MMORPG World For Adventure

MMORPG World For Adventure
Chp 30, Masalah di Dealer


__ADS_3

Kamar Kevin.


Setelah membersihkan diri Kevin berjalan kearah kaca besar yang ada didinding kamarnya untuk melihat hasik dari potongan rambut Karin.


"Ya, setidaknya ini tidak seburuk yang aku bayangkan." Ucap Kevin karena rambutnya memang terlihat lebih rapi.


Mungkin alasan Karin mendapatkan komplain karena dia hanya bisa membuat satu gaya rambut saja untuk laki laki karena Kevin merasa tiada masalah pada potongannya ataupun kerapiannya kali ini selain gaya rambutnya yang mirip seperti orang jepang saja.


Sebagian besar orang indonesia tidak menyukai gaya rambut seperti ini karena terlihat kekunoan dan hanya populer diindonesia saat tahun sebilan puluhan.


Kevin berjalan kearah tempat tidurnya sebelum melemparkan badanya keatas ranjang, meraih ponsel dan mengucapkan terima kasih pada Karin melalui wechat sebelum memasuki game Fantasy Play Batle.


"Link Start!"


Kling! huss wosh.


[Selamat datang kembali diota Kritgar.]


...


Satu bulan kemudian.


Selama satu bulan Kevin terus melatih teknik berpedang Karin baik itu didunia nyata maupun didunia virtual, hari hari yang mereka berdua jalani membuat hubungan mereka semakin dekat.


Walaupun sekarang bisa dibilang Karin sudah bisa menyewa tempat tinggal sendiri atau lebih tepatnya pindah rumah tapi, baik itu Karin maupun Kevin tidak ada yang membahas masalah pindah dan Karin pun mulai menganggap rumah Kevin sebagai rumahnya dimana dia harus pulang, Kevin juga sudah menganggap Karin sebagai bagian dari rumahnya.


Satu bulan penuh berjalan dengan hari hari biasa dimana akan ada banyak candaan dan ketenangan walaupun terkadang mereka sering bertengkar tapi palingan hanya masalah sepele dan akan segera membaik.


Mereka tentu juga terus meningkatkan level karakter mereka hingga sekarang sudah bisa keluar dari kota kritgar pemula.


Kevin sudah bisa membuat potion tapi masih belum bisa dalam jumlah banyak sehingga dia hanya sesekali menjualnya ditokonya, sedangkan untuk Karin sendiri semakin mempelajari setiap jenis racun dan pembuatannya didalam game.


Pasar Meat Wolf masih terus berjalan ditoko Kevin dan itu benar benar sebuah keuntungan yang sangat besar bagi Kevin meskipun sebenarnya sekarang Kevin menurungkan dua puluh lima persen harganya dan Kevin tetap untung dua puluh lima persen untuk menaikkan jumlah popularitas tokonya.


...


Rumah Kevin

__ADS_1


"Kau sudah siap?" Bertanya Kevin saat sedang mengajak Karin untuk keluar.


"Seperti yang kau lihat." Karin hanya memperlihatkan pakaiannya dimana dia sengaja memilih warna pakaian yang sama dengan Kevin.


Lebih tepatnya bukan memilih tapi memaksa Kevin untuk memakai pakaian yang sama. Kevin ikut saja karena sesekali menggunakan pakaian pasangan juga cukup bagus.


"Ayo!" Kevin berjalan menghampiri taksi yang sudah mereka pesan.


Singkat cerita saat mereka tiba disebuah gedung yang menjadi tujuan mereka hari ini yaitu dealer.


"Jadi sekarang kau sudah malas berlari." Ucap Karin yang mengikuti Kevin masuk.


"Aku lagi malas bercanda Karin." Tapi Kevin terlalu malas untuk menanggapi Karin.


"..." Kevin langsung diam.


"Selamat datang didealer kami. Kendaraan seperti apa yang anda inginkan?" Seorang pelayan atau lebih tepatnya official menyambut Kevin tapi langsung menanyakan apa yang ingi dibeli oleh Kevin.


Jelas perempuan Offic ini sedang memandang rendah Kevin dan langsung menyinggung akan masalah pembelian kendaraan tanpa memberi rekomendasi.


"Maaf apa saya bisa melihat lihat dulu." Tapi Kevin mengajukan hal lain walaupun sebenarnya dia sudah menentukan kendaraan apa yang ingin dia beli tapi setidaknya dia masih ingin melihat berbagai kendaraan lain yang mungkin saja menarik perhatiannya.


"Apu maksudmu bertanya begitu ha!? Kau pikir kami ini apa!?" Karin yang memang suka emosian pas seperti ini langsung membentak dan mulai ngajak cakar cakaran.


"Hehh biar kuberi tahu saja ya. Aku sudah sering melihat pasangan seperti kalian yang sok sok kesini katanya ingin lihat lihat dulu tapi ujung ujung hanya pamer saja dengan pasangan." Offic tersebut mendengus sial.


'Kau jomblo kah? Yah aku juga jomblo sih.' Batin Kevin dimana merasa pelayan ini sedikit iri pada setiap pasangan.


"Siapa yang kau bilang sok pamer!" Karin siap melayangkan pukulannya tapi segera ditahan oleh Kevin.


"Ya' aku juga tidak terlalu perduli dengan perkataan officenya, ayo Karin." Ucap Kevin yang memilih melangkah ketempat lain untuk mencari motor yang sudah dari dulu ingin ia beli.


"Woi! Kau dengar aku!? Gelandangan dilarang masuk kesini!" Teriak Office tersebut kepada Kevin tapi malah digubris walaupun Karin sudah siap melompat dan menarik rambutnya sebelum ditahan oleh Kevin. "Sial kau berani mengabaikanku, satpam! Seret dua orang itu keluar!" Teriaknya menunjuk kearah Kevin dan Karin.


"Baik!" Dua satpam langsung datang kepada Kevin.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Bertanya Kevin datar saat dua satpam malah mendatanginya dengan tongkat pukul. 'Apa sekarang para satpam sudah kebiasaan memukul? Ataukah aku yang ketinggalan jaman.' Batin Kevin agak bingung.

__ADS_1


"Tolong keluar dari sini." Ucap salah satu satpam tersebut menunjuk kearah pintu keluar.


"Maaf tapi aku ingin membeli motor disini." Ucap Kevin masih berusaha tersenyum.


"Apa yang kalian lakukan! Seret saja mereka keluar jika tidak pukul saja!" Office tadi kembali berteriak.


"Siapa yang ingin kau pukul?" Tiba tiba suara datang dari pintu masuk.


"Tuan muda Alka, selamat datang." Yang tadinya berteriak tidak jelas sekarang office tersebut langsung berubah seratus delapan puluh derajat.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, siapa yang ingin kau pukul." Ucap Alka lagi dengan wajahnya yang sudah menakutkan.


Ya yang datang adalah Alka.


"Itu... ya dua gelandangan disana mencoba untuk mengacau didealer tuan." Ucap Office itu menunjuk kearah tempat Karin dan Kevin yang sudah menghilang. "Eh kemana mere...ka, itu mereka tuan!" Berteriak dia kembali saat melihat Kevin dan Karin sedang menunggangi salah satu motor didealer mereka.


"Ais sudahlah aku juga malas memperpanjang ini." Alka melirik kearah dua satpam yang sempat berhenti sebelum kembali menuju ketempat Kevin saat ofgice tadi menunjuk Kevin. "Kalian berdua jika tidak ingin masuk kerumah sakit sebaiknya kalian lupakan untuk memukul orang itu." Maksud Alka adalah Kevin karena dia tahu betul sifat Kevin.


"Ta-tapi tuan-" office tersebut ingin berbicara tapi dipotong ileh Alka.


"Gaji mu akan segera dikirim besok tidak usah datang kesini lagi." Alak berjalan pergi.


"Tuan muda Alka! Apa salah saya."


"Kalian berdua dari pada bengong disitu mendingkalian seret perempuan itu." Ucap Alka kepada satpam untuk menyeret Office tadi.


"Baik!"


Alka berjalan kearah tempat Kevin dan Karin yang sedang melihat semua statistik satu motor.


"Ya kau mendapatkan masalah saat masuk kedealerku." Ucap Alka menyapa, sebenarnya dealer ini adalah salah satu bisnis ayahnya.


"Aku bisa menanganinya tanpa bantuanmu." Tapi Kevin agak mengabaikan sebelum matanya melirik keperempuan yang dibawa Alka. "Ganti lagi?" Tanya Kevin karena setiap bertemu Alka, perempuan yang ia bawa selalu ganti.


"Eeh kau berbicara seperti ayahku saja." Alka mengibas ngibaskan tangannya. "Sebagai permintaan maaf kau bisa memilih satu unit dari dealer ini." Ucap Alka.


"Maaf tapi aku tidak semiskin itu untuk dibayarkan olehmu kali ini." Ucap Kevin menolak.

__ADS_1


Ya Alka juga sudah menebaknya karena memang seperti itulah Kevin. "Baiklah terserah saja tapi kita sudah tidak bertemu selama satu bulan dan kau mulai mengabaikanku, haih sebagai sobat mu aku menjadi sedih." Berkata Alka memasang wajah sedih.


"Yaa aku sebulan sibuk." Ucap Kevin mengkilk ikon sebuah kata beli dan langsung mentransfer uangnya sebesar seratus dua puluh juta.


__ADS_2