
Penginapan Matahari
"Seperti nya sulit." Ucap Kevin melihat Karin mengaktifkan skill baru nya.
"Tidak kok, lihat- Aa!"
Shut! Tak!
Saat Karin menjawab Kevin dan berusaha untuk mengendalikan pisau terbang nya lebih jauh lagi malah pisau tersebut mengarah ke arah wajah Kevin, untung nya Kevin dapat menghindari nya dan pisau tersebut pun menancap di dinding ruangan.
"Itu bahaya oi!" Ucap Kevin meninggikan suara nya.
"Ternyata ini jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan." Ucap Karin berdiri dan mengambil pisau nya yang menancap pada dinding.
"Kurasa kau harus berlatih lebih giat untuk menaikkan skill pengendalian mu." Ucap Kevin tersenyum mengejek.
"Itu arti nya aku harus menambah waktu login ku, di real world aku tidak akan bisa melatih skill ini berbeda dengan Knife Shot." Ucap Karin.
"Ya.. pokok nya berusaha lah, itu adalah skill tingkat menengah sama hal nya dengan hujan panah ku, jika kau melatih nya dengan baik aku yakin skill itu cukup op untuk melawan musuh dalam jumlah banyak, aku juga akan meningkatkan level Flamverd jadi kurasa aku juga akan menambah waktu login ku." Ucap Kevin memberi semangat pada Karin.
"Tapi di kota ini monster yang bisa menjadi lawan Flamverd tidak banyak loh, kurasa kau harus kembali ke kota pemula untuk melawan monster lemah lagi." Ucap Karin.
"Ah.. benar juga yah." Kevin baru tersadar akan hal tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Coba ku buka Karin." Ucap Kevin yang malah menyuruh Karin untuk membuka pintu saat seseorang mengetuk dari luar.
"Kenapa harus aku?" Bertanya Karin yang males di suruh.
"Posisi duduk ku sudah nyaman, kau yang berdiri lah yang harus membuka pintu." Jawab Kevin dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Baik lah." Balas Karin menerima alasan Kevin yang memang terkadang tidak masuk akal.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Iya iya tunggu dulu." Karin segera membuka pintu.
Klak! Krieet
"Ada apa?" Bertanya Karin saat melihat seorang pelayan atau lebih tepat nya pegawai penginapan ini yang mengetuk pintu.
"Apa kah tuan Kevin ada?" Bertanya pelayan tersebut.
"Di dalam, ada apa? Kalau ada sesuatu yang perlu di sampaikan saya akan menyampaikan nya." Ucap Karin yang masih belum membuka pintu sepenuh nya dan hanya setengah saja cukup untuk memperlihatkan tubuh nya saja.
"Tuan Marquess Derouis ingin menemui nya." Ucap pelayan tersebut menjawab.
"Oh.. baik lah tunggu sebentar." Ucap Karin kembali menutup pintu dan ber balik ke arah Kevin.
"Ada apa?" Bertanya Kevin meskipun samar samar mendengar pembicaraan Karin tadi.
"Torant Von Derouis datang menemui mu." Jawab Karin.
"Akhir nya tiba juga." Ucap Kevin bangun dari tempat duduk nya dan memilih pakaian di Invertory nya karena saat ini ia masih menggunakan full armor.
"Aku boleh ikut?" Bertanya Karin yang juga ingin melihat penguasa kota di dalam game ini.
"Aku sudah siap." Ucap Karin yang hanya kembali menggunakan masker gas nya karena sejak awal ia memang tidak pernah menggunakan armor sama sekali.
"Buat apa kau menggunakan masker gas mu itu? Yang akan kita temui ini adalah bangsawan loh, aku tidak ingin menurunkan fame ku hanya karena membawa orang aneh." Ucap Kevin yang sebenar nya hanya ingin melihat Karin sedikit berpenampilan seperti perempuan pada umum nya di game ini.
"Padahal ini terlihat keren." Ucap Karin terpaksa menyimpan masker nya dan menggunakan syal untuk menutupi gigi taring nya.
"Itu membuat mu terlihat seperti pisikopat." Ucap Kevin berjalan kearah pintu.
"Lagi pula ini hanya game." Ucap Karin.
Klak! Krieet..
"Antar kami." Ucap Kevin pada pelayan yang menunggu di depan pintu.
__ADS_1
"Baik, ikut saya." Ucap pelayan tersebut mendahului Kevin dan Karin.
Kevin dan Karin kemudian mengikuti pelayan tersebut hingga ke sebuah ruangan yang tidak ada seorang pun kecuali mereka bertiga.
"Silahkan duduk." Ucap pelayan tersebut pada Kevin.
Kevin duduk dengan diam sementara Karin berdiri di belakang nya, yang Kevin khawatirkan saat ini adalah bagaimana jika Marquess Torant Von Derouis marah karena Kevin telah membohongi nya mengenai masalah puteri nya.
Seorang pria paruh baya kemudian berjalan memasuki ruangan bersama seorang gadis yang sangat cantik dan Kevin tentu mengenal mereka berdua sebagai ayah dan anak dari keluarga Derouis.
Alasan ruangan ini kosong juga tentu karena harus Kevin lah yang lebih dulu masuk agar bangsawan tidak terkesan menunggu dan dengan begini yang akan menunggu adalah Kevin bukan Marquess Torant.
"Selamat siang tuan Derouis." Berdiri Kevin dan menyapa seakan menyambut namun tidak menundukkan kepala sama sekali.
"Ya Kevin lama tidak bertemu, panggil Torant saja." Ucap Marquess Torant karena ada puteri nya juga yang memiliki nama Derouis sebelum duduk.
Kevin kembali duduk saat tiga cangkir teh kemudian di suguhkan di atas meja bersama beberapa cemilan oleh pelayan, sementara itu puteri Louis Von Derouis terlihat sangat membenci Kevin terbukti dari tatapan nya yang tajam pada Kevin dan tidak pernah mengalihkan pandangan nya.
'Seperti nya ada masalah di antara mereka.' Batin Karin saat meluhat puteri Louis.
"Baik lah tuan Torant." Ucap Kevin menyetujui ucapan Marquess Torant.
"Mungkin tuan Kevin sudah mengetahui maksud kedatangan saya kemari tapi saya akan tetap mengatakan nya, untuk masalah panti asuhan bawahan saya telah mengurus nya dengan baik dan sesuai apa yang tuan Kevin katakan, anak anak di panti asuhan memang mengalami penyiksaan jadi saya telah mengubah dan mengganti pengurus panti asuhan." Ucap Marquess Torant.
"Saya merasa senang mendengar berita ini." Ucap Kevin.
"Semua berkat laporan dari tuan Kevin, jadi saya datang kesini untuk berterima kasih akan hal tersebut." Ucap Marquess Torant meletakkan sebuah kotak di atas meja.
"Tidak tidak saya hanya mengatakan apa yang mengganggu saya saja waktu itu." Ucap Kevin.
"Terima lah ini sebagai ucapan terima kasih dari saya." Ucap Marquess Torant membuka kotak kecil di atas meja tanpa memperdulikan ucapan Kevin lagi.
"Apa ini tuan?" Bertanya Kevin yang penasaran saat melihat sebuah permata merah di atas meja.
"Ah ini hanya lah sebuah permata hiasan yang saya dapatkan dari lelang tadi, saya merasa tuan Kevin tidak kekurangan uang meskipun saya merasa ragu apakah tuan Kevin membutuhkan hiasan atau tidak." Ucap Marquess Torant.
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan menerima nya." Ucap Kevin tidak sungkan lagi karena akan gawat juga jika dia menolak nya.
"Oh iya satu lagi tuan Kevin terima kasih karena telah membawa pulang puteri saya saat itu." Ucap Marquess Torant seakan menyinggung Kevin mengenai kebohongan nya.