Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 29: Kecelakaan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Hana baru selesai berpakaian rapi. Hari ini ia sangat bersemangat. Pasalnya Haris berjanji mengajaknya mengunjungi danau yang tidak jauh dari lokasi villa berada. Jaraknya lebih kurang 3 km. Haris tengah berbincang dengan paman Ardi di teras sambil menunggu Hana selesai berkemas. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah langit. Mendung. Awan hitam memenuhi langit. Ia mendesah, jangan sampai hujan turun sebab jalanan menuju danau akan licin dan berbahaya. Pemandangan pun akan jadi berbeda.


“Haris, sepertinya tidak aman mengunjungi danau di saat suasana seperti ini” Paman Ardi memberi pendapat.


“Iya paman, sepertinya hujan lebat akan segera turun”


“Sebaiknya lain kali saja kalian ke sana. Paman khawatir nanti akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan” Paman kembali menekannya untuk tidak ke danau.


Haris terdiam. Ia tau Hana yang tengah berkemas. Ah, ia jadi tidak tega membatalkan kunjungan ke danau. Gadis itu sangat bersemangat.


Drrrrt… drrrrrtttt.


Satu pesan menghiasi layar ponsel Haris. Bu Indah ibunya Arini mengirim pesan,


“Assalamu’alaikum Haris, Arini mengalami kecelakaan. Ia belum sadarkan diri. Sekarang ia berada di rumah sakit Abdul Ghani ruang seroja”


Membaca pesan yang dilayangkan oleh bu Indah, wajah Haris memucat. Dengan bergegas ia menghampiri Hana di kamar.


“Hana, kita harus segera kembali. Temanku kecelakaan, sekarang kita ke sana bersama” Tanpa menunggu jawaban Hana, Haris memasukkan barang-barang yang kemarin sempat di bawa ke dalam tas. Ia berkemas dengan


tergesa-gesa.


“Astaghfrullah, baik mas. Semoga tidak terjadi apa-apa” Hana jadi ikut khawatir mendengar musibah yang menimpa teman nya Haris. Ia juga harus mengesampingkan ego nya untuk tidak mempermasalahkan masalah mengunjungi


danau seperti rencana awal mereka.


Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Haris hanya diam. Ia fokus terhadap jalan yang ada dihadapannya. Ini menit ke 10 sudah Laki-laki itu mengabaikan Hana. Ia tenggelam dalam pikiran yang telah memenuhi isi kepalanya.


Rinai hujan berderai di balik kaca mobil. Hana memilih untuk melihat tetesan-tetesan air yang membentuk pola tersebut. Sesekali ia melihat wajah Haris yang membeku. Suaminya seperti berada dalam masalah yang sangat besar. Rahang kokoh itu nyaris tidak bergeser walau se senti. Wajah kaku seolah tidak ingin diganggu memenuhi gambaran ekspresi wajah Haris sekarang.


***

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Arini bu?” Tanya Haris kepada bu Indah yang berada di depan ruang tempat Arini dirawat. Wajahnya sendu, matanya masih berair. Bu indah menangis.


“Arini sedang di operasi nak. Ia kehilangan banyak darah. Kecelakaannya lumayan parah”


“Astaghfirullah” Haris terkejut mendengarnya.


Hana tersentak. Arini? Jadi teman nya Haris yang kecelakaan adalah Arini? Ingatan Hana melayang kembali ke café A tempat mereka bertemu bersama Ridwan dan Yura , yang mana kala itu tiba-tiba temannya Haris menghampiri dan mengatakan jika Haris dan Arini menikah, maka jangan lupa ia di undang. Hana juga ingat foto kebersamaan Haris bersama seorang wanita berparas cantik di handphone milik Lisa. Sekarang ia menjadi paham dan mengerti, kenapa Haris begitu khawatir atas kecelakaaan seseorang yang disebut sebagai temannya ini. Mungkinkah wanita ini memang kekasih suaminya?


Haris berada di samping jendela ruang operasi. Ruangan yang tidak tembus pandang itu membentuk rasa khawatir yang berlebihan di hati Haris.


“Kamu Hana ya?” bu Indah menyapa Hana. Gadis itu berdiri dipojokan memperhatikan Haris yang dari tadi celingak celinguk menunggu pintu ruang operasi dibuka.


“Iya bu. Salam kenal”


“Duduklah Hana”


“Baik bu terima kasih. Saya turut bersedih atas musibah yang menimpa mba Arini, semoga operasinya berjalan lancar” Hana menunjukkan simpatinya.


Hana masih menatap Haris dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedikitnya, sekarang ia merasa terabaikan. Ah, mungkin mas Haris masih dalam keadaan panik sekarang. Mungkin Aku saja yang sangat berlebihan. Batin


Hana. Walau begitu, matanya tak lepas dari memperhatikan Haris yang masih berdiri di tempatnya semula tanpa sedikitpun melihat kearahnya.


Sejam berlalu, ruangan operasi dibuka.


“Bagaimana kondisi Arini dok?” Tanya Haris mewakili pertanyaan dari bu Indah ibunya Arini.


“Alhamdulillah operasi berjalan lancar dengan lancar, setelah pasien siuman saya akan melakukan rontgen untuk melihat perkembangannya lebih jauh”


Mendengar perkataan dokter, sedikit perasaan lega memenuhi hati mereka yang dari tadi sudah menunggu.


“Sementara hanya satu orang yang boleh menjenguk” Ucap perawat yang mendampingi dokter.

__ADS_1


“Kamu saja yang masuk duluan Haris. Nanti kita bergantian. Arini butuh kamu untuk mendampinginya. Dari tadi sebelum di operasi ia hanya mengigaukan nama kamu” Ujar bu Indah. Haris melirik Hana. Wajah gadis itu hanya


datar.


“Hana, aku jumpai Arini dulu. Kamu tunggulah sebentar lagi di sini” Hana hanya mengangguk.


***


Haris tak henti membacakan ayat-ayat kesembuhan di samping Arini. Ia menatap gadis yang tak berdaya yang berada di hadapannya. Gadis itu belum siuman. Mungkin efek obat bius yang masih bekerja. Pintu kamar sedikit


terbuka. Tadi bu Indah membukanya dan membiarkan pintu tersebut tidak tertutup penuh. Hal tersebut menyebabkan Hana bisa melihat bagaimana pergerakan Haris. Bagaimana suaminya menatap gadis itu, bagaimana mulut Haris yang tidak berhenti komat kamit memanjatkan doa. Suaminya tampak begitu sedih dan terpukul. Hana merasa jengah. Ia sudah tidak tahan melihatnya. Ia memilih untuk bangkit dan berlalu pergi dari


rumah sakit tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Hana menyusuri Lorong-lorong rumah sakit mencari jalan untuk bisa keluar. Entah kenapa air mata nya mengalir begitu saja tanpa ia pinta, tanpa bisa ia cegah. Ia sendiri bingung mengapa ia menangis, yang ia tau ia sedih


karena Haris mengabaikan keberadaannya. Tapi mengapa rasanya bisa sesakit ini. Padahal semalam ia baru saja tersenyum bahagia. Padahal ia baru saja sedikit bisa meredakan rasa sakit akibat tuduhan-tuduhan Gibran kepadanya. Tapi sekarang ia kembali bersedih. Ya Rabb~ Hana mengeluh dalam tangisnya.


Hana sampai di dekat jalan raya. Ia hendak menyetop taksi. Namun gerakannya terhenti ketika mobil fortuner putih berhenti di hadapannya. Ia tau dengan pasti mobil siapa itu. Ia pun menyeka asal air mata yang dari tadi mengalir menggunakan ujung lengan gamisnya. Kaca samping mobil terbuka. Ia pun dapat melihat dengan jelas wajah pria yang menyetir mobil tersebut.


“Kamu mengapa berada di sini Hana?”


“Mas…” Hana berucap lirih.


Laki-laki itu turun dari mobilnya dan membuka pintu depan mobil yang berada di sebelahnya.


“Masuklah” Hana bergeming.


“Ayo masuklah”


Akhirnya Hana mengikuti perkataan laki-laki itu untuk naik ke dalam mobilnya. Perlahan-lahan Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit dan seisinya.

__ADS_1


***


__ADS_2