
Ponsel Dominique berdering, ia membuka mata, menarik selimutnya malas mengangkat deringan tersebut, namun tetap tak berhenti.
Siapa sih, berisik sekali.
Akhirnya tangan Dominique mencari keberadaan bunyi, meraih dan menempelkan di telinganya.
"DOMIIIII!!!," teriakan Sophie membuatnya membuka mata dengan lebar.
"Akh, apa sih Sop ... pagi-pagi teriak tidak jelas,"
"Kau resign?. Kenapa??," seketika terbangun duduk di tempat tidur sambil menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa mengenakan baju.
"Resign, aku, tidak," otaknya berputar melirik tempat tidur, tak ada Haiden, suara dari arah dapur terdengar berisik.
"Ah, seperti nya aku tahu di mana masalah nya Sop, aku tutup dulu ya," langsung menutup ponselnya, turun dari kasur, berjalan ke arah lemari, mengambil kemeja yang tergolek dekat lemari, memakainya, kemeja Willy.
"Ideeennn!!," teriak Dominique menggema di seluruh ruangan, melemparkan selimutnya, dan berjalan ke arah Haiden sambil berkacak pinggang, Haiden sibuk mengatur meja makannya.
"Kau sudah bangun, ayo sarapan,"
Dominique tak menggubris, "Apa yang kau lakukan dengan pekerjaan ku?,"
"Pekerjaan mu," tunjuk nya, "Iya, memang apa lagi," sahut Dominique kesal.
"Aku melakukan yang memang harus kulakukan," jawabnya enteng.
"Iden, dengar, bukankah kau berjanji akan tetap membiarkan ku bekerja," Dominique mencengkram lengan Haiden dengan kasar.
"Heemm"
"Jangan, hemmm,"
"Lalu,"
"Argghhh," teriak Dominique, kesal tak di gubris oleh Haiden.
"Iden, please, tatap aku, jangan di cuekin gitu dong," merenggek kesal.
Haiden menatap Dominique, "Apa ini?," tunjuk nya pada kemeja yang di pakai Dominique.
"Apa sih, jangan alihkan pembicaraan Iden," bertambah kesal. "Aku sedang bicara soal pekerjaan ku, kau jangan ...," Dominique melihat kemarahan pada Haiden saat menatap kemeja yang dia pakai, Dominique melirik kemeja yang dia pakai,
Astaga, aku salah ambil, ini kan kemeja Willy yang aku pakai semalam saat habis tercebur kolam.
Haiden masih menatap marah pada Dominique, "Aku bisa jelaskan, jangan salah faham," mencoba menyentuh tangan Haiden.
"Apa yang ingin kau jelaskan, hah, kau sudah berapa kali tidur dengan dia, begitu, atau ...," teriak Haiden meluapkan amarahnya.
PAKKK!!! Satu tamparan keras mendarat di wajah Haiden.
"Tega sekali kau menuduh ku seperti itu, serendah itu kah kau menilai diriku," Dominique meninggalkan Haiden, berlari ke kamar, menangis.
Ah, sial, aku tidak pernah bisa berpikir normal ketika ada laki-laki yang mendekati nya.
__ADS_1
Haiden segera menyusul Dominique yang menangis sesegukan sambil mengganti kemeja Willy. Ia segera melipat kemeja Willy dan memasukkan ke dalam tas, meraih ponselnya,
"Maafkan aku Dominique, aku tidak bermaksud seperti itu," Dominique menghempaskan tangan Haiden ketika dia menyentuhnya.
"Dominique dengarkan aku," langsung merengkuh Dominique dalam pelukan nya.
"Maafkan aku sayang, sungguh aku tak bermaksud menuduhmu, aku sudah gila karena pria brengsek itu, sekarang kau malah," tak kuasa menahan amarah, meredam semua dalam pelukannya pada Dominique.
"Bisakah kau percaya padaku, sedikit saja ..., aku ini sedang membenahi perasaan ku terhadap Justin, aku sedang berusaha melepaskan nya, aku ingin hanya focus terhadapmu, tapi kau malah menuduh seperti itu ...," Haiden terdiam, hatinya senang ketika mendengar ucapan dari Dominique.
Yahh...., seperti itu kau memang seharusnya melupakan pria brengsek itu.
"Maafkan aku sayang, aku percaya padamu," membalikkan perlahan tubuh Dominique, menghapus airmatanya, dan kecupan manis meluncur ke bibir Dominique dengan lembut.
"Ayo kita makan, dan aku mohon berhenti bekerja, aku tidak suka kau di perintah orang lain, mengerti." Dominique hanya mengangguk pasrah di pelukan Haiden.
Bagus, aku tidak akan pernah memberikan sedikit pun celah pada lelaki mana pun. Haiden.
***
"Tuan, seperti nya Nona Dominique tidak kembali ke rumah sewa nya," lapor Ramon yang melihat GPS pada lokasi Dominique.
Willy menedang kasar beberapa pengawal yang menemaninya latihan, tubuh kekarnya sudah penuh dengan keringat.
"Di mana wanita bodoh itu," sambil mengusap keringat di wajahnya dengan handuk.
"Di rumah sakit Tuan, lukanya akan pulih dalam dua bulan, hanya saja menimbulkan bekas,"
"Awasi ketat, jika dia coba mendekati Dominique-ku, langsung kau habisi saja," melemparkan handuk dan meraih ponselnya.
Willy menghubungi Dominique tiga kali, namun Dominique tidak mengangkat nya. Dominique sedang meluapkan segala kerinduannya dengan Haiden, di kamar mandi, mereka sedang melanjutkan olahraga paginya setelah sarapan.
***
"Iden," usai olahraga pagi di kamar mandi bersama Haiden.
"Hemm,"
"Bisakah aku membeli pakaian yang normal,"
Haiden menatap tajam Dominique.
"Aku ingin pakaian casual Iden, kau kan tahu aku tidak terlalu suka dengan pakaian seperti ini," Dominique sudah mengenakan mini dress di atas lutut.
"No negosiation," Haiden mengeleng, Dominique menghela nafas panjang, harus membiasakan diri dengan semua yang di pilih Haiden.
"Kau mau ke mana hari ini," Haiden memeluk Dominique dari belakang sambil menopang dagu di pundak Dominique.
"Kau tidak bekerja?,"
"Aku free, hari ini aku sepenuh nya milikmu," Dominique merona, hatinya berdebar, bahagia.
Ya ampun, inikah rasanya jatuh cinta dan di cintai. Aku bahagia. Dominique.
__ADS_1
Berbalik, "Sungguh, aku bisa melakukan apa pun padamu?," Haiden mengangguk yakin.
"Kalau begitu, telpon John," seringai Dominique licik, merencanakan sesuatu.
"What??. Kau tidak puas hanya denganku, Dominique," Haiden kesal dengan permintaan Dominique.
"Eh, eh, tidak boleh menolak, tadi kau sudah setuju ya, kalau kau keberatan, ya sudah tidak jadi ....," pura-pura ngambek.
*Wanita ini berani sekali mulai main trik denganku.
Lihat saja, aku akan balas dendam, kalian berdua, hari ini milikku. Hahahaha, pekik Dominique merencanakan sesuatu*.
Dengan malas Haiden menghubungi John, menyuruhnya segera datang ke apartemen, Dominique bersiap saat memasukkan ponselnya, dia melirik ada panggilan tak terjawab, saat dia klik dan melihat Willy, Dominique segera menghapus dan memasukkan ponselnya dalam tas.
Mau apa lagi, aku harus menghindari orang itu, bagiku Haiden sudah sangat menakutkan.
Pintu bel apartemen pun berbunyi, Dominique menarik semangat tangan Haiden.
Cih, wanita ini semangat sekali, apa yang sedang dia rencanakan.
"Halo selamat datang John," sumringah Dominique menyambut John yang kebingungan melihat tingkat Nyonya nya.
"Selamat siang Nyonya, ada yang bisa aku bantu," menatap bingung pada Haiden, sedang Haiden hanya mengangkat kedua pundaknya.
Nyonya kau membuatku takut, jangan lakukan itu, apa anda sengaja membakar api kemarahan Tuan kepadaku. Pekik John di hati.
"Hari ini jangan sungkan, anggap saja seperti reuni sekolah, bagimana kalau hari ini kita piknik, pergi ke taman bermain," Dominique menaikkan alisnya, tersenyum dengan licik.
"Taman bermain," kompak bersuara.
"Waahhh, senang deh, kalian sudah semangat duluan seperti ini," hahaha rasakan pembalasan ku, aku tebak, kalian pasti belum pernah ke taman bermain.
"Ayookk, cuss, berangkattt ....," Dominique menutup pintu dan menarik ke dua tangan orang yang sedang dalam kebingungan.
***
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena,
baca cerita lainku ya yang berjudul :
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Dua Hati
✔ Silence
✔ Mr. Billionaire's Love Prison
✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏