Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 151: Wanita-Wanita Durjana


__ADS_3

Sebuah mobil sedan mewah terparkir sempurna tak jauh dari unit apartemen milik Hana. Mobil tersebut sudah berada di sekitaran sejak sepuluh menit tadi. Para penghuni yang terdiri dari Indah, Inggrid dan dua orang pengawal bayaran nekad membuntuti Hana sampai ke apartemennya.


Mendung tidak menghalangi pergerakan mereka. Padahal ramalan cuaca dari badan Meteorologi dan Geofisika menyebutkan bahwa hari ini hujan lebat akan turun dengan derasnya. Seperti sebuah doorprice dalam permainan Lucky draw, pembuntutan ini bukan sebuah hal yang sudah direncanakan dengan matang. Ada azas kebetulan didalamnya.


Kebetulan sekali mereka melihat mobil Hana keluar dari pesantren tanpa ikut serta Haris. Ah, mungkin kalimat Kejahatan terjadi bukan karena ada niat dari pelakunya, namun karena ada kesempatan cocok untuk menggambarkan apa yang terjadi saat ini.


Ya. Pertemuan hari ini memang sebuah takdir. Namun bagaimanapun tidak bisa menafikan bahwa jauh sebelum itu mereka sudah mempersiapkan hal yang lebih besar. Memberikan Hana pelajaran sudah dipikirkan dengan baik berikut apa yang harus dilakukan.


Setelah memastikan Haris tidak menuju ke apartemen dan semua akan baik-baik saja, Indah dan sekutunya langsung bergerak cepat memanggil orang bayaran yang akan digunakan sebagai tameng balas dendam. Dengan waktu yang terbilang singkat, orang-orang yang memiliki misi durjana ini melesat bagai kilatan menyambar.


“Seperti biasa, semua harus berjalan tanpa boleh ada kecacatan! Kamu harus menunjukkan kepintaran mu, Indah!” Ujar Inggrid memberi semangat.


“Ah, waktu masa sekolah dulu, kamu lebih jenius dari aku! Strategi mu pasti akan sukses!” Indah tak kalah membual.


Duo wanita ini memiliki tujuan berbeda namun terlibat dalam misi yang sama. Nafsu, amarah, dendam kusumat, rasa ingin memiliki juga rasa ingin memonopoli keadaan menjadikan mereka gelap hati. Wanita-wanita cantik yang gemar melakukan perawatan di salon ternama ini melaju melancarkan misi mereka.


***


Prok Prok Prok


Suara orang menepuk tangan terdengar. Hana yang tengah memanjatkan rasa syukur akan kehidupan yang ia terima terkejut bukan kepalang. Bisa-bisa nya apartemen ini dimasuki oleh orang. Padahal tadi, Hana benar-benar sudah memastikan telah mengunci kembali setelah memasukinya.


"Sempurna sekali hidupmu, Nak! " Seorang wanita berkata dengan lembut. Suara lembut penuh kepalsuan itu dapat membuat siapa saja merinding mendengarnya.


"Ma... Mama Inggrid? " Hana mengerutkan kening gagal memahami mengapa tiba-tiba beliau bisa hadir di hadapannya.


Namun ternyata Inggrid tidak sendiri, suara langkah kaki lain mulai terdengar dan hadir dari balik pintu.


"U... Ummi Indah? " Lirih Hana lemas.


"Yaa nak... kami datang berkunjung... Berkunjung untuk membuatmu merasakan apa yang kami rasa!" Indah mendelik seram. Roman wajah yang terlihat bukan wajah yang biasa tampak. Muncul nya beliau diikuti oleh seorang bodyguard laki-laki yang menenteng rantai juga sebilah pisau bermata tajam.


Indah dan Inggrid memang membawa serta dua bodyguards bersama mereka, namun bodyguard yang satunya berjaga-jaga di sekitaran apartment.


"Ta... Tapi kenapa? Ap... Apa yang kalian inginkan? " Hana terperangah. Pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sesaat ia tersadar ada maksud lain di balik wajah-wajah iblis itu. Hana langsung memegang perutnya. Tegang.


"Hahaha... Karena apa katamu? Jelas karena kau adalah istrinya Haris. Kau penyebab semua kekacauan ini!" Ucap Indah sarkas.


Hana bangkit. Ia mundur beberapa Langkah ke belakang. Keringat dingin mulai bermunculan dari keningnya.

__ADS_1


“Mengapa kamu menyambut kami dengan begitu tidak ramah, Nak?” Selangkah demi selangkah Indah mendekat. Inggrid mengambil tempat duduk di kursi kosong yang ada di kanan lemari. Wanita cantik yang tidak lagi muda itu tersenyum bahagia menyaksikan wajah Hana yang pucat pasi.


“Kemarilah… Mari kita bicara dari hati ke hati…” Indah menangkap tangan Hana meremas lalu mempelintirnya kuat.


“Aww Astaghfirullah… Sakit!” Hana mengaduh. Ia tidak tinggal diam. Hana menghempas kasar tangan Indah dan mendorongnya kuat. Indah terjerebab di atas tempat tidur.


“Mas Haris melarangku memasukkan orang asing ke dalam rumah tanpa se-izin beliau! Keluarlah kalian!” Ucap Hana lantang.


“Oh Aku lupa kalian melenggang masuk ke sini tanpa ada yang mengundang!” Lanjut Hana menaikkan dagunya. Rasa sakit di tangan akibat remasan dan plintiran Indah membuat emosinya muncul ke permukaan.


Di luar ekspektasi Indah dan Inggrid, Hana berubah tegar tanpa rasa takut. Ia lupa bahwa dipojokan salah satu sisi ruang kamarnya ada seorang bodyguard berwajah sangar tengah menenteng pisau dan rantai besi di masing-masing tangan. Inggrid spontan bangun dari duduknya. Ia dan Indah saling melirik.


Truukkkkk


Bodyguard menyentakkan rantai besi ke lantai. Laki-laki bertubuh besar lagi kokoh ini membunyikan suara untuk menyadarkan Hana akan keberadaannya. Seketika nyali Hana menciut.


“Besar sekali nyalimu, Hana!”


***


Haris masih berada di pesantren Bustanul Jannah. Janji menemui Romi yang telah dibuat menyebabkannya membiarkan Hana pulang ke apartemen bersama Mang Shaleh, supir kepercayaan dari kediaman Haji Zakaria.


Haris mengintip keluar jendela setelah sebuah pesan masuk ke layar handphone-nya. Romi mengabarkan bahwa ia mengendarai sepeda motor dan kini bersama Arini terjebak hujan di jalan. Romi juga berkata agar Haris berkenan menunggu. Ternyata di luar hujan turun memang lumayan deras.


Pikiran Haris melayang pada Hana, si wanita pecinta hujan. Sedang apa istrinya sekarang? Ketika di apartemen, kalau hujan begini biasanya Hana akan membuatkan mendoan atau tahu walik lengkap dengan sambal. Tak lupa dua cangkir minuman jahe hangat terhidang.


Mereka akan bercengkrama dengan saling mengobrol dan berdiskusi ringan. Namun tak jarang mereka juga akan terlibat dalam perdebatan hingga akhirnya terlihat bibir Hana mengerucut dengan mata yang berusaha dipelototkan untuk terlihat seram namun gagal.


Wajah polos Hana malah tampak semakin menggemaskan. Jika sudah begitu Haris akan mengeluarkan jurus rayuan andalannya untuk memperbaiki mood Hana. Ah, tiba-tiba Pemuda ini merindukan istrinya. Ia pun melayangkan sebuah pesan ke nomor wattsapp Hana.


Queen, Aku ke apartemen sekarang ya! Jangan pulang dulu. Nanti kita pulang bersama ❤


***


Seperti seorang tawanan, Hana meronta-ronta ketika diseret oleh pria berwajah sangar setelah terkena tamparan tangan Indah sebanyak dua kali sebelumnya. Pipi Hana memerah. Rahangnya terasa sakit bukan kepalang.


Hana tidak berdaya walau sekuat mungkin berusaha untuk melepaskan diri. Perut nya juga mulai terasa sakit. Hana mengaduh ketika di letakkan kasar pada sebuah kursi kayu jati yang busa alasnya entah sudah kemana. Hempasan tubuhnya pada permukaan kayu tersebut memperparah rasa sakitnya.


Berkali-kali Hana merutuki diri yang sudah begitu ceroboh melawan Indah dan Inggrid dengan kata-kata pedas. Mungkin kalau ia sedikit lebih mengalah, nasib nya tidak akan seburuk ini. Namun apa dikata, gejolak ditubuh mengharuskannya untuk membela diri walau dengan cara menunjukkan emosi.

__ADS_1


“Aku sedang hamil, mengapa kalian memperlakukanku begitu buruk?!” Hana menangis dengan suara tertahan. Tak sudi membiarkan kaum durjana menganggapnya seperti seonggok daging lemah tak berdaya.


“Jadi kamu benar-benar hamil ya? Ternyata bukan kabar burung!” Inggrid tersenyum licik. Berkali-kali Hana mencoba untuk berdiri, dan berkali-kali juga tubuhnya di tahan untuk tetap berada diposisinya.


“Hana, Kamu mengacaukan semua! Pernikahan mu dan Haris mengacaukan segala-galanya! Belum lagi Arini harus menanggung segala penderitaan karena mu! Andai kamu mau sedikit berempati untuk berbagi Haris, rencana balas dendamku pada Hasbi dan anak turunnya pasti terlaksana. Ju… ga, dendam Inggrid pada keluarga Abdurrahman akan terealisasi! Jadi, KAMU-lah pengacau itu!” Tuding Indah menuduh. Mata Hana membola.


“Hati kalian begitu busuk!! Apa kesalahan abah dan kakek hingga kalian sebegitunya menaruh dendam?! Mereka juga sudah tidak ada lagi di dunia ini! Hidup kalian tidak akan pernah bahagia!” Kalimat ini dari keluar begitu saja dari mulut Hana, ia menyadari kesalahan itu lalu spontan menutup mulut dengan kedua tangannya rapat-rapat.


“Nyalimu ternyata sangat besar, mengalahkan tubuh kecilmu! Ck ck” Ucap Indah berdecak seraya mengambil pisau yang tergeletak di atas meja lalu mendekatnya ke Hana. Mata pisau yang berkilat-kilat itu berhasil membuat bulu kuduk Hana berdiri. Wanita ini merinding.


Dddrrrttt Drrrrrttt


Pesan masuk. Bunyi getarannya membuat semua orang yang berada di ruangan tertuju pada handphone. Hana bergeming. Ia gemetaran.


“Buka pesannya!” Titah Indah.


Tidak ada pilihan lain. Perlahan Hana membukanya.


Queen, Aku ke apartemen sekarang ya! Jangan pulang dulu. Nanti kita pulang bersama. Pesan dari Haris dibaca bersamaan. Mata Indah menyipit.


“Kemarikan ponselnya!” Titah Indah lagi. Namun Hana menggenggam erat ponsel tersebut hingga pesan acak berisikan dua buah titik terkirim kepada Haris begitu saja.


Bergerak cepat, Indah mendekatkan mata pisau ke wajah Hana. Logam pipih dari baja itu mendarat sempurna dipermukaan pipinya. Hana diam tidak berkutik. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung bermunculan di pelipisnya.


“Say, ambil ponsel dan balas pesannya!” Seru Indah pada Inggrid. Hana terpaksa melonggarkan genggamannya. Sedikit saja salah bergerak, maka mata pisau itu pasti akan menyayat kulitnya.


King, aku sudah tidak di apartemen. Kamu tidak harus kesini! Sampai bertemu nanti. Ketik Inggrid melayangkan pesan balasan. Tidak banyak waktu, pesan tersebut harus sampai pada Haris sebelum laki-laki itu benar-benar bergerak ke apartemen.


Haris yang sedang membuka daun pintu mobil berhenti sekelak. Pesan yang masuk ke ponselnya membuat ia mengernyitkan dahi.


King?


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2