
Didalam gua
Tempat Boss Goblin
[Fani, Lvl 32 (Player)
Hp 5.000/32.000.]
"Hey nona, apa kau baik baik saja?" Kevin menyapa dan bertanya.
"Um? Pelayer? Huwaaa! akhirnya ada yang datang menyelamatkanku huwaa!!: dia malah semakin menangis.
"Kalau begitu aku tinggal." Kevin langsung berbalik karena perempuan satu ini sangat berisik meskipun sebenarnya Kevin berbalik hanya untuk menghentikan tangisan perempuan tersebut karena masih ingin bertanya.
"Tunggu aku! huwaa! mana ku habis, aku juga tidak memiliki potion sama sekali, bagaimana caraku kembali kekota? huwaa!!" Dia tambah menangis.
"Kenapa kau bisa ada disini? Levelmu tidak terlalu tinggi untuk memasuki hutan ini terlalu dalam apa lagi solo pelayer, apa kau penyihir gila?" Ucap Kevin bertanya.
Istilah penyihir gila adalah untuk para pelayer yang memiliki job mage atau suport tapi selalu bermain solo.
"Bukan, tadi aku memiliki rekan party tapi mereka menggunakanku untuk memancing para goblin agar mereka bisa kabur." Ucapnya menjelaskan.
'Dikhianati oleh party sendiri kah?' Batin Kevin membuang nafas dimana ini sudah sering terjadi. "Lalu kenapa kau tidak melakukan logout secara paksa?" Kevin kembali bertanya.
"Aku sudah susah payah menaikkan levelku sampai sekarang agar tidak memberatkan party yang menjadi rekanku bagaimana bisa aku meborbangkan lima level untuk logout paksa dan kembali kekota!" Ucapnya berteriak.
"Siapa namamu?" Kevin bertanya walaupun sudah tahu.
"Ha?" Perempuan tersebut kesulitan mencerna pekataan Kevin karena seharusnya Kevin sudah mengetahui namanya.
Perempuan tersebut memandang Kevin aneh. "Apa karaktermu buta sampai tidak bisa melihat cursor namaku?" Tanyanya seakan dengan wajah datar.
Kevin menepuk kepalanya sendiri. "Memberitahukan nama secara langsung adalah sebuah tindak atas kesopanan, kau benar benar penyihir gila." Kevin mengartikan penyihir gila dalam hal lain.
"Apa maksudmu!? Ha?" Kembali perempuan tersebut berteriak.
"Aku pergi." Kevin berbalik lagi.
"Baiklah! Kamu orang baik, kamu tuanku huwa tolong aku, namaku Fani.." dia benar benar butuh pertolongan sampai menangis kepada Kevin.
Kevin tersenyum lalu berbalik. "Kalau begitu minum ini dulu." Kevin memberikan lima health potion dan mana potion.
"Terima kasih." Ucap Fani setelah menerima potion Kevin dan meminumnya tanpa sungkan.
"Sudah?" Kevin bertanya saat setelah melihat bar Hp Fani telah penuh.
"Oke sudah." Ucap Fani yang telah siap dan beridiri dengan staff mage ditangannya.
"Nanti kau harus membayar potion ku." Kevin mengingatkan sebelum keluar.
"Haa! kamu kalau nolong yang iklas!" Teriaknya mengikuti langkah Kevin.
"Mau kutinggal?" Singkat Kevin menanggapi.
"Tidak tolong, aku akan bayar nanti." Fani akhirnya pasrah saja.
[Kevin meminta pertemanan.]
Sebuah notifikasi masuk kesistem Fani dan langsung ia terima dengan diam.
Kevin berjalan kearah yang berlawanan dengan gua tempat mereka masuk dan menemukan beberapa peti emas dan tumpukan item yang sepertinya dikoleksi oleh para Goblin.
"Woaa! Kau benar benar lucky." Puji Fani yang seakan tidak terkejut melihat tumpukan emas dimana Kevin sendiri sudah berbinar. "Kau sudah menemukan seorang gadis cantik sepertiku sekarang kau menemukan koin emas sebanyak ini, hehh keberuntunganmu benar benar tinggi yah." Ucap Fani seakan mengejek.
Tapi Kevin tidak memperdulikannya karena sekarang sesuatu sedang menarik perhatiannya.
[Blade Blue Sword (Epic)
Pedang biru yang memiliki ketajaman dan ketahanan tinggi.
Level pemakai : 50
__ADS_1
Skill Khusus : 'Acceleration Sword' meningkatkan Damage tebasan sebesar 10%.
Mana Cost : 30/detik.
Skill Pasif : meigkatkan damage pedang saat menggunakan skill atau elemen air.]
"Ada apa denganmu Kevin?" Fani bertanya.
"Masukkan semuanya." Ucap Kevin mengabaikan Fani dimana semua item dan uang didepan mereka sudah menghilang. "Yosh mungkin ini keberuntungan, aku tidak akan meminta uang potion dari kamu." Ucap Kevin tanpa melirik karena masih melihat seluruh stat dan jenis pedangnya yang jelas bahwa saat ini status Kevin masih belum bisa mengayungkan pedang tersebut.
"Seharusnya kau bilang itu dari tadi, jadi kapan kita akan keluar dari sini?" Ucap Fani yang tidak terlalu peduli dengan apa yang didapatkan oleh Kevin, selain itu bukan haknya Fani juga seperti tidak terlalu mengharapkan uang.
"..." Kevin tidak menjawab tapi masih tersenyum senyum sendiri sambil berjalan keluar gua. 'Sayangnya levelku sekarang masih belum bisa menggunakannya.' Batin Kevin.
"Oi tunggu aku!" Teriak Fani berlari mengikuti Kevin.
...
Saat sampai diluar gua mereka langsung menuju ketempat Asy bersembunyi tadi.
"Kevin!" Suara Asy datang dari atas pohon.
"NPC?" Gumam Fani.
"Apa yang kau lakukan disana Asy?" Kevin bertanya.
"Aku sedang sembunyi kenapa?" Asy mencoba untuk turun.
Slet!
"Awas!" Cepat Kevin menangkap Asy yang terjatuh karena terpeleset saat mencoba mencari pijakan.
"Terima kasih." Asy turun dari gendongan Kevin.
"Ya."
"Siapa dia? Dia bukan Karin. Kemana Karin?" Asy bertanya khawatir.
"Ma-maati! Ba-bagaimana mungkin." Asy langsung terkejut mendengarnya.
Memang begitulah karena NPC yang mati tidak akan bangkit kecuali mereka dapat menentang aturan sistem tapi itu MUSTAHIL!.
"Ah tenanglah, Karin adalah pelayer jadi bisa hidup ulang." Jelas Kevin menenangkan Asy.
"Oh begitu rupanya, kalian para jiwa abadi ternyata sangat hebat yah, aku memang pernah mendengar beberapa informasi tentang kalian dari beberapa petualang lainnya." Tentu sebagai NPC petualang, Asy memang mengetahui beberapa informasi dari mendengar orang lewat saja.
Tapi bukan hal tabu lagi saat para NPC mengetahui bahwa para pelayer bisa hidup kembali setelah mati, para NPC biasanya menyebut pelayer dengan sebutan pemilik jiwa abadi.
Mereka juga mengetahui bahwa para pemilik jiwa abadi tersebut memiliki kehidupan didunia lain.
"Baiklah saatnya kita untuk kembali kekota hari juga sudah malam, para monster pasti lebih agresif jadi berhati hatilah." Ucap Kevin memberi peringatan sebelum melangkah maju dengan penuh kewaspadaan.
"Baik!"
Mereka bertiga melangkah keluar dari hutan kembali kekota Liden agar dapat beristirahat atau kembali kerumah.
'Status'
...
[Status
Kevin, Lvl 41 (10/420)
Ras : Half Human.
Healt Point : 41.000/41.000.
Mana Point : 41.000/41.000.
Job : Warior.
__ADS_1
Class : (Dual Sword)(Alchemist Lvl 4)
Title : (Helper)
Fame NPC : 150
Fame perajurit : 120
Skill Point : 18
Att : 50 +10
Agi : 30 +5
Int : 11
Def : 30 +3
Perlawanan Elemen
Api : 5
Air : 11
Udara : 20
Tanah : 2 ]
...
'Yosh dengan ini selesai.' Batin Kevin.
Dalam perjalanan memang sering menemui monster tapi mereka lebih memilih untuk menghindar dan mencari jalan lain.
Kevin beberapa kali harus terlibat dengan pertarungan untuk membuat kedua wanita tersebut melarikan diri terlebih dahulu sebelum ia menyusul tapi itu semua berakhir saat mereka tiba digerbang kota.
"Uaaa... aku ingin segera logout dan beristirahat." Ucap Kevin meregangkan seluruh tubuhnya.
"Terima kasih karena telah mengantarku kembali kekota, apa tidak mau mampir kerumahku?" Ucap Asy bertanya.
"Lain kali saja Asy." Kevin menolak secara halus.
"Baiklah. Kalau begitu sekali lagi terima kasih, kau bisa memiliki ini sebagai tanda terima kasihku itu adalah pemberian suamiku dulu." Asy memberikan sebuah cincin pada Kevin.
[Wind Speed Ring (Rare)
Cincin berelemen angin yang dapat meningkatkan kecepatan pengguna sebesar 10% saat berlari.]
"Haha ini terlalu mahal dan ini adalah milik suamimu, ngomong ngomong kemana suamimu sampai kamu harus bekerja seberbahaya itu?" Ucap Kevin menolak dan bertanya.
"Suamiku dulu adalah seorang perajurit tapi gugur saat membereskan bandit." Ucap Asy yang menceritakan tentang suaminya dengan nada yang agak sedih.
"Membereskan bandit? Kapan itu dan dimana?" Kevin bertanya karena mungkin saja ada hubungannya dengan pertempuran yang ia lihat dikota pemula Kritgar dulu.
"Suamiku dulu bertugas sebagai perajurit dikota kritgar dan mandapatkan misi untuk membereskan bandit sekitar dua bulan lalu tapi semuanya mati dan hanya tersisa komandannya saja." Jelas Asy.
Kevin entah kenapa langsung merasa bersalah karena dia berada saat pertempuran tersebut tapi tidak menyelamatkan sipapun selain komandannya.
"Kalu begitu aku pergi dulu yah." Ucap Kevin karena untuk sekarang tidak bisa berekspresi pada Asy tapi dia lupa mengembalikan cincin sebelum lari kearah guild.
"Kalau begitu aku juga akan Logout." Ucap Fani yang dari tadi diam.
"Untuk nona Fani juga terima kasih." Asy sedikit membungkuk pada Fani sebelum karakter Fani menghilang.
"Bukan apa apa." Tersenyum Fani sebelum karakternya berubah menjadi butiran cahaya.
Fani memang sedikit membantu saat Kevin melawan beberapa monster, dia dapat memberikan beberapa sihir untuk membantu.
Setelah Kevin mengkonfirmasi misi dan mendapatkan hadiah dia langsung keluar dari dunia Virtual.
Tentu Kevin tidak dapat memgkonfirmasi misi Karin sehingga saat waktunya habis bisa dikatakan misi Karin telah gagal dan akan mendapatkan penalti.
__ADS_1