
Hanum menutup telepon dari Boris (sang kepala preman yang membawa Hana pergi) dengan tersenyum sinis. Ia merasa puas walau rencana yang dilakukan belum berjalan seratus persen.
Namun hatinya merasa prihatin atas apa yang menimpa Haris, mulai dari gossip yang sudah terlanjur tersebar. Hana sebagai istri Haris dengan tingkah laku yang sangat memalukan, ini semua secara otomatis berdampak pada nama baik Haris.
Hanum tidak rela ini terjadi, bagaimanapun Haris adalah satu-satunya laki-laki yang mendiami hatinya, orang yang paling ia cintai dimuka bumi, hmh mungkin setelah ibunya dan Arini.
Para petugas kebersihan berlalu Lalang dihadapannya membersihkan kepingan pecahan gelas kaca yang di hancurkan Hana, mereka juga mengepel tumpahan alkohol dan minuman lain yang juga jatuh berantakan di
lantai.
Hanum duduk memandang ke arah CCTV, satu-satu nya bukti yang tentu saja sudah ia lenyapkan sebelum sempat Ridwan melihat. Wanita ini bergerak begitu cepat. Ia tidak ingin semua rencana nya menjadi sia-sia. Ia sudah memikirkan matang semua hal dalam keadaan spontan. Ia akui, menjebak Hana dengan alkohol adalah suatu keberuntungan yang tidak disangkanya.
Hal ini sungguh diluar rencana. Memang benar perkataan bang Napi, kejahatan bukan terjadi karena niat pelakunya, melainkan karena adanya kesempatan, dan kesempatan itu datang padanya. Dewi fortuna benar-benar berpihak padanya. Begitulah yang Hanum pikirkan.
Entah bagaimana nasib Hana sekarang, pasti lah sangat menyedihkan di tangan para preman berwajah sangar itu. Hanum kembali meneguk wine nya. Ia tersenyum-senyum di dalam kesendiriannya.
***
Ridwan tampak kesal saat mengunjungi ruang teknisi, ia melihat rekaman CCTv yang merekam kejadian dan peristiwa apapun yang terjadi di sana, namun dari sekian banyak isi rekaman, tiada satu pun peristiwa Hana yang
terekam, hanya sedikit bagian Hana berjalan sempoyongan sambil memegang kepalanya dan menunjuk-nunjuk sembarang orang yang ada di sana. Hana juga terlihat memecahkan gelas dan menabrak meja-meja. Hanya bagian itu saja yang terlihat, selebihnya tidak tau apa yang terjadi. Ia keluar dari ruang teknisi setelah mengcopy rekaman yang seperti terputus itu, ia merogoh saku celana nya untuk mengambil gawai dan menekan nomor telepon Haris,
“Gimana Ris? Ketemu?” Ridwan langsung menodong Haris dengan pertanyaan.
“Belum nemu, Wan” Jawab Haris lemas.
“Terus gimana?”
“Ini gue lagi menuju kantor polisi, gue ga bisa biarkan lebih lama lagi” sahut Haris.
“Okay, kantor polisi mana? Gue mau nyusul!”
“Kantor Polisi Beika, dekat mesiid Syuhada”
“Okay, sekarang juga gue kesana!”
Tiiiit tiiiiit
Mobil Jimny milik para preman telah sampai di halaman Hotel XXX, Boris terlihat sedikit kesulitan membawa Hana walau dibantu para anak buah, sebab gadis ini masih dalam keadaan pingsan. Hotel yang mereka tuju bukanlah
hotel berbintang, sehingga pengurusan kamar bisa berjalan lancar. Mereka memesan kamar VIP, untuk bersenang-senang mana mungkin memesan kamar dibawah standar.
“Botak, cepat ambilkan sampanye, red wine dan white wine di mobil! Cepat!!” Perintah Boris kepada si Botak.
__ADS_1
“Sekarang bos??”
“Ga! Taon depan!! Ya sekarang lah!! Begok amat!!” Bentak Boris tak sabar.
“Baik. Siap Bos!!” Botak membawa pintu kamar dan menuju ke mobil untuk mengambil minuman yang diperintahkan Boris.
“Hey Cungkring, jaga nih cewek! Gue mau mandi dulu. Jangan di sentuh sebelum ada izin dari gue!” Titah Boris pada cungkring yang sudah duduk di sudut jendela sambil menyesap rokok Dji Sam Soe nya. Dalam sehari Cungkring mampu menghabiskan sampai 3 bungkus rokok, wajar badannya kurus kering hingga tampak
tulang dengan pipi yang cekung dan sebagian gigi yang telah menghitam.
“Siap bos!!”
Boris berlalu ke kamar mandi. Cungkring merasa sangat penasaran dengan Hana. Gadis itu terlihat begitu damai dalam tidurnya, wajah putih bersih yang teduh, bibir merah jambu alami, alis tebal dengan bulu yang berjejer rapi, hidung mancung mungil, serta pipi yang kemerah-merahan, mungkin akibat alkohol yang dikonsuminya, anak-anak rambut hitam yang sedikit mengintip dari ciput yang ada di kepala, menambah kecantikan alami Hana. Sangat sempurna menurutnya. Memang kerudung Hana sudah melorot setengah dari kepalanya, hanya tersisa ciput yang masih membungkusi rambutnya.
Cungkring mendamba, ia melihat Hana dengan penuh nafsu, ia menuju ke arah meja tempat ia mengepulkan asap rokoknya tadi dan mematikan api rokok tersebut di asbak. Ia kembali ke tempat Hana yang terbaring lemah tak
berdaya di atas kasur tempat tidur.
Ia kembali memperhatikan gadis itu, ia menatap dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, postur tubuh yang sempurna, walau ia gagal menerka dengan tepat sebab baju longgar yang Hana kenakan, namun dalam posisi tertidur begitu, Hana tampak begitu menggairahkan. Ingin sekali rasanya cungkring mengabaikan titah Boris untuk tidak menyentuh Hana, kesetiaannya pada Bos membuat ia galau. Tapi….., Aargh tidak ada salahnya sedikit merasakan kulit halus Hana kan? Sedikit saja, ayolah hanya sedikit, bos tidak akan mengetahuinya! Isi kepalanya berkata.
Cungkring mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Hana, dengan Gerakan yang sangat pelan dan mendamba ia mengarahkan tangannya ke wajah Hana, sedikit lagi jari jemari kasarnya mendarat sempurna, namun suara deritan pintu yang terbuka membuat Cungkring menarik kembali tangannya. Ternyata Botak sudah kembali dengan menenteng minuman keras dan banyak cemilan seperti kacang kulit, kacang atom dan beberapa snack ringan lainnya. Mereka telah berencana untuk bergadang malam ini.
“Mau ngapain lu?” Tanya Botak, ia sempat melihat Cungkring ingin mengulurkan tangannya ke arah Hana.
“Ha? ga. Nyamuk. Gue ngusir nyamuk!” Cungkring berkata dengan cool.
“Mandi!” Sahut Cungkring yang berjalan ogah-ogahan mengambil gelas, ia tampak kesal, keinginannya menyentuh Hana kandas sudah, huft!! tenang-tenang, pada saatnya ia juga akan mendapatkan giliran untuk merenguk manis nya madu itu. Mengingat hal tersebut, cungkring pun berbunga-bunga.
Boris keluar dari kamar mandi sambil menge-lap rambutnya dengan handuk kecil. Ia memakai jubah mandi yang tersedia di kamar mandi hotel, perut buncitnya menjadikan jubah mandinya tidak tertutup dengan baik, dadanya
terlihat jelas. Ia terlihat seperti mucikari yang siap menyerbu mangsanya. Ia menghampiri cungkring dan Botak yang dari tadi sudah menantinya.
“Tuangkan!” Perintah Boris kepada anak buahnya untuk menuangkan minuman ke gelas. Ia meminum setengah gelas sampanye dalam sekali tegukan. Ia sudah terbiasa dengan alkohol, jadi jelas sekali sulit untuk bisa mabuk kecuali jika ia minum bergelas-gelas banyaknya dalam satu waktu.
“Kalian tunggulah di luar, biar aku bersenang-senang dahulu, hahaha” kembali Boris memberikan titah.
“Kami tunggu dimana bos??”
“Di ******!!”
“Di ******?” Bingung Botak.
“Ya di depan pintu lah begok! Dih, punya anak buah kapan pinternya. Cepat!!!”
__ADS_1
“Siap Bos, selamat bersenang-senang!!” Seru Botak.
Cungkring terdiam, ekor matanya dari tadi memperhatikan Hana. Sesekali gadis itu tampak menggeliat pelan, namun masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mau tidak mau ia dan Botak harus mengikuti perintah bos nya. Mereka pun melenggang keluar dan berdiri menunggu di depan pintu. Tampak nyamuk menggerogoti wajah dan lengan mereka. Sesekali mereka mengusap dan menepuk nyamuk yang hinggap.
Di dalam kamar, Boris mulai mendekati Hana, ia tertawa. Hana benar-benar membuat moodnya menjadi baik. Ia mengelus kepala Hana yang masih terbungkus ciput, benar-benar menggiurkan. Ia urung menyentuh gadis itu, ia
mengambil sebatang rokok dan menyesapnya terlebih dahulu untuk lebih me-rilex-kan pikirannya, esok ia sudah harus memulangkan Hana baru setelahnya tugas dan misi selesai.
Ia mulai menghisap cerutunya, baru seperempat batang yang habis, ia mematikannya di asbak dan kembali ke tempat Hana. Tak sabar rasanya, ia membuka penuh kerudung gadis itu, tampaklah kulit leher yang putih bersih tak
berpori, ia menelan ludahnya kasar. Ia pun membuka jubah mandinya, dan memperlihatkan perut buncit yang sempurna, ternyata ia masih mengenakan celana pendek boxer di dalam nya. Ia mencari-cari kancing pengait baju Hana namun tak ia temukan, Lantas didudukkannya gadis ini, karena ternyata reseleting baju terdapat dibelakang punggung. Berhasil. Ia menemukannya! Lalu ia pun menarik reseleting nya perlahan.
Ssrrrttt Ssssrrtttt Sssrrrtt Ssssrrrrtttt
Perlahan lahan reseleting baju Hana turun dari posisinya. Ternyata Hana masih mengenakan kaos polos dibalik gaun yang dikenakannya. Gaun baju tersebut pun diturunkan sebatas pinggang. Huft baju ini menyusahkan saja. Batin Boris, ia tampak ngos-ngosan. Merasa pegal, ia pun duduk di samping Hana sebentar, menghirup oksigen dalam-dalam sebelum memulai pertempuran yang sebenarnya. Ia mengambil botol air mineral yang tersedia dan menelan keseluruhan dalam sekali teguk. Ia pun kembali bangkit mendekati Hana. Gadis ini tampak begitu ranum walau wajah nya kini sudah tampak memucat.
Ia telah menodai banyak gadis dalam hidupnya, namun entah mengapa, dalam menghadapi Hana, Kepala preman ini tampak berbeda. Gadis ini benar-benar berbeda, entah mengapa, entah hanya perasaannya saja. Boris beranjak mematikan lampu, ia memilih menghidupkan lampu tidur berwarna kuning dengan cahaya remang-remang, terlihat romantis.
***
Cungkring dan Botak tengah berjongkok dan mata elang mereka melihat ke kanan dan ke kiri ketika polisi datang. Beberapa anggota dari aparat kepolisian datang menghampiri meraka dan langsung memberingkus kedua preman yang masih mengusap-ngusap pipi nya yang dari tadi sudah di gerogoti nyamuk. Mereka tampak bingung dan tegang.
“Keluarkan kunci!!! Buka pintunya!!!” Titah polisi sambil menodongkan pistolnya.
Botak gemetaran. Tampak Urine (Air seni) sudah membasahi celana jeans compang camping yang dikenakannya.
“A.. ada apa ini pak??” Cungkring yang masih sedikit waras masih bisa bertanya kepada polisi walau ia sangat gugup.
“Jangan banyak tanya!! Cepat buka pintunya!!” Polisi sedikit mempelintir lengan si cungkring.
“Awww sakiit Pak, ampun pak! Ampuun! ku.. kunci nya ti.. tidak di tangan kami” Jawab cungkring lagi, ia setengah menjerit karena benar-benar merasa kesakitan.
Tiba-tiba Gibran datang bersama manager hotel dengan membawa kunci cadangan. Mereka pun segera membuka pintu kamar hotel. Di dalam kamar, dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang, Boris masih tampak terlihat, ia
tengah bersiap menimpa tubuh Hana. Huft, sedikit lagi, hampir saja.
Gibran geram, mendahului polisi, tak segan ia langsung meninju Boris hingga terpelanting. Lalu dengan sigap ia membalut tubuh Hana yang masih mengenakan kaos berlengan pendek itu dengan selimut, dan membuka jaketnya untuk menutupi Sebagian rambut Hana yang terlihat. Polisi pun menghidupkan lampu kamarnya. Mereka lalu memberingkus para preman yang terlihat pasrah. Boris tampak yang paling mengenaskan, ia masih mengenakan boxer pendek dan bertelanjang dada.
***
.
.
__ADS_1
Hai Teman-Teman, Terima Kasih masih setia membaca Karya Alana yang sudah memasuki episode 50 ini, mohon dukungannya terus dengan cara memberikan LIKE, KOMEN, VOTE, juga HADIAH-nya agar Alana selalu semangat meneruskan tulisan yang masih tidak seberapamana ini, tapi insya Allah dengan dukungan teman-teman sekalian, Alana Alisha akan terus belajar, terima kasih, Jazakumullah Khair ^_^
~~~~