MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Bukan Boneka


__ADS_3

"Kami pamit dulu ya, sayang. Lain kali kami akan mampir lagi kesini," Marina memeluk tubuh sang menantu saat dia akan berpamitan.


"Sudah sangat malam Ma, kenapa kalian tidak menginap saja?" Dominique yang enggan berpisah dengan sang ibu mertua.


"Hohoho, jangan sekarang ya. Ada yang akan marah denganku kalau malam ini aku menginap disini," sang ibu mertua menaikan satu alisnya kepada sang ayah mertua. Sang menantu hanya bisa melihat tingkah sang mertua yang tetap terlihat mesra walaupun di usia mereka yang tak muda lagi.


"Ehem, sudah jangan lama-lama. Aku sudah sangat lelah dan mengantuk," sang ayah mertua berdeham. Menarik tubuh sang ibu mertua dari pelukan sang menantu.


"Kau cemburu? Dia ini anak menantu kita sendiri loh."


“Aku tidak cemburu, aku bilang sangat lelah. Kau mengerti!” sang ayah mertua memalingkan wajah yang memerah.


Purf


Haiden terkekeh sinis melihat tingkah sang ayah. Mereka terlihat mesra seperti anak muda. Dominique dan kedua suami mengantar kepergian orangtuanya sampai di pekarangan rumah mereka.


Hurf


Akhirnya Dominique bisa bernafas lega. Kedatangan orangtua sang suami yang sempat membuatnya terpojok dan mati kuta. Sekarang secara alami bisa menerimanya dan kehadiran kedua suaminya itu.


“Sayang,” Haiden mulai berbisik mesra dan menggandeng pinggang  istrinya.


“Akh, aku lupa. Sophiee!” dia segera menghindar dan berlari kedalam.


“Sophiee,” Dominique berteriak lantang saat dia sudah melihat temannya terlihat kesulitan dengan dua suami yang sedang menariknya paksa masuk ke dalam kamar.


“Domii, tolong aku,” dia menghempaskan tangan kedua tangan suaminya yang sedang memegangi lengannya. Melompat ke dalam pelukan Dominique.


“Nyonya tolonglah lepaskan istri kami. Biarkan dia beristirah,” John dan Ramon maju menghampirinya.


“STOP! Malam ini aku mau mengobrol dengannya. Jangan ganggu kami. Kemarin kalian sudah menganggu waktu kami,” protes Dominique. Di ikuti anggukan dari temannya.


“Tuh kalian dengar sendiri kan. Jadi, jangan ganggu aku malam ini,” tambah Sophie.


“Ayolah sayang, janan terus menghindar seperti ini. Bukankah kau masih ingin tetap bekerja,” Ramon memberikan penawaran.


“Biarkan mereka sayang, kita juga masih ada urusan kan?” Will sudah di belakang istrinya.


“Tidak. Malam ini saja, aku mohon. Lepaskan kami, please!” wajahnya mengiba pada Haiden meminta persetujuannya. Haiden mengelengkan kepala.


“Cih, kau fikir aku mudah kau bujuk. Semalam seenaknya kau meninggalkan kami tidur!” dengus Haiden.


“Akh, kan semalam sudah perjanjian. Kita hanya akan mengobrol!”


“Saya mohon Nyonya, izinkan proses pembuatan kami berjalan dengan lancar. Kami pun ingin segera memiliki momongan seperti anda,” kini John terlihat tak sabar. Ia menarik perlahan tangan istrinya. Yang masih menolaknya dengan gelengan kepala.


“Ayo sayang, aku janji. Besok kau bisa bekerja. Aku sendiri yang akan mengantarkanmu,” John tak mau kalah saat membujuk istrinya. Dia tahu saat keinginan istrinya saat ini adalah diizinkan untuk bekerja.


“Sayang, ayo biarkan mereka,” Will menyambung bicara tak mau melepaskan kesempatan malam ini lagi.


“Diam kau, Will. Jangan ikut campur,” hardiknya mendelik pada kedua suaminya secara bergantian.


“Sayang ayo, jangan ganggu Nyonya lagi,” John memberi kode mematikan pada Sophie.

__ADS_1


“Ka-kalian tidak akan membohongi-ku kan? Aku boleh bekerja besok?" Sophie yang tergoda bujuk rayu kedua suaminya.


"Tentu saja. Kalau kau memang tidak percaya, kami berdua akan mengantarkanmu. Bagaimana?" dia mendelikkan matanya saat bilang keduanya akan mengantar.


"Tidak. Aku tidak mau kalian antar. Aku ingin berangkat kerja sendiri dan naik ojek online," Sophie melakukan negosiasi kepada dua suaminya.


Huh, berani sekali dia tawar menawar di hadapanku. Lihat saja, tidak akan kubiarkan kau tidur nyenyak malam ini. dengus John.


Ck, ck. Kau sedang menguji kesabaranku. Benar-benar gadis pintar. Ramon tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.


"Ayo sayang, lepaskan. Kita kembali ke kamar," Will kembali angkat bicara.


"Ish, kalian tidak ada yang membelaku!" Dominique melepaskan pegangan tangannya. Menghentakkan kakinya dengan kesal. Malam ini dia pun harus kembali mengalah.


Huh, susah sekali aku terbebas. Aku harus cari alasan apa lagi malam ini? Masa sih pura-pura sakit perut?


Dominique berjalan kesal ke kamarnya. Dia masuk kamar mandi dan mencuci wajahnya.


Eh, ini? dia tersenyum keluar dari kamar mandi.


Kedua suaminya terlihat sudah sangat menantikan kejadiannya. Wajah cemberutnya berubah menjadi senyuman seindah bunga mawar yang sedang merekah. Dia menghampiri lebih dulu suaminya yang terlihat sangat menantikan kehadirannya. Sedikit menggoda, dia berjalan lenggak lenggok seperti seorang model. Memasang senyum genitnya yang membuat kedua suaminya bergidik ngeri.


"Ada apa denganmu? Kau salah makan?" dengus Haiden. Dia terlihat tak menyukai tingkah istrinya yang berlagak genit.


"Memang aku salah ya kalau bertingkah seperti ini? Apa kalian tidak menyukai sikap agresifku ini?" dia kembali mengkerlingkan satu matanya. Menggoda dan merayu.


"Hentikan sayang, kau lihat buluk kudukku berdiri melihat kau seperti ini," Will menunjukkan lengannya. Dia sangat tidak menyukai istrinya bersikap genit seperti itu.


"Ayolah," Dominique memulai aksinya naik kepangkuan Haiden terlebih dulu. Sesaat dia terpesona oleh kecantikan istrinya. Walaupun sedikit liar, ternyata dia pun penasaran dengan penampilan istrinya yang akan menservicenya.


"Arrrggghhh! Dominique. Kau gila pergi sana!" Haiden berteriak histeris. Spontan tangannya mendorong tubuh istrinya. Will dengan sigap menangkap tubuh istrinya.


"Aramgyan, kau gila. Ingat istriku sedang hamil," delik Will. Dominique tersenyum puas di balik pelukan sang suami yang sedang membelanya. Yes. Berhasil. umpatnya.


"Arrrggghhh, maaf Bunarco. Aku bukan sengaja," segera dia meminta maaf karena lupa diri.


"Kau tidak apa-apa, sayang?" dia menjawab dengan pelukan.


Apa mataku tidak salah lihat? Sejak kapan dia menjadi pintar bersandiwara. Cih, dasar jengkol menyebalkan. Baunya sungguh membuatku ingin muntah.


Sang suami tak mampu berkata. Dia kalah dengan strategi istrinya.


"Perutku sedikit sakit, Will, sepertinya bayi kita sedang tidak ingin di ganggu."


Doeng


Kini Will yang kebagian sakit bagian atas dan  bawah.


Dasar Aramgyan kurang ajar. Malam ini aku harus puasa lagi. dengusnya kesal.


"Kita seri bro!" cibir Haiden.


Hihihi, aku berhasil. Untuk aku punya strategi jengkol. Uhuy, kalau tidak ada senjata ini. Mereka pasti sudah mengasak habis diriku.

__ADS_1


Dia merebahkan tubuhnya perlahan. Mengelus perutnya. Dan tersenyum puas dalam hati.


"Kalian harus suit. Yang menang hanya boleh satu kali saja. Aku tidak mau terlambat dan kelelahan sehingga tidak masuk bekerja besok pagi." Sophie berkacak pinggang di hadapan kedua suaminya yang tengah bersiap.


"Aku tidak setuju. Kalau harus suit, hanya akan ada satu orang saja. Dan yang kalah pasti menderita. Aku mau kau adil terhadap kami," Ramon membuka suara lebih dahulu. Protes tidak setuju.


"Aku juga tidak setuju. Pokoknya harus adil. Kau kan besok sudah aku izinkan untuk bekerja," John pun tak ingin kalah dalam mengungkapkan pendapatnya.


"Ah kalian ini. Aku ini bukan boneka tahu!" Sophie mengerucutkan bibirnya. Kesal karena kedua suaminya tidak ada yang mau mengalah. John menarik tangan istrinya ke ranjang mereka, "Baiklah aku akan mengalah," membuatmu sang istri menolak ke wajahnya. Senyuman merekah dari bibirnya.


"Syaratnya, aku akan menjemputmu. Sampai dirumah kau tidak boleh menolak apapun yang aku inginkan," ucapannya membuka Sophie berfikir dua kali.


Apapun yang dia inginkan? Mungkinkah dia sedang membuat jebakan untukku?


"Ayo cepat putuskan. Kami tidak akan mungkin ingkar janji, uhm." kembali John berbicara. Ramon menatap John, senyuman penuh arti mengintai istrinya.


Bugh


Ramon mendorong tubuh istrinya ke ranjang. John menatap tak rela sesaat. Namun, demi misinya besok dia harus menahan hasratnya malam ini.


"Akh, tu-tunggu dulu. Aku kan belum membuat keputusan," selanya. Namun, tangan Ramon sudah berjelajah kemana-mana.


"Ra-Ramon, hen-tikan," tubuhnya bergerak dan bergetar menerima semua sentuhan lembut dari sang Ramon. John membuka laci, dia mengambil headset dan langsung memasang di kedua telinganya.


"Jo-John, to-to-long. Ah, ughh," lolos sudah dia tak bisa menahan lagi. Sang istri mencoba menggapai tubuh suaminya. Dia terlihat asik mendengarkan sesuatu di telinganya.


Dia sudah pasrah ketika sang suami menghujaminya dengan kasih sayang.


"Jangan di tahan sayang. Kekuatan saja," Ramon tengah asik melakukan pergulatan yang membuatnya berkeringat. Beberapa suara lolos begitu saja. Membuatnya tambah bersemangat. Hingga, dia mencapai titik akhir pergulatannya.


"Terima kasih sayang," Ramon mengecup kening sang istri yang sudah bersandar di lengannya.


John melepaskan penutup telinganya. Meletakkannya di atas nakas. Kemudian dia berbaring di samping tubuh sang istri. Mendekapnya dengan erat. Sophie membuka matanya. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Wajah para suaminya masih tertidur dengan sangat pulas.


Ayo bangun Sop. Jangan membuat mereka terbangun. Dia menyibak selimutnya perlahan.


"Selamat pagi sayang," Sophie terperanjat saat kedua suaminya memeluknya dari belakang.


"Pa-pagi juga sayang. A-aku duluan ya," ucapnya dag dig dug meminta izin para suami.


"Uhm,"


Namun, kedua tangan sang suami masih tetap melingkar di pinggangnya.


Aishh


Terpaksa dia mendaratkan satu persatu kecupan di kedua kening suaminya. Setelah menerima hadiah ucapan selamat pagi. Mereka, baru melepaskannya.


Brukk


Baru saja dia akan keluar dari kamar mandi. Kedua suaminya sudah berdiri di ambang pintu. Tersenyum yang tak bisa dapat dia artikan. Mereka menghadang sang istri untuk keluar.


"A-aku sudah terlambat, sa-sayang," ucapnya. Menutup segala asetnya yang terlihat dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Hahahaha!" Keduanya tertawa puas setelah berhasil menggoda istrinya dan membuatnya hampir terkena serangan jantung. Mereka melewati sang istri yang ambruk begitu saja di ambang pintu.


Argghhh. Aku hampir gila. Bagaimana bisa Dominique bertahan dengan kedua suaminya yang menjengkelkan itu!


__ADS_2