
“Ada apa? Apa kau cemburu dia menghabiskan waktu bersamaku?” Will sudah berada di beranda kamar mereka. Haiden masih tak bergeming dengan umpatan rivalnya itu.
“Ayolah, katakan padaku. Setidaknya selama satu tahun ini aku akan menjadi partnermu. Jadi, tidak ada salahnya kau mulai membuka hati dan berteman denganku. Apalagi dengan status sama yang kita miliki. Baik kau atau pun diriku, pasti akan menjaga dengan sangat baik kan?” tatap Will. Meskipun dia tahu apa yang sedang rivalnya itu. Namun, dia tak ingin terlalu banyak ikut campur.
“Cih, membantu atau kau sedang mengambil keuntungan sendiri? Kau hanya sedang memanfaatkan keadaan saja,” cibirnya.
“Hahaha, bisnis adalah bisnis bro. Tapi, istriku bukanlah salah satu bisnis yang harus aku bicarakan denganmu. Dia adalah hati dan jiwaku. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Bahkan nyawaku ini rela aku serahkan hanya untuknya seorang!” Perkataan yang sangat menyayat hati Haiden. Bahkan sampai saat ini dia masih kalah jauh dari rivalnya itu. Dia masih saja banyak berfikir dan bertindak saat mengambil keputusan.
Sedangkan rivalnya dengan bebas mengutarakan perasaannya. Mungkin ini adalah salah satu perbedaan antara dia dan rivalnya itu.
“Aku tidak ingin membuatnya bersedih. Namun, kenyataan terus membenamkan diriku untuk terus melukainya. Huh, rasanya aku benci pada diriku. Masih terlalu lemah untuk melindungi hatinya agar dia tak terluka,”
Willy hanya melayangkan tatapannya. Melihat Haiden yang sekarang. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti pun akan terjadi dengannya.
“Apa kau sudah membereskannya?” Haiden memalingkan wajahnya yang sejak tadi memandang ke langit.
“Mereka bilang, anak itu sungguh dalam kondisi menghawatirkan. Di sisi lain aku sangat membencinya. Aku merasa kalau dia lenyap, semua masalah akan terselesaikan!”
“Namun, aku tak bisa memungkiri. Walaupun dia hanya terlahir dari donor ******-ku. Dia juga adalah darah dagingku,” Haiden yang mulai goyah hatinya setelah dia berfikir cukup panjang.
“Kau ingin menolong anak itu?”
“Entahlah. Hatiku lebih membencinya. Apalagi secara tak langsung dialah penyebab kami berpisah selama ini,”
Ya hati Will tergerak. Dia pun merasa telah banyak mengambil keuntungan dari kondisi yang di ciptakan oleh Rebecca. Dia tak bisa memungkiri itu.
“Cih tolonglah, jika kau ingin menolongnya. Jangan tunjukkan wajah menyedihkanmu itu dihadapanku. Benar-benar menyebalkan dan membuat mataku sakit,” dengus Will. Haiden bukanlah monster tanpa berperasaan. Menyangkut apapun soal istrinya itu dia bisa menjadi sangat lemah.
“Sepertinya mie rebus pakai telur dan cabai rawit yang banyak enak nih,”
Ting tong Ting tong
Sophie baru saja keluar dari kamar mandi ketika bel pintunya berbunyi. Dia masih mengeringkan rambutnya yang basah. Menghamburkan ucapannya barusan.
Siapa sih malam-malam begini? dia berjalan mendekati pintu.
Ceklek
Sophie tersentak. Dia tak pernah berfikir akan secepat ini mereka menyusulnya.
“Kau sungguh berani? Meninggalkan kami tanpa izin?” langkah John yang mendahului masuk ke dalam rumahnya diikuti Ramon. Dia menarik hidung istrinya hingga memerah.
__ADS_1
“Sa-sakit tau. Aku kan sudah bilang mau pulang dengan kalian!” dengusnya menghempaskan tangan John yang menarik hidungnya. Dia berjalan masuk meninggalkan mereka.
“Di sini sangat sempit. Tidak akan sanggup menahan permainan kami. Kau tahu kan?” Ramon bersuara dengan matanya yang berkeliling.
“Arghh. Hentikan. Jangan bahas itu, aku tidak mau mendengarnya!” Sophie menutup kedua telinga. Tidak ingin mendengar ocehan para suaminya.
“Pergilah. Aku ingin beristirahat dan tanpa ganguan,” tangannya mengibas-ngibas mereka.
"Pergi katamu. Ck, ck, yang benar saja. Kami seharian lelah bekerja, sudah saatnya sekarang di manja olehmu.” John melipat kedua tangannya. Menatap istrinya dengan tajam.
“Akh, hentikan kataku.”
Kruyukk kruyukk
“Kau belum makan, hah?” John memburu dengan pertanyaan mematikan. Sophie memundurkan langkahnya dan terperangkap pada pelukan Ramon.
“Kau tahu, kami sampai datang kemari karena sangat lapar dan ingin memakanmu,” bisik Ramon.
“Akh, tidak mau. Pergi sana!” dia seketika berjongkok dan menutup kembali kedua telinganya. Mereka berdua terkekeh melihat tingkah istrinya. Benar-benar berhasil membuatnya ketakutan.
“Jadi kau mau makanan pembuka dulu? Atau kita langsung saja memakannya sekarang,” ucap John membuat Sophie berteriak bertambah histeris. Kedua suaminya turut serta berjongkok. Menggodanya seperti anak kucing.
“Tidak. Kalian pasti berbohong. Kalian hanya sedang membujukku,” dengusnya memalingkan wajah saat John mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri.
Tut tut tut
John menyerahkan ponselnya kepada istrinya. Saat itu tersambung dengan Dominique.
“Ada apa John?” sahutnya dari sebrang telpon.
“Domiii!” Sophie berteriak histeris saat mendengar suara temannya.
“Sophie, kau kenapa? Di mana kau sekarang? Apa mereka melukaimu?” pertanyaan memburunya.
“Akh, jangan bilang seperti itu Dom. Katakan padaku, apakah kau memang sedang membuat sesuatu di sana?”
“Oh itu. Iya, kembalilah cepat. Aku membuat rendang jengkol, pepes tahu daun kemangi isi ikan peda, sambal terasi, tumis kangkung dan ubi bakar,” seketika perut keroncongan Sophie meronta minta diisi ketika mendengar ucapan Dominique.
“Enak banget Dom. Tunggu aku ya, aku akan segera kembali,” akhirnya Sophie terbujuk rayu makanan. Dia tak bisa menahan diri ketika mendengar rendang jengkol. Domi dan Sophie sama gilanya terhadap jengkol.
“Bagaimana? Aku tidak berbohong kan?” dia hanya mengangguk pada John.
__ADS_1
“Tapi, setelah makan malam antar aku pulang lagi. Oke?” dia masih menunggu kedua suami menjawab. Mereka sedang beradu pandang saat mendengar ucapan istrinya.
“Bau apa ini?” Haiden menyerinyitkan hidungnya saat mencium sesuatu yang menggangu di hidungnya.
“Domi bilang ini masakan istimewa. Aku fikir kau menyukainya?” Will berkata tanpa merasa berdosa.
“Aku terjebak! Jadi kau bilang akan menuruti semua kemauannya adalah ini,” Haiden menarik kerah baju Will. Terlihat dia begitu emosi.
“Cih, apa maksudmu,” Will menghempaskan tangan Haiden yang mencengkram erat kerah bajunya. Willy yang tidak mengerti arah pembicaraan rivalnya itu.
“DOMINIQUE!!!” teriaknya menggelagar di seluruh ruangan. Dia keluar dari kamarnya.
Hohoho, sudah mulai. Aku sangat menantikannya!
Dominique yang tengah berselonjor di depan tv sempat terkejut. Juga Diana yang melompat dari duduknya. Carlos baru saja pulang dan berniat mencium kening istrinya. Haiden menghampiri istrinya yang tampak biasa saja setelah mendengar teriakan nyaring dari suaminya itu.
“Apa yang kau lakukan? Kau sedang menguji kesabaranku?” Haiden meradang. Dia berkacak pingang, bolak balik sambil menutup hidungnya.
“Apa yang kulakukan? Aku tidak melakukan apapun kok?” sahutnya. Melirik Will meminta perlindungan darinya.
“Kau!!”
“Argghh!!” Dia melompat dan memeluk Willy.
“Will, lihat dia. Dia kasar dan ingin memukulku,” dia memprovokasi satu suaminya yang tidak tahu apa-apa.
“Ada apa ini? Kenapa kau emosi? Istriku tidak melakukan hal yang salah!” dengus Will. Mendorong tubuh istrinya di belakang tubuhnya. Dia bersembunyi di balik tubuh suaminya.
“Ck, ck. Kau ini bodoh atau memang pura-pura. Dia itu sedang membalas dendam padaku. Istriku itu sedang membalas perbuatanku,” teriak Haiden dengan intonasi yang sangat keras.
“Balas dendam? Yang benar saja. Istriku yang manis ini mana tega melakukan hal kejam seperti itu,” bela Will.
Dominique tersenyum puas saat melihat emosi Haiden berkobar. Sambil menjulurkan lidah di balik tubuh Willy. Membuat amarahnya makin berkobar.
“Jaga bela dia. Biarkan dia kesini. Aku akan menghukum istriku,” Haiden seperti anak kecil berusaha menggapai tubuh istrinya yang terus di halangi oleh Willy.
“Jangan ganggu istriku. Aku tidak akan biarkan kau menghukumnya,” Will terus melindunginya dan memeluk tubuh istrinya.
Brukk
Satu buah suara nyaring menghentikan perdebatan mereka.
__ADS_1