Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 112: Jantung yang Berdegup


__ADS_3

"Romi, sebaiknya kamu berhenti untuk datang ke sini! " Ucap bu Indah kala mendapati Romi mengunjungi Arini untuk kesekian kalinya.


"Saya harus mengamati perkembangan Arini, bu! Saya harus bertanggungjawab terhadap anak ibu" Sahut Romi sopan.


"Kehadiran mu sama sekali tidak diharapkan oleh Arini! Punya apa kamu berani-beraninya mendekati putri saya? " Cerca bu Indah. Romi tertegun.


"Mengapa ibu menghalangi saya dari sebuah tanggung jawab? Apa yang ibu harapkan dari seorang pria yang sudah beristri? Arini bahkan belum siuman, bukan kah kesembuhannya lebih penting dari apapun untuk saat ini? " Romi membalikkan pertanyaan, ia mengerti apa yang bu Indah inginkan.


"Saya memang bukan CEO dan hanya pegawai biasa. Tapi saya tidak akan membiarkan putri ibu kelaparan. Jadi untuk langkah awal, tolong restui saya dan putri ibu, lalu sisanya biar saya yang mengurusnya" Lanjut Romi tegar tanpa ada sedikitpun keraguan dari sorot matanya.


"Lancang kamu!!"


"Baik. Saya akan membiarkan kamu di sini hanya sampai Arini siuman, selebihnya jangan halangi putri saya untuk memperjuangkan cintanya! " Ucap bu Indah sambil berlalu. Sebenarnya beliau sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi pemuda yang memiliki keteguhan hati itu.


Romi berjalan mendekati ranjang Arini, selang infus dan selang oksigen masih menghias di sana.


"Riri, sudah setengah tahun kamu berbaring di rumah sakit ini. Sudah setengah tahun pula aku tidak pernah absen untuk menemuimu. Aku pikir, rasa cintaku padamu akan memudar seiring berjalannya waktu. Namun sayangnya ia semakin bertambah kuat, tumbuh menyubur walau tidak ada yang menyiram"


"Aku sudah berjanji pada orang tua ku untuk menikah tahun depan agar mereka tidak lagi mendesak ku dengan pertanyaan yang sama. Dan Aku harap kamu lah orangnya. Ah, bahkan jika kamu bangun dan menyuruh ku untuk menikahimu sekarang juga, aku pasti akan melakukannya"


"Aku memang tidak setampan Haris, tidak sekaya dia, tidak pula sebaik dan se sholeh pemuda yang kau gilai itu. Tapi aku bisa berjanji untuk memenuhi hidupmu dengan cinta. Aku bisa berjanji hanya kamu lah Satu-satunya wanita yang tidak akan pernah kuduakan"


"Ma...s... " Tiba-tiba Arini bergumam. Romi mendongakkan kepalanya untuk memastikan apa ia tidak salah dengar.


"Mas Ha...ris... " Wanita ini masih bergumam. Namun matanya tetap tertutup rapat. Mendengar nama yang Arini sebut pertama kali, Romi menghela nafas nya.


"Rii,, Riri... Sebentar, aku akan memanggil kan dokter! "


***


Masih di dalam kamar lama. Setelah Hana keluar, Haris mengambil gawainya menelepon seseorang,


"Halo... " Jawab orang di seberang.


"Ah dokter Irawan! Saya Haris"


"Pak Haris? Hmh... Suami dari nona Hana yang sempat saya kuret beberapa waktu lalu? " Dokter Irawan tampak berfikir.


"Benar dok. Tepat sekali! Begini, saya ingin menemui dokter. Saya ingin mengkonsultasikan sesuatu" Sahut Haris.


"Baik. Saya tunggu kedatangannya, pak Haris! "


"Terima Kasih dok! "


Haris menutup teleponnya. Ia mengigit bibir bawahnya lalu bergegas melangkah ke arah lemari mengambil pakaian untuk mengantinya.


"Mas, mengapa lama sekali? katanya 5 menit? " Todong Hana begitu melihat Haris muncul.


"Hehe Maaf" Ucap Haris dengan melebarkan senyumnya.


"Barusan Ummi Aisyah menelpon, besok aku di suruh main ke rumah beliau" Ucap Hana lagi ketika mereka sudah duduk bersama di mobil.


"Trus Ummi Aisyah bilang apa lagi?" Selidik Haris.


"Ga, cuma nanya apa Ummi Fatma sudah sampaikan amanah dari beliau"


Deg. Ummi Aisyah sangat tidak sabar. Keluh hati Haris.


"Aku akan menemanimu ke sana" Sahut Haris.


"Tidak usah, besok kan mas full time di kantor! "


"Aku khawatir Ummi akan membuatmu sedih" Gumam Haris nyaris tak terdengar.


"Apa? Aku tidak mendengar jelas kalimat mas barusan" Hana mengerutkan keningnya.


"Besok aku akan mengantarmu! " Ralat Haris, ia menyalakan mobilnya dan bergerak menuju bioskop. Berkali-kali Haris menoleh melihat Hana yang memusatkan pandangannya ke depan.


"Kenapa mas memperhatikan ku begitu? "

__ADS_1


"Aku takut kamu berpaling ke kiri... Sedang aku berada di kanan" Ucap Haris.


"Haaaa, Bisa-bisa nya" Hana Menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya Haris berkata serius, hanya saja ia tidak tau bagaimana harus mengungkapkan kekhawatiran nya.


Mobil Haris terus saja melaju melewati berbagai pertigaan dan perempatan, hingga tiga puluh menit berlalu, pasangan muda ini menginjakkan kaki mereka di gedung bioskop. Hana sedikit gugup.


"Mas, jujur Ini pertama kali nya aku ke bioskop! " Aku Hana setelah mereka tiba di sana. Spontan Haris menoleh.


"Lalu sebelum menikah kamu kemana saja? "


"Ya... ke tempat selain bioskop" Sahut Hana datar.


"Kenapa? Menurut mas, Aku kolot ya? " Tanya Hana lagi.


"Ga. Ya wajar lah anak Kiai ga ke bioskop. Kalau kamu bolos sekolah malah ke diskotik itu baru ga wajar"


"Tapi aku suka nonton, dulu sering kali aku menyisihkan uang saku untuk berlangganan di movie apps berbayar" Sahut Hana lagi.


"Untuk kedepannya aku akan menemani mu, tenang saja! Kita juga bisa setiap weekend ke bioskop" Sahut Haris menoel hidungnya, Hana tersenyum. Suaminya itu begitu pintar mengubah moodnya.


"Aku beli popcorn dulu, kamu tunggu di sin sebentar ya! " Hana mengangguk.


Hana berdiri di dekat tiang menunggu Haris yang tengah mengantri, sesekali ia memainkan ponsel nya melihat berita terkini dan menge-cek sosial medianya.


"Hi... " Tiba-tiba seseorang menyapanya. Hana hanya bisa mengerutkan kening, sebab ia tidak mengenal orang yang menyapa tersebut.


"Kamu Hana kan? " Ucap nya lagi ketika tidak mendapatkan respon apa-apa dari Hana.


"Aku Aris, adiknya Arini. Temannya Haris. Dulu aku juga pernah jadi kakakmu pas SMA, kamu masih ingat? "


"Oh, Mas Aris.. Iya aku ingat. Wah, ga nyangka ternyata mas adiknya mba Arini" Seketika wajah datar Hana menjadi lebih ramah. Aris menyunggingkan senyumnya.


"Harisnya kemana? "


"Lagi ngantri beli popcorn. Mas mau nonton? sendirian saja? " Tanya Hana berbasa basi.


"Kamu masih sama seperti dulu ya, ga berubah! "


"Maksud mas? "


"Kamu ingat tidak, dulu kamu selalu jadi primadona di sekolah. Berkali-kali cowok-cowok di sekolah sampai masuk ke ruang BK (bimbingan konseling) cuma karena berantem sebab cari perhatian kamu" Aris tertawa.


"Haha, mas berlebihan! Faktanya ga seperti itu kok! " Hana jadi ikut tertawa.


Dari kejauhan Haris menangkap Hana tertawa begitu lepas dengan seorang lelaki, perawakan lelaki itu memang tidak begitu asing dimatanya. Haris langsung mendekati mereka.


"Hemmm" Haris berdehem.


"Mas, sudah selesai beli popcorn nya?" Tanya Hana. Bukannya menjawab, Haris malah langsung merangkul istrinya tersebut.


"Aris? Kamu sendirian saja? " Sapa Haris datar.


"Iya nih mas! " Jawab Aris tenang. Ia memberikan senyum ramahnya.


"Keadaan Arini bagaimana? " Tanya Haris lagi. Namun dengan ekspresi yang sama.


"Alhamdulillah Mba Arini sudah siuman... mas mau....."


"Oh, Alhamdulillah kalau begitu. Kami masuk duluan ya! Nanti insya Allah aku dan Hana juga akan mengunjungi Arini" Ucap Haris membawa Hana berlalu tanpa menunggu jawaban dari Aris.


"Mas, mas kok gitu sih? kayak enggan ngobrol sama mas Aris. Beliau jadi merasa ga enak! " Protes Hana yang melihat Haris acuh tak acuh. Saat ini mereka sudah mengambil seat.


"Kamu tuh yang sembarangan ngobrol sama laki-laki!" Haris sewot.


"Lah.. Mas Aris yang nyapa duluan, katanya adik mba Arini. Berarti kan teman nya mas. Terus ternyata beliau kakak kelasku di SMA dulu lho! " Terang Hana.


"Terus kamu bangga karena dia kakak kelasmu? Ngobrol aja terus biar sekalian kita batalin nontonnya! " Sembur Haris.


Yaaah, mas Haris kumat lagi. Batin Hana.

__ADS_1


"Cuma ngobrol biasa kok mas"


"Pokoknya aku ga senang. Apalagi kamu tertawa lepas begitu. Aku melihatnya Hanaa! " Haris memicing kan matanya.


"Ya... Maaf.... " Hana mengambil tangan Haris.


"Janji jangan ulangi lagi! "


"Tapi kalau ada teman yang mengajak mengobrol bagaimana? mas Ridwan misalnya atau mas Romi? Bisik Hana yang menyadari ruangan hampir penuh.


"Bicara sekedar nya saja. Aku tegaskan, aku tidak ingin mendengar alasan apapun! " Ucap Haris lagi. Ia menggenggam erat tangan Hana. Wanita ini terdiam.


Film di mulai. Mereka sama-sama mengakhiri pembicaraan.


***


"Hahahaha... gemes banget liat kamu ketakutan" Kini Haris baru bisa tertawa lepas mengingat ekspresi Hana ketika menonton film horror tadi.


"Ketawa aja trus, ngejek aja terus. Bahagia banget liat istri menderita" Sindir Hana manyun.


"Menderita? " Haris mengerutkan keningnya.


"Padahal aku pikir kamu happy banget bisa bebas meluk-meluk aku tanpa hambatan, hahahaha" Haris kembali tertawa.


"Ih mas... Ya Rabb... nyebeliiin bangeettt. Fix, kalau gitu aku ga akan peluk-peluk mas lagi. Ga ada yang namanya peluk-pelukan diantara kita! " Ancam Hana berlalu meninggalkan Haris yang masih tertawa. Menyadari kata-kata Hana, Haris bungkam.


"Hanaa, Hanaaa tunggu... Mana bisa begitu. Statement jenis apa itu. Jangan sekejam itu padaku!" Panik Haris, Hana terus saja berjalan. Ia tersenyum usil.


"Hanaaa... " Haris membalikkan tubuh istrinya.


"Aku beli ice cream dulu yaa mas"


"Tunggu, katakan kalau Kata-kata tadi tidak benar! " Haris masih panik.


***


Hana melahap ice creamnya. Mereka menikmati nya dipinggiran taman.


"Besok kalau Ummi Aisyah bilang yang tidak-tidak, kamu jangan masukkan ke dalam hati ya! " Ucap Haris pelan.


"Maksud mas? "


"Hmh, mungkin Ummi akan membahas tentang anak padamu" Ucap Haris, perkataan suaminya sukses membuat ice cream Hana mendadak terjatuh dari corongnya.


"Kok ice creamnya bisa jatuh? Aku belikan lagi ya! " Haris hendak bangkit.


"Ga usah mas, udah cukup kok"


"Beneran? " Tanya Haris lagi. Hana mengangguk.


"Hmh..Mas...


" Ya? "


" Kalau Ummi Aisyah meminta mas untuk menikah lagi, menikah saja" Ucap Hana tersenyum. Entah mengapa hatinya merasa kebas begitu melontarkan kalimat ini. Sebenarnya ia sudah lama menyangka kalau persoalan anak akan menjadi duri dan masalah dalam rumah tangganya.


"Kamu jangan berkata yang tidak-tidak Hana! Kita akan memiliki anak, Aku tidak akan menikahi siapa-siapa! " Tukas Haris yakin. Ia memegang kedua pundak istrinya.


"Terus kalau ternyata aku tidak bisa hamil lagi bagaimana? Kalaupun aku bisa hamil lalu hamil anggur lagi bagaimana? " Tanya Hana, ia masih saja mengembangkan senyumnya.


"Kita akan mencari solusi lain, bayi tabung misalnya. IVF atau terserah apa itu namanya" Ucap Haris menatap netra Hana lekat-lekat.


"Tidak. Aku tidak mau menjalankan prosedur itu. Itu akan memakan waktu yang sangat lama! Keluarga besar pasti menolak! "


"Mas jangan khawatirkan aku... Dulu aku pernah berkata bahwa selama menikah, aku tidak ingin dimadu... tapi itu karena aku tidak yakin akan perasaan mas padaku. Kalau dulu mas menikah lagi, apalagi menikahi mbak Arini, aku pasti akan tersisihkan, ya jelas aku akan kalah saing Haha... " Untuk sejenak Hana tertawa menutupi perasaan gugupnya. Menutupi detak jantung nya yang terus berpacu.


"Tapi sekarang, aku telah melihat kesungguhan mas terhadapku, Aku yakin walau mas menikah lagi... Mas akan tetap memperhatikan ku" Ucap Hana selanjutnya. Jantungnya masih saja berdegup kencang. Tangan Haris yang berada di pundaknya terlepas seketika.


***

__ADS_1


__ADS_2