
Sepoi angin membelai alam, suasana subuh sudah berganti dengan keadaan pagi bersama mentari yang baru saja menampakkan wujudnya. Sinarnya memberikan kehangatan yang menenangkan. Sebagian insan mulai sibuk melakukan aktifitas mereka yang padat di pagi ini.
Di tengah padatnya aktifitas manusia di luaran sana, tampak Haris dan Hana yang masih mengobrol di ruangan rawat inap, dokter mengatakan jika dalam 3 hari lagi hasil observasi Hana baik, maka ia diperbolehkan untuk pulang.
"Aku sama sekali tidak bahagia atau kecewa mas! " Ucap Hana menanggapi pernyataan Haris tentang penyelamatan yang dilakukan oleh Gibran. Kalimat ini sukses membuat Haris menghentikan langkah kakinya.
"Hanya saja aku masih berfikir dan merasa heran mengapa hal ini bisa terjadi, kenapa harus mas Gibran, apa hubungan nya mas Gibran di dalam kasus ini" Hana mengkerut kan kening heran.
Haris sendiri masih belum bisa menjawab teka teki ini, ego nya masih meninggi, ia terlalu enggan berurusan dengan Gibran, namun ia sudah bertekad...,
"Masih banyak sekali misteri yang tidak aku ketahui Hana, tetapi karena aku telah gagal menolongmu, maka aku pastikan aku tidak akan gagal mengungkap semua hal yang berkaitan dengan masalah ini" Tukas Haris dengan penuh tekad. kali ini ia memberanikan diri menatap manik hitam mata Hana yang bersinar walau terlihat sendu, namun terasa bagai magnet semangat tersendiri dihatinya.
"Untuk saat ini, kamu pulihlah terlebih dahulu, kesehatan dan keselamatan mu jauh lebih penting. Nanti kita bicarakan lebih lanjut masalah ini. Aku juga masih sangat penasaran atas apa yang terjadi padamu, tapi ketahuilah bahwa Allah tidak pernah tidur, istriku! kebenaran akan terungkap" Tukas Haris kemudian.
Hana menganggukkan kepala., jiwanya membeku sudah, ia terlalu malas mengingat apa yang terjadi malam itu, mengetahui kenyataan bahwa adanya zat haram yang telah menyatu di aliran darahnya saja ia sudah merasa mual. ia takut jika terlalu mengingat nya, maka ia akan mengeluarkan muntahan emosi yang tidak bisa diredamnya. Ya Rabb...
Namun, mendengar Haris menyebut nya sebagai istri, entah mengapa ada perasaan berbeda yang menyelinap halus di hatinya, ada kesejukan disana, samar-samar ia merasakan getaran halus yang mendesiri jiwanya.
"Mas, tadi itu mas mau kemana? " Hana bertanya mengingat tadi Haris sudah akan menggerakkan langkah menjauhinya.
"Aku ingin menghirup udara segar" sahut Haris.
"Kenapa? Apa kamu mau ikut? " Haris menawarkan.
Hana ragu, ia hanya diam dengan menatap wajah Haris penuh harap. Apa dengan kondisi nya yang masih menggunakan selang infus ia akan diizinkan keluar ruangan? Haris seperti menangkap keraguan yang ada di hati istrinya.
"Aku akan bertanya pada perawat terlebih dahulu, kamu tunggulah sebentar saja"
Haris pun berlalu bertanya pada perawat yang bertugas, Alhamdulillah Hana di perbolehkan untuk sekedar menghirup udara segar di sekitaran rumah sakit, tentu saja dengan menggunakan kursi roda.
Haris pun kembali masuk ke ruang rawat Hana dengan membawa kursi roda.
__ADS_1
"Naiklah ke kursi roda ini, aku akan membawamu berkeliling di taman" Ucap Haris sambil mengulurkan tangan untuk membantu Hana duduk, namun gadis itu tampak sedikit kesusahan.
Melihat Hana yang kesulitan, Haris pun menyibak selimut yang Hana kenakan dan tak segan menggendong gadis itu ala bridal style dan mendudukkan nya dengan perlahan, untuk sejenak Hana berada di pelukan Haris, tentu saja ia sudah mengatur posisi selang infus terlebih dahulu.
Wajah Hana bersemu merah, ini bukan kali pertama Haris menggendongnya, namun tetap saja jika ia merasa malu, rona wajah yang terpancar akan selalu berbeda.
Haris melihat kaki polos Hana yang tidak mengenakan kaus kaki.
"Kemana kaus kakimu? " Haris melihat ke sekeliling, terutama meja yang terdapat di sudut ruangan, namun ia tidak menemukan apapun di sana. Hana menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia juga tidak tau.
Haris menarik selimut yang tadi menutupi tubuh Hana. Kini ia lipat selimut tersebut dan diletakkan di atas kaki istrinya itu sampai membaluti kedua kakinya. Mereka pun berlalu menuju arah luar.
Mereka melewati lorong-lorong rumah sakit dengan tenang, Haris mendorong kursi roda seraya memperhatikan raut wajah Hana. Manis sekali. Iseng, ia pun membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu,
"Wajahmu saat ini berbeda dengan wajahmu beberapa saat lalu, sekarang lebih bersemu dan bersemi, aku bisa melihat musim bunga merah jambu yang bermekaran di sana" bisik Haris yang setiap kata-katanya terasa membelai di telinga Hana. Deg.
Wajah Hana yang dari tadi tegak lurus ia palingkan ke arah kanan. Malu. Apa sih mau suami nya ini? batin nya.
"Apa kamu senang aku berada di dekatmu seperti ini? atau kamu senang jika kita berada jauh lebih dekat lagi? " Haris tersenyum melihat wajah Hana yang semakin memerah, semakin kuat warnanya semakin menggemaskan. Deg.
"Apa sih mas? Aku baik-baik saja kok" Hana masih terus mempalingkan wajahnya,
"Aku malah melihat musim gugur di wajahmu, yang mana dedaunan emosi dan luapannya terus saja berguguran setiap kali kamu melihatku. Aku tidak tau apakah ini pertanda baik atau tidak. Apa mas bahagia merawatku dalam keadaan seperti ini atau malah sebaliknya" Hana berucap dengan membalikkan kata-kata Haris, sungguh sebenarnya ia merasa sangat malu. Namun ia tidak ingin kalah oleh keadaan, ia paham Haris tengah mengujinya.
" Terus mengapa dedaunan emosi yang berguguran itu masih saja kamu tampung dan kamu simpan dengan baik, kamu rawat walau ia sudah layu tak bermanfaat, huh?" Haris masih terus menggoda Hana.
"Itu karena... itu karena... " Hana kehilangan kata-katanya.
"karena apa?"
Drrrrt drrrtttt
__ADS_1
Di tengah pembicaraan absurd mereka, Tiba-tiba handphone Haris bergetar tepat ketika mereka memasuki taman.
"Assalamu'alaikum" Haris menyapa orang yang memanggilnya di seberang yang ternyata adalah asistennya di kantor.
" Waalaikumsalam.., pak Haris, maaf mengganggu waktunya sebentar"
"Iya, ada apa?"
"Bapak dipanggil oleh Dewan direksi untuk menghadap, surat telah dikirim melalui email namun belum ada balasan dari bapak, harap bapak segera melapor untuk dapat segera menghadap, kehadiran bapak di tunggu dalam waktu 3 x 24 jam"
" Aku sudah mengajukan cuti untuk bulan ini, mengapa aku harus ke kantor? " Haris mengkerut kan kening, namun seketika ia mengerti bahwa kasus yang menimpa nya kini sedang menjadi buah bibir di kantor.
"Ini bukan masalah cuti yang bapak ambil, tapi masalah crusial lain yang menyangkut nama baik bapak" ucap sang asisten lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menghadap dewan direksi nanti"
Tiiit tiiiit...
"Mas, apa kamu punya masalah di kantor? Apa masalah itu... hmh... akulah penyebabnya? " Hana bertanya cemas, tenggorokan nya seperti tercekat. Haris memberhentikan kursi roda setelah mereka sampai di taman. Ia berbalik arah menghadap Hana, menatap raut cemas wajah gadis yang penuh kelembutan sekaligus ketegasan itu dengan mata rasa bersalahnya.
Haris menggeleng.
" Kamu tidak menyebabkan apapun, apapun yang menyangkut aku dan kantor, kamu bukan lah penyebabnya, kamu jangan cemas. Aku tidak ingin kamu cemas, aku cemas dengan kecemasanmu, Hana! " Haris berkata sambil menangkup pipi Hana dengan kedua telapak tangannya.
***
Hai Teman-teman, Terima Kasih sudah membaca karya Alana yang masih jauh dari kesempurnaan ini ^^
Maaf yaaa kalau kadang update nya agak lama, tapi Alana selalu mengupayakan untuk bisa update sehari 1 bab, tapi karena satu dan lain hal dan kesibukan di dunia nyata mungkin update nya bisa jadi 2 hari sekali atau bahkan 3 hari sekali sampai kondisi stabil.
Yuuk dukung terus karya Alana dengan LIKE, KOMEN dan VOTE, juga Hadiahnya, Terima kasih man teman, 🥰🌹🌸
__ADS_1