
Karena kau pernah tinggal di hatiku,
Dan aku menyebutnya ‘cinta’
Dan kau meninggalkanku
Hujan turun ~tes tes tes
Aku heran bagaimana langit tahu perasaanku ?
Aku melindungi hatiku, jadi aku tidak akan terluka lagi
Jadi aku tidak akan melihatmu lagi
Apa itu cinta ?
Apa itu perpisahan ?
Kenapa hal itu hanya menyakitiku ?
Membuatku tak bisa jatuh cinta lagi
***
Plakkkk!!!
"Kamu hamil anak siapa?! Jawab!!!" bu Indah berang. Ia menampar Arini seperti orang yang sedang kerasukan. Arini yang tadi sudah terkena pengaruh obat penenang hanya bisa diam di ranjang tanpa menjawab sepatah katapun.
"Mi, tenang, Ummi tenang dulu! " Aris, adiknya Arini mencoba menenangkan Umminya.
"Ummi tidak pernah mengajari kakakmu untuk menjadi wanita murahan! " Sembur bu Indah, beliau benar-benar murka.
"Mi, biarkan kakak tenang dulu. Kak Arini baru saja keluar dari rumah sakit! Ini berat untuk kita semua tapi tidak begini caranya" Bu Indah ingin kembali melayangkan tamparan ke wajah Arini namun berhasil di cegah oleh Aris.
"Ingat! Ummi akan kembali Mengintrogasimu! Dasar anak tidak tau diri!! " Bu Indah menatap tajam Arini dalam-dalam lalu keluar dengan perasaan kecewa.
Perlahan Arini mengamati kepergian bu Indah dengan ujung ekor matanya.
"Hhhhhh" Ia mendesah lega.
"Kak, Kakak baik-baik saja kan? " Aris yang baru saja pulang dari Shanghai mengurusi ijazah dan administrasi lainnya menatap Arini penuh iba. Ia mengambil salap di nakas dan mengolesi wajah memerah kakaknya akibat tamparan keras itu perlahan-lahan.
"Dik, mengapa dunia tidak adil pada ku? " Tanya Arini sambil menatap kosong ke sembarang arah dengan air mata berlinang.
"Kak, tidak semua hal di dunia ini sesuai dengan keinginan kita. Kakak tenanglah, Aku akan menyeret ayah dari anak yang kakak kandung agar pemuda brengsek itu mau bertanggung jawab, kaka jangan bersedih. Perkataan Ummi memang keterlaluan tapi percayalah.. Ummi menyayangi kakak dengan sepenuh hati" Aris mencoba menenangkan Arini, ia membawa kakaknya itu ke pelukan.
"Aku hanya menginginkan Haris, aku tidak mau yang lain, Hiks hiks. Sudah setahun aku membawa cinta ini dengan perasaan terluka dan aku berusaha mengambil cintaku kembali, ta.. tapi hiks hiks Haris sama sekali tidak bergeming" Arini menangis pilu, ia memuntahkan semua rasa sesak itu. Aris hanya diam.
"Salahkah aku jika aku menginginkan Haris? kebahagiaanku tidak muluk, aku hanya ingin bahagia bersama Haris. Itu saja. Sekarang kondisiku sudah tidak sama seperti dulu, aku sudah tidak memiliki harapan lagi" Arini berkata seperti bergumam, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Apa yang kakak katakan? Aku tidak bisa mendengar nya. Kakak begitu lemas, kakak lagi kurang sehat. Kakak tidurlah, istirahat lah dulu!" Aris membaringkan Arini ke kasur. Ia menaikkan selimut menutupi tubuh Arini lalu mengecup keningnya.
"Aku akan kembali setelah kakak beristirahat, ingatlah ada aku yang akan selalu menyayangimu" Aris keluar kamar namun hatinya serasa enggan untuk meninggalkan Arini. Tapi ia tetap harus memberikan kakaknya ruang dan waktu untuk beristirahat.
***
"Nak, masuklah ke dalam kamarmu! " Titah Abah kepada Hana saat dikabarkan Haris telah sampai di kediaman mereka. Hana mengikuti perintah Abahnya. Ia masuk ke kamar di susul Ummi.
Haris menunggu di ruang tamu dengan hati cemas. Mengapa bisa begini? Ia mengingat ingat apa kesalahannya. Bukankah ketika mereka bertemu terakhir kalinya, Ia dan Hana baik-baik saja?
Bahkan semalam... Hmh semalam mereka berada dalam kondisi yang tidak berjarak. Walau benar Haris yang memaksa tapi setidaknya Hana dan ia baik-baik saja.
Hmh tunggu, Terakhir kali Hana menemui Arini, apa Hana mendengar sesuatu hingga istrinya itu memutuskan agar mereka berpisah?
Berbagai pertanyaan berkelabat memenuhi isi kepala Haris, ia duduk merenung hingga guru sekaligus mertuanya datang menghampiri,
__ADS_1
"Assalamu'alaikum bah" Sontak Haris berdiri dan mengambil telapak tangan haji Amir lalu memberikan salam takzim.
"Waalaikumsalam, duduklah nak! " Jawab Haji Amir tanpa senyuman yang biasa beliau sematkan. Beliau mengambil tempat berhadapan dengan Haris. Dua gelas minuman plus cemilan telah tertata rapi di meja tamu. Haris terdiam tak berkutik, jujur saja beliau sangat segan terhadap mertuanya itu.
"Apa tujuan kamu kesini? Mau Memperbaiki atau melepaskan? " Haji Amir langsung menembakkan pertanyaan yang buat Haris terhenyak.
"Saya ingin menjemput istri saya bah, maaf sudah mengejutkan Abah dan Ummi. Harusnya Haris yang mengantarkan Hana jika memang Hana ingin sowan kemari" Ucap Haris dengan nada seperti biasa. Ia ingin Abah tau kesungguhan nya menjemput Hana walau sudah pasti Abah telah mengetahui bahwa Hana sedang tidak baik-baik saja.
"Jujur saja tadi Hana pulang dengan menangis , ia menenteng kopernya. Putri Abah itu mengatakan bahwa ia ingin tinggal kembali di sini bersama Abah dan Ummi seperti dulu. Tentang hal ini, bagaimana pendapat mu nak? " Haris terhenyak tapi ia sudah menduga jika Abah sudah mengetahui hal ini sejauh itu.
"Maaf Haris telah lalai bah, ini murni kesalahan Haris. Haris salah. Tapi Haris sama sekali tidak ingin berpisah dari Hana" Haris menjawab dengan menunduk.
"Abah tidak tau duduk perkara dan persoalan rumah tangga kalian. Hana tidak ingin menceritakan, dan itu sudah tepat, biar lah persoalan rumah tangga menjadi urusan kalian berdua" Ucap haji Amir bijak.
"Namun Abah hanya ingin menanyakan satu hal, sebagaimana Abah telah menyerahkan putri Abah satu-satunya itu padamu melalui kalimat suci hingga menggetarkan 'arasy, bagaimana keseriusan mu terhadapnya...?"
"Apa benar abah telah menyerahkan Hana pada pria yang salah? Hingga putri abah yang jauh dari sempurna dan butuh bimbingan itu jadi menderita seperti sekarang ini? " Abah berkata dengan nada santun namun semakin menyudutkan Haris.
Pemuda itu tertohok, kalimat-kalimat Abah seperti sindiran halus bahwa ia tidak becus dan kompeten dalam memimpin rumah tangga sekaligus menjadi seorang suami. Ya. Memang begitulah kenyataannya. Walau sampai saat ini ia sendiri tidak tau apa yang menyebabkan Hana ingin mereka berpisah.
"Maafkan Haris bah, Haris tidak akan membela diri di sini. Ini semua memang kesalahan Haris, Haris ingin meminta maaf pada Hana. Mungkin Hana telah salah paham atau memang ada kesalahan yang tidak Haris sadari yang mana itu semua menyakiti hati Hana" Haris mencoba bersikap gentleman.
"Mohon Abah perkenankan Haris menemui Hana, Haris ingin meminta maaf secara langsung padanya, Haris benar-benar ingin memperbaiki semua, Haris... Haris bersungguh-sungguh, Bah! " Kali ini Haris mengatakan nya dengan sedikit emosional, ia berkaca-kaca cemas, sebentar lagi maghrib datang dan ia sudah harus berangkat ke Jawa Barat, itu artinya ia dan Hana memang tidak memiliki kesempatan bertemu selama beberapa waktu.
"Hmh, Maaf nak Haris, bukannya Abah ingin memisahkan kalian, melihat kondisi Hana tadi, biarkan Hana tenang terlebih dahulu, kalian juga tidak bisa berbicara dalam kondisi emosional yang tidak stabil, Abah khawatir malah akan semakin memperkeruh keadaan" Sahut Abah.
"Berikan jeda waktu beberapa hari, sehingga kamu dan Hana bisa berpikir dan memutuskan apa yang terbaik buat kalian, baru setelah nya kalian berbicara" Abah memberikan saran.
Sebenarnya ulama paruh baya ini juga ingin memberi anak menantunya sedikit pelajaran sebab pertengkaran mereka sudah sampai di kediamannya.
Haji Amir hanya tidak ingin Hana begitu mudahnya mengucap kata pisah tanpa Tabayyun meneliti duduk perkaranya terlebih dahulu. Atau Haris yang semena-mena membuat putrinya menderita sampai berisak tangis. Jujur saja sebagai seorang Ayah, jiwa kepahlawanan dan kebijaksanaan beliau bertaruh di sini.
"Tapi Bah...? " Haris merasa keberatan. Betapa ia sangat merindukan Hana, berada di dekatnya saja ia masih rindu apalagi berjauhan selama beberapa hari. cobaan apalagi ini? Haris memijat mijat pelipisnya. Masalah kantor belum selesai, sekarang di tambah masalah rumah tangga nya. Astaghfirullah, Allah benar-benar sedang mengujinya.
"Malam ini Haris harus berangkat ke Jawa Barat, Bah. Ada kerjaan yang harus Haris kerjakan di sana" Ucap Haris lemas.
"Baiklah, pergi lah kalau begitu. Semoga Allah memberkahi langkahmu nak! " Haji Amir menutup pembicaraan mereka dan berlalu meninggalkan Haris yang dari tadi memasang wajah mengiba.
Haris pulang dengan wajah kusut. Ia menapak menaiki mobil dengan kehampaan, walau begitu ia harus tetap bertanggung jawab dengan kerjaannya. Baru saja Mala sekretaris nya mengingat kan bahwa nanti usai shalat maghrib, ia punya janji bertemu dengan rekan kerjanya, dan pertemuan itu tentu saja atas titah dari nya. Miris sekali!
Saat ini rasanya ia tidak ingin melakukan kegiatan apapun, mengingat ini semua, kepalanya serasa mau pecah saja!
Radio di mobil memutar lagu yang semakin membuat dirinya merindukan Hana,
Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
Menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi lirihku
Karena separuh aku
Dirimu
Ingin sekali ia mematikan radio tersebut. Ia bukanlah seorang penikmat lagu, tapi semakin di tentang, rasanya jadi semakin ia ingin mendengar nya. Sial.
***
Hana berulang kali mengecek handphone setelah sebelumnya sempat mematikannya. Ia tidak bermaksud menunggu pesan dari seseorang, hanya saja entah mengapa tangan nya terasa tidak enak jika tidak mengusap dan melihat ke layar handphone nya. Ia merutuki jari jemarinya kala melakukan itu.
Ia sendiri baru saja selesai menunaikan ibadah shalat maghrib dan tadarus setengah juz dari lembaran Al-Qur'an. Ia sudah sedikit lebih lega sekarang. Walau tidak bisa di pungkiri hatinya masih terasa sakit.
__ADS_1
Tok tok tok...
"Nak, Ummi mau masuk! " Ucap Ummi yang sudah berdiri di depan kamar Hana.
"Masuk saja, Mi" Lirih Hana. Wajahnya masih terlihat sembab. Ummi masuk ke kamar Hana membawa segelas minuman hangat.
"Mas Haris masih di sini, Mi? " Hana bertanya dengan cepat, ia tampak antusias.
"Semangat sekali kamu bertanya? Apa kamu sudah merindukan nya, hm? "
"Astaghfirullah, mana mungkin" Ucap Hana sendu, ia melihat ke sembarang arah lalu kembali mengalirkan air mata.
"Kata Abah, nak Haris ingin sekali bertemu kamu. Nak Haris bersungguh-sungguh terhadap rumah tangga kalian dan ia yakin kamu hanya salah paham" Ucap Ummi sambil menyodorkan minuman.
"Mana mungkin begitu, Mi. Bohong! Mas Haris tidak bersungguh-sungguh!" bantah Hana.
"Di minum dulu nak, biar kamu tidak sakit kepala karena terus menerus menangis. Ini air jahe gula merah"
Hana mengangguk.
"Apa kamu memang benar-benar ingin berpisah dari nak Haris? Apa keputusan mu sudah bulat?" Tanya Ummi pelan.
"Mas Haris tidak benar-benar mencintai Hana, Mi! " Lirih Hana pilu, rasanya ingin sekali ia menceritakan semua beban masalah rumah tangganya pada Ummi. Tentang semua aib-aib Haris, tentang Arini, tentang pengabaian, ketidakpastian, ketidaknyamanan, ketidakpedulian, juga... tentang anak di kandungan Arini, namun ia masih menahannya.
"Ummi tidak tau apa yang kamu alami, apa benar sesakit itu nak? " Ummi membawa Hana ke dalam pelukan nya,
"Sakit sekali mi. Hana sakit, Hati Hana sakit " rintih Hana. Hati Ummi rasanya berdarah mendengarnya.
"Kamu mencintai Haris, nak? "
"Hana sangat mencintai mas Haris. Hana akui Hana mencintai mas Haris, tapi Mas Haris mempermainkan hati Hana. Hana harus bagaimana mi? " Hana berkata sambil menangis, dadanya begitu sesak.
"Kini rasa cinta itu malah berubah jadi benci. Hana membenci nya, tapi Hana juga yang begitu ingin menemuinya. Hana benci diri Hana sendiri!! Hana benci dengan semua rasa ini!!!"
"Cinta, benci, rindu dan cemburu itu memang sangat dekat jaraknya dan begitu menggelitik" Ummi semakin memeluk Hana erat, putrinya tidak tau bagaimana menumpahkan segala lara yang menjebak jiwanya.
***
Bu Indah mengetuk pintu kamar Arini, melihat tidak ada yang menjawab, beliau pun masuk ke dalam.
Kosong. Bu Indah tidak menemukan sosok Arini di sana, Namun Pintu kamar mandi tertutup rapat, berarti Arini berada di dalam sana. Bu Indah memutuskan menunggu anak nya keluar.
Lima menit berlalu, sunyi. Arini tidak juga keluar, mungkin saja ia sedang membuang air besar. Cuek, bu Indah memilih membaca buku-buku yang terletak di rak. Hatinya masih begitu kesal dan kecewa, sekarang saatnya mengintrogasi Arini. Pikir nya.
Beliau begitu menikmati bacaan yang menghibur dirinya hingga tidak terasa lima belas menit sudah berlalu, namun keadaan tetap sama, masih tetap sunyi seperti tadi saat ia masuk pertama. Bahkan suara gemericik air sama sekali tidak terdengar.
Penasaran, bu Indah mengetuk pintu kamar mandi,
"Arini, Arini...! " Tidak ada jawaban.
"Arini, Arini...! Tetap tidak ada yang menjawab. Panik, bu indah mendorong pintu nya. Ternyata tidak terkunci.
Betapa terkejutnya bu Indah melihat Arini yang tergeletak di dalam kamar mandi dengan mulut penuh busa.
"Arini, Arini!! Kamu kenapa nak??? " Tanya bu Indah dengan menepuk nepuk pipi Arini. Sayang nya Arini tidak bergeming. Ibu paruh baya ini melihat beberapa pil asing di telapak tangan anaknya.
"Aris!!! Ariiisss!!!! Ke sini kamu nak!!!!! Ariiissssssss, tolong kakakmu!!!!!! Teriak bu Indah panik. Ia memeriksa denyut nadi Arini.
Degg deg degg Jantung bu Indah berdegup kencang.
" Ariiiiisssssssss" Teriakannya serasa menggema memenuhi ruang ruang di kediaman nya.
***
Yuk dukung Karya Alana terus dengan cara Like Komen Vote dan Hadiahnya, Terima kasih 💕. Jazakumullah Khairal Jaza'
__ADS_1