
Gang Kota jakarta
"Kurasa kau sering melewati rute ini?" Tebak Karin melihat dinding warga ynag menjadi pijakan sudah semakin menipis.
"Cepatlah." Ucap Kevin.
"Ssst akan kucoba." Karin mengambil ancang ancang.
Tap tap.. Tap!!
Shut...
Plak!
Karin langsung melompat keatas tapi dia tidak bisa menggapai atas tembok dan akhirnya hampir terjatuh tapi segera tangannya ditangkap oleh Kevin.
"Fiuhh.. ternyata masih sulit untukku melompat tinggi." Karin membuang nafas sebelum benar benar naik keatas tembok.
"Arah kiri biasanya adalah rute yang aku tempuh setiap harinya tapi jika kita lewat situ jarak dan ketinggian beberapa toko dan rumah terlalu sulit untukmu jadi kita melewati jalur kanan saja disana tokonya lebih padat karena menuju kepusat kota." Kevin menunjuk kearah mana mereka akan pergi.
Sebenarnya tembok yang mereka naiki adalah tembok perbatasan RT sehingga temboknya agak panjang.
Kevin dengan mudah berlari diatas tembok sedangkan Karin masih agak kesulitan.
Beberapa toko dan rumah yang dapat dilewati Kevin lompati setelah melewati tembok diikuti Karin, dengan cara ini pasti bisa membuat Karin lebih mudah dalam mengarahkan karakternya nanti didalam game dan dapat dengan mudah mengubah arah langkahnya saat mendapatkan pijaka.
Slet!
"Ah! Kevin!!" Teriak Karin saat terpeleset dan terjatuh dalam ketinggian tujuh meter.
Plak!
"Bisakah kau sedikit lebih berhati hati Karin?" Kevinbertanya saat berhasil menangkap tangan Karin.
"Huaa aku terselamatkan!" Karin melotot melihat kebawah.
"Dasar." Kevin mulai menarik Karin keatas dan melihat sepatu Karin yang rusak.
"Ah sepetuku tadi rusak jadi aku terpeleset dan jatuh." Jelas Karin memperlihatkan sepatunya yang bengkak memperlihatkan kakinya.
"Maaf seharusnya aku memberitahumu jika kita akan melakukan ini sehingga kamu bisa mempersiapkannya." Ucap Kevin meminta maaf karena merasa bersalah lalu mulai membukakan sepatu Karin karena terlihat jelas kakinya agak bengkak karena keseleok.
"Sst" Sedikit Karin mendesis menahan sakit saat Kevin mulai mengurutnya.
"Tahan sedikit lagi." Kevin masih fokus untuk mengurut kaki Karin agar tidak membengkak atau mengganggu atifitas Karin nantinya.
"Hmm- ite' s" Mendesis Karin menahannya.
"Selesai untuk sekarang buang saja sepatumu." Kevin menyingkirkan sepatu Karin lalu mengankat tubuhnya ala princes. "Setiap kali latihan kenapa aku selalu harus melakukan ini." Keluh Kevin.
__ADS_1
"Yah dari awal memang salahmu kan." Karin menimpali karena merasa disalahkan.
"Baiklah." Kevin mulai melompat ketempat yang sedikit lebih rendah dan semakin rendah hingga mencapai permukaan.
Tap.
"Sampai, turun." Kevin langsung menurunkan Karin begitu saja.
"Hei Kevin, apa kau tidak bisa sedikit lebih mengerti soal perempuan? Setidaknya tanyakan dulu apakah aku mau turun atau tidak? begitu." Ucap Karin agak menjinjit karena jelas kakinya masih sakit.
"Bailah naiklah dipunggungku." Kevin menawarkan punggungnya karena memang itulah tujuannya menurunkan Karin.
Jika menggendongnya seperti tadi, itu akan sangat memalukan jika berjalan ditengah tengah kerumunan atau sekedar berpapasan dengan pejalan kaki lainnya.
"Oke kali ini aku memafkanmu." Karin tidak sungkan lagi dan langsung naik kepunggung Kevin.
"Sepertinya sesuatu menjadi lebih besar." Ntah kenapa biasanya Kevin selalu menggendong Karin tapi baru kali ini dia memperhatikan dua bantalan yang menempel dipunggunnya.
Tuk.
Satu ketukan langsung bersarang diatas kepala Kevin.
"Apa?" Kevin berbalik dan bertanya.
"..." Karin diam saja dan mendorong wajah Kevin agar tidak melihat wajahnya yang sudah memerah.
...
"Kau bisa berjalan kah?" Bertanya Kevin saat Karin berusaha untuk turun dari punggunnya pas Kevin membuka pintu.
"Sakitnya juga sudah menghilang dan kurasa kakiku sudah lumayan membaik." Ucap Karin memutar mutar pergelangan kakinya tapi jelas terlihat wajahnya agak meringis saat menginjakkannya kelantai.
"O-oh baiklah, kalau begitu aku kekamar dulu." Kevin berniat untuk segera membersihkan diri.
"Ya aku juga ingin segera membersihkan tubuhku." Karin pun berjalan kearah kamarnya dengan kondisi sedikit pincang.
...
Malam hari meja makan.
"Bagaimana kakimu?" Bertanya Kevin sementara sedang makan untuk memecahkan kecanggungan karena Karin dari tadi menatapnya aneh.
"Kakiku sudah membaik berkat teknik pernapasan perbaikan sel, ... bukan itu masalahnya sekarang! kenapa kau mengikat rambutmu!?" Tanya Karin.
Memang saat ini Kevin sedang mengikat rambutnya karena sudah kepanjangan dan mengganggunya beraktifitas saat memasak tadi.
"Oh inikah, ini menggangguku tadi." Ucap Kevin memegang rambutnya.
"Kenapa kau tidak memotongnya saja?" Usul Karin berjalan kearah kulkas tepat dibelakang Kevin.
__ADS_1
"Tidak ada waktu." Singkat saja Kevin menjawab padahal dia memiliki banyak waktu luang, hanya saja dia ingin mencoba memiliki rambut panjang.
Krak sress..
Tiba tiba sebuah rambut melayang kelantai dari kepala Kevin.
"Ka-karin, apa yang kau lakukan?" Tanya Kevin ragu saat merasakan ikat rambutnya telah terlepas bersamaan suara gunting tadi.
Klak!
"Aku memotong rambut seseorang." Karin menjawab dengan tersenyum sambil memperlihatkan gunting ditangannya.
"Aakh!! Rambut yang sudah kupelihara berbulan bulan!! Dipotong oleh situkang numpang!!" Sangking sedihnya Kevin langsung berterus terang atas status Karin saat ini.
"Aku sadar kalau aku numpang yah tapi nggak usah berteriak juga kali, juga ini rambutmu dipanjangin kau pikir sudah keren ha!? Duduk baik baik disini biar kubotakin sekalian!" Karin menarik kursi menjauh dari meja makan dan menyuruh Kevin untuk duduk.
"Jelas sekali aku tidak mau dibotak!" Tapi Kevin menolak.
"Ha? Apa kau mengatakan sesuatu?" Bertanya Karin dengan wajah menyeramkan ditambah dengan gunting ditangannya yang tidak sengaja kecelup disambal tomat.
"Ba-baik!." Kevin hanya pasrah saja dan dengan cepat dia duduk dikursi yang disediakan oleh Karin.
"Aku mulai yah." Ucap Karin yang entah muncuk dari mana sebuah sisir dan mulai memotongi rambit Kevin sedikit demi sedikit.
"Karin. Apa kau bisa melakukannya?" Bertanya Kevin yang sangat memperdulikan gaya rambutnya jangan sampai jadi berantakan oleh Karin yang sembaran potong.
"Kau tenang saja, begini begini aku juga pernah bekerja ditempat pemotongan rambut jika hanya segini saja aku masih bisa menanganinya... ya mungkin." Ucap Karin percaya diri tapi ragu diakhir.
"Mungkin apanya? Kalau kau pernah bekerja disana lalu kenapa kau berhenti?" Kevin ingin mengetahui alasan Karin berhenti.
"Dipecat." Tapi itulah alasan Karin yang hampir membuat wajah Kevin membiru.
"A-alasannya dipecat?" Lagi Kevin bertanya.
"Yah karena banyak pelanggan yang komplain atas gaya rambut mereka yang aku tata." Tapi dari jawaban Karin saja sudah jelas kalau dia tidak mahir dalam menata rambut.
"..." Kevin sudah pasrah sekarang dan hanya menyerahkan hidupnya pada Karin, 'maksudnya' Rambut kesayangannya yang sudah merupakan bagian dari hidupnya selama beberapa bulan.
Beberapa menit kemudian.
"Selesai. Sebaiknya kamu segera membasuh badanmu untuk menyingkirkan sisa sisa rambutmu untuk masalah disini biar aku yang membereskannya." Maksud Karin adalah meja makan dan rambut Kevin yang berantakan.
"Apa kepalaku masih aman?" Bertanya Kevin yang dari tadi selalu was was karena takut jangan sampai Karin salah potong dan memotong telingannya.
"Cepatlah!" Karin membentak.
"Baik!" Kevin langsung meluncur kekamarnya tepatnya kekamar mandi didalam kamarnya.
...----------------...
__ADS_1
Follow akun instagram Author
@reza_atmaja03