
Beberapa hari sudah Arini dirawat di rumah sakit, ia berangsur pulih. Ia merasa sepi dalam pembaringannya, walau
tamu datang menjenguk silih berganti, namun tak membuat ia merasa ramai. Tak membuat ia merasa bahagia. Hanya senyuman keterpaksaan yang dilayangkan pada para tetamu yang datang. Ibunya Arini melihat gelagat aneh anaknya tersebut. Ibu menduga hal ini pasti berkaitan dengan Haris. Selama terbaring lemah tak berdaya, Arini sama sekali belum melihat dan bertemu Haris walau pemuda itu kerap datang namun mereka belum sekalipun bertatapan muka. Bagaimana tidak, ketika Haris datang berkunjung, Arini selalu dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
“Nak, Ummi perhatikan kamu sering sekali melamun. Apa ini ada hubungannya dengan Haris?” Bu Indah memecah
kesunyian malam dengan mengajak Arini berbincang. Anak gadisnya hanya diam dan menatap kesembarang arah.
“Ayolah nak, kalau kamu tidak semangat dan bergairah bagaimana kamu mau sembuh?” bu Indah sangat cemas melihat keadaan anaknya.
“Arini ingin menyerah saja, Mi” Arini menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu.
“Menyerah atas apa, nak?”
“Mas Haris sama sekali tidak mempedulikan Arini, bagaimana bisa Arini bertahan” Mata Arini mulai
berkaca-kaca. Tidak hanya fisiknya yang sakit, lebih parahnya lagi, jiwanya ikut terguncang sakit.
“Kamu belum memulai apapun, kenapa sudah menyerah, nak?”
“Taukah kamu bahwasanya Haris lah yang telah mendonorkan darahnya untukmu, ia menunggu sampai kamu siuman namun karena sudah ada Hanum dan Lisa yang menjenguk makai a pamit pulang untuk beristirahat. Ia sangat mengkhawatirkan keadaanmu, nak”
“Bahkan ia berulang kali mengirim pesan singkat menanyakan keadaan kamu pada Ummi, ia juga minta maaf belum sempat menjenguk kembali karena ada hal yang harus dilakukan” Jelas bu Indah panjang lebar.
“Benarkah, mi?” Harapan itu rasanya kembali menyala-nyala.
__ADS_1
“Untuk apa Ummi membohongi anak Ummi yang sangat berharga ini” bu Indah mengelus sayang kepala Arini.
“Alhamdulillah, besok Arini akan menghubungi mas Haris, mi” Arini kembali merasakan atmosfir cintanya.
***
Hana memasuki kamarnya. Kamar yang sudah ia tinggalkan beberapa bulan lamanya. Ah, banyak sekali kenangan yang tertinggal di dalam ruang 4 x 4 meter ini. Ada kerinduan yang tidak bisa ia jelaskan. Serpihan-serpihan kenangan saat ia menulis, membuat tugas, merangkai jadwalnya yang aromanya masih tercium dengan jelas. Ia begitu merindukannya.
Perlahan Hana membuka seprai yang sudah terbentang lama di atas kasurnya, seprai maroon itu akan ia ganti dengan seprai berwarna hijau lumut dengan motif pepohonan yang rindang dan sangat asri.
Haris baru saja selesai mandi saat Hana masih beres beberes, istrinya masih bergelut mengganti sarung-sarung bantal dengan sedikit kesusahan. Haris mandi menggunakan kamar mandi yang berada di dalam kamar lalu dengan santainya ia keluar dengan hanya mengenakan handuk yang panjangnya hanya sedikit di bawah lutut dan bertelanjang dada. Tubuh atletisnya pun terpampang tanpa penghalang. Bulir-bulir air masih menempel segar pada
bagian tubuhnya. Ia memang rajin berolahraga. Ngegym adalah pilihannya. Setidaknya seminggu sekali rutin ia kerjakan di sela-sela padatnya jadwal bekerja.
“Hmh, Sepertinya sangat sulit mengganti sarung bantalnya. Kamu tunggu lah sebentar, biar ku bantu!” Tawar Haris. Hana menoleh. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat keadaan Haris. Sontak ia pun berpaling dan berbalik arah membelakangi Haris.
“Mas, kenapa mas tidak berpakaian dulu baru keluar dari kamar mandi sih?” Protes Hana.
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?” Tanya Haris
“Ya, setidaknya mas berpakaian dulu baru menemuiku” Huft, apa mas Haris tidak malu tidak berpakaian begitu. Pikir Hana sambil bergidik.
“Memangnya kenapa? Aku kan suami mu, apa salahnya. Lagian aku masih mengenakan handuk, literally auratku tidak kelihatan. Kamu lupa, aurat laki-laki itu dari pusar sampai lutut, huh?” bantah Haris.
“Iya, tapi kan,, tapi kan..”
__ADS_1
“Huft… Baiklah. Tunggu sebentar aku memakai pakaianku dulu. Kalau baru melihat begini saja kamu sudah shock
bagaimana kalau melihat bagian lainnya. Hana oh Hana” Haris berlalu mengambil pakaiannya dan masuk kembali ke kamar mandi.
Kaki Hana menjadi lemas. Ia sangat canggung berada dalam situasi seperti ini. Sebagai anak perempuan satu satunya di rumah, ia sangat jarang melihat laki-laki dengan bertelanjang dada. Bahkan Abahnya hampir tidak pernah melakukan itu dihadapannya. Bukannya ia tidak pernah melihat laki-laki tanpa mengenakan baju atasan, bukan. Hanya saja, ada perasaan berbeda ketika ia melihat Haris. Degup jantungnya berpacu berkali lipat melebihi
biasanya. Ia juga kesulitan untuk bernapas. Walau ia mengakui pesona Haris naik meningkat, dengan tubuh yang proforsional dan rambut basahnya. Ketampanannya naik melebihi biasanya. Perfect. Ah, astaghfirullah. Aku mikir apa sih. Hana mengetuk ngetuk kepalanya. Mencoba mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak yang hinggap di kepalanya. Ia takut pikiran liarnya semakin menjadi-jadi.
“Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sudah, jangan sakiti dirimu dengan mengetuk-ngetuk kepala
begitu. Apa kamu baru saja melihat dosa yang sangat besar, huh?” Haris merasa sedikit tersinggung melihat kelakuan Hana. Gadis itu sontak berbalik arah dan menunduk.
“Tidak, bukannya seperti itu, maaf aku hanya belum terbiasa saja” Jawab Hana.
“Kalau begitu mulai hari ini esok dan seterusnya biasakanlah. Belajar untuk terbiasa. Kita bukan lagi 2 makhluk
asing yang berada di tempat yang sama. Kamu paham kan?” Hana mengangkat kepalanya dan tercengang mendengar perkataan Haris.
“Sekarang, gantilah pakaianmu dengan pakaian tidur. Biar aku yang melanjutkan mengganti sarung bantalnya” Perintah Haris. Hana mengangguk dengan cepat dan berlalu mengambil pakaian gantinya.
Setelah selesai membantu Hana, Haris pun merebahkan diri sambil menunggu istrinya selesai berpakaian di kamar
mandi. Hmh, lama sekali. Apa yang ia kerjakan di kamar mandi sampai selama ini. Pikir Haris. Iseng ia pun membuka handphone nya. Ada tiga pesan yang masuk. Satu dari rekan kantornya menanyakan proposal, satu dari Ridwan yang mengajak nya bertemu dan satu lagi… dari Arini. Gadis itu mengabarkan bahwa ia sudah siuman
dan sangat berterima kasih karena telah sudi mendonorkan darah nya yang sangat berharga. Karena itu, Arini ingin mereka bertemu. Besok ia akan menunggu kedatangan Haris di rumah sakit. Ia sudah menyiapkan beberapa kejutan. Haris membacanya dengan datar. Ia tidak tau harus senang atau bagaimana menghadapi rasa terima kasih dari Arini yang dianggapnya sedikit berlebihan. Haris membalas pesan singkat yang dilayangkan Arini,
__ADS_1
“Alhamdulillah, syukurlah kamu sudah siuman. Insya Allah besok aku akan berkunjung. Jangan repot-repot menyiapkan kejutan. Fokuslah pada kesembuhan dan kesehatanmu.” Selesai membalas pesan dari Arini, Haris pun mematikan hp nya dan bersiap untuk tidur. Ia masih menunggu Hana. Namun rasa kantuknya membuat matanya menyerah dan ia pun terlelap di alam mimpi sebelum melihat Hana keluar dari kamar mandi.
***