
Diluar Kota Liden
Liden Fores
Saat setelah mendapatkan misi, Kevin dan Karin langsung menuju keluar tembok untuk menjadalankan misi mendapatkan taring goblin.
Mengikuti peta yang tertera pada misi, Kevin dan Karin menuju ketempat biasanya para pelayer maupun NPC berburu.
Dari sekian banyaknya pelayer yang berburu Kevin tidak menemukan satupun pelayer yang sedang berburu Goblin karena dari tadi memang Kevin tidak menemukan Goblin sama sekali.
"Apa aku melewatka informasi yang penting?" Kevin bertanya saat setelah menjelajahi seluruh bagian luar hutan tapi tidak ada goblin yang mereka temukan.
"Aku akan bertanya." Karin memberanikan diri.
"O-oh baiklah." Kevin tidak terlalau percaya saat Karin mengajukan diri untuk bertanya.
Karin berjalan kesalah satu Party pleayer yang baru saja berhasil menunmbangkan monster bunga besar yang mereka lawan.
"Permis! Halo kakak semua.. saya ingin bertanya." Karin berbicara dengan nada anak kecil yang sangat cocok dengan postur karakternya serta berpose layaknya anak kecil yang tersesat.
"Oh adik apa yang ingin kau tanyakan hum?" Satu orang pengguna pedang dengan perisai kecil langsung tertarik dengan pose Karin yang imut.
"A-aku tadi sedang jalan jalan.. annu..." Karin berbicara sambil menekan nekan telunjuknya. "Lalu kakak itu bertanya padaku dimana letak monster goblin disini." Ucap Karin menunjuk keseorang pelayer wanita yang berpakaian mini dengan oppai besar.
"Woaaa." Semua pelayer dalam party yang Karin kunjungi langsung menatap kesana.
"Ap-apa kalian mengetahuinya?" Karin bertanya lagi.
"Hm!" Semuanya langsung mengangguk. "Letak goblin berada dikedalaman hutan tapi dari informasi goblin juga sangat susah ditemukan." Jelasnya.
"Baiklah terima kasih kakak kakak." Ucao Karin lalu berjalan pergi dengan cara melompat lompat seperti anak kecil.
"Apa perlu kami antar!?" Para petualang bertanya dan berharap.
"Ya tolong kalian antar kakak yang disana ya!" Ucap Karin yang sudah tidak diperhatikan.
"Oke!!" Srmuanya langsung berlari mengerumuni wanita yang ditunjuk Karin.
"Ek-!" Kevin membatu melihat tingka Karin.
"Apa!?" Sifat Karin langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
"Aku hanya kebingungan saja ternyata kau bisa bertingkah seperti tadi." Berkata Kevin yang memijit keningnya.
"Oh apakah kakak menyukaiku." Karin langsung kembali mengubah cara bicaranya dan berpose seperti loli.
__ADS_1
Bukh!
"Aduh!"
-30!
"Kuharap kau tidak berpose selucu tadi lagi didepan orang lain." Ucap Kevin setelah melayangkan satu pukulan dikepala Karin.
"Ba-ik-lah." Tapi Karin seakan tidak mendengar.
"Bagaimana? Apa kita masuk kedalam lagi, monster disana lebih mengerikan loh." Uvap Kevin yang memberi peringatan dan pilihan apakah ingin melanjutkan misi atau tidak karena lokasi goblin ternyata berbeda dari pada yang ada dipeta.
"Lanjut!" Karin berkata dengan mantap. "Fameku baru belasan dan kau menyuruhku untuk menggalkan misi, bisa bisa aku lagi lagi kehilangan sepuluh point fame ku." Karin sangat menyangkan fame dari pada level yang akan berkurang satu.
"Oke, kalau begitu sudah diputuskan." Berkata Kevin dengan srmangat sebelum melangkah memasuki lebih kedalam hutan.
Sebenarnya alasan mereka sempat bingbang adalah monster yang ada didalam hutan, semakin dalam maka semakin tinggi level dan kekuatan merek.
...
Kedalaman Leiden Forest.
Dari sekian banyaknya monster yang sering bermunculan secara kelompk kecil, Kevin dan Karin masih bisa terus menghindari pertempuran karena akan sangat merugikan mereka, walaupun mereka memiliki keyakinan untuk menang dalam satu kali pertempuran tapi masih ragu untuk kedua kalinya karena rata rata level monster adalah tiga puluh lima keatas.
"Yang jelas kita hanya perlu mengumpulkan dua puluh item saja, aku tidak ingin mati dihutan ini dan menjatuhkan beberapa itemku." Kevin pun meras sangat sial.
Kesialan mereka berhenti tepat saat mereka melihat dua goblin berlevel tiga puluh yang menggunakan pedang rusak.
"Hehe kubunuh kau Silent ste-" Karin baru saja ingin meluncur untuk membunuh dua goblin tapi dihentikan oleh Kevin. "Kenapa?"
"Jika kita membunuh dua goblin ini maka kita akan kesusahan menemukannya lagi nanti, biarkan mereka membawa kita ketempat goblin lainnya." Ucap Kevin yang memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu.
"Maksudmu mereka memiliki rekan?" Karin menanggapi rencana Kevin.
"Goblin adalah monster yang berkelompok, tidak mungkin ada goblin tanpa ada pemimpin mereka, jadi bisa dikatakan bahwa goblin ini masih memiliki banyak rekan." Kevin menjelaskan.
"Dari mana kau mengetahuinya?" Karin bertanya.
"Dari berbagai sejarah mitos maupun legenda yang mengisahkan sifat goblin." Kevin menjawab.
"Baiklah." Karin menurut.
Kevin dan Karin mulai mengikuti kedua goblin tersebut yang terus berjalan tapi selama yiga puluh menit mereka mengikuti, mereka tidak mendapatkan apa apa.
"Apa kau yakin mereka memiliki teman? Ini hanya dunia game tidak mungkin sama dengan teorimu kan?" Karin mulai tidak sabaran.
__ADS_1
"Walaupun ini game tapi pembuatnya membuat game ini semirip mungkin dengan dunia nyata jadi kurasa sifat monsternya pun sama." Kevin masih tetap pada pendiriannya.
"Tapi- mm"
"Sst diam." Kevin langsung membekap mulut Karin saat mereka berhasil membuntuti goblin tadi sampai kedepan sebuah gua dengan dua goblin yang berjaga.
"Sepertinya jumlah mereka sangat banyak." Ucap Karin yang sudah terlepas dari bekapan dan langsung serius saat melihat jejak kaki goblin ditanah yang keras tapi menjadi dalam akibat sering dilalui oleh goblin.
"Kita bisa memancing rombongan mereka sedikit demi sedikit keluar agar kita bisa menghabisi mereka satu persatu kelompok saja." Usul Kevin.
"Bagaimana jika mereka keluar bersamaan itu akan sangat merepot-" Karin tiba tiba merasakan kedatang sesuatu. "Ada yang datang." Karin langsung menarik Kevin keatas pohon dimana Kevin juga langsung melompat mengikuti Karin.
Sebagai Assassin kemampuan untuk menyadari wilayah sekitar sabgatlah diperlukan sehingga para job assassin biasanya setiap peningkatan level maka sensitifitas terhadap sekitar akan bertambah.
Kevin hanya bisa merasakan ada sesuatu yang mendekat begitu dia memfokuskan diri, tapi jika hanya mengandalkan skill maka Kevin tentu tidak akan bisa menyadarinya sehingga dia lebih mengandalkan insting.
Sekelompok goblin yang berjumlah sekitar tujuh goblin datang membawa seorang wanita yang sudah tidak berbusana serta tubuhnya yang penuh dengan lebam.
"Kevin.. apa yang kau lihat?" Karin bertanya saat memandang Kevin aneh dimana Kevin sendiri sedang memandangi wanita tanpa busana tersebut dengan teliti.
"Lihat perempuan itu, dia bukan pelayer, terlihat dari cursor nya kalau dia adalah NPC, apa game ini tidak terlalu realita? Meskipun para NPC memiliki sistem AI sendiri tapi apa ini." Kevin sedikit bingung tentang apa yang dipikirkan dari pencipta game ini.
"Hmm benar apa yang kamu katakan, untuk sekarang ayo kita bersihkan dulu goblinnya, itu adalah tujuan kita kesini." Karin mengeluarkan Purple Knife nya karena ingin mempercepat perburuan.
"Level mereka hanya tiga puluh dan yang paling tinggi adalah tiga puluh lima sama seperti kedua penjaga gua." Kevin menganalisa.
"Baiklah selesaikan dengan cepat.. Silent step." Karin langsung menghilang.
Bum stss...st
Dua bom asap jatuh ketengah tengah para goblin yang membuat kecepatan mereka melambat dan penglihatannya pun sedikit terganggu.
"Dark Blade."
-3.000
[Crytical Hit terpicu.
Instan Date diterapkan.]
Dalam satu kali seranga Karin dapat membunuh satu goblin saat pisaunya menggorok tepat dileher goblin yang anehnya Karin sama sekali tidak terpengaruh oleh kabut bercaun yang ia lemparkan.
...----------------...
lanjut gak nih?
__ADS_1