
"Violet di mana rumah mu?" Bertanya Kevin meletakkan tangan nya di atas kepala Violet.
"Eh?" Violet terkejut begitu pula para warga.
"Aku bertanya di mana rumah mu, apa kau mendengar nya gadis kecil?" Bertanya Kevin.
"Kenapa?" Violet bingung.
"Kau membawa orang asing lagi."
"Palingan dia akan mati nanti."
"Memang perempuan pembawa sial."
"Tidak usah mendengarkan mereka cepat tunjukkan aku rumah mu, kita akan mengambil barang barang ku lalu keluar dari lembah busuk ini." Ucap Kevin menggoyang goyangkan kepala Violet bagai analog.
"Keluar? Bagaimana cara nya keluar?" Bertanya Violet.
"Susah lah ceoat tunjukan rumah mu tidak usah banyak tanya." Ucap Kevin.
"B-baik lah." Saat ini Violet sednag murung jadi dia hanya mengikuti apa kata Kevin.
Violet kemudian menunjukkan rumah nya dan mereka berdua langsung masuk.
"Cepat bereskan barang apa saja yang ingin kau bawa." Ucap Kevin.
"Kenapa aku harus membereskan nya?" Violet sudah mulai tersadar dari murung nya dan mulai bertanya.
"Kau mengatakan ingin melihat dunia di atas tebing kan, aku akan membawa mu jadi segera bereskan apapun yang ingin kau bawa." Ucap Kevin.
"Tapi kita tidak punya cara untuk memanjat teb-"
"Kau banyak tanya yah.., sudah aku katakan bereskan saja barang mu aku sudah memiliki jalan keluar." Ucap Kevin sedikit meninggikan suara nya memaksa.
"B-baiklah." Violet memilih untuk mempercayai Kevin dan mulai membereskan barang nya.
Lima menit kemudian..
"Sudah selesai." Ucap Violet menunjukkan semua barang nya.
"Kau sadar kita akan menaiki tebing, kenapa kau membawa begitu banyak barang apa kau tidak memiliki tempat penyimpanan?" Bertanya Kevin.
"Tanpa aku sadari aku sudah mengumpulkan banyak barang, apa itu tempat penyimpanan?" Bertanya Violet.
"Kau bahkan tidak tau tempat penyimpanan, tempat penyimpanan itu untuk menyimpan barang barang di sebuah di mensi kecil." Ucap Kevin.
"Oh pantas saja beberapa ornag yabg terjatuh ke lembah ini sering memunculkan benda entah dari mana jadi dia menggunakan tempat penyimpanan rupa nya." Ucap Violet.
"Untuk sekarang kau bisa memakai ini." Kevin terpaksa meminjam kan nya cincin penyimpanan.
__ADS_1
"Ci-cincin!? Ka-ka-kau ingin melam-"
"Cepat lah paakai dan masuk kan semua barang mu- ah pas." Kevin langsung memasuk kan jari manis Violet ke dalam cincin.
"Eh di-di-dia melamar... ku." Violet langsung mengecilkan suara nya karena merasa malu sampai Kevin pun tidak dapat mendengar nya.
"Cepat lah masukkan smeua barang mu, kita akan keluar dari tebing ini." Ucap Kevin.
"B-bagaimana cara nya?" Bertanya Violet setelah sedikit tenang.
"Coba sentuh mutiara di cincin mu." Ucap Kevin.
Violet menyentuh nya menggunakan telunjuk. "Muncul sesuatu." Ucap Violet.
"Sentuh barang yang ingin kau masukkan sambil menyentuh satu kota di layar itu." Ucap Kevin.
"Baik lah." Violet mengikuti kata kata Kevin kemudian berhasil. "Oh... berhasil." Senang Violet mulai memasukkan barang lain nya.
Sebenar nya ada cara yang lebih mudah yaitu membayangkan nya tapi Kevin terlalu malas untuk menjelaskan nya secara berbelit belit jadi seperti ini saja bisa lebih cepat dan lebih mudah Violet pahami.
"Ayo." Ucap Kevin berjalan keluar rumah setelah Violet selesai mengemas barang nya.
"Nn." Violet mengikuti Kevin.
"Aku akan membakar rumah mu." Ucap Kevin tiba tiba.
"Apa?" Violet ingin menghentikan tapi rumah nya sudah hangus terbakar oleh api hijau. "Apa yang kau lakukan!?"
"Ba-baiklah." Tapi entah kenapa ekspresi Violet berbeda dari yang Kevin bayang kan karena saat ini Violet sedang tersenyum.
Saat mereka keluar dari gerbang desa tidak ada satu pun warga yang menyapa atau menghentikan nya meskipun ada banyak warga yang melihat nya, Violet baru ingin menundukkan kepala pamit tapi Kevin menghentikan nya.
"Jangan menunduk ke orang orang seperti mereka, ayo." Ucap Kevin melanjutkan perjalanan.
"Ini sudah malam dan kabut mulai tebal kita mungkin akan tersesat." Ucap Violet.
"Aku sudah menghafal jalan nya tenang saja, kau bisa melihat di kegelapan?" Bertanya Kevin padahal ia hanya mengikuti map saja.
"Aku punya obor." Violet mengeluarkan obor.
"Tidak usah menggunakan nya, pegang tangan ku saja." Kevin ingin membiarkan Violet memicu skill untuk mendapatkan penglihatan malam saat berjalan di kegelapan.
"B-baiklah." Violet agak salah paham akan hal itu tapi tetap memegang tangan Kevin.
Tiga puluh menit kemudian mereka pun tiba di tebing tempat mereka sebelum nya mendarat.
"Aku sekarang bisa melihat di tempat gelap." Ucap Violet tiba tiba dan melihat sekeliling nya.
"Bagus lah." Kevin melepaskan tangan nya." Ini tebing yang tadi kan?" Bertanya Kevin.
__ADS_1
"Seperti nya begitu." Jawab Violet.
"Apa ada jalan untuk memutar?" Bertanya Kevin.
"Cukup ikuti sisi tebing ini saja." Ucap Violet.
"Ayo." Kevin berjalan lebih dulu.
"Tangan?" Violet berharap Kevin memegang tangan nya.
"Kau mengatakan sesuatu?" Bertanya Kevin.
"Tidak bukan apa apa." Violet mengalihkan pandangan nya.
Setelah beberapa menit akhir nya mereka tiba di sebuah jurang yang sangat dalam tempat Kevin terjatuh sebelum nya dan tiga puluh meter di depan mereka ada tebing yang sangat tinggi yang membuat penghuni lembah tidak dapat naik ke permukaan.
"Jadi bagaimana cara kita naik ke atas?" Bertanya Violet.
"Sebelum nya aku tidak memperhatikan nya tapi setelah di lihat lagi ini tinggi nya sekitar lebih dari lika ratus meter." Ucap Kevin.
"Apa ada jembatan?" Bertanya Violet mulai ragu akan pilihan nya.
"Tutup mata mu, apa pun itu pokok nya jangan sampai membuka nya." Ucap Kevin menutup mata Violet menggunakan kain.
"Kenapa?" Violet jadi tambah bingung.
"Pokok nya jangan sampai membuka nya, aku tidak akan membiarkan mu mati dan kau tidak akan mati." Ucap Kevin menggendong Violet ala putri raja.
Deg!
"Dekat." Jantung bergedup saat Violet merasakan wajah nya dekat dengan Kevin karena napas Kevin.
"Aktifkan Transformasi Demon Angel." Kevin langsung berubah dan memunculkan sayap nya.
Khng....!
Jiwa Violet langsung mendapatkan teror apalagi level nya masih rendah dan berada di dekat Kevin asal dari teror tersebut.
"Kepalaku... ingin pecah." Ucap Violet.
"Buka mulut mu dan tutup telinga pun atau kepala mu akan benar benar meledak." Ucap Kevin.
"Apa sebenar nya yang terjadi?" Violet mulai panik.
"Kita akan naik ke atas pastikan kau tidak membuka mata mu." Kevin langsung terbang.
"Kyaa!" Violet berteriak keras memeluk Kevin.
"Bagus pastikan mulut mu selalu terbuka." Ucap Kevin.
__ADS_1
Dalam waktu singkat Kevin berhasil mendarat di atas tebing dan langsung menonaktifkan skill nya.
"Akh huh hah..." Violet turun dan kesulitan untuk mengatur napas. "Apa itu tadi?"