MMORPG World For Adventure

MMORPG World For Adventure
Chp 42, Paket kedua Virtual Reality Kabin


__ADS_3

"Sakit! Apa yang kau lakukan Karin?." Kevin sedikit menjerit.


"Ah maaf maaf." Karin langsung meminta maaf namun saat Karin mengingat kejadian saat ia demam itu membuatnya sangat malu dimana Kevin melihat seluruh tubuhnya.


"Sudahlah, bisa kamu pesan makanan? Saat ini aku tidak bisa membuat makanan." Ucap Kevin mengambil kembali handuknya.


"Maaf." Karin masih meminta maaf.


"Tidak apa apa jangan di pikirkan."


"Aku akan memesan makanan sebentar." Karin keluar kamar namun tampaknya ia masih memikirkan masalah tadi.


"Biarkan sajalah." Kevin kembali berbaring karena masih merasakan sakit di kepalanya. 'Aku akan menuntut perusahaan game ini.' Batin Kevin sebelum tertidur.


...


Sore hari.


"Hm hoa..m!" Kevin terbangun dimana sakit dikepalanya sudah menghilang.


"Apa kepalamu masih sakit Kevin?" Karin langsung bertanya saat Kevin terbangun.


"Aku sudah baikan, tunggu sebentar." Jawab Kevin sebelum berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Dua menit kemudian.


"Aku hanya memesan nasi goreng saja." Ucap Karin memberikan satu piring nasi goreng pada Kevin.


"Terima kasih.. dimana nasi gorengmu?" Kevin bertanya saat hanya ada satu porsi nasi goreng.


"Aku sudah memakannya." Sebenarnya Karin tadi memsan dua porsi tapi karena Kevin tertidur dia memakan semuanya sebelum memesan kembali saat Kevin akan bangun, biasanya Kevin selalu bangun saat sore jika sedang tidur siang, Karin sudah terbiasa.


"Tapi ini masih hangat kau cepat sekali menghabiskannya." Ucap Kevin sebelum melahap nasi gorengnya.


"Itu tidak sopan." Entah kenapa Karin tidak suka disinggung rakus.


Setelah Kevin menghabiskan makanannya Kevin kemudian membuka laptop nya dan memperlihatkan status karakternya saat ini pada Karin.


"Bukankah semua skill itu merupakan skill Ultimate?" Karin jelas iri dimana Kevin sudah memilik skill Ultimate terlebih tidak hanya satu.


"Iya skillnya adalah skill yang over power tapi lihat passive sialnya." Tunjuk David pada keterangan yang lain yang menyebutkan bahwa David akan menjadi buronan malaikat dan pengikut dewa.


"Tapi itu jika kau menggunakan wuju transformasi saja kan? Selama tidak menggunakannya kau juga tidak akan diburu." Santai Karin membalas.


"Yang membuatku kesal adalah aku harus menahan sakit sampai mesin VR ku rusak hanya untuk mendapatkan skill ultimate yang tidak bisa kugunakan." Kesal Kevin dimana saat ini helm VR nya sudah tidak dapat lagi digunakan untuk login karena mengalami kerusakan parah.


"Jadi apa yang akan kau lakukan?" Karin bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja aku akan menuntut perusahaan game ini-" ucapan Kevin tertahan saat seseorang membunyikan bel dirumahnya. "Siapasih?" Kevin langsung datang untuk membukanya.


Begitu Kevin membuka pintu, yang ada didepan rumahnya adalah mobil jasa pengantar barang dimana tujuannya adalah mengantarkan paket Kevin.


"Karin kau memesan paket?" Bertanya Kevin pada Karin.


"Tidak." Karin menjawab sambil mengibsakan tanganya didepan wajah.


"Ini paket atas nama Kevin." Ucap petugas pengantar paket tersebut.


"Saya?" Kevin bingung.


"Ini adalah paket dari game MMORPG World For Adventure untuk mas Kevin." Jelas petugas tersbeut.


Tiba tba Kevin teringat akan hadiah dari menemukan makam lucifer yang akan dikirim kerumahnya dari game MMORPG World For Adventure.


"Ah iya bisa saya lihat paketnya." Kevin langsung ramah.


"Silahkan tanda tangan dulu mas." Petugas tersebut memberikan pena dan kertas pada Kevin.


Sst sst sst


"Sudah, paketnya?" Setelah Kevin memastikan nama paketnya ia langsung menandatanganinya dengan cepat.


"Tunggu sebentar mas." Ucapnya memberikan jalan pada anggota timnya yang lain dimana terlihat jelas dua orang mengangkat sebuah kota besar yang mirip sebuah kotak kulkas namun lebih besar lagi. "Disimpan dimana mas?" Bertnya petugas tersebut.


Setelah mengantar paket tersebut kekamar Kevin mereka langsung pergi setelah berpamitan sedangkan Karin mulai penasaran isi kotak tersebut yang entah kenapa mengubah suasana hati Kevin.


Kamar Kevin.


"Apa isi kotak ini?" Karin bertanya pada Kevin karena jelas Kevin sudah mengetahuinya saat menandatangani penerimaan paket tersebut.


"Hanya sebuah hadia sebagai permintaan maaf pihak MMORPG World For Adventure karena telah membiarkan bug sebesar itu berada didalam game." Jawab Kevin seakan melupakan dendamnya pada game tersebut.


"Bagaimana tuntutannya?" Karin bertanya memastikan.


"Mereka sudah mengirimkan paket seharga seratus juta lebih bagaimana aku bisa menuntut mereka." Kevin menjawab seakan sudah tidak memiliki masalah.


'Matre.' Batin Karin menatap Kevin dengan pandangan kosong.


"Ayo buka." Entah sejak kapan sebuah pisau cutter sudah berada ditangan Kevin.


Sepuluh menit kemudian.


"Bagaimana keren kan?" Bertanya Kevin melihat sebuah mesin Virtual kabin dan dengan ini dia sudah bisa login dan mengikuti event yang menggunakan percepatan otak hingga lima kali lipat.


"Woaa keren mungkin aku juga akan segera membelinya." Karin juga sangat tertarik dimana mesin Virtual Kabin memiliki fungsi yang dapat menjaga suhu tubuh pengguna serta menyiapkan gizi yang pas selama login.

__ADS_1


"Kabel oke cairan gizi oke koneksi oke, aplikasi dan mental semuanya oke, saatnya login." Kevin tanpa basa basi langsung berbaring didalam virtual kabin dan siap untuk login.


"Tunggu tunggu, kau ingin login sekarang?" Karin bertanya.


"Ya ada apa?" Jawab Kevin bertanya balik.


"Yah meskipun kau menggunakan virtual kabin tapi setidaknya kita makan malam dulu kan?" Karin memberi saran.


"Tapi saat ini aku tidak sempat untuk membuat makanan." Ucap Kevin yang seakan setuju saran Karin.


"Didekat sini ada warung kita makan disana saja." Ajak Karin yang ingin makan diluar karena kemarin mengalami kecelakaan dan tidak jadi makan bersama Kevin diluar.


"Baiklah." Kevin bangkit dan menarik jaket berwarna birunya sebelum menggunakannya. "Oke siap." Ucap Kevin siap untuk mengunci pintu kamarnya.


"Gitu aja?" Karin bertanya saat melihat laki laki begitu simpel dalam bersiap.


"Yah gini aja." Balas Kevin.


"Baiklah aku tidak akan kalah simpel." Karin langsung berlari kearah kamarnya dilantai satu.


Kevin tidak terlalu memikirkannya dan langsung menunggu Karin di pintu saja dimana Kevin hanya menggunakan sandal biasa saja.


"Gimana cepat kan?" Bertanya Karin dimana dia juga mengikuti gaya Kevin dengan hanya menggunakan jaket pasangan dari jaket milik Kevin dengan kaos didalamnya yang berwarna orange.


"Bukankah pakaian kita terlalu banyak yang berpasangan?" Kevin tidak terbiasa dengan hal yang seperti ini.


"Selama itu diskon tidak masalah kan?" Karin memberi alasan yang dapat diterima oleh Kevin namun jelas dia menginginkan pakaian berpasangan dengan Kevin.


"Huh.. benar juga sih.. ayo." Kevin langsung berjalan keluar setelah melemparkan kunci pintu pada Karin.


"Moo.. kenapa harus aku yang menguncinya." Meskipun menggerutu dan menggembungkan pipinya namun Karin tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Kevin.


"Sudahlah jangan mengeluh atau kutinggal."


"Baiklah baiklah."


Mereka berdua kemudian berjalan kaki menuju warung yang tidak terlalu jauh dari rumah Kevin untuk makan malam.


Namun Kevin tidak tau apa kah dia sedang sial atau tidak saat seseorang tiba tiba datang dan secara tidak sengaja menabrak Kevin membuat minuman orang tersebut tumpah kebadannya.


"Untung tidak kejaket ku, ini baru loh." Ucap Kevin lebih mengkhawatirkan jaketnya dari pada orang yang menabraknya tersebut.


"Oi apa kau punya mata?" Om om yang menabrak Kevin langsung marah karena bajunya sudah basah akan minumannya sendiri.


"..." Kevin tidak menjawab dan hanya menatap mata Om om tersebut.


"Kau kutanya, apa kau punya mata!?" Om om tersebut semakin emosi.

__ADS_1


__ADS_2