
"Sungguh, aku tidak apa-apa. Jangan bawa aku kesana!" Martha memohon dengan penuh penekanan. Dia tak ingin seorang pun tahu tentang penyakit yang sedang dideritanya.
Baron tak mengindahkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Dia tahu wanita itu sedang membohonginya. Dia melemparkan tubuh yang tidak muda lagi itu dengan kasar ke kursi penumpang. Setelah penyeretan yang dramatis. Tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap mereka. Seperti seorang istri yang sedang kepergok suaminya berselingkuh.
"Jangan membantah lagi, jika kau terus terusan menolakku, jangan salahkan jika senjata ini akan langsung bersarang ke perutmu!" ancamnya. Kini Baron sedang tidak bermain-main. Dia menodongkan senjata tepat disamping perutnya.
Martha sudah kehilangan akal menghadapi lelaki yang sudah berumur itu. Yang memiliki sikap dan temperamen seperti anak remaja. Merajuk kalau keinginannya tak dituruti. Dia tak bersuara. Pasrah. Hingga Baron memasukkan senjatanya kembali ke jasnya.
Dia bertanya dalam hati, pekerjaan apa yang begitu mengerikan sampai laki-laki itu harus selalu memegang senjata. Laki-laki yang sejak dulu dikenal sebagai orang yang ramah dan tekun dalam melakukan segala hal.
Terry berlari kecil ke kamar adiknya dengan penuh semangat. Melihat para pengasuh sedang menjaganya. Dia berlari kearah adik laki-lakinya terlebih dahulu. Kedua ayah dan ibunya hanya mengamati tingkah menggemaskan putra pertama mereka. Mereka melihat, Terry mengucapkan salam untuk adik-adiknya. Namun, mata Terry langsung tertuju pada bayi mungil perempuan.
Mata Terry berbinar penuh dengan perasaan yang tak bisa dia jelaskan. Anak berumur enam tahun itu, melihat bayi Jessy penuh gemas.
"Ya ampun, Mom, dia cantik dan menggemaskan. Aku senang sekali menatapnya. Dia akan menjadi Jessy kesayanganku!" Terry mengecup kening bayi Jessy dengan sangat lembut. Tatapan matanya begitu teduh dan hangat. Seolah bayi Jessy itu sudah dapat melumpuhkan semua mata yang menatapnya. Terry seolah jatuh cinta untuk pertama kalinya menatap bayi Jessy yang gemoy itu.
"Sayang, Mama mau bicara," ucap Marina memecahkan kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Dominique melirik ibu mertua kesayangannya.
"Sepertinya kau akan kesulitan dengan merawat bayi-bayimu itu. Maaf, Mama tidak bermaksud merenggut kebahagiaanmu sekarang ini, tapi Mama harus katakan karena Mama akan segera kembali bersama Papamu dan Mama ingin membawa Terry pulang bersama kami ke Inggris. Kami akan membantumu membesarkannya!" ucapan Marina benar-benar mengubah senyuman di bibirnya. Mengubah perasaannya yang sedang berbunga-bunga.
"Kalian jangan khawatir, di musim liburan sekolah kami akan membawanya mengunjungi kalian. Dan kalian dengan bebas berkomunikasi dengannya!" Marina memberikan penegasan. Menjawab pertanyaan wajah Dominique yang langsung dapat dibacanya.
__ADS_1
"Tapi, Terry baru saja bersekolah disini, Ma. Apakah dia tak akan kerepotan jika harus menyesuaikan kembali dengan lingkungan sekolah," dia tetap mencari alasan agar ibu mertuanya tak membawa Terry pergi bersamanya.
"Jangan khawatir sayang, Terry kan pernah beberapa bulan juga bersekolah disana. Dia pasti bisa menyesuaikan dengan situasinya. Lagipula, Terry seperti tidak akan keberatan dengan hal ini, iya kan, Ter?" Marina berkata dengan sangat lembut kepada anak itu.
"Uhm, don't worry, Mom. Aku pasti akan selalu menghubungimu. Lagipula, aku sepertinya akan selalu kangen dengan Jessy," ucapnya polos. Kedua suami ingin ikut berbicara. Namun, mereka mengurungkan, karena mereka tahu itu tidak akan berhasil menggoyahkan seorang Marina jika sudah mempunyai keinginan.
Dominique tak sanggup lagi berkata. Dia ingin sekali menolaknya. Namun, mengingat kembali kondisinya sekarang dengan empat bayi, pikirnya. Duanya benar-benar bayi dan duanya adalah suaminya yang selalu bertingkah seperti bayi. Dia mengurungkan niatnya.
Bukan dia mengingkari janjinya yang telah dia buat untuk Rebecca. Dia sungguh-sungguh ingin merawat dan membesarkan Terry seperti anak-anaknya.
“Apa kau yakin sayang? Setelah kau disana kau akan bisa menyesuaikan dirimu?” dia berkata dengan penuh harapan anaknya menolak ajakan ibu mertuanya. Dia berharap kata-kata itu keluar dari mulut anaknya sendiri. Jadi, dia terbebas dari perasaan memaksa anak itu untuk tetap tinggal bersamanya.
“Aku bilang, don’t worry, Mom. Aku akan baik-baik saja selama disana. Aku pasti akan segera kembali jika Jessy-ku sudah tumbuh dengan sangat cantik. Aku benar-benar tak tega kalau harus meninggalkan Jessy!” Terry membelai wajah ibunya yang berlutut dihadapannya. Meyakinkan kepada ibunya agar dia tak perlu menghawatirkan kondisinya.
“Baiklah, Mommy izinkan, tapi kapan kau akan berangkat sayang? Mommy kan baru saja keluar dari rumah sakit dan bertemu denganmu!” Dominique yang mulai merajuk. Tak ingin waktunya dengan Terry menjadi sangat singkat. Menatap ibu mertuanya.
“Dua hari dari sekarang sayang, Mama terlanjur memesan tiket keberangkatan. Kemungkinan jadwal juga tak bisa dirubah karena saat Terry sampai, dia harus segera masuk kelas. Sekolahnya sudah memasuki pembelajaran,” sahut Marina. Dia pun sebenarnya tak tega jika harus memisahkan anak itu dengan ibu angkatnya. Bagaimanapun Marina dan Simon menginginkan yang terbaik untuk cucu-cucu mereka.
“Uhm, aku mengerti, Mah!” dia dibantu berdiri oleh kedua suaminya. Sambil memegangi perut yang masih terasa nyeri diarea selangkangannya. Jahitannya masih belum terlalu kering, jadi dia masih harus tetap banyak beristirahat.
“Bagaimana hasilnya, Dok?” Baron yang sedang berhadapan dengan seorang dokter setelah memeriksakan kondisi Martha. Wanita itu tampak begitu gelisah. Dia tak ingin jika hal yang dia tutupi diketahui olehnya.
__ADS_1
“Bekas operasi jantung yang dilakukan, sepertinya sekarang sedang menunjukan gejala. Jika tidak segera diatasi kemungkinan akan terjadi komplikasi dan bisa saja menyebabkan kematiannya untuknya!” Dokter berkata dengan vonis yang membuatnya mendelikkan mata. Tak percaya dengan ucapan yang dikatakan dokter.
Suara gembrakan meja membuat Dokter tadi terkejut. Dia tak menyangka akan mengalami peristiwa yang mengejutkan dari pasiennya. Namun, diluar dugaannya, Baron mengeluarkan senjata dan menodongkan di kepala dokter tadi.
“Apa kau yakin dengan ucapanmu barusan? Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?” dia sudah menarik pelatuknya. Membuat Martha spontan beranjak dari duduknya. Menyentuh tangan laki-laki tua yang masih terlihat gurat ketampananya itu.
“Apa yang kau lakukan? Turunkan senjatamu!” Martha berkata dengan penuh penekanan sekaligus memohon padanya.
“Hah, apa kau bilang? Turunkan? Dia berkata soal kematian denganku, apa aku tidak salah mendengarnya?” Baron tetap bersikeras dengan penderiannya. Dia tetap tak menurunkan senjata itu dari kepalanya.
“Kau, bisa bertanya apapun padaku. Oke? Aku setuju untuk kembali denganmu!” dia berkata, Baron mengalihkan pandanannya saat mendengar Martha mengucapkan kata-kata yang mungkin saja beberapa saat lalu dia ingin mendengarnya. Namun, saat dia mengetahui kondisinya. Ingin sekali dia segera menarik pelatuk yang sedang diarahkan pada kepala dokter itu. Otaknya panas seakan ingin meledak. Seperti lahar gunung merapi yang akan membuncah.
Perlahan dia menurunkan senjatanya. Martha segera menarik lengan Baron yang mengancam dokter tadi dan keluar dari ruangannya.
“Kita mau berbicara dimana? Apa yang ingin kau tanyakan, aku akan menjawabnya. Apapun yang ingin kau ketahui, kau bisa bertanya padaku!” Martha mengusap dadanya yang kembali terasa nyiri saat dia berkata dan tangan satunya mencengkram erat lengan Baron.
“Kau benar-benar wanita yang sungguh merepotkan!” hardiknya. Namun, entah kenapa gerakan tubuh Baron tak sesuai dengan umpatannya. Dia mengangkat tubuh Martha seperti pengantin baru. Berjalan keluar dari rumah sakit dan menjadi santapan mata semua orang.
Markus segera membukakan pintu mobil saat melihat keduanya mendekat. Matanya hampir tak percaya kalau tuan yang dikenal berhati dingin dapat melakukan sikap yang sangat diluar nalar. Bersikap romantis untuk pasangannya.
Apa aku tidak salah melihat? Aku sepertinya harus memeriksakan kondisi mataku, sekali-kali! Markus masih menggelengkan kepalanya saat dia menutup kursi penumpang dan kembali ke kursi kemudi. Menunggu perintah dari tuannya.
__ADS_1
“Kita kembali ke hotel, Markus. Dan kau segera urus semua surat-suratnya. Besok kita akan pergi ke catatan sipil!” Martha menolehkan kepalanya.
“Apa? Aku tidak perlu persetujuan darimu. Kau sendiri yang bilang akan kembali kesisiku. Jadi, apapun yang kulakukan, kau tidak bisa protes!” deliknya. Dia tak ingin lagi melakukan kesalahan. Baron tidak ingin menyesal, jika harus mati, wanita itu harus mati disisinya.