Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 66: Selayang Tinju


__ADS_3

Mobil Arini yang ditumpangi oleh Haris tiba di parkiran apartemen milik Hanum. Haris membawa mobil dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata sehingga mereka tiba lebih cepat dari seharusnya. Laki-laki ini sudah tidak


sabar untuk segera tiba di rumah sakit dan bertemu istrinya. Ia ingat telah berjanji bahwa akan pulang cepat, namun nyatanya sudah hampir menjelang dini hari ia belum juga kembali. Apa Yura sudah pulang dan Hana sekarang sendirian di kamar? Haris menduga-duga.


“Terima Kasih Rin, mas Haris. Ayo singgah dulu” Hanum mengucapkan terima kasih sekaligus berbasa basi.


“Tidak apa-apa, Hanum. Hari sudah larut malam. Nanti aku akan menghubungimu” Arini tersenyum menanggapi tawaran Hanum sedangkan Haris bersikap datar. Ada perasaan tidak senang terhadap wanita itu setelah mendengar penuturan Romi walau itu semua belum terbukti.


“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu” Ucap Arini.


Mobil Swift putih itu pun bergerak membelah pekatnya malam. Mereka melewati jalanan kota yang sudah tampak lengang. Keheningan membersamai mereka, dua orang yang pernah merencanakan akan menikah itu lebih memilih diam menikmati detik demi detik yang berlalu.


Hampir saja mereka tiba di rumah sakit, sampai tiba-tiba Arini merintih sambil memegang perutnya.


“Ada apa, Rin?”


“Perutku sakit, mas” Jawab Arini sambil merintih.


Haris menepikan mobilnya.


“Ada apa? Apa kamu salah makan?” Haris bingung harus melakukan apa. Arini tampak sangat kesakitan.


“Tidak mas, sepertinya aku datang bulan”


Haris teringat akan Hana yang juga pernah seperti Arini, mengalami sakit ketika haid datang.


“Apa yang harus kulakukan? Apa kamu butuh sesuatu?” Tanya Haris


“Oh sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit, bisakah kamu bersabar sebentar saja? Kita akan memeriksakan perutmu setelah tiba di sana” Ucap Haris lagi.


“Tidak perlu mas, aku hanya butuh minuman pereda nyeri” Arini masih merintih.


“Dimana bisa kita dapatkan minuman itu?” Tanya Haris


“Di Supermarket”


Tanpa bertanya lagi Haris langsung memutar balik mobilnya mencari supermarket terdekat untuk membeli minuman Pereda nyeri.


“Bagaimana?” Tanya Haris setelah mereka menemukan minuman yang Arini maksud.


“Hmh, Sudah lumayan, mas” Ucap Arini sambil terus memegangi perutnya.


Mereka duduk di kursi yang tersedia di depan supermarket sambil menunggu meredanya rasa sakit yang menyerang perut Arini. Haris diam-diam terus mengecek jarum jam yang ada ditangannya. Ia sangat gelisah. Ia khawatir Hana menunggunya. Lagi-lagi Haris harus mengecewakan istrinya itu. Namun ia juga tidak punya pilihan lain, selain ia menumpang pada mobil Arini, ia juga tidak tega melihat gadis itu kesakitan. Arini duduk sambil menopangkan kepala pada meja yang berada dihadapannya.


“Rin, bagaimana? Sudah baikan?” Tanya Haris setelah 10 menit berlalu. Tidak ada jawaban.


“Rin, Rin, Arini!” Panggil Haris lagi seraya sedikit menepuk-nepukkan tangannya ke Pundak gadis itu. Ia takut kalau-kalau Arini malah pingsan. Arini tersentak, spontan dengan kuat ia memegang tangan Haris. Pemuda itu pun segera

__ADS_1


menepis tangan yang bertengger dilengannya.


“Ah, ma.. maaf, mas. Aku tidak sengaja. Maaf juga aku ketiduran” Ucap Arini.


“Aku juga minta maaf telah kasar memindahkan tanganmu, aku terkejut” Ucap Haris yang tidak menyangka Arini akan menyentuh lengannya. Tangan gadis itu terasa begitu dingin. Merasa kasihan, Haris membuka jaketnya.


“Pakailah. Kamu kedinginan” Haris menyodorkan jaket hitam tersebut pada Arini.


Tanpa segan gadis itu mengambil jaket dan langsung memakainya. Aroma maskulin yang berasal dari parfum Haris menguar menenangkan penciuman. Arini begitu menikmatinya. Lagi-lagi perlakuan tanpa maksud apa-apa dari Haris berhasil menyentuh hatinya.


“Bagaimana? Apa perut mu sudah lebih baik?” Lanjut Haris. Arini tersentak.


“Apa kita bisa kembali sekarang?” Tanya Haris.


“Tentu saja”


Mereka pun melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah sakit tepat pukul 00.00.


“Terima Kasih telah memberikanku tumpangan, Rin. Semoga Allah membalas kebaikanmu” Ucap Haris.


“Aku yang seharusnya berterima kasih, mas sudah menolongku dari rasa sakit”


“Baiklah, aku masuk ke dalam dulu, Hana sudah menungguku” Ucap Haris. Arini mengangguk.


Pemuda itu langsung melesat masuk ke rumah sakit dengan gerakan cepat sedikit berlari. Arini menatap belakang punggung Haris sampai pemuda itu menghilang di kegelapan. Ia melihat ke telapak tangan yang tadi digunakan untuk menyentuh lengan Haris. Arini bergetar. Airmatanya kembali jatuh berhamburan. Ia merasa bahagia di dalam rasa sakitnya. Ia memegang erat jaket yang dipinjamkan oleh Haris, malam ini ia bahagia. Ia akan tidur tenang dengan membawa aroma Haris ke dalam mimpinya.


***


“Sus, Pasien pada ruangan Melati atas nama nona Hana dipindahkan kemana ya?” Tanya Haris.


“Pasien yang berada pada ruang Melati sudah diringkus oleh polisi, Pak! Pihak Kepolisian sedang mengusut kepemilikan dari narkotika jenis ekstasi yang dimiliki oleh pasien” Jelas perawat yang sedang berjaga.


“Apa??? Apa saya tidak salah dengar, Sus?”


Setelah mendengarkan penjelasan dari perawat, kaki Haris melemas, untuk sekedar menapak saja rasanya ia sudah tidak mampu. Ia jatuh berlutut di depan ruang Melati. *Oh *Hana~  Untuk sesaat ia kehilangan arah. Ia terlalu


terpukul akan kabar yang tidak menyenangkan yang tiba-tiba saja di dengarnya. Pemuda itu menyeka air mata yang sudah tidak mampu ditahan. Lagi-lagi ia gagal melindungi wannitanya. Ya Rabb, apa yang harus hamba lakukan sekarang?


Haris bangkit, ia tersadar setelah telepon genggam yang berada di saku celananya tiba-tiba saja terjatuh di lantai yang dingin. Layarnya sedikit retak. Huft, Ia harus bergerak sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul 00.23 WIB. Sebelum ke kantor polisi, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menge-cas handphone yang memang baterainya sudah nol persen itu. Ia harus menghubungi Ridwan dan meminta bantuannya.


Setelah handphone nya bisa dihidupkan, puluhan miscall dan pesan masuk bertubi-tubi. Ternyata Ridwan sudah berulang kali menghubunginya, ada juga panggilan telepon dari Hana yang memang tidak sempat dilihatnya tadi.


Ia pun langsung memencet nama Ridwan untuk melakukan panggilan,


“Lu kemana aja sih? Jam segini baru nelfon?? Istri kena musibah malah enak-enakan diluar!” Hardik Ridwan dengan penuh emosi begitu mengangkat telepon dari Haris tanpa basa basi. Kali ini Ridwan merasa sahabatnya itu benar-benar keterlaluan.


“Wan, lu boleh emosi atau apapun. Gue terima! Tapi please kasih tau gue gimana keadaan Hana?? Ini gue lagi menuju ke kantor polisi” Haris tidak membantah kata-kata tuduhan dari Ridwan, ia akan menerima apapun itu.

__ADS_1


“Lu pikir Hana akan baik-baik saja setelah akan dijebloskan ke penjara??? Gue benar-benar ga habis pikir ma cara berpikir lu, Ris!!” Sembur Ridwan lagi. Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Haris mengacak-acak rambut klimisnya. Buru-buru ia keluar dari rumah sakit setelah memesan taksi online.


“Sebentar, Lu tunggu gue”


“Mas, tolong kecepatan mobilnya dipercepat, ya!” Pinta Haris pada driver online.


***


Ridwan sedang duduk di bangku umum tepat didekat pintu masuk ruang kepolisian saat Haris tiba di sana. Ia duduk dengan menopangkan lengan di atas lutut dan telapak tangan menutup wajahnya. Ia sangat mengkhawatirkan


keadaan dua gadis yang tengah melakukan pemeriksaan di ruang tertutup sana, terlebih lagi calon istrinya juga terlibat.


“Wan, bagaimana Hana? Dimana istri gue??”


Buuuggggg!! Melihat kehadiran Haris, tak ayal Ridwan langsung melayangkan tinju ke wajah Haris. Ia sudah kehabisan kesabaran.


“Lu darimana aja jam segini baru nongol, Hah??? Lu dari tadi sama Arini kan??? Jawab!!!” Ridwan mencengkeram baju kaos Haris yang tiada berkerah itu.


“Kenapa diam? Jawab Ris!! Tebakan gue benar kan???”


Haris memberi jeda, ia menarik nafas kemudian mengangguk lemah. Ridwan kehabisan kata-kata, ia melonggarkan cengkramannya pada baju Haris. Benar. Ia merasa sangat kecewa pada sahabatnya itu.


“Gue kecewa sama lu” Kini Ridwan berkata dengan nada yang sangat pelan. Ia mundur dan akan masuk ke dalam ruangan.


“Wan, tunggu!”


“Wan!!" Panggil Haris lagi.


"Wan, gue akui gue salah! Gue brengsek! Lu boleh lakukan apapun yang lu mau ke gue! Lu boleh hakimi gue! Tapi please, dimana Hana? Gue harus tau gimana kabar istri gue!” Mata Haris kembali berembun. Ia bersungguh-sungguh. Namun Ridwan tidak mempedulikan celotehan Haris, ia terus saja berjalan masuk.


“Wan, Ridwan, please!! Gue harus ketemu Hana!” Haris masih terus saja mengejar Ridwan, rasa sakit akibat bekas tinjuan tangan kekar Ridwan benar-benar tidak ia rasakan. Ia pun membalikkan tubuh sahabatnya itu menghadap


ke arahnya.


“Wan, Gue harus ketemu, Hana!!” Haris berkata lemah. Ia menatap manik mata Ridwan, sahabatnya itu menemukan kesungguhan di sana.


Haris benar-benar tidak paham apa yang tengah menimpa istrinya. Ini terlalu cepat. Ia bahkan belum bisa bernafas dengan benar menghadapi kasus penculikan Hana beberapa waktu lalu. Kini Ia sudah harus dihadapkan dengan kasus baru. Ah, baru saja hubungannya dan Hana membaik dan mengalami kemajuan setelah berbulan-bulan lamanya. Rabbi~


Ridwan akhirnya luluh, ia mengajak Haris menepi dan kembali duduk di kursi lalu menjelaskan duduk perkara yang menimpa Hana. Hmh tidak hanya Hana, namun juga melibatkan Yura. Kini untuk sementara waktu kedua gadis itu masih tidak bisa mereka temui. Hana ditempatkan dalam ruangan khusus sebab masih berada dalam pantauan kesehatan, begitu juga dengan Yura yang dari tadi pingsan. Setelah mereka di nyatakan pulih, baru pemeriksaan sesungguhnya di lakukan.


Haris dilemma, itu artinya ia masih tidak bisa menemui Hana. Ini begitu berat. Betapa ia sangat merindukan wanitanya. Hana pasti sangat menderita sekarang. Ia tidak tau bagaimana harus menghadapi Ummi, Abah, dan


keluarga besar atas kecerobohan dan kelalaiannya dalam melindungi Hana.


***

__ADS_1


__ADS_2