
"Sial! Oi apa yang kau inginkan di tempatku!?" Berteriak si pria bertato dengan pistol yang ia arahkan pada Kevin.
"Siapa yang menembak Karin?" Bertanya Kevin dengan sorot matanya yang tajam.
"Menembak Karin? Oh gadis itu yah, apa dia pacarmu? Kebetulan sekali bagaimana kalu kita melakukan transaksi, aku akan memberikanmu uang dan kau berikan pacarmu itu." Ucap pria bertato tersebut.
Dor!
"Sepertinya kau tidak tahu siapa yang berkuasa sekarang, aku tanya siapa yang menembak Karin!?" Kembali Kevin bertanya setelah menembak tangan boss tersebut.
"Arggh! Tanganku, dia- dia yang menembaknya!" Berteriak pria bertato tersebut menuju kearah om om setelah mengetahui situasi bahwa ia tidak bisa menang melawan Kevin.
Kevin berjalan kearah om om yang sudah ia tembak tangannya. "Apa kau yang menembak Karin?" Bertanya Kevin.
"Mmm." Om om tersebut menggeleng namun sebuah lembaran foto tiba tiba terjatuh dari kantongnya memperlihatkan foto foto Karin yang sedang pingsan.
"Kuanggap kau saja." Kevin mengeluarkan pisaunya dan langsung menusuk kearah perut om om tersebut.
"Argh..!" Berteriak om om tersebut memegangi perutnya yang di tusuk oleh Kevin.
"Orang seperti kau seharusnya di lenyapkan dari indonesia, anggap saja aku membantu pemerintah kali ini." Kevin tiba tiba memutar pisaunya dan merobek perut om om tersebut hingga membentuk lingkaran.
"Ampun ampuni aku.." Om om tersebut sudah hampir mencapai batas.
"Jadi siapa bos mu?" Kevin bertanya.
"Di-dia." Om om tersebut menunjuk kearah pria bertato tadi tersebut sebelum ia kehilangan nyawa.
"Oh ku kira kau bisa bertahan sekitar satu menit lagi tapi yah sudahlah tujuan awalku memang ingin membunuhmu." Ucap Kevin sebelum berbalik dan melihat pria bertato tadi.
Dor!
Ting!
"Apa?" Terkejut pria bertato tersebut saat pelurunya di tepis menggunakan pisau oleh Kevin.
"Oh ini kejadian langka, baru kali ini aku bisa menepis sebuah peluru." Kevin menepis peluru tersebut hanya karena reflek dan kebetulan.
"Sial!" Berteriak pria bertato tersebut dan menembaki Kevin dengan pistol menggunakan tangan yang satunya.
Dor! Dor! Dor!
Kevin berlari menyamping untuk menghindari peluru meskipun begitu ada banyak peluru pistol yang mengenai baju anti pelurunya, Kevin hanya fokus untuk melindungi kepalanya sebelum peluru pria bertato tersebut habis.
__ADS_1
Tak!
Satu hentakan kaki Kevin membawanya melaju kearah depan dan siap menebas si pria bertato dengan pisaunya.
"Hng!" Tersenyum pria bertato tersebut sebelum sebuah katana langsung berayun kearah Kevin.
"Bodoh!" Umpat Kevin mengeluarkan satu pisau lagi.
Ting! Sret!
Bersamaan dengan kevin memotong katana tersebut, tangan pria bertato itu juga ikut terpotong.
"Argh...! Bagaimana bisa!?" Ia tidak mempercayai saat Kevin memotong pedangnya menggunakan sebuah pisau.
"Untuk pedang palsu jika di hadapkan dengan pisau yang kuat dengan tebasan dari sudut yang tepat memotongnya adalah hal yang mudah." Jelas Kevin berjalan kearah pria bertato yang mulai ngesot untuk mundur.
"Ja-jangan mendekat! Menjauh menjauh kau!" Teriak pria bertato tersebut melemparkan apapun yang ia gapai.
"Sebaiknya kau mati saja yah." Kevin langsung menusuk dan membuat sebuah lubang besar di perut pria bertato tersebut.
"Dasar monster." Ucapnya yang mulai kehilangan kesadaran.
"Kalau begitu sekalian saja aku menjadi monster." Kevin menarik organ dalamnya keluar membuatnya tambah kesakitan.
"Hm?" Kevin menoleh melihat wajahnya.
"Matilah bersamaku!" Berteriak pria berotot tersebut dan menggunakan kesadaran terakhirnya menangkap tangan Kevin.
Tak! Ting trerrt...
Sebuah granat jatuh di lantai dan entah sejak kapan geranat tersebut aktif Kevin tidak tahu.
"Sial!" Dengan cepat pisau Kevin mengayun memotong tangan pria bertato tersebut dan melemparkan satu pisaunya pada granat itu sambil melompat mundur sekuat tenaga.
Bom!
Namun belum sempat pisau Kevin mengenai granat tersebut, ledakan darinya sudah menghempaskan pisau bersamaan dengan Kevin.
"Argh-" Kevin terhempas namun tanganya mengalami luka parah akibat ledakan tersebut, Kevin juga langsung tidak sadarkan diri akibat daya hempas dari granat itu yang bahkan hampir merusak organ dalamnya.
...
Tiga hari kemudian
__ADS_1
"Uh.. di mana ini?" Bertanya Kevin saat pandangannya memburam dan melihat sebuah atap yang begitu asing baginya, tapi hal yang paling mengganggunya adalah tubuhnya yang serasa kosong.
Menoleh Kevin kesana kemari sebelum indranya menangkap sebuah kehangatan lembut pada tangan kirinya, menoleh Kevin melihatnya dan di sana terdapat Karin yang sedang tertidur.
"Karin?" Ucap Kevin dengan suara kecil karena masih merasakan sakit pada dada dan tangannya.
"Mm.. Kevin! Kamu sudah sadar." Karin terbangun dan tersentak saat melihat Kevin memandanginya.
"..." Kevin diam dan hanya melihat sekitar sambil memegangi kepalanya seakan kebingungan akan tempat yang asing baginya.
"Ini ruang medis yang di siapkan Alka." Ucap Karin menjelaskan tempat namun jelas ruangan tersebut lebih mirip sebuah kamar dari pada ruang medis.
"Begitu, apa yang terjadi selama aku pingsan?" Bertanya Kevin untuk keadaan lebih jelasnya.
"Alka sudah menjelaskan padaku, kau datang menyelamatkanku saat itu dan mendapatkan luka ledakan yang membuatmu pingsan selama tiga hari." Jawab Karin menjelaskan.
"Tiga hari yah.. sudah cukup lama aku tidak merasakan sakit seperti ini." Ucap Kevin masih merasakan kejanggalan pada tubuhnya saat semua titik merdian yang sudah full kembali kosong dan bahkan rasanya membutuhkan energi dua kali lipat untuk mengisinya.
"Aku senang kamu datang menyelamatkanku tapi jika seperti ini.." Air mengalir perlahan dari matanya membasahi pipi Karin. "Kevin bodoh." Sambung Karin dengan suara kecil.
"Haih.. sungguh wanita yang merepotkan, lain kali makanya jangan gegabah." Kevin tidak meminta maaf dan memilih untuk menyalahkan Karin saat tangannya menarik kepala Karin kepelukannya.
"Nn." Mengangguk Karin berusaha menahan tangisnya.
"Senior sudah sadar." Yuri datang setelah pintu terbuka bersama dengan Alka.
Karin segera menjauh dari Kevin.
"Kau terlalu gegabah Kevin untung saja aku mengirim beberapa pengawal yang langsung membersihkan tempat kejadian dan membawa kalian berdua ke sini." Ucap Alka menjelaskan situasi setelah Kevin pingsan.
"Sudah kubilang kan, Ready Perfectly aku tidak akan mati." Ucap Kevin tersenyum.
"Sempurna apanya? Lihatlah seandainya bukan pakaian anti pelurumu dan tubuh badakmu mungkin sekarang kau sudah terbagi menjadi beberapa bagian akibat ledakan granat." Ucap Alka mengkhawatirkan Kevin namun di balas dengan senyum bodoh oleh Kevin.
"Sudahlah senior baru saja bangun biarkan senior beristirahat sedikit." Yuri menengahi.
"Ais.. baiklah kau beristirahat saja, untuk organisasi itu sudah hilang dari indonesia, untuk kalian berdua tenang saja tidak ada jejak kaloan di sana." Ucap Alka seakan sudah lebih dulu mengamankan jejak Kevin dan Karin sebelum membereskan kekacauan yang Kevin buat.
"Terima kasih Alka." Ucap Kevin.
"Ada apa Kevin? Wajahmu terlihat memikirkan sesuatu." Bertanya Karin.
"Biarkan aku beristirahat sebentar." Kevin tidak menjawab pertanyaan Karin dan kembali membaringkan tubuhnya.
__ADS_1