Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 125: Tulang Rusuk Yang Bengkok


__ADS_3

Hajjah Aisyah dibaringkan pada kasur empuknya setelah tiba-tiba tidak sadarkan diri ketika pemutaran video berlangsung di ruang rapat tadi. Beliau digotong oleh haji Zakaria dan ustadz Yahya ke kamar.


“Bah, Ummi kenapa bisa pingsan?” Tanya Ustadz Yahya bingung lagi cemas.


“Seperti biasa, mungkin Ummi mu kelelahan nak!” Sahut Haji Zakaria. Tampaknya bukan sekali dua kali Hajjah Aisyah mengalami pingsan mendadak.


“Tolong panggilkan nak Iqlima untuk menemani Ummi ya!” Titah Haji Zakaria lagi.


“Maaf bah, Yahya akan memanggilkan Layla saja untuk menemani Ummi. Abah kan tau hubungan Ummi dan Iqlima tidak terlalu baik. Nanti kasihan Iqlima akan jadi bulan-bulanan Ummi” Sahut Ustadz Yahya sedikit sedih. Mendengarkan penuturan sang anak, Haji Zakaria harus menghela nafasnya namun mengangguk setuju.


Iqlima, istri pertama kamu itu memang menantu durhaka nak! Sama persis seperti Hana! Sahut batin hajjah Aisyah. Sebenarnya dari tadi beliau sama sekali tidak pingsan. Lebih tepatnya berpura-pura pingsan.


Haji Zakaria dan Ustadz Yahya bergerak meninggalkan kamar. Hajjah Aisyah sedikit mengintip memicingkan mata. Setelah keadaan dirasa aman, beliau membuka lebar matanya.


Hhhhhh… Alhamdulillah gusti…. Gumam bu Hajjah merasa lega. Huh. Si Lisa itu. Bisa-bisanya mengelabui ku! Ada gejolak perasaan tengsin di hati. Mengingat Lisa, anak kemarin sore bisa bisa nya mengelabui beliau yang Notabene nya seseorang dengan status kedudukan dan pendidikan yang tinggi.


Ustadz Yahya memasuki rumah.


“Mas…” Panggil ustadzah Iqlima yang bahagia melihat suaminya pulang.


Namun tubuh ustadz Yahya malah berbelok ke arah kanan. Tepatnya ke arah kamar ustadzah Layla. Ustadzah Iqlima jadi mengurungkan langkahnya. Mundur. Beliau mengintip sedih dari balik tembok ruang tengah rumah mereka.


Wanita berwajah sendu ini menunduk dalam dengan meremas ujung kerudungnya. Matanya berembun. Saat ini pun hajjah Aisyah sang mertua memerintahkan ustadz Yahya untuk lebih sering bermalam bersama ustadzah Layla guna persiapan program keturunan ketiga dari dinasti Zakaria.


Ustadzah Iqlima tidak bisa berbuat apapun kecuali hanya diam dan menurut saja. Selain beliau adalah gadis yatim piatu yang beruntung di peristri oleh Ustadz Yahya, beliau juga tidak bisa memberikan keturunan.


Berbeda dengan ustadzah Layla. Wanita cantik ini berasal dari keturunan terhormat yang juga masih memiliki hubungan kerabat dengan sang Hajjah. Kenyataan ini membuat hajjah Aisyah begitu menyukai Ustadzah Layla.


Kriiiet.


Ustadz Yahya memasuki kamar.


“Abi Sayang sudah kembali?” Ustadzah Layla sumringah.


“Kamu temani Ummi ya. Beliau masih pingsan di kamar!” Titah Ustadz Yahya datar.


“Baik Abi!”


Ustadz Yahya membuka sorban. Beliau hendak mengganti jubah harian dengan jubah resminya. Ustadz Yahya harus ke kantor polisi guna mengurus kasus Lisa.


“Sayang, mau pergi ya?” Tanya ustadzah Layla memeluk suaminya dari belakang. Ustadz Yahya mengangguk.


“Abi sayang,, tolong transferkan uang ke rekening bubun ya!” Bisik manja ustadzah Layla.


“Lho, bukannya kemarin baru ku transfer 30 juta?” Ustadz Yahya mengerutkan keningnya.


“Uang itu, 25 juta nya sudah bubun belikan tas. Sekarang Bubun mau perawatan ke salon. Nanti kan yang senang abi sayang juga!” Ustadzah Layla mengusap pelan lengan ustadz Yahya. Membuat beliau sulit menolak permintaan sang istri kedua.


“Hemmm. Baiklah. Nanti akan ku tansferkan lagi!” Sahut ustadz Yahya disambut dengan pelukan lebih erat oleh ustadzah Layla.


Seketika, Ustadz Yahya merenggangkan pelukan tersebut. Tiba-tiba saja pikiran beliau melayang pada Iqlima. Istri yang tidak pernah menuntut apapun darinya.


***


Hana pulang dengan perasaan yang semakin sesak setelah mendengar perdebatan antara Yura dan Lisa. Di dalam mobil, sepanjang jalan Hana menangis tertahan.

__ADS_1


Beruntung Romi beserta Amira menawarkan untuk mengantarkannya pulang. Sejujurnya Hana juga sudah tidak sanggup untuk mengemudi. Perutnya semakin terasa keram. Hana akan membuka pintu kamar namun seketika ia urung melakukannya.


Hana merasa ia harus menemui seseorang untuk meminta wejangan. Hatinya sudah sangat keruh sekarang. Moodnya benar-benar buruk. Ingin sekali Hana menghubungi Haris untuk mencurahkan segala isi hatinya. Namun Hana tidak ingin mengganggu pekerjaan sang suami yang sedang sibuk-sibuknya di Amerika sana.


Hana melangkah ke kediaman Ustadz Yahya. Lokasinya masih satu Kawasan dengan kediaman haji Zakaria. Masih di lingkungan Pesantren. Khadimah mempersilakan Hana masuk. Istri Haris ini disambut dengan baik oleh ustadzah Iqlima.


Sejak lebih dari seminggu lalu menempati kediaman haji Zakaria, hubungan kakak-adik ipar ini semakin erat. Hana begitu mengagumi kelembutan, kebaikan serta ketulusan hati kakak ipar angkatnya itu.


“Masya Allah… Mari masuk Ning!” Ustadzah Iqlima memeluk Hana. Kemudian beliau membawa nya masuk ke kamar agar bisa mengobrol dengan lebih leluasa.


“Ya Rabb, panggil dik Hana atau Hana saja mba! Jangan panggil Ning. Seperti sama siapa saja!” Senyum Hana merasa sungkan.


“Hehe. Baiklah kalau begitu! Dik Hana Apa kabar? Wajahmu sembab! Kamu habis menangis?” Tanya Ustadzah Iqlima penuh perhatian. Beliau bangkit mengambil cemilan dan minuman lalu menyuguhkan pada Hana.


“Jangan repot-repot mba! Kita mengobrol saja!” Ucap Hana memegang perutnya yang sedikit nyeri.


“Perutmu sakit?!” Tanya ustadzah Iqlima kembali menghampiri Hana.


“Hmh sedikit mba. Tapi Hana bawa obatnya. Sebentar Hana minum obatnya terlebih dahulu”


Setelah beristirahat singkat dan perut nya membaik, Hana mulai menceritakan semua keluh kesah dan uneg-uneg yang ada di hatinya saat ini. Ustadzah Iqlima menyimak dengan saksama sambil sesekali mengelus punggung Hana. Beliau ikut menitikkan airmata juga ikut merasakan kesedihan dan kekecewaan yang sekarang Hana rasakan.


Terkadang skenario kehidupan memang tidak selalu indah. Hana mengalami penghianatan yang begitu terasa menusuk. Sesekali Ustadzah Iqlima memberikan beberapa kalimat motivasi pembangun jiwa. Kalimat yang mengalir itu terasa menyejukkan. Hana merasa jauh membaik.


“Jadi di… diaa itu calon madu yang di siapkan Ummi untukmu, dik?” Seketika Ustadzah Iqlima terperanjat. Entah mengapa pembahasan tentang madu selalu membuat hatinya mencelos. Hana mengangguk.


“Sebenarnya sudah beberapa kali mas Haris memperingatkan tentang Lisa. Tapi Hana tetap tidak percaya hingga video itu membuktikan segalanya. Hiks hiks” Hana kembali menangis.


“Dik….” Panggil ustadzah Iqlima menggenggam tangan Hana lalu menatap Netra wanita muda di hadapannya lekat-lekat. Beliau menjeda kalimatnya.


“Siapapun dia. Siapapun orangnya. Jangan sampai dik Hana di madu…..” Lirih ustadzah Iqlima bersungguh-sungguh. Kalimat singkat namun penuh penekanan. Mata indah beliau kembali mengembun. Jari jemari Hana digenggam erat. Hana mengerjap-ngerjapkan matanya. Terhenyak.


***


Hana kembali ke kamar dengan perasaan yang jauh lebih lega. Mengobrol bersama kakak ipar seperti menemukan sesuatu hal baru untuknya. Hana pun menjadi untuk lebih ikhlas dan legowo. Kini Ia menyerahkan semua permasalahannya pada Allah.


Ustadzah Iqlima, atau yang ia panggil mba Iqlima itu mentransfer banyak ilmu dan wejangan. Padahal baru sebentar mengobrol, tapi yang didapatkan seperti sudah duduk berlama-lama dalam majelis.


Hana merasa ustadz Yahya beruntung memperistri beliau. Hana kembali mengambil air wudhu. Berwudhu semakin menjernihkan pikirannya. Walau tidak bisa di pungkiri, Hana sama sekali belum bisa mengenyahkan perasaan kecewanya.


Hana membuka tas. Dua puluh satu panggilan tak terjawab. Dua puluh lima pesan dari satu kontak penting mengiasi layar handphone-nya. Orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya sendiri. Hana menggigit bibir bawahnya. Cemas Haris marah.


Tak menunggu waktu lama, Hana langsung melayangkan panggilan melalui video,


“Kamu kemana aja sih??!!” Hardik Haris tanpa basa basi. Hana harus menjauhkan speaker handphone dari telinganya. Hana bersungut. Ia benar-benar lupa melihat handphone. Keadaan membuatnya sulit berkonsentrasi.


“Maaf mas, Aku baru kembali ke kamar. Tadi ga liat handphone” Lirih Hana pelan.


“Apa?? Jam segini baru kembali??! Terus kamu kemana aja?! Tau ga, keluar rumah tanpa ijin dari suami itu haram hukumnya! Kamu paham agama, kamu paham syariat! Tapi sama sekali ga kamu indahkan. Tadi itu... kamu hanya melayangkan pesan untuk meminta izin, dan aku sama sekali belum memberikan izin kepadamu!” Sarkas Haris dengan membebel panjang lebar. Kesal.


Ia benar-benar menunggu kabar dari Hana sampai bergadang. Laki-laki ini benar-benar cemas. Padahal dari pagi sampai malam agendanya begitu padat. Tubuhnya Lelah, punggungnya terasa pegal. Haris butuh Hana walau hanya sekedar melihat wajahnya. Butuh kabar dari sang istri agar ia tidak merasa khawatir hingga kepalanya terasa mau meledak memikirkan ini semua.


Merasa dibentak, Hana mulai menangis. Ia memang menjadi begitu sensitif akhir-akhir ini. Air mata bisa keluar dengan begitu mudah nya.


Haris yang melihat Hana menangis langsung berubah kikuk. Ia melunak.

__ADS_1


“Hmmm… Sudah, jangan menangis” Lirih Haris. Hana masih sesugukan. Wanita ini menunduk.


“Hana….” Panggil Haris. Hana tidak menggubris dan terus saja menunduk.


“Hana Fathimah Ameer. Lihat Suamimu!” Titah Haris tegas. Kontan Hana mendongakkan kepalanya.


“Maaf…..”Lirih Haris lagi.


“Aku tau kamu lagi dalam keadaan yang tidak baik. Maka Aku khawatir. Aku cemas. Aku begitu takut kamu kenapa-napa. Takut sekali….”


“Aku memang telah memohon pada Allah untuk selalu menjaga dan melindungimu dengan atau tanpa adanya aku di sisimu. Tapi…. "


“Kamu juga harus berusaha menjaga dirimu sendiri. Mengendarai mobil sendirian dengan perasaan kalut. Itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Kamu membahayakan nyawamu sendiri! Kamu membuat hatiku ketar ketir menunggu kabar sampai aku bingung harus melakukan apa. Terakhir Aku menghubungi Yura, Romi bahkan Gibran!”


Deg.


“Kita dipisahkan oleh bentang jarak yang luas dengan perbedaan dimensi waktu. Jika terjadi apa-apa, aku bahkan tidak bisa menghampiri mu dalam detik! ” Ucap Haris frustasi. Hana kesulitan bernafas. Rasanya waktu terhenti seketika.


“Maaf. Aku salah. Aku telah berkata kasar padamu. Namun aku tidak bisa untuk tidak cemas! Kali ini aku tidak bisa untuk tidak marah!” Tukas Haris dengan berterus terang mengatakan apa yang ia rasakan secara gamblang. Hana terhenyak. Betapa sang suami begitu memikirkannya. Sedangkan ia malah larut dalam dunianya sendiri. Hana merasa bersalah. Perasaan yang tadinya membaik kini berubah kembali menjadi buruk.


“Aku marah, tapi aku memaafkanmu!” Ucap Haris cepat. Hana terus saja diam.


“Sayang, bicaralah!”


“………………….”


“Bagaimana Kalau aku tidak bersama-sama dengan mas di surga…. Aku harus bagaimana mas?” Lirih Hana sendu. Tenggorokan nya tercekat.


“Apa maksudmu mengatakan itu?” Haris


mengerutkan keningnya.


“Hari ini aku telah membuat mas tidak ridho padaku. Aku merasa begitu buruk. Aku istri yang tidak taat. Malaikatnya mencatatnya. Aku istri dur…..”


“Aku sudah bilang aku memaafkanmu!” Ucap Haris cepat. Ia menyesal menghardik Hana dengan begitu keras. Tangis sang istri semakin tersedu.


Benarlah bahwa wanita terbuat dari tulang rusuk yang bengkok. Jika dipaksa untuk lurus, maka akan patah. Namun jika dibiarkan begitu saja, ia akan bengkok untuk selamanya. Keadaan membuat Haris menjadi begitu emosional. Hhhh tidak. Haris merasa ia memang harus lebih mengontrol tempramennya walau kenyataannya ia sangat ingin melindungi Hana.


“Kalau kita dekat, aku sudah menghapus airmata dan mendekapmu dengan erat. Lalu kubawa kau mengitari purnama seperti yang biasa kita lakukan. Hingga jiwa mu dipenuhi oleh kupu-kupu yang berterbangan. Jadi Ku mohon... Berhentilah menangis sayang… Bantu aku agar kita bersama-sama bisa menggapai ridha-Nya. Bantu aku untuk bisa jadi imam yang baik untuk mu. Bantu aku menggenggam erat tanganmu hingga kita bisa bersama-sama ke Surga-Nya. Kamu mau kan?” Kini malah Haris yang berkaca-kaca. Hana terkesima. Ia tercengang menatap wajah tanpa sang suami dari dalam layar. Lalu kemudian ia mengangguk.


Wanita yang telah berhasil menaklukkan hati Haris ini terharu. Ia tidak bisa untuk tidak tersentuh akan kalimat-kalimat indah yang suaminya lontarkan.


***


Seseorang memasuki kamar hajjah Aisyah. Wanita paruh baya ini kembali menutup erat matanya. Mungkin itu Layla. Pikir Bu Hajjah. Beliau sedikit mengintip untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata bukan Layla. Seseorang yang masuk ke kamar dengan cekatan mengunci pintu lalu menghampiri beliau yang masih pura-pura berbaring di atas kasur.


“Jangan berakting Mi… Cepat buka-lah mata Ummi!”


Hajjah Aisyah terhenyak.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2