MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Obrolan Laki-laki


__ADS_3

“Sayang, ah,” John mulai merajuk. Dia terpaksa memberikan anaknya pada Sophie.


“Rasakan! Kena marah juga kan kau!” dengus Ramon. Meledek teman seperjuangannya. Sophie menimang anaknya perlahan. Melirik satu persatu suaminya yang tak sabar ingin menggendongnya kembali.


“Jangan sentuh dia!” Sophie terus memicingkan tajam matanya pada John. Dia masih kesal dengan ulahnya tadi.


“Sayang ...,” John masih membujuk istrinya. Dia masih ingin menimang anaknya lagi.


“Bolehkah aku menggendongnya?” tanya Ramon. Matanya berbinar penuh harap. Istrinya memberikan izin padanya.


“Uhm, hati-hati!” dia menyerahkan perlahan gendongannya ke tangan Ramon. Dia menerima bayi mungil itu dengan sangat hati-hati. Mengangkat perlahan  sambil memandangi wajahnya yang mungil dan lucu.


“Tampan sekali sayang, dia sepertinya sangat mirip denganku!” Ramon berkata sambil mengelus pipinya yang gempil.


“Huh, kau curang. Pilih kasih. Padahal, dia kan anakku!” dengus John.


“Siapa suruh kau tadi begitu sombong. Aku tidak suka,” kecut dia mendapat sahutan dari istrinya.


“Maaf sayang, aku terlalu bersemangat. Aku sangat menyukainya sampai aku lupa diri,” John yang bertingkah seperti anak kecil. Meraih tangan istrinya, menaruhnya di kepalanya dan meminta istinya memukuli kepalanya perlahan.


Ramon hanya menguping dan tetap fokus menimang anaknya, “Jadi, kau mau memberi nama apa untuk bayi kita, sayang?” ucapnya.


“Sayang, Josh saja. Aku kan ayah biologisnya, ya, ya!” John yang tetap bersikeras dengan nama yang sudah dia pilihkan. Sophie memutar bola matanya. Memikirkan ucapan suaminya. Dia pun berpikir nama yang diberikan suaminya tidak buruk.


“Apa kau keberatan?” Sophie melirik Ramon, meminta pendapat satu suaminya. Dia tak ingin bersikap tidak adil atau membuat salah satu dari mereka kecewa. Dia akan mencoba bersikap adil. Ya ... walaupun definisi adil bagi mereka tentulah diluar nalar suami pada umumnya.


Ramon tersenyum menatap wajah istrinya. Bagaimana mungkin dia menolak permintaan istrinya. Dia tahu dari pertanyaan yang dilontarkan istrinya terselip harap tak ada penolakan darinya.


“Siapapun namanya, aku tidak akan keberatan. Asalkan kau bahagia!” jawaban melegakan bagi Sophie. Tanpa harus dia bersitegang kembali. Dia pun membalas senyuman hangat suaminya.


Willy menatap wajah istrinya yang sedang tertidur dengan lelap. Ada rasa lega yang menyelimuti hatinya. Walau kata maaf belum sepenuhnya keluar dari mulut istrinya. Dia, kini tidak menolak untuk dia dekati.


“Bagaimana?” Haiden menyapanya saat mereka sedang duduk santai menemani istri mereka.


“Dia belum memberikan jawaban apapun. Aku pun tidak tahu—“ Will menatapnya.


“Lalu janjimu?” dia sedang menegaskan janji yang sedang mereka buat.

__ADS_1


“Setelah test keluar, aku akan membawa anakku pergi!” ucapnya. Membuatnya mendelikkan mata.


“Kau gila!” dengusnya.


“Setidaknya itu adalah hadiahnya untukku. Aku akan merawat dan menjaganya dengan sangat baik!” ucap Willy penuh dengan keyakinan.


“Kau sungguh akan melukainya lagi?” Haiden yang tak percaya dengan jalan pikiran rivalnya.


“Aku tidak ingin melibatkannya terlalu jauh lagi dengan kondisiku. Tidak mungkin aku membahayakan keselamatannya!” pedih terasa di hati Will saat dia memutuskan akan mengambil jalan pintas itu.


“Cih, kau tidak melibatkannya. Namun, kau membawa pergi anaknya. Apa kau tidak memikirkan perasaaanya. Hatinya pasti akan kecewa dan membencimu seumur hidupnya!” Haiden memberikan nasehat. Dia pun tak ingin kebahagiaan istrinya sekarang berubah menjadi lautan tangis karena kehilangan anak seandainya rivalnya tak mengubah pendirian.


“Aku yakin kau bisa menjaganya. Lebih baik dariku. Jika bersama denganku, mungkin nyawanya akan selalu berada di ujung tanduk!” jelasnya. Terasa teriris di hati.


“Apa kau tidak pernah berpikir untuk pensiun? Keluar dari jaringan itu? Dan membuatnya bahagia. Jika memang aku bisa, dengan senang hati aku akan melakukannya. Namun, sepertinya hati dia sudah sepenuhnya terkunci untukmu!”


Haiden merasa desiran dalam dadanya. Tubuhnya bergetar. Dia sudah tidak akan tega membiarkan istrinya yang menangis. Daripada itu, lebih baik dia yang kembali mengalah. Membiarkan rivalnya kembali.


Dia bahkan melihat dengan mata kepalanya, saat kecelakaan kemarin terjadi. Orang yang mendapat perhatian bukan dirinya.


“Aku tidak sedang membujukmu. Aku hanya ingin istriku bahagia. Aku hanya ingin melihatnya terus tersenyum!” pinta Haiden menatap ragu bola mata rivalnya. Dia tahu ucapannya barusan pasti bisa meluluhkan perasaannya.


Will meraup kasar wajahnya dengan kedua tangan. Menghela nafas sepanjangnya. Dia ragu. Masih belum bisa memutuskannya kembali setelah mendengar perkataan rivalnya.


“Pikirkan kembali, di lubuk hatiku sebenarnya aku lebih setuju kau bercerai dengannya, tapi melihatnya yang tak akan pernah bisa melepaskanmu. Aku mengalah. Sepenuhnya aku berharap, aku dan kau sama-sama bisa membahagiakannya. Aku menginginkan kau tetap berada di antara kami!” dengan helaan nafas yang cukup panjang. Haiden sebagai seorang laki-laki mengambil keputusan yang sangat besar. Obrolan laki-laki mereka yang benar-benar menguras segala isi dalam hatinya.


“Kau sedang menjadi malaikat pelindung rupanya. Sampai menjatuhkan segala harga dirimu!” cibirnya.


“Terserah! Bagiku sekarang yang terpenting kebahagiaan istri dan anak-anakku. Aku ingin membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Aku tidak ingin nasib mereka sama dengan diriku. Harus menjadi boneka orangtua, ya, walaupun bukan terjadi padaku. Namun, contoh dari kakakku sudah sangat terpatri di hatiku!” Haiden mengutarakan luka terpendamnya. Rasa bersalahnya yang tak bisa melindungi dan menyelamatkan kakaknya. Willy yang bersimpati hanya bisa menepuk pundak rivalnya.


Dia pun merasakan hal yang sama. Selama ini hidupnya hanya mendengar perintah sang ayah. Tak berhak menolak ataupun memilih. Semuanya berubah saat dirinya mengenal istrinya. Perasaan untuk melindungi dan membuat istrinya bahagia kini menjadi target utamanya.


Dia beranjak dari duduknya. Keluar dari ruangan istrinya. Dia melihat ayahnya tengah menyandarkan tubuhnya di kursi tunggu. Perlahan dia menghampiri, duduk di sebelahnya.


“Apa kau ingin mencari angin malam?” ucapnya. Ayahnya menolehkan wajahnya. Pertama kali di hidupnya anak itu berkata dengan sangat lembut.


“Kau ingin makan sesuatu atau mungkin kita pergi ke pub saja?” tawarnya. Menyeringai padanya.

__ADS_1


“Kopi sepertinya bisa menghilangkan rasa kantuk!” sahutnya.


Tanpa berbicara dia beranjak dari duduknya, “Markus, kau jaga disini saja. Jaga menantuku dengan baik!” perintahnya saat dia melihat Markus sudah akan bersiap mengikutinya.


“Baik, Tuan!” dia menganguk dan mematuhi perintah tuannya. Bukan tak ada pengawalan di rumah sakit untuk Dominique. Mereka semua berkumpul hanya untuk melindungi istri, menantu dan cucu mereka.


Mereka masih saja saling terdiam. Sesekali menatap, melirik seperti anak perempuan yang sedang menunggu di tembak oleh pacarnya. Masih sama-sama malu mengungkapkan perasaan.


“Huh,” ayahnya melirik tajam ketika anaknya menghela nafas cukup panjang dihadapannya.


“Kau sungguh akan meninggalkanku demi wanita itu?” tercetus juga ucapan yang keluar dari mulut ayahnya.


“Uhm, tadinya aku sempat berpikir akan  menculik anakku sendiri!” Suara  gebrakan meja bersaman dengan ucapannya anaknya.


“Kau mau melakukan hal bodoh sepertiku?” cetusnya. Geram ketika anaknya sendiri memiliki pemikiran yang sama dengannya. Will menatap wajah ayahnya. Entah kenapa hatinya terusik dengan ucapan ayanhnya barusan. Bagaimanapun hatinya lebih penasaran kini.


“Maksudmu, Pah?” dia masih terdiam. Seolah perasaan ayahnya sedang bergulir pada masa silamnya.


“Jangan lakukan itu, jika suatu hari nanti kau akan menyesali!” ucapnya. Membuat dadanya bergetar. Will masih menatap wajah ayahnya dengan perasaan yang tak bisa dia gambarkan.


“Apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Pa?” bibirnya sedikit bergetar. Dia tak ingin menanyakan. Namun, besarnya rasa penasaran sudah menguasai hatinya.


“Aku menculikmu!” sedetik Will tersentak dengan pengakuan ayahnya. Menculik? Maksud ucapannya membuatnya kembali bertanya.


“Aku menculikmu dari ibu kandungmu!” tegasnya. Jujur saja Will memang tak pernah mengetahui asal usulnya dengan jelas. Setiap kali ketika dia kecil bertanya tentang keberadaan ibunya, ayahnya selalu saja mengelak. Jika terus Will merengek menanyakan keberadaan ibunya hasil yang dia terima adalah hukuman cambuk dari sang ayah selalu bersarang di tubuhnya.


Will pun akhirnya memutuskan untuk menutup rapat pertanyaannya. Menguburnya dalam-dalam. Dan mengeraskan hatinya agar menjadi lebih kuat.


“Menculik?” pertanyaan membekas di hatinya kini. Penculikan? Apakah ayah yang sedang dihadapannya kini sebenarnya bukan ayahnya-kah? Dia korban penculikan-kah?


“Orangtuanya tak merestui hubunganku. Dia tetap dipaksa untuk menikah dengan orang lain, walaupun orangtuanya tahu kau sedang dalam kandungannya!” perih sekali hati Will saat mendengar pengakuan ayahnya. Pengakuan kelam tentang kisahnya. Yang tak pernah dia ungkapkan pada siapapun.


“Kau? Sungguh tak sedang berbohong padaku?” Will mempertanyakan keraguan dalam hatinya yang muncul. Bukan tidak mungkin ayahnya sekarang sedang berbohong.


“Cih, kau pikir aku tak pernah jatuh cinta dan merasakan cinta menyebalkan sepertimu?” ayahnya yang sentimen saat mendengar ucapan anaknya yang tak percaya pengakuannya.


“Bagamana aku bisa mempercayaimu. Selama ini kau selalu saja menghindar ketika-ku bertanya. Kau selalu saja sensitif saat aku mengungkitnya!” dengusnya.

__ADS_1


__ADS_2