
Kevin hanya melihat seorang pelayan yang mengemudikan kereta puteri Louis tanpa ada nya perajurit atau pengawal lain nya yang arti nya hanya Kevin dan Karin lah yah mengawal puteri Louis.
"Karin masuk lah." Ucap Kevin memberi tahu Karin untuk masuk ke dalam kereta puteri Loise.
"Nn." Karin mengangguk dan masuk ke dalam kereta sebelum menutup pintu nya.
"Kau tidak masuk?" Bertanya puteri Louis pada Kevin.
"Saya memiliki kuda sendiri tuan puteri." Jawab Kevin mengambil kuda nya di kandang kuda penginapan.
Kevin tidak menggunakan kuda putih nya karena itu hanya mampu bertahan selama enam jam sebelum menghilang dan hanya dapat di panggil keesokan hari nya, tentu kuda seperti itu tidak akan cocok untuk perjalanan jauh seperti ini.
"Hmm... ayo jalan." Puteri Louis seakan tidak peduli dan memberitahu kan pelayan nya untuk berangkat.
"Baik tuan puteri." Jawab pelayan tersebut.
Kereta mulai berjalan ke gerbang kota di mana Kevin memimpin jalan yang penampilan nya sendiri mirip perajurit kerajaan dan yang kurang hanya lah lambang pada zirah nya saja.
Begitu mereka melewati gerbang kota, Kevin dan Karin langsung merasakan bahwa ada orang yang mengawasi mereka.
'Seperti nya ada yang mengawasi kita Kevin, apa yang akan kita lakukan?' Bertanya Karin lewat telepati.
'Biar kan saja, mereka mungkin adalah perajurit assassin milik marques Torant yang melindungi puteri Louis, lagian kita pasti tidak akan dapat mengalahkan mereka.' Jawab Kevin.
'Oke.'
"Hei siapa nama mu?" Puteri Louis bertanya pada Karin.
"Anda bertanya pada saya?" Karin malah bertanya balik sambil menunjuk wajah nya.
"Siapa lagi!? Lagian tidak ada orang di sini selain kita berdua." Ucap puteri Lousi kesal dengan tanggapan Karin.
"Nama saya Karin tuan puteri." Ucap Karin.
"Karin, hm aku akan mengingat nya." Gumam puteri Louis dengan suara kecil. "Lalu ini apa?" Puteri Louis menanyakan masker aneh yang menutupi mulut Karin.
"Oh ini nama nya masker gas tuan puteri, teman saya yang membuat nya." Jawab Karin.
"Jadi kenapa kamu menutup mulut mu menggunakan itu, apa mulut mu bau?" Bertanya puteri Louis yang tidak sadar bahwa pertanyaan nya tersebut memberikan damage yang sangat besar pada mental Karin.
__ADS_1
"Tuan puteri, ini hanya sekedar aksesoris player, tuan puteri tidak perlu memikirkan nya." Ucap Karin yang jelas terlihat ada beberapa kerutan di jidat nya tanda ia sedang geram namun bingung pada siapa ia ingin melampiaskan nya.
"Hm.. pemilik jiwa abadi aneh aneh yah, apa aku boleh meminjam nya?" Ucap puteri Louis.
"Maaf tuan puteri tapi ini tidak akan cocok dengan anda." Ucap Karin menolak.
"Ayo lah sebentar saja." Ucap puteri Louis memaksa.
"... baik lah tapi sebentar saja." Karin terpaksa menyetujui nya dan perlahan melepaskan masker nya.
"Terima kasih." Puteri Louis dengan cepat mengambil nya dari tangan Karin dan berterima kasih.
"Nn." Karin langsung menutup taring nya dengan tangan kecil nya dan hanya mengangguk untuk menjawab puteri Louis.
"Wah.. bukan kah begini kamu terlihat cantik." Ucap puteri Louis kagum dengan paras Karin.
"Nm.. ini sedikit memalukan." Karin tidak terbiasa di puji seperti ini dan seketika ia menundukkan pandangan nya untuk menyembunyikan wajah nya.
"Wah! Suara mu juga sangat imut, kenapa kamu harus menggunakan alat jelek ini yang bahkan menyembunyikan suara imut mu?" Puteri Louis bertanya.
"Tuan puteri tolong kembalikan." Ucap Karin yang memang tidak terlalu bisa bersosialisasi tanoa menutup sebagian wajah nya atau menaruh sesuatu atau apapun di wajah nya kecuali ia berada di dekat Kevin.
"Nmm.." Karin tidak lagi meladeni puteri Louis dan memilih untuk lebih menutup wajah nya menggunakan penutup kepala nya.
"Baiklah baiklah ini ku kembali kan." Puteri Louis segera mengembalikan nya.
"Terima kasih." Karin kembali menggunakan masker nya.
...
Tengah hari
Saat matahri tepat berada di atas kepala Kevin, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil makan siang.
Pelayan puteri Louis mencoba membuat sup untuk makan siang puteri Louis karena berbeda dengan player yang cukup memakan satu porsi roti saja sudah cukup untuk membuat karakter nya tetap tidak kelaparan dalan sepuluh jam ke depan.
"Kevin aku lupa bawa makanan." Ucap Karin mendatangi Kevin yang sedang beristirahat di bawa pohon rindang.
"Kau seharus nya mempersiapkan nya kemarin Karin, ini untung aku bawa persediaan lebih banyak." Ucap Kevin memberikan roti pada Karin.
__ADS_1
"Terima kasih." Karin menerima nya kemudian duduk di sampin Kevin menikmati roti nya.
"Sepanjang perjalanan kita tidak bertemu monster sama sekali yah." Ucap Kevin.
"Puteri Louis mengatakan ini masih berada di wilayah dekat Dulldys City jadi sangat jarang ada monster di sini terlebih petualang selalu membersihkan monster yang ada di sini." Ucap Karin.
"Hmm pantas saja kita jarang menemukan monster." Ucap Kevin kembali mengigit roti nya.
"Ini adalah jalur perdagangan jadi harus dari serangan monster." Ucap Karin.
"Biasanya setiap pedagang selalu di dampingi oleh petualang untuk menjaga mereka dari monster dan bandit tapi seharus nya di sini tidak ada bandit, ini kan jalur ibu kota." Ucap Kevin.
"Jalur ibu kota perajurit nya lebih banyak sih yah, tidak mungkin lah ada bandit di sini." Ucap Karin.
"Kau seharus nya tidak mengatakan hal yang dapat mengundang masalah seperti itu." Tegur Kevin.
"Kevin." Ucap Karin dengan nada kecil.
"Sial, segera lindungi puteri Loise." Kevin pun menyadari hawa keberadaan lain dari balik hutan saat ia masih ingin menikmati roti kering nya.
"Oke." Karin segera mendatangi puteri Louis.
"Oh ya oh ya.. seperti nya ada seorang puteri dari bangsawan Derouis." Ucap seorang yang baru saja muncul dari balik pohon dengan dengan armor full.
"Dia tidak terlihat seperti bandit, dia lebih mirip perajurit?" Gumam Kevin karena dulu ia pernah melihat bandit dan tahu bagaimana mereka.
"Tuan puteri tolong masuk ke dalam kereta." Ucap Karin pada puteri Louis.
"Hng! Benar apa yang di katakan nya, puteri Louis kembali dengan hanya di kawal oleh pemilik jiwa abadi yang lemah terlebih hanya dua orang khe khe." Ucap laki laki tersebut seakan tertawa.
"Siapa kau?" Bertanya Kevin.
"Hmm.. aku adalah pemimpin bandit di wilayah ini, Silver Mamba." Ucapny memperkenalkan diri namun Kevin yakin itu hanya nama samaran.
"Oi pelayan bau, apa di kau kenal dia?" Kevin bertanya pada pelayan Louis.
"Tidak, aku tidak pernah mendengar nama itu!" Ucap pelayan tersebut pada Mamba si pemimpin bandit.
"Aku tidak peduli kau mengenal ku atau tidak tapi." Ucap Mamba memberikan kode dan beberapa orang lain nya mulai bermunculan. "Serahkan puteri Louis sekarang." Sambung nya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1