
Tibalah hari penjemputan Gibran. Sesuai janji, Yura pergi bersama Hana setelah sebelumnya mereka shalat zuhur bersama di mesiid. Orang tua Yura tidak bisa menjemput karena masih berada di Singapura. Insya Allah hari lusa mereka juga sudah landing di Indonesia. Menurut jadwal, pesawat Gibran akan tiba tepat pukul 15.00 wib. Hana dan Yura memiliki waktu luang sekitar 2 jam lagi.
“Hana, kamu ga kenapa-napa kan?” Yura melihat Hana hanya melamun dari tadi. Mereka baru saja keluar dari
pintu gerbang mesjid.
Hana menggeleng.
“Ga kenapa-napa kok, Ra. Aku cuma kepikiran harus mengatakan apa kepada mas Gibran tentang pernikahanku. Aku takut mas Gibran kecewa”
“Apa kamu mau biar aku saja yang mengatakannya?” Yura menawarkan diri.
“Tidak Ra, mungkin lari dari masalah malah akan membuat mas Gibran jauh lebih kecewa. Aku hanya perlu
menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Semoga tidak akan memakan waktu lama agar tidak tersakiti lebih jauh lagi”
Hana dan Yura memasuki sebuah rumah makan. Mereka akan makan di sini terlebih dahulu sebelum berangkat ke
bandara.
“Hana, aku ingin bertanya kepadamu, tolong kamu jawab dengan jujur” Yura menatap Hana serius.
“Bagaimana perasaanmu terhadap mas Gibran? Apakah masih sama?” Hana terdiam. Ia tidak mampu menjawab.
“Aku sudah tau jawabannya, kamu tidak bisa melupakan mas Gibran kan?” Yura bertanya frontal.
Hana menutup matanya. Ia menggeleng. lalu menjawab,
“Sejak ijab Kabul diucapkan oleh mas Haris keatasku, sejak saat itu haram bagiku mencintai laki-laki lain selain
suamiku, Ra” Hana sangat berat mengatakan kalimat ini.
__ADS_1
Yura mengangguk mengerti.
“Aku tidak tau bagaimana jika aku yang berada diposisimu. Mungkin aku tidak setegar kamu”
“Aku tidak sekokoh itu. Sungguh. Aku juga hanya pasrah terhadap hubungan pernikahanku yang masih tidak kuketahui kemana arah muaranya”
“Apa mas Haris memperlakukanmu dengan baik?”
“Ia memperlakukanku dengan sangat baik. Jauh lebih baik dari yang aku bayangkan. Namun banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya. Hubungan kami belum pada tahap untuk duduk dan mengenal satu sama lain. Hanya sebatas, ‘Oh okay, aku punya teman di rumah ini’”.
***
Hana dan Yura tiba di bandara tepat 5 menit sebelum pesawat yang ditumpangi Gibran landing dengan sempurna. Gibran mengambil tas ranselnya, lalu menuju ke bagian imigrasi untuk pemeriksaan passport lantas ke tempat pengambilan koper. Gibran berjalan menuju arah pintu keluar. Banyak orang yang menunggu kerabat atau keluarganya disana. Mereka saling berdesak-desakan. Mata Gibran mengedar ke kanan dan ke kiri. Ia belum melihat dimana keberadaan adiknya.
“Hana, itu mas Gibran! Ayo kita kesana” Yura menarik tangan Hana. Gadis ini melangkah dengan ragu.
Akhirnya Gibran melihat adik kesayangan berjalan kearahnya. Ia sumringah. Ia pun beralih melihat gadis yang berada didekat Yura. Pandangan mereka bertemu. Testimoni. Tes. Bagai di tetesi embun pagi, hati Gibran terasa sejuk.
“Mas, aku merindukanmu” Air mata Yura sempurna menetes.
“Kamu masih sama cengengnya dengan yang dulu hm?” Gibran sedikit mengacak acak kepala adiknya. Ia pun
memiliki kerinduan yang sama.
Setelah kedua kakak beradik saling melepas rindu sejenak, Gibran menyapa Hana.
“Kamu apa kabar? Sehat?” Gibran tidak bisa berhenti menatap Hana. Tidak bisa dipungkiri ia sangat merindukan gadis ini. Mau pecah rasanya. Andai mereka sudah sah. Menyadari hal ini, ia membuang tatapannya kesemberang arah. Dalam hati ia berjanji akan segera menjadikan Hana miliknya.
“Alhamdulillah baik mas. Mas apa kabar?”
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat” Gibran menjawab dengan tersenyum. Hana sedikit terpesona melihatnya.
__ADS_1
“Mas udah makan?” tanya Yura.
“Sebenarnya sudah di pesawat, tapi mas udah ga sabar menyantap masakan Indonesia. Sudah rindu. Ayoo temani
mas makan sambil kita berbincang-bincang melepas rindu” Ketika berkata melepas rindu, mata Haris melirik ke arah Hana. Mau tidak mau Hana sedikit tersipu. Yura menyadari hal ini. Ia melihat betapa abangnya memiliki perasaan yang begitu besar terhadap Hana. Ia juga melihat ekspresi yang sama pada gelagat Bahasa tubuh
sahabatnya itu. Seketika Yura menjadi sangat sedih. Betapa takdir tidak berpihak pada kakaknya.
***
Hana menunggu suaminya pulang. Ia sudah berjanji untuk pulang lebih awal sebab Haris akan mengajaknya untuk makan bersama malam ini. Sambil menunggu, Hana membuka oleh-oleh yang tadi Gibran berikan. Ada satu set baju gamis juga mukena. Hana mengamatinya. Sungguh indah pemberian Gibran, oleh-oleh berbahan sutra itu berhasil membuatnya terpana. Ia melihat ada sepucuk notes diselipkan disana. Ia langsung membacanya,
“Hana, ketika kamu membaca ini, kamu pasti sudah membuka oleh-oleh dariku. Walau hanya sekedar, aku berharap kamu menyukainya. Jujur aku tidak tau size gamis yang kamu kenakan. Aku menimbang nya dengan bercermin kepada Yura. Semoga pilihanku tepat. Gibran”
Hana mengingat bagaimana oleh-oleh itu tadi dikeluarkan dari tas ransel Gibran. Ia tidak meletakkannya di koper,
mungkin untuk lebih memudahkan ketika diberikan. Sesuai prediksi, Hana yang akan langsung menjemputnya di bandara. Ia pun meletakkan baju dan mukenah tersebut diatas tempat tidur. Ia ingin mandi terlebih dahulu sebelum mencobanya.
Haris pulang tepat pukul 17.30. Ia mendengar gemericik suara air dari arah kamar mandi yang terletak di dekat
dapur. Memang kamar mandi di kamar utama belum terperbaiki.
Haris pulang dengan menenteng sebuah buku motivasi yang dia dapatkan langsung dari penulisnya. Tadi di kantor ada seminar motivasi untuk para staff. Haris ingin menghadiahkan buku ini untuk Hana. Ia pun membuka pintu kamar Hana dan meletakkan buku tersebut
diatas tempat tidurnya.
Namun bola matanya menangkap satu paket baju lengkap yang juga berada disana. Ia memegang kain nya. Mahal. Gumam Haris. Ada label yang tertera di sana. Made in Maroko. Tak lupa, ia juga melihat ada sebuah notes di sana. Dengan rasa penasaran ia pun membaca pesan singkat tersebut. Kening Haris
mengkerut sempurna. “Maroko? Gibran?” Haris menangkap dua kata kunci penting. Air muka nya berubah. Ada hubungan apa laki-laki yang bernama Gibran itu dengan istrinya? Apa mereka punya hubungan khusus sampai Hana diberikan hadiah se special ini? Ingatannya melayang pada kata-kata Hana semalam, bahwa istrinya tersebut meminta ijin untuk menjemput kakaknya Yura di Bandara.
Kepingan-kepingan puzzle perlahan terbuka dan tersusun. Haris pun meninggalkan kamar Hana tanpa meletakkan buku yang sudah dia niatkan untuk diberikan.
__ADS_1
***