan Gerakan manja.
Dari kejauhan, Haris dan Hana mendekat sambil saling menatap. Mereka tidak menduga bahwa istri yang Romi sebutkan ternyata Arini. Ternyata Romi telah berhasil menaklukkan hati wanita pujaannya secepat itu.
“Hemmm” Haris berdehem. Hana sumringah melihat dua sejoli yang terlihat seperti dimabuk asrama.
“Mas Haris?” Terpergok. Arini jadi gelagapan. Ia bergerak memperbaiki tampilannya.
“Masya Allah… pengantin baru… Seperti nya kehadiran kami sangat mengganggu! tapi tega bener ga ngundang-ngundang kita!” Goda Haris berseloroh. Ia menonjok ringan pundak kiri Romi.
“Hehe mendadak. Baru nikah siri. Doakan biar segera bisa diresmikan” Sahut Romi menggaruk tengkuknya.
“Aamiiin yaa Rabb… Ga apa-apa nikah siri terlebih dulu, menikah memang harus disegerakan. Semoga Allah mudahkan untuk proses peresmiannya”
“Wah... Selamat Mas Romi, Mbak Arini… Baarakallahu lakuma wa baaraka ‘alaikuma wa jama’a baina kumaa fii khayr” Hana ikut memberi selamat.
“Terima kasih doa baik nya, Hana!” Sahut Arini melirik ke arah perut Hana. Hamil kembar memang membuat perutnya menjadi lebih besar dari ukuran seharusnya. Wajah Arini berubah sendu.
Romi duduk di dekat Haris. Sedang Arini dan Hana mengambil tempat sedikit berjauhan. Mereka saling ngobrol. Haris dan Romi terutama. Sedang Hana, ia sudah berinisiatif mengajak Arini bercakap-cakap. Sayangnya, istri dari Romi tersebut seperti enggan.
“Apa semua ini ada hubungannya dengan Lisa?”
“Aku tidak yakin”
“Bukankah kejadiannya bertepatan dengan kaburnya Lisa dari sel tahanan?”
“Ya. Tapi semua ini tidak semudah itu. Aku juga tidak tau pasti apakah ini memang murni serangan jantung atau ada pemicunya” Sahut Haris pelan namun tajam.
“Aku telah menemukan fakta baru. Tapi ini semua berhubungan dengan....." Haris menjeda kalimat nya. Ia merasa tidak enak membahas perihal bu Indah sedang ada Arini di sini.
"Dengan apa? "
"Hmh... Romi, sepertinya aku harus kembali merepotkanmu dan Ridwan! Ah, aku selalu saja mengganggu ketenangan kalian"
“Jangan bicara seperti itu. Kau bisa mengandalkan ku kapan pun yang kau mau. Masa sekolah dan kuliah dulu, kamu selalu ada baik secara moril maupun materiil tapi tak pernah mengeluh hingga aku jadi seperti sekarang. Lagian kita ini bersahabat. Jangan sungkan" Sahut Romi menepuk pundak Haris.
"Baiklah. Aku akan mengirimkan tulisan ke emailmu. Kau bisa mempelajari nya ketika senggang. Jangan terburu-buru. Aku paham bagaimana perasaan pengantin baru! " Haris mengerling menggoda Romi.
"Hahaha"
"Aku akan mengirimkan tiket honeymoon untuk kalian. Tanyakan pada Arini, ia mau ke negara mana! "
"Haris, kau begitu menghamburkan uangmu! "
"Santai saja. Kita ini sahabat! Jangan sungkan... " Haris membalikkan kata-kata Romi. Mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Arini melihat percakapan kedua laki-laki itu dengan wajah yang sulit diartikan.
"Mbak... Minumannya silahkan diminum" Ucap Hana.
"Mbak Arini... "
"Mbak... " Panggil Hana tak menyerah.
"Eh ya? "
"Silahkan diminum mbak! "
"Terima kasih" Sahut Arini datar. Wanita ini mengambil minuman tapi tetap mengarahkan pandangan ke arah dua sahabat yang terlihat sangat akrab. Hana mengeryitkan dahinya.
"Mari kita bergabung bersama mereka! " Ajak Arini bangkit. Ia mengambil tangan Hana tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.
"Haris, Kami harus kembali. Sepertinya Arini ada agenda lain setelah ini. Aku menunggu email darimu secepatnya!" Ucap Romi ketika melihat Arini bergerak mendekat.
"Mas... Aku ingin bicara dengan mas Haris sebentar saja. Bolehkah? " Tanya Arini tiba-tiba. Namun matanya menatap mata Hana.
"Katakan... Apa yang bisa kubantu?" Sahut Haris santai.
"Aku ingin kita bicara. Di situ. Berdua. Sebentar saja... " Arini menunjuk ke gazebo kecil di sebelah gazebo mereka. Raut wajah Romi berubah.
"Hmh... Maaf... Aku... "
"Ini penting mas... sebentar saja... bolehkan Hana? "
Hana hanya diam. Lalu mengangguk setuju. Haris masih diam di tempat. Ia menatap Hana yang kemudian digiringi oleh anggukan.
Haris dan Arini berjalan agak menjauh. Namun tampilan dan pergerakan mereka masih terpantau dengan baik oleh Romi dan Hana.
"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan? "
"Mas, aku sudah menikah.. "
"Aku ikut bahagia"
"Tapi aku tidak... Aku menderita karena semakin mengingat mu... Aku bahkan tidak bisa berdekatan dengan Romi karena bayang mu yang selalu saja hadir. Ku pikir pernikahan ini...."
"Arini, jika kau mengajakku hanya untuk mengatakan omong kosong, aku menyesal mengikuti mu kesini!" Haris hendak beranjak.
"Mas.. Tunggu... ! "
"Hhhh maaf... baiklah... aku sudah tau kalau mas tidak akan mengubrisku... Sebenarnya, aku ingin kita bicara karena aku ingin memohon sesuatu"
"Apa itu? "
"Ku mohon... jangan hukum ibuku..." Arini menangkup kan kedua tangannya. Romi yang melihat gerakan tersebut jadi bertanya-tanya. Apa mungkin Arini mengajak Haris untuk balikan? Ah mana mungkin.
"Hana, apa kamu cemburu melihat mereka? " Tanya Romi yang melihat Hana tidak berkedip mengekori gerak sang suami.
"Tidak. Aku percaya pada suamiku" Sahut Hana tegas.
Terlihat Arini mengambil sesuatu dari tasnya.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***