
"Bagaimana dengan latihan pernapasan penguat tubuhmu?" Kevin bertanya.
"Kau bisa melihatku kemarin langsung tumbang saat meminum satu kaleng alkohol." Jawab Karin yang artinya pernapasan penguat tubuhnya belum sempurna.
"Beberapa titik merdian mu selalu kau isi kan?" Kevin masih menanyakan perkembangan Karin.
"Sudah sekita lima puluh persen." Jawab Karin.
"Ternyata kamu berusaha keras juga untuk latihan yah." Kevin cukup takjub dengan perkembangan Karin.
"Aku penasaran dari dulu, Kevin apa seluruh titik merdian mu sudah kamu isi dan perkuat?" Bertanya Karin.
"Sudah maksimal." Kevin memberikan jempol.
"Kalau begitu kenapa kamu masih melakukan teknik pernapasan pengumpul energi.?" Karin kembali bertanya.
"Kamu tahu Karin? Terkadang manusia itu ingin mencoba melampaui titik batasannya." Ucap Kevin di mana Karin tidak mengerti.
"Apa maksudmu Kevin?" Karin tidak mengerti.
"Saat seluruh titik merdian ku sudah full maka saat itu pula lah kekuatan tubuh ku sudah mencapai maksimal dan merupakan titik terakhir yang dapat di capai manusia, aku sempat berpikir seperti itu tapi ternyata tidak." Ucap Kevin menjelaskan.
"Jadi dengan kata lain kamu masih bisa meningkatkan kekuatanmu?" Karin tampak antusias.
"Meskipun aku menjawab iya tapi aku masih belum mengetahui caranya, sebanyak apapun aku mengumpulkan energi kekuatanku tetap seperti ini." Ucap Kevin seakan mengingat sesuatu.
"Setidaknya kekuatanmu itu sudah melebihi manusia normal." Ucap Karin.
"Kau memang benar kurasa aku harusnya sudah bersyukur." Kevin menyetujui pemikiran Karin.
"Apa kamu sudah mengecek drop item dari Golem? Kurasa nilai dropnya lumayan tinggi." Ucap Karin bertanya.
"Belum." Singkat Kevin menjawab.
"Bukannya semalam kamu login untuk melihatnya?" Karin melihat Kevin login tadi malam.
"Ah.. aku hanya melihat evolusi terbaru dari pedangku." Ucap Kevin.
"Evolusi terbaru?" Bingung Karin.
"Kau melihat tombak yang aku gunakan kan?" Bertanya Kevin.
"Nn aku melihatnya." Mengangguk Karin.
"Itu evolusi pertama saat aku mendapatkan sepuluh jiwa player sekarang evolusi kedua saat aku mendapatkan seratus jiwa player." Jelas Kevin.
"Woa.. bukankah itu keren banget, bagaimana bentuk evolusi keduanya?" Karin langsung kagum.
"Bukankah Purple Knife mu juga bisa berevolusi?" Ucap Kevin.
"Memang bisa sih tapi itu hanya semakin memanjang dan bentuknya semakin aneh." Jawab Karin.
"Seberapa panjang sekarang?"
"Sekita satu meter drngan bentuk katana, aku juga mendapatkan skill baru yang bisa membuatnya menjadi pendek dan panjang sesukaku." Jawab Karin menjelaskan.
"Itu sudah sangat bagus simpan baik baik pisaumu jangan sampai di jual." Kevin mengingatkan.
__ADS_1
"Tidak akan!" Bentak Karin.
"Yah jika di perkirakan mungkin sekarang sudah ada yang akan membeli pisaumu dengan harga puluhan juta." Ucap Kevin sesikit menggoda.
"Benarkah?" Karin sedikit berharap.
"Jangan di jual loh yah." Kevin kembali mengingatkan.
"Ti-tidak akan, btw kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." Karin mengalihkan pembicaraan.
"Tadi?" Kevin berpura pura lupa.
"Bentuk evolusi kedua Demon Swordmu?" Gerutu Karin menghentak hentakkan kakinya ketanah.
"Rahasia." Kevin langsung melarikan diri.
"Nyebelin banget sih." Karin semakin kesal.
Kevin menuju ruang tempat biasanya ia melakukan latihan otot untuk memanaskan ototnya yang lumayan istirahat akhir akhir ini.
Kevin terus berada di sana selama tiga jam sebelum menyiapkan makan siang, setelah makan mereka Karin kembali berlatih di mana Kevin hanya memperhatikannya dan cukup kagum akan keseriusan Karin.
Saat sore Kevin segera pergi untuk menjemput Yuri menggunakan taksi, setidaknya untuk hari pertama Kevin harus menjemputnya sampai Yuri benar benar tahu cara pulang yang aman.
Sementara diperjalanan pulang di dalam taksi.
"Ada apa Yuri apa di sekolah kamu merasa tidak nyaman?" Bertanya Kevin saat melihat wajah lesu Yuri.
"Bukan begitu hanya saja hari ini setiap guru yang masuk langsung menegur rok Yuri." Jawab Yuri.
"Mau mampir di expenses center untuk membeli rok baru?" Kevin memberi saran seakan menawari.
"Pak tolong ke pusat perbelanjaan saja." Ucap Kevin pada sopir taksi.
"Baik."
Lima menit kemudian mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang pernah Kevin datangi bersama Karin.
"Di mana Yuri bisa menemukan seragam sekolah?" Yuri bertanya.
"Eh? Kamu kemarin beli di mana?" Kevin bertanya balik.
"Di expenses center lain." Jawab Yuri.
"Sudahlah masuk saja dulu." Kevin tidak lagi perduli dan memilih untuk masuk dan bertanya.
Setelah bertanya kesalah satu toko mereka kemudian menuju ke toko yang menjual seragam sekolah namun lagi lagi Yuri menjadi pusat perhatian.
"Bukankah rok gadis itu terlalu pendek?"
"Anak jaman sekarang terlalu terbuka."
"Sekolah mana yang mengizinkan menggunakan rok sependek itu?"
Berbagai komentar yang tidak sedap lewat di telinga Kevin dan Yuri membuat mereka berdua tidak nyaman.
"Apa seharusnya tadi kita pulang dulu yah?" Kevin merasa sedikit bersalah karena langsung mengajak Yuri kepusat perbelanjaan.
__ADS_1
"Tidak masalah senior, Yuri baik baik saja." Ucap Yuri.
"Ah.. sudahlah cepat selesaikan ini dan pulang." Kevin mempercepat langkahnya hingga tiba di toko seragam sekolah.
Kevin segera menyuruh Yuri untuk memilih dan membayarnya tanpa da tawar menawar yang biasanya Kevin lakukan dan pulang.
...
Pagi hari
"Senior tidak perlu mengantar Yuri hari ini." Ucap Yuri saat melihat Kevin mulai bersiap setelah sarapan.
"Yakin?" Kevin bertanya.
"Nn lagi pula Yuri hajya perlu memesan taksi saja kan?" Jawab Yuri yakin.
"Baiklah kalau begitu hati hati." Ucap Kevin menyetujui.
"Senior." Yuri tiba tiba menjulurkan telapak tangannya.
"Uang jajan?" Kevin bertanya.
"Yuri punya sendiri hanya saja beberapa teman di kelas membiasakan seperti ini pada sensei." Ucap Yuri.
"Salaman kah." Kevin membiarkan Yuri menyalami tangannya.
"Kalau begitu Yuri berangkat dulu." Ucap Yuri masuk kedalam taksi.
"Hati hati yah, langsung pulang kerumah setelah selesai sekolah." Kevin mengingatkan.
"Yuri tau." Yuri sudah pergi.
"Bukankah kalian sudah terlihat seperti adek kakak?" Ucap Karin dari pintu.
"Entahlah." Kevin berjalan masuk kerumah melewati Karin.
Kevin segera bersiap dengan jogging suit nya karena hari ini berjanji akan mengajak Karin kesuatu tempat.
Setelah Kevin bersiap dengan jogging suitnya ia langsung mengajak Karin untuk jogging seperti biasanya.
"Hari ini lewat rute yang mana?" Bertanya Karin.
"Rute toko aja lewat sana kita jogging sepuluh kilometer lalu berputar ke fitness center." Jelas Kevin mulai berlari.
"Aku belum pernah ke tempat fitness." Ucap Karin mulai mengikuti Kevin.
"Aku juga sudah lebih satu tahun tidak pernah kesana." Ucap Kevin.
Kevin ingin ketempat Fitness atau pusat kebugaran karena melihat di web nya ada sebuah fitur latihan baru terutamanya bagi para pemain game MMORPG World For Adventure.
Mereka kemudian berlari sejauh sepuluh kilo meter selama tiga puluh menit sebelum akhirnya tiba di fitness center.
"Huh.. huh.. aku terlalu berkeringat." Ucap Karin meminta handuk.
"Aku pun sama ayo masuk." Kevin memberikan Karin handuk yang selalu ia bawa di tas kecilnya saat joging.
"Bukankah semua orang di sini tampak berotot?" Bertanya Karin dengan suara nada rendah saat melihat semua orang memiliki otot yang sempurna bahkan perempuan pun tidak kalah.
__ADS_1
"Halo kawan, apakah ini pertama kalinya kalian ketempat ini?" Seorang pria botak berotot menghampiri Kevin dan Karin.