
Will hanya mampu mengusap punggung istrinya. Berusaha menenangkan hatinya yang sedang bergejolak. Dia pun belum berani mengeluarkan banyak kata.
“Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku hanya ingin kau tak terluka dengan kehadirannya,” Haiden masih mencoba membujuk istrinya yang terus memalingkan wajah darinya.
“Mengertilah aku resah. Atau mungkin sebenarnya aku sekarang sedang cemburu. Ya ... aku cemburu padamu, karena sampai saat ini kau masih saja membelanya. Bukan aku!” Deraian air matanya makin deras. Haiden merasa serba salah. Dia melirik rivalnya, meminta bantuan untuk menenangkan hati istrinya. Dia tahu bujuk rayunya saat ini tidak akan mampu menggoyahkan hatinya yang sedang terluka.
“Sayang, sudahlah. Jangan terus kau bahas kalau hanya akan membuatmu bertambah sakit. Bagaimana kalau kita-“ bisiknya. Membuat Haiden menautkan kedua alisnya.
“Sungguh? Kau akan menemaniku?” ucapnya. Wajahnya berubah sumringah setelah mendengar bisikan dari Willy.
Cih, apa yang dia janjikan? dengusnya sedikit kesal. Karena istrinya langsung luluh begitu saja.
“Asalkan kau senang. Aku akan menemanimu,” Willy tersenyum lebar penuh arti.
“Kau bicara apa dengannya?” akhirnya rasa penasaran lebih besar daripada gengsi.
“Aku hanya mengizinkan dia untuk berbelanja sepuasnya,”
“Benarkah? Semudah itukah kau di rayu, hah?” dia masih menatap wajah istrinya yang langsung berubah setelah ucapan Willy. Istrinya hanya manggut-manggut. Dia menunjukkan sederet gigi putihnya. Air matanya pun sudah kering seperti tak pernah menangis sesegukan.
“Aku akan mengganti baju. Kau tunggu saja. Oke?” Dominique berlari pelan kearah kamarnya, “Sop, ayo kita jalan-jalan,” teriaknya. Namun, dia tetap masuk ke dalam kamar.
“Sungguh kau hanya mengizinkannya berbelanja? Tidak ada hal lain?” Haiden bertanya kembali. Dia masih meragukan ucapan yang keluar dari rivalnya itu.
“Uhm, tentu saja. Kau fikir aku sebodoh dirimu. Wanita tak berguna seperti itu saja masih kau sembunyikan. Harusnya kau langsung bilang padaku. Aku pasti melenyapkannya tanpa sisa,” Willy menyombongkan diri sambil melipat kedua tanganya didada karena telah berhasil membujuk istrinya.
"Kau!" delik Haiden.
“Sudah aku malas berdebat denganmu. Kau mau ikut kami? Atau?” dia bersiap melangkah.
“Pergilah. Jaga dia. Aku sudah berjanji pada diriku akan memberikanmu kesempatan. Satu tahun. Paling lama, ingat itu,” Haiden menepuk pundak Will dan pergi. Walau Will tak suka dengan perkataan yang keluar dari mulut rivalnya. Dia memang harus sudah mulai menyusun sesuatu agar istrinya nanti tidak terlalu kehilangan dirinya.
“Dimana Sophie, Di?” dia celingak celinguk saat melihat Diana sudah bersiap menemaninya.
“Uhm, sepertinya aku belum melihatnya. Mungkin dia masih di kamar.”
Dominique menghampiri kamar Sophie. Membuka kamarnya, kembali berkeliling. Namun, teman seperjuangannya itu belum di temukan. Dia mencoba menghubungi Sophie. Tetap tidak tersambung. Bahkan nomor telponnya tidak aktif.
__ADS_1
“Apa dia pergi keluar bersama dengan para suaminya juga, Di?” kembali dia bertanya tentang keberadaan temannya.
“Mungkin?” Diana menaikan kedua bahunya.
“Baiklah, sepertinya mereka juga tidak ingin diganggu. Kita berangkat saja,” dia menggandeng tangan Diana pergi bersama dengannya.
“Uhm, bagaimana dengan bulan madumu Diana? Apa Carlos sudah berencana mengajakmu ke suatu tempat?”
“Aku belum tahu. Dia belum membahas apapun. Dia sedang sibuk di rumah sakit barunya sekarang,” semenjak pindah Carlos memang sudah menjadi bantuan di salah satu rumah sakit. Dia sudah meminta izin Willy. Namun, prioritas utama, kapan pun, dimana pun, sedang apapun dia, dia harus segera datang ketika suaminya itu memanggilnya.
Will sudah menyandarkan tubuhnya. Menunggu kedatangan istri tersayangnya.
“Jangan ganggu kami, kau naiklah mobil yang di belakang,” perintahnya saat membukakan pintu untuk sang istri. Diana hanya mengangguk.
“Kenapa harus terpisah sih? Aku kan masih mau mengobrol dengannya,” Will menekan tombol penutup untuk di kursi kemudi dan menaikan istrinya kepangkuan.
“Apa masalah seperti ini harus aku ucapkan juga sayang. Aku kangen tahu. Semalam kau meninggalkan aku tidur setelah mengobrol,” Will mulai menagih jatah semalamnya yang terlewat.
“Huh kau ini masih saja mengingat,” kecut sudah wajahnya.
“Ugghh!” Dia melepaskan pagutan di bibir istrinya.
Pluk
Will meletakan kepalanya di pundak istrinya.
“Ayo kita pulang saja sayang. Kau melahirkan disana ya,” dia berusaha membujuk istrinya untuk kembali pada kediaman mereka.
“No. Satu tahun. Paling lama, setelah itu kita kembali kembali. Oke?” sahut istrinya. Willy tak bisa menjawab. Dia hanya terdiam. Hatinya yang kembali terusik oleh permintaan istrinya.
Semoga aku bisa membahagiakan dirimu sebelum aku pergi, sayang.
“Oh, kau tahu kemana pengantin baru pergi?” Dia menautkan alisnya.
“Maksudku, temanku, John dan Ramon pergi?”
“Entahlah, mungkin mereka sedang menyewa satu kamar pressident suite untuk merayakan kebahagiaannya.”
__ADS_1
“Ah, aku juga mau. Kau kan janji akan mengajakku liburan, kapan?”
“Uhm, kapan kau mau? Atau bagaimana kalau sekarang saja? Kita bisa menikmati gangguan tanpa adanya orang ketiga,” Will cengar cengir.
“Hahahaha, Iden kan bukan orang ketiga sayang,”
“Tetap saja. Aku muak berbagi kamar dan kamu,” satu kecupan mendarat di kening istrinya. Membuat wajahnya merah padam.
“Bagaimana? Anggap saja hutang liburanku padamu,” bisiknya mendayu sambil mengigit kecil telinga istrinya. Dia bahkan hampir saja terjebak. Tak bisa menolak kemauan suaminya.
“Akh, tidak mau! Aku mau makan jengkol sayang. Aku akan membuatnya di rumah,” sahutnya.
“Jengkol? Apa itu?” Will terlihat kebingungan dengan sikap semangat istrinya ketika membicarakan tentang jengkol.
“Rendang jengkol sayang, enak banget pokoknya. Aku jamin setelah kau memakannya pasti ketagihan.”
“Benarkah?”
“Uhm, aku sudah tidak sabar nih,” dia setengah mengeluarkan air liur saat membicarakan lagi rendang jengkolnya.
Dominique sudah lama sekali tidak makan jengkol. Apalagi rendangnya dengan bumbu yang sangat kental dan pedas. Sudah tak sabar dia mencicipinya dengan nasi hangat.
“Hei, lihat air liur-mu itu sudah mau menetes,” goda Will.
“Ih apa sih,” dia menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
Mereka sampai pada satu pusat perbelanjaan terbesar. Dominique penuh semangat menggandeng suaminya masuk. Di ikuti oleh Diana dan tentu saja beberapa pengawal yang selalu berjaga jarak dengan mereka.
Diana sudah membawa satu troli. Sedangkan Dominique sudah mulai berjelajah. Dia memulai dari counter sayur mayur, tentu saja sasaran empuk yang pertama adalah jengkol.
“Kau sungguh akan membuat rendang jengkol? Apa kau bisa membuatnya sayang?” will yang terus berada disamping istrinya. Memantau semua belanjaan yang dia pilih.
“Kau meragukanku? Begini-begini aku bisa masak loh. Kau saja yang selalu melarangku karena sudah ada koki di rumah,”
“Uhm, aku tidak ingin kamu kelelahan sayang. Kau hanya cukup melayaniku saja sampai puas di ranjang,” Will setengah menundukan wajahnya saat berbicara.
“Huss, kita sedang di tempat umum. Jangan bahas masalah seperti itu,” tangannya mengambil salah satu sayuran dan melemparkan pada troli yang di bawa oleh Diana.
__ADS_1