
"Ada apa Kevin? Wajahmu terlihat memikirkan sesuatu." Bertanya Karin.
"Biarkan aku beristirahat sebentar." Kevin tidak menjawab pertanyaan Karin dan kembali membaringkan tubuhnya.
Saat ini Kevin sedang berusaha mengatur napasnya untuk mengumpulkan energi agar mempercepat peroses penyembuhannya, Kevin juga berusaha mengisi kembali penyimpanan energinya yang kosong di dalam tubuhnya.
Jika dulu Kevin hanya perlu mengisi satu tempat saja maka kali ini entah kenapa Kevin memiliki penyimpanan energi dua kali lipat, yang seharusnya kekuatan tubuh Kevin menghilang saat semua energi itu hilang entah kenapa saat ini Kevin tidak merasakan kehilangan kekuatan sama sekali.
Itu semua menjadi pikiran Kevin dan berusaha untuk memecahkan apa yang sedang terjadi.
Saat Karin mendengar napas Kevin ia menyadari bahwa Kevin sedang berusaha untuk memulihkan diri. "Baiklah kami pamit dulu, beristirahatlah dengan baik." Ucap Karin.
"Ha? Aku baru saja ingin menceramahi anak ini, eh lepaskan aku." Ucap Alka mulai memberomtak saat di seret keluar oleh Karin dan Yuri.
...
Keesokan harinya, pagi hari, ruang makan.
"Maaf Yuri gara gara aku kamu tidak sekolah selama dua hari." Ucap Kevin.
"Yuwri hanywa mengkhawatirkwan senwior sajwa." Ucap Yuri dengan mulutnya yang penuh dengan roti.
"Tapi untuk hari ini pastikan kamu masuk yah." Ucap Kevin yang juga sementara sarapan.
"Tenang saja senior, Yuri sudah siap sepenuhnya." Ucap Yuri memperlihatkan seragamnya.
"Apa lukamu sudah membaik Kevin?" Bertanya Alka yang ikut sarapan karena sejak awal memang ini rumahnya.
"Ya aku juga berencana untuk pulang setelah ini." Ucap Kevin menjawab.
"Au sebenarnya ingin menahanmu untuk beristirahat lebih lama sayangnya aku juga tidak tahan jika ada anak SMA di rumahku." Ucap Alka melirik kearah Yuri yang entah kenapa mereka memiliki sedikit konflik.
"Apa ha? Ngajak berantem kah!" Yuri langsung berdiri dengan garpu di tangannya.
"Oh mau berantem dasar bocah SMA." Balas Alka.
"Kau om om kulit coklat!" Yuri balas mengumpat.
Pada akhirnya sarapan pagi berakhir menjadi perang mulut antara Alka dan Yuri sementara Kevin dan Karin tidak memiliki niat untuk menghentikkannya sama sekali.
Setelah sarapan, supir Alka segera mengantar Yuri kesekolah sementara Kevin dan Karin di antar sendiri oleh Alka.
Memang tangan Kevin masih mengalami luka yang sangat parah hingga masih terus menggunakan perban namun entah kenapa kali ini proses pemulihannya jauh lebih cepat dari pada biasanya.
__ADS_1
Saat sampai di rumahnya, Kevin langsung mengurung diri di kamar dan berendam di bak mandinya dengan batu yang selalu di berikan ayahnya saat Kevin ingin berendam untuk mengumpulkan energi, batu tersebut juga pernah di gunakan oleh Karin.
Kevin merasakan perlahan energinya penuh meskipun sangat lambat tapi entah kenapa kekuatan Kevin juga ikut meningkat pesat melebihi batas yang selalu mengganjal perkembangan energinya.
"Apa batas kekuatanku terbuka setelah terkena dampak granat?" Kevin mulai menyimpulkan dari sana.
Selain itu Kevin mengingat betul bahwa kekuatan ayahnya jauh melebihinya yang saat ini, itu lah yang membuat Kevin percaya bahwa kekuatan manusia tidak terbatas kekuatan Kevin saat ini.
Setelah berendam selama satu jam, entah itu efek batu yang di letakkan Kevin dalam bak mandi atau memang hasil dari mengumpulkan energinya namun lima puluh persen luka di lengan Kevin telah sembuh..
Kevin segera keluar dari bak mandi dan mengeringkan tubuhnya sebelum kembali menggunakan pakaian yang sedikit lebih longgar dengan atasan kemeja putih polos.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar di pintu kamar Kevin.
"Masuklah." Ucap Kevin.
"Kevin." Karin masuk membawa sebuah nampan yang berisi roti dengan satu mangkuk sayur tumis.
"Yah aku tidak selemah itu sampai harus memakan roti lembek." Ucap Kevin.
"Makan saja." Kevin menaruhnya di atas meja.
"Mana mungkin lah, aku membelinya." Jawab Karin langsung.
"Tentu saja yah \=_\=." Padahal Kevin sedikit berharap untuk memakan masakan seorang wanita saat sedang sakit seperti ini namun Kevin sadar bahwa ia salah karena berharap pada Karin yang tidak tahu cara memasak sama sekali.
"Apa apaan tatapanmu itu?" Karin menyadari isi pikiran Kevin.
"Bukan apa apa." Kevin duduk di kasurnya dan mulai memakan roti tersebut.
"Setidaknya aku masih bisa membuat ini." Ucap Karin menaruh teh di meja Kevin.
Kevin melihat dengan teliti teh tersebut serta mencium aromanya secara mendalam. "Ya, ini teh instan kan?" Ucap Kevin menyadari.
"Kalau yang itu cukup mudah bagiku, hanya perlu menuangkan satu bungkus teh instan dan menyiramnya dengan air panas dari dispenser langsung jadi deh." Jelas Karin yang sangat membanggakan teh buatanya.
"Tidak tidak, kau bahkan belum mengaduknya." Ucap Kevin mulai mengaduk teh di dalam gelas tersebut.
"Setidaknya aku sudah ada peningkatan kan?" Ucap Karin.
"Ya.. kurasa." Gumam Kevin.
__ADS_1
"Bagaimana dengan lukamu?" Bertanya Karin melihat kearah lengan Kevin yang tidsk terbungkus perban.
"Sudah lumayan membaik tapi aku masih perlu perban untuk menutupinya, kamu sendiri bagaimana? Apa masih terasa sakit?." Jawab Kevin kembali bertanya.
"Ini luka yang cukup mengerikan aku bahkan kesulitan saat duduk." Keluh Karin namun untungnya peluru tidak merusak organ dalam Karin dan hanya kulit luarnya sajalah yang sedikit bermasalah.
"Terus fokus pada proses pemulihan jangan sampai lukanya tambah besar, jika perlu tidak usah beraktifitas dulu cukup baring saja di kamar." Ucap Kevin memberi nasehat.
"Serius, itu sangat membosankan." Ucap Karin.
"Baiklah terserah kau saja." Kevin tidak lagi membahasnya.
...
Satu minggu kemudian.
Setelah satu minggu menjalani peroses pemulihan akhirnya seluruh luka Kevin pun sembuh termasuk Karin yang hanya tinggal bekas saja.
Meskipun telah terlihat sembuh namun Karin sangat kesal akan luka nya yang meninggalkan bekas.
Energi Kevin yang awalnya kembali kosong sekarang telah terisi hingga lima puluh persen kembali, namun kekuatan nya juga telah meningkat jauh dari pada sebelum nya.
Kebetulan hari ini Yuri sedang libur jadi mereka memutuskan untuk login dan menjelajahi Holy Dungeon yang belum sempat mereka masuki minggu lalu karena insiden tersebut.
...
Dulldys City
Di depan Holy Dungeon tepi ibu kota.
"Ternyata kita harus mendapatkan satu Holy Token satu orang baru bisa masuk." Ucap Kevin.
"Untung saja class ku adalah dewa penyembuh dengan elemen cahaya jadi seluruh party ku bisa masuk tanpa holy token." Ucap Fani mrmbanggakan diri.
"Itu sangat membantu." Ucap Karin.
"Aku bahkan tidak perlu ikut tes atau pun ujian untuk mendapatkan holy token." Ucap Fani.
Mereka terus berjalan hingga terlihat dua penjaga yang terlihat seperti pendeta di depan pintu dungeon.
"Permisi!" Fani menyapa dengan sangat percaya diri.
"Petualang, ada perlu apa?" Bertanya pendeta penjaga pintu Dungeon tersebut.
__ADS_1