MMORPG World For Adventure

MMORPG World For Adventure
Chp 39, Ingin Menangis


__ADS_3

"Kau yang membawa mobil ini?" Kevin bertanya balik dengan perasaan marah dan berjalan mendekati kelima orang tersebut yang terlihat seperti preman.


"Jadi kau yang punya motor ini." Tunjuk orang itu pada motor Kevin yang sudah setengah hancur. "Ganti rugi mobil ku."


"Aku bertanya padamu apa kau yang membawa mobil ini?" Kevin mengulangi pertanyaannya.


"Gue kenapa? Lebih baik lo ganti rugi sebelum gue bonyokin." Ucap nya sambil menunjuk nunjuk Kevin dimana teman temannya memiliki senjata mereka masing masing.


Beberapa memegang linggis dan pipa besi serta satu orang membawa pisau.


"Sepertinya kalian sudah terbiasa berantem." Kevin tiba tiba menghentakkan kakinya dan sudah berada tepat didepan orang yang paling besar.


Satu tangan Kevin mengepal dan melaju dengan sangat cepat menuju wajah orang tersebut.


Buk!


Satu pukulan Kevin ngsung melemparkan orang tersebut kebelakang hingga pingsan.


"Itu pukulan yang cukup untuk Karin." Ucap Kevin merasa tenang setelah melayamgkan satu pukulan.


"Beraninya kau melukai bang Ge!"


"Bunuh bocah ini! Anak buahnya tidak rela dan langsung menyerbu kearah Kevin dengan senjata mereka.


"Oh iya aku belum memberikan pukulan untuk kalian demi diriku sendiri." Kevin bersiap dengan kuda kudanya.


Satu pukulan linggis langsung mengarah kearah kepala Kevin sebelum Kevin menghindarinya dengan cara menggunakan tendangan memutar tepat kearah kepala pemegang linggis.


Saat yang yang lainnya mulai menyerang Kevin dengan senjata mereka secara bersamaan, Kevin dengan mudah menangkisnya dengan linggis yang ia dapatlan sebelum menumbangkan satu persatu menggunakan tendangan dan pukulan kosongnya saja.


"Huft sekarang aku merasa lega." Kevin menepuk nepuk tangannya.


"Seperti biasa kau bisa meratakan preman dengan mudah." Ucap Alka yang sudah mulai bisa bergerak namun tetap merasa sakit dibeberapa bagian tubuhnya.


"Tapi uh motorku." Kevin terduduk seakan ingin menangis melihat motornya yang setengah hancur.


"Harusnya kau lebih mengkhawatirkan Karin oi-_-" Alka menatap datar kearah Kevin.


Kevin mengambil linggis tadi dan mulai tersenyum aneh.


"Oi Kevin, sekarang seharusnya kita mundur loh bukan mengangkat senjata." Ucap Alka dimana pasti sebentar lagi polisi akan datang.


"Tunggu sebentar yah." Kevin mengarahkan linggisnya keatah mobil preman tadi sebelum membabat habisnya sampai tidak dapat digunakan lagi, bisa dikatakan kondisinya mirip dengan motor Kevin.


Saat Kevin merasa lega suara sirine polis pun juga sudah terdengar dimana Kevin segera mengangkat tubuh Karin.

__ADS_1


Memang Kevin tidak bersalah namun dia tidak ingin berurusan dengan sesuatu yang merepotkan dan memilih untuk melarikan diri.


"Kevin lewat sini!" Teriak Alka yang entah sejak kapan dia memanggil pelayannya membawakan mobil.


"Oke!" Kevin segera menyusul Alka dan masuk kedam mobilnya bersama Karin.


Mereka berhasil melarikan diri sebelum polisi tiba.


"Fiuhh... terakhir kali kita seperti ini saat masih sekolah yah." Ucap Alka mengingat.


"Seperti biasa Weni selalu lebih cepat dari pada polisi." Maksud Kevin adalah pelayan Alka yang sedang menyetir, dia selalu menjemput Alka disaat seperti ini.


"Serahkan semuanya pada saya." Ucap Weni membanggakan diri.


"Mm dimana ini." Karin mulai tersadar.


"Kau sudah sadar Karin." Ucap Kevin.


"Apa yang terjadi?" Bertanya Karin saat merasakan kepalanya masih terasa sakit.


Memang kepalanya sempat terbentur aspal dan untungnya dia menggunakan helm.


"Hanya kecelakaan kecil saja." Jawab Kevin yang tersadar akan darah dikepalanya dan segera melapnya menggunakan tisu.


"Kau berdarah itu, kita kerumah sakit sekarang! Aduh." Karin mencemaskan Kevin namun entah kenapa lengan kanannya sangat sakit.


"Aku tidak mencemaskanmu!" Berteriak Karin sebentar sebelum terdiam dengan telinga memerah dan tidak menjawab pertanyaan Kevin.


Pada akhirnya Kevin dan Karin diantar pulang kerumah Kevin karena Karin yang tidak ingin merepotkan dengan mengantarnya kerumah sakit.


Rumah Kevin


"Apa benar tidak perlu kerumah sakit?" Kali ini Kevin yang mengkhawatirkan Karin.


"Tenang saja aku baik baik saja, dengan menggunakan teknik pernapasan aku akan segera pulih." Jawab Karin berjalan menuju kamarnya.


"Kalau begitu istirahatlah dulu aku akan menyiapkan makan siang." Ucap Kevin menuju Dapur.


"Maaf." Karin meminta maaf karena tidak dapat membantu Kevin selama didapur.


"Santai saja."


Saat setelah makan siang karena Karin dikenakan hukuman dan tidak dapat Login mereka memilih untuk membahas berbagai strategi didalam game nantinya termasuk rencana mereka kedepannya.


Meskipun Kevin sangat terpikirkan akan motornya yang hancur dan tidak dapat diperbaiki terlebih harganya yang sabgat mahal membuatnya frustasi namun saat ini Kevin berusaha untuk tidak memikirkannya.

__ADS_1


"Apa kau menemukan tempat bagus?" Bertanya Kevin saat memeriksa banyak situs mengenai informasi menaikkan level dengan cepat bersama Karin.


"Mm semuanya jauh dari Liden City, kau sendiri apa menemukan tempat yang bagus?" Jawab Karin bertanya balik dan masih mengotak atik komputernya.


"Aku juga sama." Kevin menjawab sambil mengeluh.


"Mungkin kita salah memilih Liden City sebagai kota tujuan." Ucap Karin.


"Kurasa tidak karena aku menemukan harta karun dengan koin emas yang cukup banyam serta item yang dapat dijual." Namun Kevin tidak menganggap Liden City sebagai kota sial.


"Yah itu kau." Karin membalas.


"Tenang saja aku akan membagikan nya sebagian, lagi pula kau juga membantu banyak." Ucap Kevin.


"Kalau begitu terima kasih Kevin." Karin tidak menolak dan langsung menerimanya yang entah hanya perasaan Kevin atau gimana tapi sebuah logi rupiah tergambar jelas dimata Katin.


"Matre."


"Aku tidak ingin mendengar itu darimu Kevin."


...


Pagi hari karena jadwal latihan mereka berubah dimana hanya akan dilakukan satu minggu dua kali itu juga karena Karin yang memohon.


Setelah masa hukuman kematian Karin selesai, Kevin dan Karin memutuskan login untuk berburu karena saat ini Kevin ingin kembali mendapatkan banyak uang.


...


Liden City


Dua karakter langsung muncul ditengah kota tepat dimana biasanya titik bangkitnya pelayer yang mati, disana adalah Kevin dan Karin yang baru saja login.


"Siap?" Bertanya Kevin saat melihat seluruh perlenkapannya masih seperti saat ia logout.


"Apa kau memiliki masker?" Bertanya Karin sambil menutupi mulutnya karena syal sebelumnya yang selalu menutup mulutnya jatuh sebagai hukuman dari kematiannya.


"Ada apa dengan wajahmu?." Bertanya Kevin yang cukup penasaran karena Karin selalu menutup wajah karakternya menggunakan syal atau masker.


Karin membuka sedikit tangannya dan memperlihatkan sebuah taring di mulutnya sebelum kembali menutupnya dengan cepat. "Cepatlah jika kau memiliki sesuatu yang bisa menutupinya." Ucap Karin melirik sana sini.


"Taring? Apa kau sengaja mendesain karakter mu seperti itu?" Kevin seakan ingin tertawa saat taring Karin membuatnya semakin imut dengan tubuh pendeknya.


"Bukan.. aku menggunakan ras Ghost saat pemilihan ras untuk memaksimalkan job Assassin ku." Jawab Karin masih berusaha menutup mulutnya.


"Tapi kenapa saat pertama kali bertemu itu tidak ada?" Kevin baru menyadarinya karena saat Karin baru login pertama kali taring tersebut tidak ada sama sekali.

__ADS_1


"Ini baru tumbuh saat aku menaikkan level, sudahlah kalau kau tidak memiliki sesuatu yang dapat membantuku aku akan mencari di toko dulu." Bisik Karin sebelum berbalik dan melangkah tapi tangannya ditangkap oleh Kevin.


__ADS_2