
Di apartemen Haiden.
"Tuan" John menghampiri Haiden membawa sebuah amplop coklat dan menyerahkannya.
Haiden membuka amplop coklat tadi, terlihat jelas beberapa foto Marissa memasuki kediaman yang sangat di kenali Haiden.
"Brengsek berani sekali dia menyembunyikan Domi-ku selama dua tahun" Haiden geram, meremas foto-foto yang di berikan John tadi.
"Sepertinya tidak seperti itu, Tuan" John menyela bicara.
"Kau membelanya" mata Haiden mendelik marah pada John.
"Tidak Tuan, saya bicara berdasarkan data"
"Maksudmu?"
"Saya menebak Nyonya kecelakaan Tuan, dan dia kehilangan ingatannya" ucap John ragu-ragu melihat perubahan ekspresi wajah Tuannya.
"Kau gila, alasan macam apa itu" Haiden yang tak bisa menerima kenyataan.
"Dia memakai identitas Marissa baru dua tahun ini Tuan, dan dia sudah menikahi Nyonya, Tuan"
"Persetan!! Aku tidak perduli, bagiku dia adalah istriku selamanya dan hanya milikku" ucap Haiden tegas.
"Bagaimana dengan pemotretan besok"
"Pemotretan di mulai jam 9 pagi dan akan selesai sesuai jadwal pukul 2, Nyonya meminta beberapa sesi sekaligus, dia ingin selesai dalam 3 hari" jelas John.
Haiden menggebrak mejanya, "Berani sekali dia berulah, bahkan tidak menatapku sama sekali. Cih hanya memberiku waktu 3 hari, lihat bagaimana aku akan membuatmu mengingat-ku Domi".
.
.
.
Keesokan harinya, di hotel tempat yang tak jauh dari lokasi pemotretan Marissa.
" Kau mau makan apa untuk siang nanti, Marissa " ucap Diana yang melihat Marissa menggigit sandwich untuk sarapan paginya.
"kau sudah bicarakan aku minta langsung di selesaikan beberapa sesi pemotretan?" ucap Marissa yang balik bertanya.
"Sudah, kita mulai jam 10 nanti" Marissa melirik jamnya yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
"Wah ternyata pemotretan jam sepuluh, lalu kenapa mereka meminta kita datang sepagi ini, padahal aku bisa tidur dan telponan dengan suamiku lebih lama" protes Marissa.
"Sudahlah, anggap saja sebagai istirahat, lagian mereka memberikan fasilitas kok. Oya, aku mau keluar cari kopi kau mau titip sesuatu?" Diana yang bersiap keluar.
__ADS_1
"Boleh, belikan kopi yang biasa serta camilan untuk-ku, aku mau lanjut tidur sebentar" Marissa yang berjalan ke arah kasur dan langsung melompat tengkurap.
"Oke, aku tinggal sebentar" Diana keluar menutup pintu.
Ceklek.
Pintu kamar di buka,
"Kenapa kembali Diana, ada yang tertinggal" ucap Marissa tetap dalam posisi tengkurap, namun tidak ada sahutan dari Diana.
Marissa melihat ada dua tangan di belakangnya, dia berbalik,
"Kau lupa sesuatu, Dia-" ucap Marissa terpotong, di hadapannya Haiden sudah menahan tubuhnya dengan kedua tangan, tatapan tajam seperti serigala kelaparan.
"Se-se-sedang apa kau di sini" ucap Marissa dengan bibir bergetar ketakutan karena di hadapannya Haiden hanya mengenakan handuk di pinggang, sepertinya Haiden habis mandi.
"Kau bertanya sayang... tentu saja aku ingin sarapan, kau tahu Dominique... aku sudah puasa selama dua tahun, dan kau tahu bagaimana rasanya berpuasa selama itu... " ucap Haiden berbisik di telinga Marissa yang terdengar seperti ancaman yang menakutkan di telinga Marissa.
"Dengar, kau salah orang, aku Marissa... bukan Dominique... " Marissa berusaha menenangkan kobaran membara di tubuh Haiden dengan menahan tubuhnya dengan kedua tangan.
"Benarkah... mari kita buktikan" seketika tangan Haiden melemparkan handuk yang membalut di pinggangnya sehingga sekarang di mata Marissa, Haiden polos.
Haiden tanpa ragu mengangkat wajah Marissa yang sudah bergetar ketakutan, "Pastikan dengan benar apakah kau benar Marissa" seringai Haiden menyapu perlahan bibir Dominique, melancarkan serangan bertubi-tubi membuat Marissa kewalahan, dia hampir tak bisa bergerak dan kehabisan nafas atas serangan Haiden barusan.
Haiden tersenyum puas, "Ternyata kau masih saja bodoh, tidak ada yang berubah darimu" satu kecupan meluncur di kening Marissa, Marissa pun kebingungan sendiri ia bahkan tak menolak ketika Haiden menciumnya.
"Lihatlah, bahkan tubuhmu lebih pintar, di bandingkan dengan mulutmu itu" sekali lagi Haiden melancarkan serangannya, kali ini lembut dan membara membuat seluruh tubuh Manusia ikutan memanas, tanpa Marissa sadari tubuhnya merespon semua serangan dari Haiden.
Marissa hanya bisa pasrah menerima semua serangan bertubi-tubi dari Haiden, kedua tangannya mencengangkan dengan erat saat Haiden melakukan penyatuan terhadap dirinya yang tak bisa dia tolak.
Satu jam berlalu, Marissa hanya bisa tertidur pulas di pelukan Haiden.
"Aku pasti akan membuatmu sadar sayang, aku pasti bisa membawamu kembali" kecup Haiden di kening Marissa sebelum dia meninggalkan Marissa.
.
.
.
"Marissa, Marissa... bangun" suara Diana membangunkannya dari balik selimut.
Marissa membuka matanya melihat keadaan sekitar dan dirinya.
"Ada apa Marissa, apa kau sakit?" Marissa melihat pakaiannya.
Ah, apa tadi aku bermimpi. Batin Marissa.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa" Marissa turun dari ranjang masih menggunakan pakaian lengkap.
"Jam berapa sekarang"
"Setengah sepuluh, apa kau mau tunda satu sesi pemotretan?"
"Tidak perlu, ayo kita ke lokasi" ucap Marissa, Diana mengikuti Marissa dari belakang.
Baru beberapa langkah, Marissa susah memegangi tembok, kepalanya terasa pusing,
"Kau baik-baik saja" suara seseorang di hadapan Marissa, Marissa menarik wajah ke arah suara, ternyata Haiden.
"An-Anda di sini juga?" sekilas kembali bayangan samar melintas di kelapa Marissa, dan dia terjatuh di pelukan Haiden. Marissa pingsan.
.
.
.
Marissa membuka mata, melihat kembali sekiling, memegangi kepalanya yang akhir-akhir ini sering sakit.
"Kau baik-baik saja" ucap Haiden yang sudah di pinggir ranjang menatap khawatir Marissa.
"Aku tidak apa-apa" ponsel Marissa berdering,
"Marissa, maaf tadi aku mengangkat telpon dari suamimu, aku bilang kau pingsan, ah... seperti aku salah bicara" ucap Diana yang merasa bersalah menerima telpon dari Willy.
"Baiklah, berikan padaku, biar aku bicara, sebelum bom meledak di kepalamu" ucap Marissa tersenyum geli melihat tingkat Diana yang ketakutan, Diana tidak ingin mengulangi kesalahan saat dulu saat pertama kali syuting pemotretan Marissa pernah pingsan dan tak bilang dengan Willy alhasil Willy marah dan hampir membunuhnya, untuk ada Marissa yang mencegah.
"Halo sayang" sapa Marissa lembut di ujung telpon.
"Kau baik-baik saja, di mana yang sakit, aku akan segera ke sana dengan Carlos" ucap Willy terdengar panik dan Khawatir.
"Sayang... aku baik-baik saja, mungkin aku terlalu lelah, jadi... tut... tut... tut... " telpon Marissa terputus.
"Bagaimana" tanya Diana dengan wajah pucat nya.
"Em... maaf sepertinya pemotretan hari ini aku undur, apa tidak masalah" ucap Marissa berbahasa formal di hadapan Haiden.
Haiden tersenyum, bahkan dia masih saja belum bisa mempercayai bahwa orang yang di hadapannya adalah orang yang sama yang dia cintai selama ini.
"Tidak masalah, kapan pun, utamakan kesehatan-mu" ucap Haiden yang terdengar sangat lembut dan pengertian di telinga Marissa. Marissa menaikan alisnya, menatap Haiden.
"Kenapa, apa kau ada merasakan tidak nyaman di tubuhmu" tanya Haiden menyiratkan arti.
"Apa?" sahut Marissa yang tidak mengerti arah pembicaraan.
__ADS_1
Haiden memajukan tubuhnya, "Apa tubuhmu merasakan sesuatu" bisiknya di telinga Marissa yang hampir tidak terdengar.
Marissa terkejut, segera menatap wajah Haiden, dia tersenyum dan mengangguk. Marissa menutup kedua mulutnya. Ternyata tadi bukan mimpi...