
Dominique yang terusik di bantu duduk oleh Diana yang terus disamping nya. Dominique melihat jelas sosok Haiden yang sedang memukuli Willy. Dominique membekap mulutnya tak percaya segera menghempaskan tangan Diana dan berlari kearah Willy yang sedang di hajar mati-matian oleh Haiden.
"Kau gila!" Senggit Dominique menarik kasar tubuh Haiden dari atas tubuh Willy.
Haiden terkejut melihat Dominique yang terlihat begitu marah terhadapnya, tatapan mata Dominique penuh dengan kebencian.
"Sa-sayang..., ini aku Haiden..., kau sudah bisa mengingatnya kan..., aku ini suami-mu bukan dia..." tunjuk Haiden gelagapan menunjukkan kebenaran kepada Dominique menggenggam kedua tangan Dominique dengan erat.
Willy mengatur nafasnya sambil mengusap darah yang terus mengalir.
Dominique menghempaskan kasar kedua tangan Haiden yang menggenggamnya.
"Carlos, ambilkan obat" teriak Dominique memerintahkan Carlos yang terkesima dengan kejadian di hadapannya.
Dominique berlari menghampiri Willy dan segera memeriksa kondisi lukanya, "Kau tidak apa-apa sayang" ucap Dominique yang begitu khawatir melihat Willy yang sudah babak belur di pukuli oleh Haiden.
Carlos menghampiri Dominique dan Willy memberikan kotak obat kepada Dominique. Dominique segera memberikan pertolongan dan membersihkan luka yang ada di wajah Willy. Dominique terlihat begitu cemas saat melihat lebam di wajah Willy.
"Aku tidak apa-apa sayang" ucap Willy menyentuh pipi Dominique, tubuh Dominique masih terus bergetar karena ketakutan.
"DOMINIQUE!!!" teriak Haiden penuh kemarahan menarik kasar tubuh Dominique yang masih bergetar, Willy segera bangkit ketika Haiden mulai berteriak kasar terhadap Dominique, bagi Willy dirinya tak apa jika jadi pelampisan kemarahan Haiden tapi tidak dengan dominique.
"Apa kau buta, aku suami-mu. Bukan dia" teriak Haiden makin histeris, Dominique menggelengkan kepalanya, menghempaskan tangan Haiden yang menggenggamnya dengan erat.
"Hei, Aramgyan jangan kau berteriak keras dengan istriku" Senggit Willy kesal ketika melihat Dominique di perlakukan kasar di hadapan matanya.
"Diam kau Bunarco. Dia istri-ku bukan istri-mu" Haiden menaikkan rahangnya dengan keras ketika mendengar Willy turut membela Dominique.
Dominique masih tak bergeming tubuhnya masih bergetar. Ketakutan. Dan Willy sangat memahami setiap yang terjadi pada perubahan tubuh Dominique.
"Sayang kemarilah, kau tidak usah takut" ucap Willy bersuara lembut memanggil Dominique yang masih tak bergerak sedikit pun, hatinya masih sangat terguncang.
Baru saja Dominique mengetahui tentang kebenaran soalan dirinya, hatinya belum mempersiapkan untuk menerima dengan jelas sekarang Dominique harus di hadapkan dengan laki-laki yang sangat ingin dia hindari.
__ADS_1
"Dominique, patuhlah. Kita kembali" ucap Haiden mengulurkan tangannya.
"Tidak Dominique... disini tempat-mu dan keluargamu berada" ucap Willy yang tak mahu kalah dalam memprovokasi Dominique. Willy sudah bertekad tidak akan melepaskan Dominique.
Dominique menutup kedua telinganya, hatinya kalut. Walaupun dia sudah dapat memilih dan memutuskan untuk tinggal dengan siapa, namun salah satu dari mereka pasti tidak akan mahu mengalah.
Dominique kembali meyakinkan hatinya, meyakinkan pilihannya tidak salah. Dominique mengingat kembali saat terakhir kalinya dia bertemu dengan Rebecca, ucapan Rebecca masih ternginyang jelas di telinganya dan bukti yang Rebecca berikan padanya bukan hanya sekadar bualan belaka.
"Dominique" suara Haiden terdengar pasrah saat menyentuh tangan Dominique.
"Pergilah!" Dominique memberanikan diri membuka suaranya dan menentang keinginan Haiden saat Dominique benar-benar sadar, dia adalah Dominique sekarang bukan seorang Marissa.
"Apa kau bilang sayang..., apa kau sungguh tak mengingat diriku. Aku suami-mu, kau istri-ku" berulang kali Haiden meyakinkan hati Dominique agar tak berpaling darinya.
Willy mencoba memberikan ruang kembali untuk Dominique. Dia tak ingin melewati batasannya saat Dominique akan memilih dan menentukan jalan hidupnya. Bagi Willy, Dominique harus bisa lepas dari bayang-bayang Haiden yang menakutkan untuk Dominique.
'Pergilah Haiden, aku tidak mungkin kembali lagi bersamamu. Hatiku bukan milikmu lagi' ucap Dominique menatap mata Haiden dengan tajam.
"Apa salahku Dominique..., kenapa kau begitu kejam kepadaku. Apa salahku" Haiden yang meminta penjelasan kepada Dominique, hatinya masih tidak terima dia dicampakkan.
Hurf. Dominique menghela nafasnya lagi.
"Ceraikan aku Haiden. Aku tidak mencintai-mu lagi" ucap Dominique dengan bibirnya yang bergetar saat dia benar-benar memutuskan meminta perceraian dari Haiden.
"Kau gila Dominique. Kau sungguh-sungguh dengan ucapan-mu, hah" Haiden yang tak terima langsung mencengkram erat kedua lengan Dominique.
"Ish" Dominique sedikit meringgis sakit karena luka di lengan kanannya masih belum sembuh.
Haiden menyadarinya dan segera membuka lengan kanan Dominique yang masih dibalut perban, Haiden ingat terakhir kalinya dia bertemu dengan Dominique dia melepaskan tembakan yang mengenai lengan Dominique.
"Kita pergi dari sini, aku akan membawamu untuk melakukan pemeriksaan lebih detail" Haiden menarik tangan Dominique, Haiden yang merasa bersalah sekaligus khawatir akan luka Dominique bertambah parah.
"Aku tidak apa-apa, ada Carlos disini dan suami-ku merawatku dengan baik!"
__ADS_1
DEGH.
Ucapan Dominique seakan memberi tamparan yang keras untuk Haiden. Haiden sebenarnya bisa melihat tatapan Dominique yang begitu berbeda saat menatap Willy, namun hati Haiden masih belum menerimanya. Haiden masih belum pecaya Dominique melupakannya dengan sangat mudah.
"Sudahlah sayang aku tahu kau masih marah dengan-ku. Aku maafkan, asalkan kau ikut denganku sekarang" Haiden yang terus menarik perlahan tangan Dominique yang sedari tadi Dominique tidak menggerakkan kakinya sedikit pun.
"Iden, hentikan. Tolong ceraikan aku" pekik Dominique bersikaras dengan kemauannya.
Haiden membalikkan tubuhnya menatap wajah wanita yang dicintainya, istri yang dicarinya selama dua tahun ini malah meminta perceraian darinya.
Haiden menggelengkan wajahnya, kini tatapan Haiden berubah kejam tak ada lagi sorot mata kelembutan darinya.
"Kalau kau tidak juga bergerak aku pastikan akan menyeret-mu paksa keluar dari sini" tegas Haiden dengan suaranya yang menggema di seluruh ruangan menatap kearah Willy dengan tajam.
Willy mulai bereaksi menatap tajam kembali pada Haiden.
"Aku tidak mau pergi Iden, disini tempatku, rumahku..."
"DOMI!!!" teriak Haiden yang meledak penuh amarah.
Dominique memundurkan tubuhnya selangkah, Haiden memburu maju cepat menggapai pinggang Dominique.
"Jika kau berani maju selangkah, aku pastikan akan membunuhnya di depan mata-mu" Senggit Haiden yang langsung menodongkan pistol di kening Dominique menatap Willy yang bersiap akan menyerangnya.
Haiden menyeret paksa tubuh Dominique keluar bersama dengannya.
"Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapan-ku. Aku selalu mendapatkan apapun keinginanku, apalagi itu menyangkut soal dirimu, Domiku sayang..." ucap Haiden berbisik di telinga Dominique yang terdengar seperti orang yang frustasi dan gila.
Tubuh Dominique kembali bergetar, bayangan yang muncul di benaknya bermunculan pada masa di mana dia dan Haiden bersekolah, Haiden sungguh mampu melakukan hal-hal yang tak pernah bisa Dominique bayangkan.
"Lepaskan aku Iden..., aku mohon..." Dominique mulai merenggek saat tubuhnya di tarik paksa masuk ke dalam mobilnya.
Ah, aku lupa dalam jiwa Haiden masih ada setan diktator yang tak mungkin aku melawannya.
__ADS_1