
Pagi ini, ketika matahari sudah sepenggalah naik, Haris dan Hana sudah berada dalam perjalanan menuju kediaman mereka, tentunya mereka sudah terlebih dahulu sarapan dan berpamitan kepada Abah dan Ummi. Ummi tampak berat mengizinkan Hana untuk pergi, raut wajah yang sedih dengan mata berkaca-kaca terlihat jelas.
Abah menenangkan Ummi. Haris juga berjanji lain waktu akan mengunjungi mereka kembali. Ummi pun membekali Hana dengan ramuan-ramuan, Ummi berpesan sambil mewanti-wanti agar Hana dan Haris minum secara bersamaan. Untuk khasiatnya, pasangan muda ini juga tidak mengetahuinya dengan pasti. Ummi hanya berkata ramuan-ramuan ini bagus untuk Kesehatan dan daya tahan tubuh.
Mereka sudah berada di perempatan jalan menuju rumah ketika alarm hp Hana mengingatkan bahwa esok ia sudah harus kembali masuk kuliah. Ah, betapa waktu sangat cepat berlalu. Untuk hari-hari kedepan, Hana akan merasa sangat sibuk.
“Maaf semalam aku ketiduran, Hana!” Haris memulai percakapan setelah sekian lama mereka terdiam bersama di
dalam mobil.
Itu yang aku harapkan, mas. Batin Hana.
“Tidak apa-apa mas, itu juga mungkin karena aku kelamaan di kamar mandi” sahut Hana.
“Itu yang ingin aku tanyakan, apa yang kamu kerjakan di kamar mandi sedemikian lama? Aku takut kamu akan masuk angin jika terlalu lama berada di kamar mandi, apalagi malam sudah hampir larut”
“Hmh, tidak sering mas. Semalam aku rindu dengan suasana kamar dan kamar mandi, jadi aku berinisiatif untuk
mandi sambil luluran, jadi memang sedikit memakan waktu” Penjelasan Hana berhasil membuat Haris membolakan matanya penuh.
“Astaghfirullah, Hana. Kalau mau luluran ya jangan tengah malam juga dong! Ada-ada saja, besok jangan lakukan
lagi. Kamu bisa terkena flu, apalagi air panas di rumah tidak hidup kan!” Omel Haris, Laki-laki itu menggeleng gelengkan kepalanya heran.
“Iya mas, siap! Cuma tadi malam saja kok. Besok-besok tidak lagi” Hana membentukkan lambang peace di jari nya. Menunjukkan kedamaian. Ia jadi tersenyum sendiri. Ternyata Haris bisa juga cerewet ya… dan kecerewetan itu sebagai bentuk kepeduliannya kepada dirinya. Gadis ini meihat keluar jendela sambil tersenyum-senyum sendiri. Padahal, sebenarnya berlama-lama di kamar mandi adalah memang keinginannya agar bisa terhindar dari Haris.
“Baiklah. Ayo kita shalat dhuha dulu di mesjid, setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Aku ada keperluan,
jadi mungkin nanti akan telat pulang.”
“Keperluan apa mas?” Hana bertanya spontan. Jarang-jarang hal ini ia lakukan.
“Aku akan menjenguk teman di rumah sakit”
“Siapa? Arini?” Hana semakin penasaran. Haris hanya mengangguk. Ia agak sedikit terganggu dengan pertanyaan Hana.
“Bagaimana keadaannya sekarang, mas?”
__ADS_1
“Alhamdulillah Arini sudah siuman”
“Ooo” Air muka Hana berubah. Ia tampak tak senang. Bukan tak senang sebab Arini sudah siuman, sama sekali bukan. Namun ah, rasanya ia seperti tidak rela atas kedekatan suaminya dan Arini. Haris menangkap raut tidak senang pada wajah Hana.
“Kenapa kamu malah melamun? Ayo turun!” Hana pun turun mengikuti titah Haris.
Mereka sudah sampai di mesjid Syuhada. Mesjid yang sering Haris kunjungi. Dua sejoli ini berpisah menuju ke tempat wudhu masing-masing untuk melaksanakan shalat dhuha. Memohon pada Allah agar selalu Allah limpahkan rahmat, Kesehatan kemudahan rizki dan mudahnya menghadapi kehidupan di dunia fana ini.
Setelah wudhu’, Haris memasuki mesjid dan hendak melaksanakan shalat. Sebelumnya matanya terpaku pada seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengan nya tengah melakukan tilawah al-Qur’an dengan khusyu’. Samar-samar terdengar suara merdunya walau dengan volume yang sangat kecil. Haris berniat selepas melaksanakan shalat dhuha, jika pemuda itu masih membaca al-Qur’an ia akan menyapanya. Siapa tau ia akan menambah kawan shalih yang membawa kebaikan padanya.
Hana juga shalat dengan membaca surah adh Dhuha pada raka’at pertama dan surah asy Syams pada raka’at kedua. Ia larut dalam bacaan shalatnya. Tetiba ada perasaan gusar yang menghampirinya. Bayang-bayang Gibran hadir dalam shalatnya. Ia mencoba menutup erat mata agar lebih khusyuk namun gagal, bukannya menghilang, bayangan itu semakin nyata. Padahal saat ini masih pagi dengan udara segar yang berhembus yang berasal dari pepohonan dari luar halaman mesjid.
Hana berpikir mungkin karena rasa bersalahnya pada Gibran dan juga belum bertemu dengan pemuda yang usianya 6 tahun di atasnya tersebut untuk menyelesaikan masalah, maka di saat-saat yang tidak diinginkan bayangan pemuda itu selalu hadir. Syaithan memang suka memberikan rasa was-was kepada umat manusia. Hana resah dan kesal sebab shalat dhuhanya kali ini tidaklah khusyu’ dan memberikan kedamaian. Ia pun banyak-banyak beristighfar.
Selesai shalat, Haris melihat pemuda tadi masih berada di tempat duduknya, mulutnya tampak berkomat-kamit bertasbih dan bertahmid. Ia hendak menyapa namun seketika ia merasa segan. Ia urung menyapa. Ia pun berbalik arah keluar mesjid menuju parkiran menunggu Hana.
“Mas, sebentar ya. Ini aku titip mukena ku, aku ingin buang air kecil dulu” Ucap Hana. Haris mengangguk.
“Hati-hati, jangan sampai terjatuh lagi” Haris mengingatkan, sebab Hana pernah terburu-buru ke kamar mandi hingga terjatuh.
Sembari menunggu Hana, kakinya ringan memainkan batu. Beruntung, ia melihat pemuda yang mengaji tadi keluar dari mesjid. Tak segan lagi, ia langsung menyapa,
“Assalamu’alaikum” Sapa Haris.
“Walaikumsalam”
“Perkenalkan saya Haris, tadi melihat mas lagi mengaji rasa ingin menyapa tapi takut mengganggu” Ucap Haris ramah.
“Wah, sapa saja mas, saya Gibran. Tadi selepas shalat dhuha saya sempatkan mengaji sebentar” Ucap Gibran tak
kalah ramah. Haris mengangguk-angguk.
“Mas sendirian saja di sini?” Lanjut Gibran.
“Tidak, ini lagi menunggu istri saya, tadi kami barengan pulang dari rumah mertua dan juga singgah untuk shalat
dhuha” Jawab Haris.
__ADS_1
“Masya Allah, mas sudah menikah ternyata”
“Iya, Alhamdulillah. Kami baru saja menikah, masih seumur jagung. Mas sendiri bagaimana?”
“Saya, hmh… saya belum menikah” Gibran tersenyum canggung.
“Saya doakan semoga mas segera menemukan jodohnya. Istri shaliha hadiah dari Allah SWT” Doa tulus yang Haris
haturkan.
“Amin ya Rabb. Terima kasih doa baiknya ya. Kalau begitu jangan panggil mas, panggil saja saya Gibran, agar kita lebih akrab. O iya, usia saya 26 tahun”
“Wah, baiklah. Ternyata kita sebaya”
“Alhamdulillah. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Haris. Masih ada kerjaan yang harus saya lakukan, semoga ada
kesempatan di lain waktu nanti kita kembali mengobrol. Insya Allah” Gibran permisi pamit.
“Baiklah. Kalau begitu bolehkah saya meminta nomormu?”
“Baik. kita bertukar nomor ya 085262******”Gibran memberikan nomornya.
“Okay, nanti saya miscall. Nice to meet you”
“Nice to meet you too” Haris dan Gibran berjabat tangan.
“Tunggu sebentar” Haris mencegah Gibran pergi.
“Iya, ada apa?”
“Itu istri saya, mari saya kenalkan sebentar”
Gibran menoleh ke arah gadis yang di tunjuk Haris. dari kejauhan tampak seperti tidak asing. Ia serasa pernah
melihatnya. Sekian detik, gadis yang ditunjuk Haris kian mendekat ke arah mereka.
***
__ADS_1