
Saat naik ke loker, Dominique dikejutkan oleh Justin yang menunggunya.
Dominique menganggukan kepala dan melewatinya.
"Aku antar pulang ya, Aku kangen makan nasi goreng langganan kamu" ucap Justin membuat langkah Dominique terhenti sesaat, lalu masuk ke loker nya, mengambil baju dan masuk ke kamar mandi.
"Domi, kau kenapa? Apa aku buat salah?" tanya Justin yang mencegah Dominique turun.
"Maafkan aku, aku pulang sudah ada yang jemput" Dominique terpaksa harus mengeluarkan perkataan pedas agar Justin tidak lagi berharap padanya.
"Tidak mungkin, kau pasti bohong, kau hanya ingin menghindari_ku kan" Justin yang tidak menerima keputusan sepihak dari Dominique.
"Sungguh, aku meminta maaf, aku benar-benar tidak bisa" Dominique menghempaskan tangan Justin yang terus memeganginya.
"Apa salahku, katakan! Jika ada yang perlu aku perbaiki, aku pasti akan memperbaiki_nya" Justin yang terlihat kacau, perasaannya langsung hancur.
"Kamu tidak salah, aku yang salah, maafkan aku, aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita lagi" Dada Dominique terasa sesak, bagaimapun ia dulu sangat mengharapkan Justin jadi bagian kehidupannya,
bagian yang menemani seluruh harinya.
Dominique bergegas turun tidak menghiraukan lagi perasaan Justin.
ah, kacau, semua ini gara_gara pria gila itu, kalau dia tidak memaksa dan mengancamku, aku tidak mungkin seperti ini__
Saat Dominique berjalan keluar parkiran ruko, berniat naik angkot ke rumah sewanya, terlihat mobil Haiden sudah bertengger, dan John tengah bersiap membukakan pintu mobil saat kedatangan_ku.
Dominique celingak celinguk sendiri, ia masih merasa tidak enak kalau orang yang melihat_nya.
ah, seandainya aku bisa lari, aku akan kabur sejauh mungkin.
Dominique melangkah masuk ke dalam mobil, Justin yang memang menyusul Dominique, matanya menyipit saat melihat Dominique naik ke dalam mobil.
Oh, rupanya ada pria yang lebih mapan dan kaya ketimbang aku. Justin.
Haiden melirik Dominique yang tidak bicara sepatah kata pun.
"Apa aku telat menjemput_mu" Haiden memulai pembicaraan.
"Tidak" saut Dominique singkat.
"Lalu, kenapa dengan wajah_mu? Kau tidak senang suami_mu datang menjemput?" Haiden menatap Dominique tajam, yang masih memalingkan wajah dari Haiden.
Cih, suami, aku terpaksa menikah dengan_mu, ingat itu, bangga sekali kau dengan sebutan suami.
"Tidak" saut Dominique singkat lagi.
Haiden kesal, ia sengaja menggeser duduknya, mendekati Dominique, menggodanya.
Dominique beringsut tidak ingin di dekati Haiden.
"Apalagi lagi ini, kau menolak_ku?" Seringai Haiden.
John hanya melirik pertengkaran kecil Tuannya dari kaca depan.
"Tidak"
"Ahhh" Haiden langsung menarik Dominique ke pelukannya, "Daritadi kau hanya jawab, tidak, tidak dan tidak. Kau masih marah denganku, hah" nada suara Haiden berubah menjadi mencekam.
sudah tahu aku masih marah, malah ditanya, sebal, sebal, sebal__
"Iden, aku lelah, tolonglah mengerti" Dominique mulai mengiba, tanpa melihat wajah Haiden.
__ADS_1
"Apa itu cara_mu memohon, hah" Haiden mencengkam wajah Dominique agar menatap wajahnya.
"ah, sakit, lepas iden, kau menyakiti_ku" renggek Dominique.
Haiden melepaskan perlahan cengkramannya, "Kau tidak usah macam_macam, turuti semua perkataan_ku, tidak usah membantah.
kau pasti tahu sendiri akibatnya kalau sampai membantah kemauan_ku" Dominique pasrah tidak ingin berdebat.
Mobil memasuki kawasan apartement elite, Haiden memboyong Dominique masuk ke dalam apartement_nya,
John mengikuti dengan membawa banyak bungkus makanan.
Saat pintu apartement dibuka, mata Dominique berkeliling, walaupun ini pertama kalinya, Dominique langsung mencari sofa dan menghempaskan tubuhnya,
ah, penjara cinta Haiden dimulai. pekik Dominique dengan tubuh tengkurap di sofa.
Ia tidak memperdulikan Haiden yang sibuk menata meja makan dan mengisi mejanya dengan bungkusan yang dibawa John tadi.
"Ada yang perlu saya bantu lagi Tuan" John yang tahu tidak ingin menggangu kesenangan Tuannya.
"Aku mau cuti satu minggu dan tidak ingin diganggu" perintah Haiden.
"Baik Tuan, semua sudah saya atur, selamat bersenang_senang Tuan" John menyeringai Tuannya.
"Jangan hubungi aku, kalau bukan urusan yang mendesak"
"Baik Tuan, saya tinggal dulu" Haiden mengantar John sampai pintu.
Haiden melirik Dominique yang tengkurap di sofa, tak lama setelah mandi ia keluar hanya dengan handuk membalut di perutnya.
"Kau mau bangun atau aku akan memakan_mu disini sekarang" bisik Haiden ditelinga Dominique,
"Akh, kau kenapa tidak pakai baju" Dominique terperanjat duduk, menghindari Haiden yang berdiri menatapnya.
"untuk apa pakai baju, nanti juga aku lepas semua__" seringai_nya.
"aaakkh, diam!" Dominique menutup Telinganya.
"Kau pikir aku wanita apa, hah" dengus Dominique kesal, berdiri berkacak pinggang di hadapan Haiden.
"heemm__wanita ya, bukankah sekarang kau istriku, ini malam pertama kita, sudah seharusnya kau menjalankan kewajiban_mu sebagai istri"
"akh, kau gila, jangan mendekat!" Dominique menyilangkan tangannya didada.
Haiden malah tertawa geli melihat tingkah Dominique.
"Apa, apa, kenapa kau tertawa"
Haiden mendekat, meraih pinggang Dominique ke pelukannya.
"Sudah, mandi sana, kau tidak lapar" ucap Haiden lemah lembut.
Dominique mengerutkan dahinya,
ah, kenapa sikapnya manis sekali, dia pasti sedang menjebakku.
Haiden melepaskan pelukannya, "Ayo mandi, baju sudah aku siapkan diatas tempat tidur, kamar mandi_nya disana" tunjuk Haiden, Dominique seperti terhipnotis, menuruti kemauan Haiden.
Dominique berjalan keluar memakai baju handuk, ia melirik Haiden sedang di balkon apartement menerima telepon seseorang.
Aku melihat baju yang ada di atas tempat tidur.
__ADS_1
Baju apa ini, ini sama saja aku tidak pakai baju.
"Ideenn" Dominique berbalik dan Haiden langsung memeluk Dominique.
"Kenapa, kau rindu padaku" seringainya.
"Mana baju_ku"
"itu" tunjuknya dengan menaikan satu alis.
"Kau gila, masa aku pakai baju seperti itu" Dominique yang menolak mengenakan.
"nanti juga pasti di lepas, atau kau tidak usah memakainya sekalian" tantang Haiden.
"Ideen" Dominique merajuk.
"Heem"
"Aku nggak mau pakai baju itu, aku belum siap" Dominique memelas.
"Siap tidak siap, kau sekarang istriku, cepat atau lambat, besok atau lusa, kau tetap harus menjalankan kewajiban_mu sebagai istri" tuntut Haiden.
"iya, iya, tapi aku mohon__jangan malam ini yaa__please" Haiden mengusap rambut Dominique.
ah, kenapa dia tambah manis sekali, tahan Haiden, jangan memaksanya, rasanya akan lebih nikmat kalau kau tidak memaksanya.
"Heem__aku tidak bisa janji sayang, cepat ganti baju_mu, atau aku akan memakan_mu sekarang juga" Dominique lemas, melepaskan pelukan Haiden mengambil baju yang disiapkan Haiden tadi.
Pakaian menerawang tanpa sehelai benang pun.
Haiden menelan salivanya sendiri. Tahan Haiden. Tahan.
Berusaha menghilangkan nafsu yang tergambar jelas diwajahnya, Haiden membuka handuknya di hadapan Dominique, ia sengaja memperlihatkan seluruh tubuhnya pada Dominique.
Dominique segera menutup matanya, berpaling dari Haiden, yang wajah Dominique pun sudah memerah.
Ah, sial, tubuhnya, kekar dan berotot__
Dominique.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Silence
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca
__ADS_1