
Toko Blacksmith Alex Xander
"Bukannya suara Karin jadi kaya robot?" Bertanya Kevin pada Alex.
"Kurasa itu efek masker yang menutupi seluruh bagian mulutnya." Jawab Alex.
"Apa tidak aneh-" Ucapan Karin terpotong saat Fani menatapnya dengan mata berbinar.
"Senior sangat keren, begitu saja oke." Ucap Fani memuji.
"Ah hahaha kalau Fani berkata begitu sepertinya aku akan selalu menggunakan masker ini." Karin yang tadinya ingin perotes langsung luluh karena di panggil senior oleh Fani yang jarang sekali memanggilnya seperti itu.
'Gampangan-_-' Batin Kevin dan Alex.
"Oh iya bagaimana dengan senjata yang ingin kau buatkan untuk Yur- ekhhem! Maksudku Fani." Ucap Kevin bertanya.
"Aku mendapatkan beberapa Blueprint yang bisa kugunakan untuk membuat magic sword weapon hanya saja elemennya adalah dark itu sangat tidak cocok untuk Fani kan?" Ucap Alex.
"Benar juga, Fani pengguna elemen Light tidak akan cocok untuk menggunakan senjata berelemen Dark." Ucap Kevin mengangguk paham.
"Memang susah untuk menemukan pedang yang cocok untuk seorang suport yah." Ucap Fani lesu.
"Tapi tenang saja aku sudah menemukan cara untuk bisa membuat item magic sword weapon." Ucap Alex percaya diri.
"Jadi apanya yang kurang?" Bertanya Kevin melihat Alex seakan ragu.
"Ahhaha sebenarnya aku kekurangan item utama untuk membuatnya." Alex mengeluarkan sebuah kertas yang berisi catatan bahan atau item yang ia butuhkan.
"Hmm.. tidak banyak tapi merepotkan." Ucap Kevin.
"Coba lihat." Fani mengambilnya dan membaca daftar itemnya. "Bukankah semuanya ada di Holy Dungeon ibu kota? Apanya yang sulit?" Bertanya Fani.
"Itulah bagian merepotkannya, untuk masuk ke Holy Dungeon memerlukan Holy Token yang hanya bisa di dapatkan di gereja." Jelas Alex.
"Bukan hanya itu, rata rata monster yang berada di dalam Holy dungeon memiliki elemen Light itu adalah kelemahan Karin." Ucap Kevin.
"Tidak, ini cukup baik untukku berlatih melawan pengguna elemen Light." Ucap Karin menolak untuk di khawatirkan.
Karin tidak ingin terus lari dari kelemahannya karena suatu saat pasti akan ada orang yang memanfaatkan kelemahannya untuk mengalahkannya, dengan menangani Counter sudah merupakan pencapaian yang besar bagi ras ghost.
"Baiklah kalau kau tidak ada masalah, sekarang hanya tinggal mendapatkan token saja." Ucap Kevin melihat kearah Fani.
"Eh? Apa?" Bertanya Fani.
__ADS_1
"Jika Karin yang pergi maka otomatis dia akan langsung di sucikan dengan ras ghost nya sedangkan jika aku yang pergi bisa saja class ku ketahuan dan menjadi buronan." Ucap Kevin menjelaskan.
"Jadi harus Fani sendiri yang mendapatkannya." Fani pun mengerti.
"Untuk mendapatkan Holy Token itu harus melewati beberapa ujian namun untuk Fani pengguna elemen Light kurasa tidak akan ada masalah." Ucap Alex.
"Ini adalah untuk membuat senjata Fani maka Fani harus berjuang." Fani bersiap untuk keluar dengan semangat yang membara namun kerah pakaiannya di tarik oleh Kevin. "Uek." Fani tercekik.
"Kamu mau kemana?" Bertanya Kevin.
"Apa yang senior lakukan!?" Berteriak Fani setelah kerahnya di lepaskan.
"Kamu mau kemana?" Kembali Kevin bertanya.
"Kegereja untuk mendapatkan Holy Token." Jawab Fani namun bingung kenapa Kevin menanyakannya.
"Di dunia nyata sudah jam sebelas, segera logout besok kamu sekolah." Ucap Kevin.
"Tapi senior." Fani sangat menginginkan pedang yang bisa dia gunakan dengan baik.
"Lusa hari minggu kan, kita akan kedungeon saat hari minggu?" Ucap Kevin.
"Baiklah." Fani terlihat cemberut dengan memajukan mulut atasnya.
"Santai saja, aku masih ingin bermain sedikit lebih lama untuk memeriksa semua Blueprint yang kau berikan." Ucap Alex.
"Baiklah." Kevin bersiap menekan tombol logout bersama Karin dan Fani.
"Tunggu sebentar." Alex menghentikan mereka.
"Apa?" Bertanya Kevin menghentikan jarinya menekan tombol logout.
"Untuk berhati hati saja bergabunglah sebagai anggota toko ini dengan begitu saat kalian login nanti akan tetap berada di dalam toko." Ucap Alex mengirimkan undangan bergabung.
Jika Kevin logout di dalam toko maka saat login nanti akan langsung di luar toko, untuk jaga jaga saja Alex sengaja agar mereka bergabung agar dapat login kedalam toko dan menghindari konflik di luar toko saat login karena bisa saja beberapa player iseng level tinggi membunuh mereka dengan sekali serangan.
"Terima kasih." Kevin, Karin dan Fani menerima undangannya dan segera Logout.
...
Pagi hari 08:00
Rumah Kevin
__ADS_1
"Kevin mau ikut jogging?" Bertanya Karin saat ingin latihan namun Kevin tampak sibuk dengan laptop dan komputernya di kamar.
"Aku ingin mempelajari Holy Dungeon, kau sendirian saja." Ucap Kevin yang sangat mementingkan sebuah informasi.
"Ba-baiklah." Karin pun jogging sendirian tanpa Kevin.
Kevin fokus pada kedua layar yang memberikan informasi mengenai Holy Dungeon di Dulldys City, meskipun Kevin menelusuri banyak web player yang suka menjual informasi namun tidak ada informasi yang begitu akurat.
"Apakah Dungeon ini begitu tidak di sukai orang? Meskipun harus berurusan dengan gereja untuk memasukinya tapi pasti setiap guild tidak akan melewatkan sebuah dungeon." Ucap Kevin mengerutkan keningnya.
Setiap guild pasti akan selalu memburu tempat yang belum pernah mereka jumpai dan selalu mencari map baru untuk di jadikan tempat mengumpulkan sumber daya, namun mereka tidak akan membagikan informasi semudah itu.
Sementara itu di tempat Karin.
Sambil mendengarkan musik, Karin berlari melewati jalan yang sudah terlihat sepi akibat setiap orang sudah berangkat kerja atau melakukan aktifitas harian mereka masing masing.
Namun saat Karin melewati sebuah gang, Karin secara tidak sengaja melihat sekelompok anak SMA yang sedang merokok dengan beberapa om om di gang tersebut.
Secara spontan Karin bersembunyi karena nalurinya mengatakan untuk segera bersembunyi.
'Apa yang anak SMA ini lakukan di sini? Bukannya di sekitar sini tidak ada sekolah SMA kecuali tempat Yuri sekolah?' Batin Karin bertanya sebelum diam diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hehe kau pintar juga bocah dengan begini bisnisku juga akan terus berlanjut." Ucap om om tersebut sambil meluhat beberapa foto di tangannya.
"B-bagaimana dengan bayaran kami om?" Bertanya cowok SMA tersebut yang sudah terlihat sedikit kurusan.
"Tenang saja aku sudah menyiapkannya." Ucap om om tersebut mengeluarkan sebuah bubuk putih dalam plastik dengan ukuran yang sangat kecil.
'Transaksi narkoba?' Karin masih memperhatikan.
"Ha.. te-terima kasih om." Beberapa anak SMA tersebut langsung senang.
"Jika ada barang baru lagi segera beritahu aku." Ucap om om tersebut.
'Apa maksudnya barang baru?' Karin kebingungan dan memilih untuk merekam menggunakan kamera kecil pada earphone nya.
"Itu om sebenarnya sekolah kami baru saja kedatangan barang yang sangat bagus om, saya yakin om menyukainya." Ucap anak SMA tersebut.
"Oh apa kalian memiliki fotonya?" Bertanya om om tersebut.
"I-ini om." Ucap anak SMA tersebut memperlihatkan foto gadis SMA.
Di sisi lain dengan mata yang sedikit rabun dan hanya mengandalkan lensa matanya Karin tidak dapat melihatnya hingga ia mengeluarkan sebuah teropong sepanjang telunjuknya yang selalu ia bawa.
__ADS_1
'Tidak benar, kenapa dia memberikan foto Yuri.' Saat Karin melihat foto tersebut ternyata yang ada di sana adalah Yuri.