
Dealer
"Yaa aku sebulan sibuk." Ucap Kevin mengkilk ikon sebuah kata beli dan langsung mentransfer uangnya sebesar seratus dua puluh juta.
"Oo kau memiliki banyak uang sekarang, apa yang kau lakukan selama sebulan?" Alka cukup terkejut.
"Aku bermain game fantasy dan mendapatkan lucky sampai bisa menghasilkan uang banyak." Kevin menjelaskan sesingkat mungkin.
"Hehe akhirnya kau menuruti perkataanku kan, jika kau bermain game fantasi sudah jelas kau bisa menghasilkan uang banyak dengan kemampuanmu." Tapi Alka sudah bisa menebak sebesar apa potensi Kevin jika bermain game fantasy dan sebesar apa kauntungannya karena memiliki teknik pedang yang cukup bagus, sebagai otak pebisnis begitulah Alka.
"Yah aku hanya beruntung saja." Ucap Kevin saat melihat sebuah motor sport berwarna hitam dengan stiker putih juga memiliki garis merah keluar dari bawah lantai pembelian.
"Oh kau memiliki mata yang bagus, ini adalah keluaran terbaru yamaha Alfa-Fz terbaru." Alka langsung mengenali jenis motor yang dibeli oleh Kevin.
"Ini adalah evolusi dari motor yamaha Alfa keluaran tahun dua ribu jadi aku memilihnya." Kevin berjalan mendekati motor sportnya brrsama Karin.
"Yah setelah berevolusi menjadi yamaha Fiz-R dia kembali merubah namanya menjadi Alfa." Alka menyambung penjelasan Kevin.
Brouu...mm!
"Aku duluan yah." Ucao Kevin yang sudah menaiki motornya bersama Karin.
"Katakan ID mu dulu sebelum pergi?" Tanya Alka.
"Aku akan mengirimnya lewat WeChat!" Tapi Kevin sudah tidak sabaran untuk mencoba performa motor barunya.
Begitu keluar dari Dealer, Kevin langsung melaju kejalan tol untuk mencoba langsung motornya ini.
Tol disini sudah ada yang dapat dilalui oleh pengendara roda dua karena memang ada jalur khusus untuk mereka.
"Kau terlalu laju Kevin!" Berteriak Karin dari belakang dimana rambutnya sudah berkibar karena tidak menggunakan helem.
Memang dijaman sekaran semua pengendara motor sudah tidak menggunakan helem karena motor sendiri sudah bisa mempertahankan keseimbangannya dalam kecepatan seratus kilometer perjam, tapi sekarang Kevin sedang melaju dalam kecepatan dua kali lipat yaitu dua ratus kilometer perjam.
"Aku tidak mendengarmu!" Walaupun sebenarnya dengar tapi Kevin berpura pura tidak mendengarnya.
Bag!
Satu pukulan dari Karin bersarang kepunggung Kevin dan itu cukup kuat hingga membuat Kevin agak meringis kesakitan.
Bruu...mm
Segera Kevin menepi
"Itu sakit Karin." Kevin memegangi pundkanya yang sakit saat berhenti.
"Aku akan terkejut jika kau mengatakan itu tidak sakit." Ucap Karin memperlihatkan sebuah batu ditangannya yang entah datang dari mana.
"Uwa' dari mana kau mendapatkannya?" Ucap Kevin terkejut.
"Jatuh dari langit." Tapi Karin tidak berniat untuk menjawabnya.
__ADS_1
"-_ baiklah jatuh dari langit untung bukan mukaku yang kena."
"Sudah cukup kan? Ayo pulang." Karin agak bosan karena Kevin terus mengabaikannya didealer tadi dan hanya sesekali menegurnya saja bahkan saat dia memberikan rekomendasi pada Kevin dia malah mengabaikannya, setidaknya katakan tidak atau nanti.
"Baiklah ada tempat berputar dipom bensin didepan, kita akan memutar disana sekalian ngisi bensin." Kevin kembali mengendari motornya tapi kali ini lebih oelan hanya berjalan sekita lima puluh kilometer perjam saja.
Setelah mengisi bahan bakar dan berputar untuk kembali, Kevin membawa motornya tidak lagi terlalu laju karena ingin menikmati angin saat hari mulai menjelang sore.
"Ternyata kita cup jauh memasuki tol yah." Ucap Karin saat mereka sudah hampir satu jam tapi belum juga terlihat ujung tolnya.
"Yah tapi ini lebih baik, kita bisa menikmati angin pantai sambil mengendarai motor begini, sangat jarang loh." Ucap Kevin yang benar benar menimati angin yang menerpa wajahnya dan mengibaskan rambutnya.
Kebetulan jalan tol yang mereka ambil adalah jalan yang melalui garis pantai sehingga membuat Kevin sangat menikmati pemandangan sore saat hari mulai dingin.
"Hangat." Berbisik Karin saat memeluk Kevin dari belakang yang menempelkan tubuhnya.
"Kau kedinginan?" Kevin bertanya karena Karin hanya menggunakan kaos putih biasa saja dengan bawahan minim.
"Tidak, sekarang lebih hangat, ntah kenapa terasa lebih nyaman hmm." Karin semakin menenggelamkan wajahnya dipunggung Kevin.
Kemballi lagi satu hari mereka terlewatkan dengan akhir yang menyenangkan dan penuh kehangatan.
...
Didalam game
Kritgar Town
Kevin, Lvl 38 (365/390)
Ras : Half Human.
Healt Point : 38.000/38.000.
Mana Point : 38.000/38.000.
Job : Warior.
Class : (Dual Sword)(Alchemist Lvl 3)
Title : (Helper)
Fame NPC : 140
Fame perajurit : 120
Skill Point : 0
Str : 50
Agi : 33
__ADS_1
Int : 11
Dex : 30
Perlawanan Elemen
Api : 5
Air : 8
Udara : 19
Tanah : 1 ]
"Oke ini sudah bisa meninggalkan kota pemula, bagaimana denganmu Karin?" Bertanya Kevin saat melihat statusnya sudah memenuhi kriteria untuk meninggalkan kota pemula.
Sebenarnya untuk meninggalkan kota pemula hanya perlu langsung meninggalkannya saja, tapi Kevin lebih memilih untuk mencapai level yang dianjurkan agar tidak menimbulkan masalah, level monster diluar kota pemula tentu lebih tinggi, itulah alasan sistem menganjurkan untuk menaikkan level dikota pemula terlebih dahulu.
"Levelku pas tiga puluh lima meskipun aku kekuarangan tiga level untuk mencapai levelmu tapi aku yakin karakterku masih bisa menandingi karaktermu." Ucap Karin percaya diri.
"Yah aku memang mengakuinya karena kau memiliki cheat peningkat agility setiap peningkatan level tanpa perlu menggunakan skill point." Kevin agak iri tapi dia sendiri lah yang memutuskan untuk memberikan Karin item yang dapat meningkatkan kecepatan tersebit.
"Apa kita perlu membawa item yang sudah tidak berguna lagi bagi kita ini." Karin memperlihatkan berbagai item didalam invertorinya yang lebih banyak berisikan bola kabut green mushroom atau bola ledakan dari Red Mushroom.
"Apa kau tidak bisa memanfaatkan bola kabut lagi?" Kevin bertanya karena itu adalah salah satu jenis racun mungkin akan berguna untuk class Karin.
"Aku bisa meningkatkan efeknya saat menggunakannya tapi bola ledakan ini tidak akan berfek sama sekali dengan monster yang berlevel lebih dari dua puluh." Ucap Karin mencoba meledakkan satu bola tepat dibawahnya.
Bom!
Tidak ada damage sama sekali saat meledak dibawahnya maupun Kevin.
"Ini masih dapat menarik perhatian monster, simpan saja selama invertorimu masih muat, item itu juga tidak ada yang ingin membelinya." Ucap Kevin karena bola tersebut selain mudah ditemukan juga tidak memiliki fungsi lebih. "Tadi kau bilang bisa meningkatkan efek bola kabut bagaimana caramu melakukannya?" Lanjut Kevin bertanya.
"Aku menggabungkannya dengan pure liquid ungu walaupun dulu terkadang gagal saat aku menggabungkannya tapi sekarang aku bisa menggabungkannya tanpa gagal dengan seratus persen kesuksesan." Ucao Karin mengekuarkan bola kabut yang sudah ia tingkatkan.
"Apa masih bisa ditingkatkan lagi jika kau menggabungkannya lagi?" Kevin bertanya.
"Sayangnya level class poisoner ku masih rendah untuk menggabungkan banyak racun." Karin melam lambai sambil menggeleng.
"Bagaimana caramu meningkatkannya?"
"Dengan membuat racun atau menggabungkan racun aku bisa mendapatkan exp untuk meningjatkan level class ku."
"Baiklah aku akan membuat misi diguild petualang untuk mendapatkan banyak pure liquid ungu dan bola kabut." Ucap Kevin bersemangat karena dengan begitu Karin dapat meningkatkan level classnya sama seperti cara yang ia pakai dimana dia terus meningkatkan class alchemistnya dengan membuat potion.
"Tapi itu memakan biaya."
"Tenang saja, harga item bola kabut dan pure liquid ungu tidak lah mahal karena sangat mudah ditemukan dan tidak banyak kegunaannya, kita bisa mendapatkannya dengan mudah." Jelas Kevin.
...----------------...
__ADS_1
kalau ada yang ingin dutanyain tentang arti atau istilah game didalam novel ini yang pembaca tidak tahu maka tanyakan saja, entar author jawab melalui komentar atau Next Chapter