
Motor Justin berhenti di depan rumah sewaan Dominique.
"Terima kasih sudah mengantar dan nasi gorengnya"
"kembali kasih"
"Hati-hati di jalan"
"Besok Aku antar pulang lagi ya"
Dominique tersenyum dan mengangguk malu-malu.
"Mimpi indah, mimpiin Aku Yaa, dahh"
pamit Justin sebelum benar-benar menghilang dari pandangan mata Dominique,
Justin menempelkan dua jarinya dibibirnya lalu ke bibir Dominique.
eyaahhh.
Dominique tersenyum malu-malu sendiri masuk ke rumahnya, tanpa Dominique tahu, dan selama sepuluh tahun ini Dominique diawasi seseorang.
***
Apartment Haiden.
Terdengar suara dering bel di pintu apartment Haiden.
John segera memeriksa, dan membukakan pintu. John menerima sebuah amplop coklat dari orang suruhannya. Dan orang itu segera pergi setelah memberikan amplop coklat tadi.
John memeriksa terlebih dahulu isi amplop coklat tadi sebelum dia serahkan kepada Tuannya.
John mengeleng sesaat,
saat melihat isi amplop coklat tadi.
Nona Dominique anda tidak berubah sama sekali, hanya Anda saja yang bisa membuat suasana hati Tuan Haiden berubah-ubah.
John tahu selama sepuluh tahun ini Tuannya tidak pernah bersikap seperti itu, Tuannya selalu focus untuk pencapaian tertinggi perusahaan dan mengalahkan semua saingan-saingan bisnisnya dengan cara halus maupun kasar.
__ADS_1
"Tuan" John sudah dihadapannya, aura membunuh terlihat jelas dimata Haiden.
John menyerahkan amplop coklat tadi, Haiden menerima dan membukanya, setelah melihat isinya yang berupa foto-foto Dominique setelah Haiden pulang ke apartmentnya.
Haiden merobek semua foto-foto tadi, amarahnya terlihat begitu besar.
Foto saat setelah makan nasi goreng, Justin mengantar Dominique sampai depan rumah, kecupan dua jari dari Justin yang ditempelkan dibibirnya Dominique, dan senyum bahagia Dominique saat masuk ke dalam rumah sewaannya.
Nyalimu besar juga Domi.
"John" teriak Haiden dengan tebaran robekan foto yang diterimanya tadi juga semua yang diatas meja kerja dibuat berantakan oleh Haiden.
"Sedang dilakasanakan, sesuai perintah Tuan" John berkata.
Haiden hanya menatap tajam mata John.
***
Di rumah sewaan Dominique.
Setelah membersihkan diri, entah kenapa bulu ditangannya terus berdiri, merinding terus.
Dominique mengambil gelas, menuang air hangat ke dalam gelas secukupnya, membuka bungkus tolak angin cair tadi lalu menuangkan ke dalam gelas tadi, mengaduk dan meminumnya.
Saat meminum obat, Dominique tersedak, Dominique batuk-batuk.
Dominique teringat kejadian tadi siang saat mengantar ice chocolate, ingatan Dominique teralihkan oleh sikap manis dan romantis Justin yang membuat hatinya lumer.
Dominique mengingat pertemuan dengan seseorang, pertemuan yang tidak pernah dia harapkan, bahkan dalam mimpi pun ia menolaknya dengan keras.
Mati Aku, tadi siang itu benaran dia, bagaimana pun Aku harus menghindarinya, cukup sekali Aku berurusan dengan dia.
Tapi__ bagaimana kalau dia pesan ice chocolate lagi dan menyuruhku mengantarkannya.
Tidak__tidak pokoknya kalau diminta mengantarkan lagi, Aku harus menolak atau mencari alasan agar tidak Aku yang mengantar.
Ya__ini baru benar, Aku ingin hidup tenang dan damai tanpa kekangan orang itu.
Dominique berjalan masuk ke kamarnya, sebelumnya ia melihat ponselnya, selain pesan dari grup kerjanya tidak ada yang lain.
__ADS_1
Aku tanya dia sudah sampai tidak ya, tapi kalau nanti jadinya ganggu dia, ah__ kirim saja deh.
Dominique mengetikkan pesan.
"Kamu sudah sampai belum?"
lima menit kemudian, sepuluh menit kemudian, lima belas menit kemudian, Dominique terus melirik ponselnya tapi tidak ada balasan, akhirnya kelelahan menunggu, Dominique pun tertidur dengan ponsel di tangannya.
Dominique terbangun jam sepuluh pagi, deringan ponsel terdengar berkali-kali, Dominique mengangkat malas menempelkan ditelinganya.
"Domii kamu dimana?" teriakan cempreng Sophie dari seberang sana.
"Di rumah, masih dikasur, dan dibalik selimut" saut Dominique masih dengan mata tertutup dan suara Di balik bantal.
"kamu nggak lupa jadwal hari ini kan" suara Sophie terdengar panik.
"hmmm__iya, Aku masuk siang" balasku.
"Middle Domiiiiii" teriak Sophie yang membuatku terbangun karena lupa jadwalku, "Cepetan berangkat, Bu Ririn lagi marah-marah soalnya ada kunjungan dari pusat, kita kekurangan personil" mata Dominique langsung terbuka lebar, ia membuang ponselnya sembarangan dan bergegas ke kamar mandi.
Dominique mandi koboi dan segera bebenah, Dominique tahu ia Terlambat bekerja__
***
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.