MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Pacarku Tersayang


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu, ulah Haiden semakin menjadi, bak seperti seorang sultan Dominique harus bersedia melayani dan menuruti semua Kemaunnya.


Dominique selalu di antar dan jemput oleh Haiden, sampai disekolah membawakan tas Haiden, melayani makan siang terkadang minta disuapi, mengerjakan tugas-tugas Haiden.


Bahkan saking begitu banyak ulah dan tugas-tugas Haiden yang tidak jelas sering membuat Dominique kecapean dan ketiduran,


yang Dominique tidak ketahui saat tertidur, Haiden selalu menjaga, melindunginya, bahkan bersuarapun Haiden larang.


Kejadian itu berlangsung sampai tiga bulan, orangtua Haiden mengetahui perilaku anaknya dan menentang hubungan mereka, walaupun mereka masih beranggapan Haiden menyukai Dominique pasti hanya sesaat dan tidak serius.


Saat kenyataan diketahui Haiden serius dengan hubungan itu, orangtua Haiden langsung mengambil langkah mengirim Haiden ke Inggris, mereka tidak ingin anak tunggal dan sekaligus pemilik puluhan perusahan berhubungan dengan perempuan rendahan.


Haiden yang mengetahui siasat orangtuanya menyetujui dengan satu syarat, bahkan Haiden menulis perjanjiannya dengan Orangtua menggunakan materai agar orangtua tidak bisa melanggar atau mengingkarinya.


"Aku pasti kembali" Janji Haiden mengecup kening Dominique sebelum Haiden benar-benar menghilang dari pandangan mata Dominique.


Pergi, pergilah yang jauh, kalau perlu tidak usah kembali.


flashback off.


"Bagaimana Kau menyetujui tawaranku kan? " Haiden yang membuyarkan lamunan Dominique.


"Semua syaratmu akan kupikirkan tapi tidak sekarang" Dominique memalingkan wajahnya dari Haiden, menjawab lirih dan malas.


"Kau tahu dengan jelas aku tidak suka menunggu"


"Iden__please kasih aku waktu"


"Lima menit dari sekarang"


"Ideeenn" Teriak Dominique.


"Baiklah, kita mulai saja dengan menemaniku tidur"


Haiden mengangkat tubuh Dominique ala bridel style.


"Akkh___Ideen, aku belum siap"


Ucap Dominique dipelukan Haiden saat memasuki kamar Dominique.


"Belum siap"


Haiden melemparkan tubuh Dominique ke kasur, membuka kemeja dan celananya, menatap Dominique yang ketakutan mundur menghindari Haiden yang sudah naik ke kasur, lalu menyentil kening Dominique


"Kau jadi agresif sekarang, tenang saja permohonanmu yang barusan pasti akan kukabulkan, tapi untuk sekarang aku sangat lelah dan mengantuk" Menarik tubuh Dominique kedalam pelukan Haiden,


Haiden mengelus dan mencium kening Dominique dan tidak lama Haiden benar-benar sudah tertidur.


Dominique menatap wajah dewa dihadapannya, sangat damai dan nyaman.


Seandainya kau bersikap seperti ini terus mungkin aku bisa jatuh cinta padamu.


Wajah Dominique memerah, malu segera menutup wajah dengan kedua tanganya.


ah, pikiran gila macam apa itu, bagaimana Aku bisa berpikiran seperti itu__


. . . .


Terdengar pintu kamar Dominique diketuk, Dominique merentangkan tangan dan kaki nya, matanya langsung terbuka dengan lebar__


akhh. Teriak Dominique dihati, Aku lupa ada lelaki gila ini.


Dominique bergerak pelan dan sangat hati-hati, Dominique mengangkat pelan tangan Haiden yang ada diperutnya. Saat berhasil akan beranjak pergi, Haiden terbangun dan memeluk tubuh Dominique dari belakang.

__ADS_1


Ah, dia bangun.


"Masih pagi, Mau pergi kemana?" wajah Haiden berkeliaran di leher dan berbisik lirih ditelinga Dominique, membuat bulu kuduk Dominique bergidik.


"Aku mau buka pintu dan mencari sarapan" jawab Dominique terus menjauhkan tubuhnya, mata Haiden mendelik dengan tajam.


"Kau mau pamerkan tubuhmu ini dengan orang lain, hah" eratan gigi Haiden terdengar jelas di telinga Dominique ketika tubuhnya ditarik lagi ke pelukan Haiden.


Ah, sial bagaimana Aku bisa lupa dengan pakaian ini.


"A__aku ganti baju dulu"


"John" teriak Haiden, seketika pintu kamar Dominique dibuka, Dominique menarik selimut menutupi tubuhnya.


John masuk menatap Tuannya yang segera turun dari kasur, John sudah terbiasa melihat Tuannya seperti itu, bahkan mungkin tanpa sehelai benangpun.


Ya__ampun kapan dia buat tato, sepertinya ditangannya dulu tidak ada tato, dan itu di dadanya juga__


Dominique menelan salivanya, baru sadar melihat dengan jelas tubuh Haiden


Sepertinya hari ini akan berjalan lancar. John.


"Baju ganti dan sarapan Tuan sudah disiapkan, Tuan Mau langsung sarapan atau__"


"Aku mau mandi dulu" John langsung Keluar kamar. "Domi, dimana handukmu?" Dominique yang tersentak segera turun dari kasur berjalan Keluar membuka pintu.


Shit, ah, sial. Haiden segera mengejar Dominique Keluar kamar, Haiden langsung memeluk tubuh Dominique.


"John" Haiden menatap murka John, untungnya John yang tahu Dominique keluar kamar segera membalikkan badannya ke tembok.


"Ternyata kau tahu diri" Seringai Haiden.


Tentu saja Tuan, mana berani Aku menatap tubuh Nona Dominique.


"Masuk dan tunggu Aku di kamar" perintah Haiden, Dominique menuruti segera masuk ke kamarnya.


ccih, kau yang menyuruhku berpakaian seperti ini, sekarang kau sendiri yang ribet.


Dominique meraih ponselnya di meja, membuka sebuah pesan dari Sophie.


"Domi, kau sakit apa, sampai tidak bisa masuk kerja?"


Sakit? Apalagi ini?


"Kamar mandimu kecil sekali, Aku tidak suka, cepat ganti pakaianmu kita pergi sekarang" Gerutu Haiden saat masuk ke kamar Dominique sambil mengancingkan kemeja bajunya.


Dominique tidak menjawabnya, hanya menatap geram Haiden.


"Apalagi yang kau tunggu, hah"


Dominique membalikkan badannya, bergulung ketempat tidur dan menarik selimut menutupi semua tubuhnya.


"Dominique" teriak Haiden.


"Aku sakit tidak bisa pergi kemana-mana" saut Dominique dari balik selimut.


Haiden tersenyum geli melihat tingkah Dominique.


"John"


"Saya pikir Tuan perlu waktu lebih lama dengan Nona Dominique jadi saya memberitahu Nona Dominique sakit ke tempat kerjanya"


"Kerja bagus, Aku suka, kau tunggulah dulu diluar" senyum simpul keluar dari wajah Haiden.

__ADS_1


"Oya, John" John menghentikan langkahnya, "Lain kali jangan bilang sakit, tapi berhenti bekerja" ucap Haiden.


Dominique mengeluarkan kepalanya dari balik selimut


"John, awas saja kalau kau berani melakukannya, Aku cekik kau sampai mati" mata Dominique mendelik marah.


Haiden menghampiri kasur Dominique, "Ayo turun kita sarapan" ajak Haiden.


Dominique menggelengkan kepalanya,


"Kau sudah berani menentangku?"


"Kau janji dulu, beri Aku waktu akan syaratmu, kalau tidak lebih baik Aku mati kelaparan" Dominique yang membuat penawaran, tapi perutnya berbunyi dengan keras.


Ah, perutku malah tidak bisa diajak kompromi.


Dominique menahan malu di wajahnya.


Haiden tersenyum lagi melihat tingkah marah Dominique.


"Berikan ponselmu"


"untuk apa"


"Berikan" tangan Haiden terulur meminta ponsel Dominique.


Dominique memberikannya dengan tidak rela. Haiden memasukan nomor ponselnya, menghubungi ponselnya, lalu memberikan nama pada ponsel Dominique dan melemparkannya kepada Dominique.


Haiden mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menyimpan nomor dan memberi nama khusus untuk Dominique.


Haiden melakukan panggilan pada ponsel Dominique. Dominique melirik ponsel dalam genggaman tangannya, melihat tulisan pada layar ponselnya__


Pacarku Tersayang


Akh, Dominique melemparkan ponselnya ke tempat tidur.


"Angkat" seru Haiden mendelik kesal melihat tingkahku barusan.


Dominique meraih ponselnya, menempelkannya ditelinga.


"Puaskan Aku hari ini, memohonlah, Aku mungkin masih bisa mempertimbangkan" Haiden memutus telpon dan keluar kamar Dominique.


Gila, dia memang benar-benar Gila.


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2