MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Dominique Galau


__ADS_3

Haiden dan Willy saling menatap sesaat. Lalu mereka berlarian mengikuti Dominique.


"Ramon, ambilkan perlengkapan Carlos di mobil" Perintah Willy, Ramon mengangguk dan memenuhi perintah Willy.


Dominique keluar dari toilet wajahnya masih terlihat pucat dan memegangi perut nya.


"Masih sakit" Willy yang lebih dulu menghampiri dan memeriksa kondisi Dominique.


"Sedikit, rasanya sangat tidak nyaman Will... " Ucap Dominique menatap wajah Willy yang begitu menghawatirkan kondisi Dominique.


"Kita kembali ke kamar sayang, siang ini akan kuurus agar kita segera kembali" Ucap Haiden menarik perlahan tangan Dominique.


Dominique menggeleng,


"Tidak. Aku mau disini Iden..., bersama Willy" Ucapan Dominique langsung menyayat-nyayat hati Haiden.


Mendengar ucapan Dominique Willy merasa tenang karena dirinya tak perlu repot-repot memaksa Dominique untuk ikut bersamanya.


"Dominique, mengertilah. Kembali pulang denganku" Haiden mengiba penuh harap menggenggam kedua tangan Dominique.


Dominique menghempaskan perlahan,


"Kita sudah bahas semalam Iden, aku tidak bisa jauh dari Willy..." Dominique yang langsung bergelayut di lengan Willy, tidak ingin lepas dan pergi menjauh.


Haiden menatap wanita yang di cintai nya penuh luka, dia tak mungkin memaksakan lagi kehendaknya. Dia menyadari dirinya sudah melakukan kesalahan fatal pada Dominique tak mampu bersikap tegas pada Rebecca dan membuat Dominique berpaling padanya.


Haiden beralih menatap Willy, dengan perasaan benci dan cemburu menyelimuti hatinya, namun dia harus menekannya agar bisa meluluhkan kembali hati Dominique.


"Dia istriku Bunarco dan aku tidak akan menceraikannya!" Haiden menekankan lagi kepemilikan nya atas Dominique.


"Aku tidak akan memaksanya Aramgyan, dia sendiri yang mau ikut dengan ku. " Tukas Willy yang tidak mahu kalah menyerahkan Dominique begitu saja.


"Dengar..., Dominique kemarilah, kita perlu bicara sebentar" Haiden berusaha memanggil Dominique dengan lembut.


Dominique menggeleng.


"Aku janji akan mengizinkan mu ikut dengan nya" Tawaran Haiden membuat Dominique menolehkan wajah.

__ADS_1


"Sungguh" Dominique melepaskan perlahan pegangannya di lengan Willy, membuat Willy merasakan sakit yang sama seperti yang barusan di rasakan Haiden.


Dominique berjalan perlahan menghampiri Haiden dan meraih tangannya, mengikuti Haiden berjalan sedikit menjauh dari Willy.


"Katakan padaku..., apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah dan menjauhiku" Bujuk Haiden dengan tatapan mengiba menggenggam kedua tangan Dominique.


"Aku sudah bilang, tidak ada yang perlu kau lakukan, aku hanya ingin kau melepaskan ku, biarkan aku pergi Iden... " Rajuk Dominique berucap selembut mungkin, dia tidak ingin membangkitkan rasa amarah di jiwa Haiden.


"Kau tahu itu sesuatu yang tidak mungkin. Aku tidak akan mungkin melepaskan mu. Aku mencintaimu, Dominique. Apapun akan kulakukan asalkan kau tak menyuruhku jauh darimu..., " Haiden yang tak mahu kalah atur strategi berusaha terus meluluhkan hati Dominique, dan menyentuh dengan lembut pipi Dominique.


Dominique tak bergeming, dia hanya bisa menunduk.


"Apa kau fikir aku laki-laki brengsek yang akan meninggalkan istrinya setelah dua tahun dia pergi dan aku tahu kau tidak hilang ingatan bersama dengan orang lain. Izinkan aku menebus semua kesalahanku, ya... " Haiden yang terus maju menekankan ucapannya, dia tahu Dominique mulai melemah dengan perkataan nya barusan.


"Iden... " Renggek Dominique.


"Tidak. Aku mohon jangan usir aku" Haiden menarik Dominique dalam pelukannya, membuat Willy yang tidak jauh dari hadapan mereka menatap dengan kesal dan cemburu.


Dominique galau. Hatinya masih terlalu lemah dengan bujuk rayu Haiden yang membuatnya merasa bersalah dan luluh. Dominique merasa bersalah karena dia telah meninggalkan Haiden tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu dan dia masih tak bisa mengingkari hatinya yang sangat mudah di bujuk oleh seorang Haiden.


Haiden melepaskan perlahan pelukannya dan menggengam erat tangan Dominique.


"Will, maaf... " Ucap Dominique.


"Baiklah tidak apa-apa sayang, katakanlah... " Willy berusaha tegar menerima keputusan yang akan di ucapkan Dominique.


Dominique menatap ragu wajah laki-laki yang selama dua tahun ini begitu baik melindungi dan menjaganya. Mencintainya setulus hati.


"Bi-bisa-kah Iden ikut bersama ki-ta" Ucapan yang terlontar dari mulut Dominique membuat keduanya menatap tak percaya pada Dominique.


Dominique bahkan tak memilih di antara mereka.


"Ma-maksud-mu?" Sontak Haiden dan Willy berbicara bersama kembali.


Mereka, Haiden dan Willy langsung saling menatap sinis dan wajah mereka berdua melembut ketika menatap wajah Dominique.


Yang benar saja kau Nyonya Dominique, mana mungkin Tuan Haiden menyetujui untuk berbagi. Batin John sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Tuan Willy pasti murka setelah ini Nyonya. Aku tidak yakin masih akan ada barang yang tersisa di rumah sekarang. Batin Ramon yang melonggo dengan keputusan Dominique.


Nyalimu besar juga Marissa, kau memang luar biasa. Bisa membuat Willy yang seorang berdarah dingin mati kutu hanya dengan tatapan-mu yang mempesona. Batin Carlos, tiba-tiba wajahnya merona merah saat menatap Dominique.


Dominique melepaskan perlahan pegangan tangan Haiden, menatap mereka secara bergantian.


Oh Tuhan..., apa yang kulakukan, bagaimana bisa aku mengucapkan kata-kata ****** seperti barusan. Pekik Dominique di hati sambil meringis sedikit menyesalkan ucapannya.


"Kau tidak serius dengan ucapanmu barusan kan sayang" Ucap Haiden yang terlihat sangat tidak menyetujui keputusan Dominique.


"Memang aku sudi berbagi ranjang denganmu" Sahut Willy ketus sambil melipat kedua lengannya di dada.


"Kalau begitu aku akan tinggal bersama Diana sementara waktu" Dominique mengambil jalan tengah.


"Aku tidak setuju!" Kembali mereka berdua, Haiden dan Willy menjawab secara bersamaan.


"Aduhh..., perutku..., " Seketika Dominique kembali meringis memegangi perutnya.


"Carlos!" Carlos langsung mendekati dan membawa Dominique duduk diikuti dengan kedua laki-laki yang menghawatirkan nya.


Carlos mulai memeriksa kondisi Dominique yang terlihat lemah dan pucat.


"Sebaiknya dia segera beristirahat dan jangan terlalu banyak berfikir" Ucap Carlos setelah memeriksa kondisi Dominique.


"Dia baik-baik saja kan?"


"Aku perlu sedikit sample darahnya untuk memastikan, apa kau tidak keberatan" Carlos menatap Willy yang terlihat begitu cemas sama halnya dengan Haiden.


"Jangan kau ambil lagi, aku sudah meminta dokter pribadi ku mengecek, mungkin sebentar lagi hasilnya keluar" Celetuk Haiden yang tak ingin ada pengambilan darah lagi dari tubuh Dominique.


Willy langsung memberi kode untuk Carlos segera menjauh dari Dominique setelah mendengar ucapan Haiden.


"Kita tunggu di kamar dulu ya sayang, nanti setelah hasil dari dokter keluar baru aku putuskan lagi... " Haiden yang sudah berlutut di hadapan Dominique sambil meraih kedua tangan Dominique yang duduk di sofa lobby hotel.


Dominique mengangguk lemah, rasanya dia tak punya tenaga untuk berdebat saat ini.


Haiden langsung mengangkat tubuh Dominique diikuti Willy, John, Carlos dan Ramon di belakang nya.

__ADS_1


Willy mengikuti Haiden yang membawa Dominique dan merebahkan nya di tempat tidur.


"Kau ingin sesuatu sayang" Tanya Willy yang langsung duduk di tepi ranjang mendahului Haiden.


__ADS_2