Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 26: Orang yang Dituju


__ADS_3

Tiga puluh menit sudah berlalu. Orang yang dinanti-nantikan Arini dan Hanum belum juga muncul. Makanan telah habis mereka santap. Mereka juga sudah dua kali memesan minuman.


“Hanum, kok lama ya. Aku harus segera pulang. Sebentar lagi malam tiba”


“Tunggu, sebentar lagi kok. Kita tunggu 10 menit lagi deh” Ucap Hanum santai.


“Baiklah. Oh iya Num, bagaimana sikap mas Haris di kantor?”


“Sikap bagaimana ni maksudnya Rin?”


“Sikap dan tindak tanduk mas Haris setelah menikah apa masih sama seperti dulu?”


“Sama saja. Tetap stay cool. Hmh, tapi…”


“Tapi kenapa??” Arini penasaran. Hanum memberi jeda dengan meneguk minuman sodanya.


“Mas Haris seperti kebingungan. Aku sering melihatnya melamun atau menggaruk asal rambutnya. Seperti ada beban masalah yang menimpa” Hanum yang terus memperhatikan polah tingkah Haris tau pasti bagaimana keseharian Haris di kantor.


“Apa mas Haris ada masalah sama kerjaannya ya?” Tiba-tiba Arini merasa sedih.


“Tidak. Walaupun mas Haris terlihat seperti ada masalah, namun kerjaan kantor selalu beres dikerjakannya, malah mas Haris mau dipromosi untuk naik jabatan menduduki posisi manager keuangan”


“Masya Allah. Mas Haris memang mampu. Wajar beliau dipromosikan naik jabatan” Mata Arini berbinar-binar.


“Ya begitulah. Hmh Mungkin rumah tangga mas Haris tidak berjalan mulus maka beliau juga uring-uringan” Hanum menebak asal.


“Benarkah??” Arini antusias mendengarkannya.


“Bisa jadi. Atau mas Haris memang tidak bisa melupakanmu Rin” Arini tambah berbinar. Mood nya yang sedang tidak baik berubah seketika.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Semoga mas Haris benar-benar belum bisa melupakanku” Hanum tersenyum getir. Ia kembali meneguk minuman sodanya untuk kesekian kali.


Arini dan Hanum sama-sama memiliki paras yang cantik, hanya saja postur Arini sedikit lebih tinggi juga kulitnya lebih kekuning-kuningan. Bukan tidak ada orang yang coba mendekati Hanum, hanya saja Hanum sama sekali tidak tertarik. Ia tetap memusatkan perhatiannya pada Haris. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk mendekati laki-laki itu. Ia tenggelam pada perasaan cintanya. Ya. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan Arini. Haris mengetahui hal ini namun ia tetap dalam kesetiaan nya pada Arini.


***


Gibran membuka sebuah album  lama. Album yang telah disimpannya selama 3 tahun. Album tersebut berisikan memori tentang Hana dan Yura. Ia tersenyum melihat kepolosan Hana. Gadis itu sangat manis. Ia cerdas dalam banyak bidang. Pintar dalam mata pelajaran juga taat pada agamanya. Gibran masih bisa mengingat saat-saat ia memotret Hana ketika gadis itu mengikuti ajang MTQ tingkat Kabupaten. Gadis itu berhasil meraih juara 1 dan melaju ke tingkat provinsi. Gibran mengaguminya. Ia juga ingat saat-saat mengantar Yura untuk bertemu Hana. Ia rela mengantar dan menjemput adiknya tersebut walau mengganggu jadwal istirahatnya. Bahkan ia yang mendorong mereka untuk bertemu, sebagai alibi untuk sekedar melihat Hana.


Gibran membuka lembar demi lembar. Ia melihat tingkah menggemaskan Hana ketika makan es krim dengan belepotan. Ia memakan dengan santainya tanpa sedikitpun merasa canggung. Ya, gadis itu sangat menyukai es


krim. Gibran tersenyum mengingatnya. Gibran terpaku lama melihat sebuah foto Hana tengah memegang sebuah brownis cake. Yura menceritakan bahwa itu adalah cake pertama yang Hana buat. Ia belajar dengan susah payah sampai jarinya melepuh terkena oven. Hana melakukan itu semua ketika mengetahui bahwa Gibran sangat menyukai cake tersebut. Ah, andai ia bisa menyentuh Hana kala itu, sudah pasti ia akan mengambil tangan Hana dan membantu mengobati lukanya. Gerimis memenuhi ruang di hati Gibran.


Gibran menutup kembali album kenangan tersebut. Ia menuju jendela kamarnya. Berdiri melihat senja yang sudah berwarna keemas-emasan pertanda maghrib akan menjelang. Ia akan shalat di mesjid dan menemui Syaikh Haidar. Ia akan meminta nasehat gurunya perihal asa yang dirasakannya.


***


“Num, aku sudah tidak bisa lagi menunggu. Sebentar lagi maghrib”


“Huft, baiklah. Aku akan bawa dia kerumahmu besok”


“Alhamdulillah. Baiklah, aku tunggu. Terima kasih untuk waktumu”


Belum sempat Arini dan Hanum berpisah, orang yang dimaksud pun muncul,


“Nah, itu dia orangnya Rin” Hanum melambai pada orang yang dituju.


“Halo, sudah lama ya menunggu? Maaf tadi aku terjebak macet”


“Iya, tidak apa-apa” Arini tersenyum ramah.

__ADS_1


“Rin, perkenalkan, ini Lisa. Orang yang akan membantumu mendapatkan Haris kembali”


“Lisa, kenalkan, ini Arini sahabatku” Arini dan Lisa saling berjabat tangan.


“Aku sudah tau kok, aku pernah melihat mbak ini makan berdua bersama mas Haris di café ini” Lisa mengakrabkan diri.


“Wah., wah berarti tidak terlalu susah untuk kalian saling mengenal” Celetuk Hanum.


“Jadi Rin, Lisa ini temannya Hana. Mereka sudah lama berteman akrab. Jadi Lisa sudah mengerti dan memahami bagaimana seluk beluk kehidupan Hana. Kamu bisa mendapatkan banyak informasi atau bantuan yang memang kamu perlukan dari Lisa” Arini tampak mengeryitkan dahinya mendengar perkataan Hanum. Ia sedikit ragu.


“Mbak Arini mungkin bingung kenapa saya mau dengan senang hati membantu mbak Arini kan? Jujur saja, saya kecewa pada Hana. Ia merebut semua yang saya inginkan dan apa yang saya mau. Kali ini saya mau memberikan Hana pelajaran. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa ia permainkan” Ucap Lisa tajam.


“Merebut semua yang kamu inginkan? bagaimana maksudmu?” Arini sedikit terkejut. Sebab melihat dari penampilannya, Hana terlihat seperti gadis yang baik.


“Dulu, Hana selalu merebut posisi pertama di kelas, padahal ia banyak belajar dariku mbak. Ia dengan gaya anak baik dan polosnya berhasil mendapatkan hati para guru di sekolah. Semua perhatian tertuju padanya. Banyak laki-laki yang menaruh hati. Bukan hanya laki-laki sederhana, Namun juga laki-laki tampan, kaya dan berprestasi. Namun, dari sekian banyak yang memilihnya, kenapa ia malah  merebut pria yang saya cintai. Mirisnya, setelah ia mendapatkan hati pria tersebut, dengan mudah ia mencampakkannya begitu saja dan tanpa beban malah menikah dengan mas Haris” Jelas Lisa, ia mengenang-ngenang bagaimana Hana dengan mudahnya menaklukkan hati Gibran, laki-laki yang sangat ia cintai. Arini mengangguk-angguk mengerti. Ia turut merasa sedih atas apa yang selama ini menimpa Lisa.


“Jadi kamu mau membantuku untuk mendapatkan mas Haris kembali?”


“Tentu saja. Kita akan lihat sejauh mana rumah tangga mereka akan bertahan”


Arini mengangguk-angguk.


“Mbak tau tidak, mereka tidur di kamar yang terpisah. Mas Haris sama sekali belum menyentuh Hana. Sepertinya mas Haris memang tidak bisa melupakan mbak Arini”


“Wah wah, mas Haris benar-benar laki-laki setia berprinsip Rin” sahut Hanum. Arini sumringah. Haris belum menyentuh Hana. Berarti memang tidak ada cinta di hati mereka. Ia pun merasa lega. Bunga-bunga cinta kembali


bermekaran dihatinya.


***

__ADS_1


__ADS_2