
"Dengarkan aku oi." Kevin bersiap untuk Logout.
"Bagaimana kalau aku masuk ke tim mu? Asalkan bisa menaikkan level ku itu saja, drop semuanya untukmu saja." Ucap Fani memohon.
Tangan Kevin langsung berhenti untuk menekan tombol logout. "Seberapa efektif pemulihan mu?" Kevin bertanya terlebih dahulu meskipun sempat membayangkan keuntungannya.
"Aku bisa mengisi kembali bar hp hingga lima puluh persen dalam waktu coldown satu menit kepada target dengan sepuluh level lebih tinggi dari pada aku." Jawab Fani cepat.
"Ha!? Bukankah itu cheat?" Kevin bertanya namun tidak sadar bahwa kemampuan life steal nya juga hampir mirip sebuah cheat.
(TL note: Life Steal, skill aktif maupun pasif yang berkemampuan untuk mencuri hp lawan.)
"Jangan menyebutku curang! Aku hanya tiba tiba saja mendapatkan class God Healing." Fani berteriak sebelum menjelaskan.
"Tapi kenapa kau selalu dibenci oleh partymu jika kau memiliki skill penyembuh sehebat itu?" Kevin bingung karena seharusnya dengan class Fani itu sudah mampu menarik perhatian guild besar.
"I-itu.. salah sasaran." Kecil suara Fani menjawab namun Kevin tetap bisa mendengarnya.
"Salah sasaran?" Kevin mulai memiliki firasat buruk.
"Aku memulihkan hp monsternya bukan party ku." Fani menjawab dengan mengalihkan padangannya.
"-_- da.. aku logout dulu." Kevin tidak ingin berurusan dengan player cantik bodoh satu ini dan langsung logout dimana karakternya langsung menghilang.
"Tunggu! Hmph!." Berteriak Fani untuk menghentikan Kevin namun Kevin telah Logout duluan dan menghilang.
...
Pagi hari
Kamar Kevin
"Ahh wanita itu pantas saja diusir oleh partynya, dia hanya bisa membuat masalah." Ucap Kevin setelah Logout dan membuka kaca dari Virtual Kabinnya yang berbentuk kapsul.
Kevin berdiri dan mengambil gelas air yang ada dimeja dekat tempat tidurnya, Kevin langsung meneguknya hingga habis sebelum keluar kamar untuk mencari Karin.
Namun saat sampai dilantai bawah Kevin melihat Karin terduduk diruang tamu bersama dua orang polisi di depannya, satu perempuan dan satunya lagi laki laki.
"Kevin." Sapa Karin yang tersenyum kecut.
Kedua polisi tersebut langsung berdiri. "Selamat pagi, apakah anda yang bernama Kevin?" Bertanya polisi perempuan tersebut setelah menyapa.
__ADS_1
"Ya saya Kevin, ada keperluan apa datang kerumah saya?" Kevin bertanya balik setelah menjawab dimana ia langsung duduk di depan polisi tersebut.
"Saya Dina polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus kecelakaan beberapa hari yang lalu." Ucapnya sambil memperlihatkan beberapa foto pada Kevin.
Itu merupakan kecelakaan yang terjadi saat motor Kevin harus menjadi korban, mengingatnya saja sudah membuat Kevin kesal.
"..." Kevin tidak bersuara sama sekali dan hanya memperhatikan foto mobil yang bonyok serta dua motor sport yang satunya rusak parah dan yang satunya hanya mengalami goresan saja.
"Dalam kecelakaan tersebut beberapa pereman di pastikan terlibat dan setelah di telusuri anda adalah pemilik motor sport tersebut." Ucap petugas Dina meminta kejelasan.
"Ah.. saya memang terlibat namun dari pada disebut terlibat ini lebih tepatnya saya menjadi korban." Ucap Kevin dimana saat ini Kevin sudah berada diposisi tidak dapat mengelak.
"Bisa di jelaskan lebih rinci?" Bertanya petugas Dina dimana entah hanya pikiran Kevin atau bagaimana namun oppainya terlihat bergoyang.
"Saat itu kami ingin kesebuah cafe di jalan itu namun mobil para pereman tersebut tiba tiba datang dengan kecepatan tinggi dari depan lalu menabrak motor saya." Jelas Kevin.
"Lalu bagaimana cara anda selamat?" Petugas Dina kembali bertanya.
"Saat itu laju motor kami tidaklah terlalu cepat hingga saya masih sempat melompat dari motor saya." Jawab Kevin apa adanya.
"Namun beberapa orang yang bersaksi bahwa mobil pereman tersebut sengaja di hancurkan, apakah anda tahu siapa pelakunya?" Bertanya kembali petugas Dina.
"Itu saya tidak tahu namun saya rasa itu perbuatan orang sekitar yang tidak menyukai mereka." Ucap Kevin berbohong.
'Thank you para pereman, dengan kalian melarikan diri aku bisa selamat.' Batin Kevin dimana polisi tidsk perlu mengetahui alasannya dan pasti sebentar lagi kasus ini akan ditutup karena hanya dianggap kecelakaan biasa, Kevin juga sudah tidak mempermasalahkannya sebagai korban.
"Baik pertanyaan kami mengenai kecelakaan sampai di sini saja, terima kasih atas kerja samanya." Ucap petugas Dina sama sekali tidak menyinggung nama Alka yang jelas motor Alka ada disana, itu dikarenakan keluarga Alka cukup berpengaruh untuk menyelesaikan masalah polisi dengan cepat.
"Sama sama." Kevin tersenyum membalas.
"Namun ada hal lain yang perlu kami tanyakan lagi." Petugas Dina kembali serius.
"Apa itu?." Kevin dapat menebak pertanyaan polisi wanita ini setelah matanya melirik kearah Karin.
"Apakah kalian suami istri? Jika iya tolong tunjukkan surat nikahnya." Ucap petugas Dina.
"Suami istri?" Suara Karin kecil sehingga tidak ada yang mendengarnya namun kata kata tersebut membuatnya malu dan segera menyembunyikan wajahnya.
"Kami bukan suami istri haha, dia adalah penghuni kost ini, kebetulan saya kekurangan uang jadi saya menyewakan kamar dilantai satu rumah ini." Kevin memberikan alasan yang dapat diterima.
".. kalau begitu kami permisi, terima kasih atas kerja samanya." Petugas Dina melirik Karin terlebih dahulu sebelum Karin mengangguk dan petugas Rina pun percaya meskipun dia masih sedikit curiga.
__ADS_1
"Baik sama sama." Kevin menjabat tangan petugas Dinda dengan senyum rapi.
Kedua polisi tersebut pun pergi dan meninggalkan rumah Kevin.
"Aku akan membuat sarapan." Ucap Kevin langsung menuju kedapur.
"Ah! Aku sudah memesannya." Ucap Karin.
"Ha? Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu?" Bertanya Kevin yang tidak terbiasa memakan makanan pesanan, dia lebih suka memakan masakannya sendiri.
"Hehe kukira kau akan bermain lebih lama jadi saat aku lapar jari ku bergerak sendiri." Alasan Karin.
"Sudahlah kalau begitu sekalian untukku juga, nasi burger yah." Kevin saat ini terlalu malas untuk memasak hanya untuk dirinya sendiri.
"Oke." Karin membentuk huruf O dengan jarinya.
Duduk Kevin di dekat Karin sebelum menyalakan televisi.
"Semuanya hanya berisi berita game Virtual Reality." Kevin cukup bosan dengan berita tersebut.
"Sepertinya ada hal menarik di Liden City." Ucap Karin setelah memeriksa di EDITH nya dan mengirimnya pada Kevin.
"Apa itu?" Kevin segera memasang kacamata EDITH nya dan membuka Link yang dikirim oleh Karin.
Setelah membaca beberapa berita serta hal lainnya akhirnya Kevin mengerti.
"Ini Event serangan monster yang akan terjadi besok hari di Lident City, itu artinya nanti siang." Ucap Kevin setelah membaca berita tersebut.
"Kita harus ikut, hadiah untuk setiap Core monster yang di kalahkan lumayan tinggi loh." Ucap Karin tertarik.
"Yah event ini juga sangat menguntungkan bagi kita, kurasa ikut tidak akan ada ruginya." Kevin juga setuju.
Ting! Tong!
Bel rumah Kevin tiba tiba berbunyi menandakan pesanan makanan mereka telah sampai.
"Aku akan membukanya, kau tolong siapkan piring." Ucap Kevin langsung menuju pintu.
"Baiklah." Mengangguk Karin.
Mereka berduapun makan sebelum kembali melanjutkan aktifitas mereka masing masing dimana entah kapan Karin memiliki sebuah pisau lempar dan mulai berlatih ditaman rumah Kevin tempat biasa mereka berlatih pedang.
__ADS_1
Saat Kevin sedang melatih ototnya sambil memperhatikan Karin yang mencoba menggunakan pisau lempar namun selalu meleset tiba tiba bel rumahnya kembali berbunyi.