MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kumpul Keluarga


__ADS_3

“Hah, sudahlah. Aku malas. Bantu aku,” dia meraih lengan suaminya agar bisa membenarkan posisinya. Menjadi tiduran.


“Kapan aku bisa melihat anakku?” baru saja Dominique berbicara, dua suster masuk ke ruangan mereka. Di ekori oleh Haiden. Dia pun penasaran melihat anaknya.


“Maaf, Nyonya Dominique, putra dan putri anda sepertinya haus,”  ucap mereka yang sudah berada di dekat ranjangnya.


“Ah, baiklah, kemarikan, Sus!” Dominique meminta salah satu dari mereka. Dia belum bisa kalau harus menyusui kedua bayi tersebut.


Saat bersamaan Baron dan Markus masuk. Mereka masuk dengan membawa banyak paper bag. Dominique meliriknya saat dia menyerahkan satu bayinya agar bergantian pada suster tadi. Tak lama Marina dan Simon pun masuk membawa Terry yang tadi meminta di jemput. Dia ingin melihat ibu dan adiknya yang baru lahir. Ruangan pun menjadi ramai.


“Ck, ck, ck, apa yang kau lakukan, Pah?” Will sepertinya masih belum bisa memaafkan sikap ayahnya.


“Dasar anak kurang ajar! Aku datang membawakan hadiah untuk cucu-cucuku!” dia yang mengetahui bahwa menantunya melahirkan kembar couple.


“Haiss, kau lihat momentnya dong. Kau kan bisa datang ke rumah kami!” dengus Willy. Haiden geram menyenggol perut rivalnya saat mendengar ocehan tak berbobotnya.


“Ok, sorry. Berikan padaku!” dia mengambil semua paper bag yang dibawa ayahnya dan menaruhnya di sofa.


“Itu aku juga belikan untuk Ramon dan Carlos!” celetuknya.


“Baik, baik, nanti aku sampaikan!” Will mengibas tangannya. Memberi kode untuk ayahnya agar keluar.


“Will!” Dominique memekik. Dia tak menyukai sikap suaminya yang acuh tak acuh pada orang yang lebih tua.


“Maafkan sikap suamiku, Pah. Eh, maaf, bolehkah aku memanggilmu seperti itu sekarang?” dia sedikit ragu karena mertuanya langsung mendelik saat mendengar ucapannya. Dia mendelik bukan karena tak suka. Melainkan terharu dengan sikap Dominique. Bahkan dia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan tulus setelah perbuatan tak menyenangkannya beberapa waktu lalu.


“Sepertinya tidak buruk!” sahut Baron menatap lembut wajah menantunya. Dia seolah terhipnotis oleh kebaikan dan ketulusan menantunya itu.


“Mommy!” Terry yang tak sabar memeluk. Dia melompat ke ranjang dan mendekap erat tubuh ibunya.


Baron melihat dengan tatapan tajam, “Dia, juga putra-ku, Pah. Namanya, Terry!” Dominique tersenyum sambil mengelus rambut anaknya.

__ADS_1


“Ternyata masih ada satu cucuku lagi, Markus. Ayo kita keluar membelikannya hadiah!” Baron berbalik badan dan menggandeng Markus keluar.


Markus sempat takjub melihat tuannya yang menjadi berbeda. Dia bersemangat dan tanpa dia sadari saat memilihkan hadiah, segurat wajahnya menunjukkan kebehagiaan. Kebahagiaan yang belum pernah Markus lihat selama ini. Syukurlah tuan. Aku pun ikut berbahagia. Semoga tuan tak berubah haluan menjadi iblis yang menyebalkan. Markus yang sempat mengumpat tuannya.


“Mom, siapa tadi?” tanya Terry yang memang memperhatikan Baron sejak dia masuk ke kamar ibunya.


“Uhm, dia, kakek—mu juga!” jelasnya penuh perhatian sambil tersenyum melihat wajah anaknya.


“My Grand Pa? Jadi aku punya dua Grand Pa, Mom?” dia menaikan kedua alisnya. Berbicara seperti layaknya orang dewasa.


“Uhm, itu kakek dari Papimu sayang,” Dominique menjelaskan, Terry menoleh kearah Willy.


“Wow, great! I’m happy, Mom. Sunguh-sungguh punya dua Grand Pa!” ucapnya dengan penuh semangat khas anak-anak sambil mengepal kedua tangannya, menghentakkan kearah perut seraya berkata, “Yes!” Semua mata menatap dengan tersenyum. Saat menatap tingkah Terry yang sangat menggemaskan. Dominique merasakan haru, hatinya terasa penuh kembali.


Dia merasa dibalik semua peristiwa yang terjadi dan menimpanya ada sebongkah kebahagiaannya bertambah. Kumpul keluarga. Ya, dia dapat melihat sendiri sikap dingin suaminya itu perlahan berubah menghadapi ayahnya.


Dia tahu suaminya belum sepenuhnya memaafkan semua kesalahan yang dilakukan sang ayah. Namun, baginya sekarang itu bukan hal yang terpenting. Dia mendapatkan hadiah terbesar. Arti keluarga dan kebahagiaan. Sudah cukup baginya.


“Belum sayang, kami akan kesana sekarang!” sahut Marina beranjak dari duduknya dan meraih bawaan yang dia bawa untuk hadiah kelahiran anak Sophie dan Diana.


“Kau tidak mau ikut sayang?” ucap Dominique mengusap punggung anaknya. Dia langsung menggeleng dengan yakin.


“Kau tidak penasaran?” celetuk Haiden. Dia terlihat kesal karena anaknya mengambil alih perhatian istrinya.


“No, Papa Gyan, aku hanya mau melihat adikku dulu, baru melihat yang lain. Grand Ma, Pa bilang adikku perempua, dia pasti sangat lucu dan menggemaskan!” celotehnya membuat Haiden mendelik tajam.


Cih, tak bisakah kau lepaskan tanganmu itu. Dia itu istriku. Bahkan Haiden masih sangat cemburu dengan keberadaan Terry di sekitar istrinya.


Marina dan Simon masuk ke kamar Sophie lebih dulu, “Jadi, dia anak biologis siapa?” suara Simon lebih dulu menyapa ruangan. Membuat John berbalik melihat kearah suara. Sambil menggendong bayinya. Dan, Ramon terlihat membantu Sophie menyuapi makan.


“Tuan! Tentu saja, dia anakku dari hasil test DNA-nya!” John yang tersenyum bangga sambil menggendong bayinya.

__ADS_1


“Selamat, John, kau sudah menjadi seorang ayah!” Marina tersenyum sambil memberikan hadiah kedatangan bayinya pada Ramon.


Sophie membalas pelukan ibu mertua Dominique saat memeluknya, “Terima kasih, Mah!” ucapnya. Sophie dan Diana sudah mereka anggap seperti anak-anak perempuannya.


“Jadi akan kau kasih nama siapa anakmu?” Marina yang ikutan penasaran.


“Belum kami putuskan. John bilang, dia akan memikirkannya nanti! Iya, kan, John?” dia melirik suaminya.


“Jo, namanya Josh. Aku akan memberikan namanya, Josh!” ucap John tiba-tiba.


“Josh?” Sophie menaikan kedua alisnya. Pasalnnya beberapa saat lalu dia masih belum memikirkan apapun.


“Iya, artinya John dan Shopie!” kekeh John. Menunjukkan sederet gigi putihnya. Simon dan Marina hanya mampu saling memandang melihat tingkah polah John yang baru saja menjabat sebagai seorang ayah.


“Cih, bisa-bisa kau terpikir hal konyol seperti itu!” Simon bergeleng kepala. Dia bahkan takjub dengan perubahan John saat ini.


“Ya, mau bagaimana lagi, Tuan. Saya kan sekarang sudah menjadi ayah!” dia masih saja menunjukkan gigi putihnya saat berbicara dengan tuannya.


Simon hanya mampu mengusap wajahnya dengan kasar. Dan membuang nafasnya dengan kesal, “Sudah, Marina, sebaiknya kita ke kamar Ramon!” kesal dia dengan tingkah John. Pergi dengan kesal sambil sedikit membanting pintu.


“Kau sunguh akan memberikan nama itu?” Ramon yang ikut bersuara. Dia terlihat tak setuju. Walaupun hasilnya sudah keluar. Namun, dia merasa ikut andil dalam masa pembuatannya.


“Ada apa? Kau mau protes juga?” dengusnya.


“Tentu saja, aku tidak setuju!” kali ini Ramon benar-benar memproklamirkan protesnya.


“Cih, kau tak berhak sedikitpun, dia anak—ku!” John yang menggedong jauh bayinya agar tak di sentuh oleh Ramon. Persis seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.


“Hei, hei, kalian gila! Kemarikan bayiku!” Sophie mulai mengomel. Dia tak ingin anak yang baru keluar menjadi permainan.


“Ah, sayang!” John yang menolak memberikannya.

__ADS_1


“Kemarikan!” deliknya. Sophie mulai mengeluarkan cakarnya.


__ADS_2