MMORPG World For Adventure

MMORPG World For Adventure
Chp 100, Restoran


__ADS_3

Geabrande


Humbetolfia Empire


Gialldys Kingdom


Dulldys City


"Kami hanya ingin mengisi perut kami yang kosong, bagaimana apakah ada restoran yang cocok?" Jawab Kevin kembali bertanya.


"Silahkan ikuti Leni." Leni mulai berjalan namun Kevin menyadari gadis kecil ini sedang mewaspadai nya.


"Baik." Mengangguk Kevin mulai mengikut nya. 'Gadis kecil yang menarik.' Tersenyum Kevin seakan menemukan mangsa.


"Kenapa kamu menerima nya sebagai pemandu wisata? Kita bisa sendiri kan?" Bisik Karin bertanya.


"Bukan apa apa, hanya saja gadis kecil ini bisa meningkatkan nama baru kita di kerajaan ini." Kevin berniat meningkatkan nama tentara bayaran nya menggunakan gadis kecil tersebut.


"Bagaimana cara nya?" Bertanya Karin.


"Kamu hanya tidak menyadari saja, jubah biru yang ia gunakan seakan di rancang untuk menjadi pemandu wisata namun jelas itu hanya buatan dari seorang penjahit amatir." Jelas Kevin.


"Hm jika di perhatikan lebih teliti yang kau katakan memang benar." Ucap Karin melihat pakaian gadis kecil di depan nya lebih teliti.


"Selain itu ... lihat kulit lengan dan leher nya." Ucap Kevin setelah berdiam sebentar.


"Memar." Karin juga menyadari hal tersebut dari tadi.


"Tidak salah lagi itu adalah bekas pukulan benda keras atau sesuatu yang keras, yang jelas nya latar gadis kecil ini tidak biasa." Ucap Kevin tersenyum aneh.


"Kau terlihat seperti penjahat licik loh Kevin." Karin mengomentari senyuman Kevin.


"Benarkah?" Bertanya Kevin namun belum juga menghentikan senyum aneh nya.


Saat mereka mengikuti gadis kecil tersebut, tanpa sadar mereka sudah tiba di depan sebuah restorant yang cukup megah dan terlihat seorang pelanggan yang keluar dari sana merupakan seorang bangsawan, di lihat dari lencana dan pakaian nya.


"Ini adalah restorant terbaik yang dapat saya rekomendasikan tuan." Sekarang entah kenapa senyum gadis tersebut terlihat lebih baik dan memanggil Kevin tuan.


"Ini memang cukup baik, aku akan mencoba nya dulu." Kevin berjalan masuk bersama Karin di ikuti oleh gadis kecil tadi.


"Selamat datang! Meja untuk berapa orang?" Seorang pelayan langsung menyambut Kevin.

__ADS_1


Kevin melirik kearah Leni sebentar sebelum menjawab. "Tiga orang." Jawab Kevin.


"Baik, silahkan ikuti saya." Pelayan tersebut mengantar Kevin menuju sebuah meja bundar dengan tiga kursi. "Silhkan duduk." Ucap pelayan tersebut.


Kevin dan Karin langsung duduk kecuali Leni.


"Leni duduk lah." Ucap Kevin.


"B-baik." Leni langsung menurut dan duduk.


"Silahkan di lihat menu nya." Pelayan tadi entah sejak kapan sudah membawa tiga gelas air mineral dan roti yang ia letakkan di meja sebagai layanan gratis.


Kevin dan Karin melihat pesanan dengan baik sebelum menentukan.


"Yang ini saja kali yah?" Karin bertanya pada Kevin.


"Hmm di tambah dengan ini mungkin lebih enak." Sambung Kevin.


"Oke, tolong daging domba panggang porsi besar dan bir yang ini, Leni ingin apa?" Ucap Karin pada pelayan yang menunggu pesanan dan bertanya pada Leni.


"Sa-saya tidak per-" ucapan Leni terpotong oleh Kevin.


"Jus apel." Ucap Kevin menambah kan.


"Itu saja." Ucap Kevin.


"Baik, tolong tunggu sebentar." Pelayan tersebut kemudian mengambil buku menu dan pergi.


Tidak lama kemudian pelayan tersebut kembali dan membereskan tiga gelas air mineral dan roti yang ada di meja Kevin di mana sama sekali tidak tersentuh, kemudian pelayan tersebut meletakkan tiga piring kosong lengkap drngan alat makan ala bangsawan berupa sendok, garpu, pisau dan lain lain nya.


Pelayan lain kemudian membantu memindahkan sebuah nampan besar dari trol pelayan sebelum nya kemeja Kevin.


"Gede." Ucap Kevin melihat satu porsi daging domba panggang super besar di meja nya.


"Silahkan di nikmati." Ucap pelayan tersebut tersenyum setelah meletakkan semua pesanan di atas meja Kevin.


"Bagaimana cara memakan ini?" Bisik Karin bertanya karena kebingungan.


"Aku lebih khawatir dengan bagaimana cara menghabiskan nya." Kevin meralat ucapan Karin.


"Aku serius, di sini semuanya adalah kalangan atas, makan sampai pake pisau, akan memalukan sekali jika aku tidak mengetahui cara nya." Bisik Karin.

__ADS_1


"Haih.. kau hanya perlu mengikuti ku." Ucap Kevin mulai menggunakan pisau nya untuk mengambil sebagian daging dari nampan besar di depan nya. 'Untung aku sering makan di rumah Alka.' Batin Kevin karena saat di rumah Alka semua orang makan dengan cara seperti ini.


"Baiklah." Karin mulai mengikuti Kevin namun tetap saja dia sangat kesulitan karena tidak terbiasa, Karin hanya tau cara menggunakan pisau untuk mencabik bukan untuk makan.


"Leni makan lah." Ucap Kevin setelah menelan satu suapan yabg telah ia kunyah.


"Baiklah." Leni hanya menuruti apapun yang di katakan klien nya.


"Sudah berapa lama Leni bekerja sebagai pemandu di sini?" Bertanya Kevin mulai mengorek informasi.


"Satu bulan." Leni menjawab.


"Satu bulan.. Leni seperti nya tidak suka dengan player, ada apa?" Kevin langsung menanyakan hal tersebut saat satu suapan sedang Leni kunyah.


"Uhhuk! Ahh.. huk! Mm.." Leni dengan cepat mengambil jus apel nya dan meminum nya hingga tersisa setengah saja.


"Ah maaf maaf, pertanyaan ku aneh yah." Kevin meminta maaf namun tersenyum.


"Tidak kok, ..." Jawab Leni seakan sedang menilai Kevin.


"Jadi apakah Leni bisa menjawab pertanyaan kakak tadi?" Kembali Kevin bertanya.


"Beberapa player yang pernah menjadi klien Leni sangat kasar jadi Leni sedikit takut dengan player." Jawab Leni yang mulai sedikit mempercayai Kevin bahkan sampai menceritakan hal tersebut.


"Hmm.. jadi apakah Leni takut dengan kakak?" Bertanya Kevin.


"Tidak, kakak sangat baik bahkan mengajak Leni makan, biasa nya Leni hanya melihat klien Leni makan saja meskipun ada beberapa orang baik seperti kakak yang mengajak Leni makan tapi itu tidak banyak." Ucap Leni menjawab.


Kevin kembali melanjutkan makan nya sebentar untuk membiarkan Leni merasa lebih baik dan rileks setelah di berikan pertanyaan seperti tadi karena Kevin baru akan memulai pertanyaan yang lebih sulit lagi.


"Di mana orang tua Leni?" Bertanya Kevin kembali bertanya saat setelah memastikan Leni telah menelan makanan nya.


"..mm." Leni langsung terdiam namun terlihat ingin menyampaikan sesuatu.


"Apakah pertanyaan kakak aneh?" Bertanya Kevin memancing Leni.


"... Leni tidak tahu orang tua Leni, saat ini Leni tinggal di panti asuhan di pinggir kota." Ucap Leni.


"Pinggir kota itu jauh dari pusat kota, kamu kepusat kota hanya untuk mendapatkan uang lebih, apakah kamu merasa tidak nyaman di panti asuhan?" Ucap Kevin bertanya.


"Leni sudah merasa nyaman di panti asuhan, kehidupan Leni sangat enak di panti asuhan." Leni langsung menjawab dengan cepat dan terburu buru yang membuat Kevin menyadari kebohongan Leni setelah melihat ekspresi Leni yang seakan ketakutan.

__ADS_1


...----------------...


berikan ucapan selamat dong buat author karena sudah berjuang keras up sampai chapter 100 :)


__ADS_2